• Universitas
  • Portal Akademik
  • Perpustakaan Universitas
  • Webmail
  • Arnawa
  • UM UGM
  • Bahasa Indonesia
    • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
Departemen Bahasa dan Sastra
Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
  • Halaman Muka
  • Profil
    • Visi & Misi
    • Tujuan
    • Keunggulan
    • Prospek Karier
    • Staf Pengajar
  • Akademik
    • Alur Kurikulum
    • Deskripsi Mata Kuliah
    • Sebaran Mata Kuliah
    • Capaian Pembelajaran
    • INFORMASI PERKULIAHAN DAN ADMINISTRASI
    • KONFERENSI DAN KEGIATAN INTERNASIONAL
    • Kalender Akademik
  • KPPB
    • Kerjasama
    • Pengabdian
      • Pengabdian Masyarakat
      • Siniar (Anarka Lālitya)
    • Penelitian
      • Penelitian Staf Pengajar
      • Arsip Kajian Jawa – Arnawa
    • Beasiswa
  • Kemahasiswaan
    • Hasil Survei Mahasiswa
    • HMJ Kamastawa
    • Kegiatan Mahasiswa
    • Karya Mahasiswa
    • Kanal Youtube
    • Kanal Instagram
  • Alumni
    • Profil Alumni
  • Kontak
  • Beranda
  • UGM
  • UGM
Arsip:

UGM

Seputar Jawa: Bahasa Jawa Dialek Banten, Dialek Bahasa yang Eksis di Ujung Barat Pulau Jawa

BeritaSDGS Selasa, 10 Maret 2026

Bahasa Jawa selama ini sering diasosiasikan dengan wilayah Yogyakarta dan Surakarta yang dikenal sebagai pusat budaya Jawa. Selain itu, masyarakat juga akrab dengan dialek Jawa Timuran yang lugas atau dialek Banyumasan yang kerap dianggap unik oleh penutur bahasa Jawa lainnya. Namun, tidak banyak yang menyadari bahwa bahasa Jawa juga hidup dan berkembang di luar wilayah utama tersebut, yakni di Provinsi Banten, sebelah ujung barat pulau Jawa. Di wilayah ini, berkembang sebuah variasi bahasa yang dikenal sebagai Bahasa Jawa dialek Banten.

Dalam klasifikasi dialek bahasa Jawa, Ras (1994) membagi bahasa Jawa menjadi tiga kelompok besar, yaitu dialek Jawa bagian barat, tengah, dan timur. Bahasa Jawa Dialek Banten (BJDB) termasuk kelompok dialek Jawa bagian barat dan sering pula disebut sebagai bahasa Jawa Serang atau Jaseng, karena sebagian besar penuturnya berada di Kota Serang dan Kabupaten Serang (Rohbiah & Mu’awwanah, 2021).

Terdapat beberapa sumber yang menyebutkan wilayah penggunaan BJDB secara berbeda. Penelitian Danasasmita dan Pronggodigdo menyebutkan bahwa dialek ini digunakan di wilayah bekas Keresidenan Banten yang mencakup Kabupaten Serang, Pandeglang, dan Lebak. Sementara itu, Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Barat juga memasukkan wilayah Tangerang sebagai daerah yang memiliki penutur dialek tersebut (Iskandarwassid, Mulyana, Hudari, et al., 1985). Secara geografis, keberadaan bahasa ini cukup unik karena berada di antara beberapa komunitas bahasa lain, yaitu penutur bahasa Betawi di wilayah Jakarta, penutur bahasa Sunda di bagian selatan Banten, serta penutur bahasa Lampung di seberang Selat Sunda (Rohbiah & Mu’awwanah, 2020).

 

Pengaruh Sejarah dalam Perkembangan Dialek

Kemunculan bahasa Jawa di Banten tidak terlepas dari proses sejarah panjang kawasan tersebut. Pada awal abad ke-16, wilayah Banten masih berada di bawah kekuasaan Kerajaan Sunda. Situasi ini berubah setelah terjadinya Perjanjian Sunda–Portugis pada tahun 1522. Perjanjian tersebut memicu konflik yang kemudian berujung pada penaklukan Pelabuhan Banten pada tahun 1526 dan Sunda Kelapa pada tahun 1527 oleh pasukan Demak dan Cirebon (Iskandarwassid, Mulyana, Hudari, et al., 1985).

Setelah penaklukan tersebut, Banten dipimpin oleh Syarif Hidayatullah yang berasal dari Cirebon. Hanya saja, secara politik, Banten sebenarnya dikendalikan oleh Sultan Demak. Di bawah kepemimpinan Syarif Hidayatullah,  Banten berkembang menjadi kerajaan Islam yang aktif dalam jaringan perdagangan dan perhubungan bagi para pedagang Jawa dan Islam (Iskandarwassid, Mulyana, Hudari, et al., 1985). Patmadiwiria (1977) menambahkan bahwa bermukimnya prajurit penaklukan Banten dari Jawa juga membawa serta bahasa dan kebudayaan Jawa. Oleh karena itu, dapat dipahami bahwa Kesultanan Demak dan Cirebon menjadi penyebab atau asal-muasal dari munculnya dialek Banten.

Pengaruh budaya Jawa juga semakin kuat pada abad ke-17 ketika Kesultanan Mataram memperluas pengaruhnya ke wilayah Jawa Barat. Penyebaran budaya Jawa pada masa itu tidak hanya terjadi di kalangan elit, tetapi juga pada masyarakat lapisan bawah (Iskandarwassid, Mulyana, Hudari, et al., 1985).

Selain faktor sejarah, kondisi geografis turut membentuk perkembangan BJDB. Keberadaan Pelabuhan Merak yang menjadi jalur penghubung antara Jawa dan Sumatra memungkinkan interaksi intensif dengan masyarakat Lampung. Interaksi tersebut melahirkan komunitas penutur bahasa Lampung di beberapa wilayah pesisir Banten, seperti di Kecamatan Anyer. Kontak budaya ini kemudian turut memengaruhi kosakata dalam bahasa Jawa dialek Banten (Rohbiah & Mu’awwanah, 2021).

 

Keunikan Pelafalan

Sebagai sebuah dialek, BJDB memiliki ciri khas yang tampak, terutama pada aspek pelafalan dan kosakata. Salah satu keunikan paling menonjol adalah variasi pelafalan fonem /a/. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Iskandarwassid, Mulyana, Hudari, et al. (1985), disebutkan bahwa bunyi ini memiliki tiga variasi pengucapan yang berbeda, bergantung pada wilayah penuturnya.

Di daerah Kota Serang, Cilegon, dan wilayah sekitarnya, fonem /a/ sering dilafalkan mendekati bunyi [ɤ], yang mirip dengan bunyi “eu” dalam bahasa Sunda (Patmadiwiria, 1977; Iskandarwassid, Mulyana, Hudari, et al., 1985). Sementara itu, di wilayah pinggiran Serang seperti Barugbug, Pagelaran, Cikande, dan Kragilan, fonem /a/ tetap dilafalkan sebagai [a]. Adapun di beberapa daerah seperti Rancasawah dan sebagian wilayah Cilegon, fonem /a/ dibunyikan sebagai [ɔ] (Iskandarwassid, Mulyana, Hudari, et al., 1985).

Variasi bunyi atas fonem /a/ terjadi dari beberapa keadaan, di antaranya sebagai berikut (Karia, 1914; Iskandarwassid Mulyana, Hudari, et al., 1985):

  1. Fonem /a/ pada suku kata terbuka akan menghadirkan variasi bunyi. Contoh: sira [sirɤ], ora [orɤ], dan kula [kulɤ].
  2. Khusus pada daerah Kota Serang dan sekitarnya, /a/ dapat berbunyi [ɤ] pada kata bersilabel satu, yaitu mah [mɤh]. Akan tetapi, kata bersilabel satu lainnya seperti lah, la, dan tah tetap dibaca [a].
  3. Jika /a/ terletak pada sebuah kata dengan suku kata terbuka, lalu kemudian ditutup dengan pelekatan sufiks, maka /a/ dilafalkan sebagai /a/. Contoh: sira [sirɤ] menjadi sirane [siranI] dan apa [apɤ] menjadi apane [apanI].

 

Kosakata Khas

Selain pelafalan, BJDB juga memiliki sejumlah kosakata yang berbeda dari bahasa Jawa standar yang digunakan di Yogyakarta dan Surakarta. Berikut 5 contoh beserta pengucapannya didasarkan dan disesuaikan dengan Karia (1914), Iskandarwassid, Mulyana, Hudari, et al. (1985), Poerwadarminta (1939), Sulistyowati (2015), dan Patmadiwiria (1977):

  1. kastelâ atau kêstelâ ‘pepaya’, yang dalam bahasa Jawa standar disebut kates
  2. sirâ ‘kamu’, yang dalam bahasa Jawa standar disebut kowe
  3. kepremen ‘bagaimana’, yang setara dengan kepiye
  4. ayun ‘ingin’, yang dalam bahasa Jawa standar disebut arep
  5. ning ‘jika’, yang setara dengan yen
  6. derbe ‘punya’, yang dalam bahasa Jawa standar disebut duwe
  7. linggar ‘pergi’, yang setara dengan lungå

Perbedaan kosakata ini menunjukkan bahwa BJDB memiliki perkembangan leksikal yang khas dan tidak sepenuhnya identik dengan bahasa Jawa standar.

*Untuk memberi kemudahan, penulis memberikan simbol khusus untuk <a> yang dibunyikan [a], <å> yang dibunyikan [ɔ], dan <â> yang dibunyikan [ɤ]

 

Hasil Kontak Bahasa

Keunikan BJDB juga tercermin dari banyaknya kosakata hasil kontak dengan bahasa lain. Bahasa Sunda, Betawi, Melayu, dan Lampung turut memberikan pengaruh terhadap perbendaharaan kata dalam dialek ini. Berlandaskan pada Rohbiah & Mu’awwanah (2021), berikut adalah contoh-contoh pengaruh dari masing-masing bahasa tersebut.

  1. Dari bahasa Sunda, misalnya, kata kolot yang berarti ‘tua’ serta beuleum yang berarti ‘membakar’ yang digunakan oleh penutur BJDB daerah di Desa Binong, Kecamatan Pamarayan, alih-alih menggunakan kata tuâ dan ngobong dalam BJDB.
  2. Dari bahasa Betawi terdapat kata engkong yang berarti ‘kakek’ dan betot yang berarti ‘menarik’ yang digunakan oleh penutur BJDB di Desa Pedaleman, Kecamatan Tanara, alih-alih menggunakan kata ende lanang dan narik dalam BJDB.
  3. Pengaruh bahasa Melayu terlihat pada penggunaan kata laki untuk menyebut ‘suami’ oleh penutur BJDB di Desa Kampung Baru & Binong, Kecamatan Pamarayan, Desa Pontang & Wanayasa, Kecamatan Pontang, Desa Tanara & Pedaleman, Kecamatan Tanara, dan Desa Anyar & Cikoneng, Kecamatan Anyar, alih-alih menggunakan kata rayat lanang dalam BJDB.
  4. Pengaruh bahasa Lampung muncul kata eppak yang berarti ‘empat’ dan duwai yang berarti ‘danau’ yang digunakan oleh penutur BJDB di Desa Anyar, Kecamatan Anyar, alih-alih menggunakan kata papat dan danau dalam BJDB.

Fenomena penyerapan tersebut biasanya muncul di wilayah-wilayah yang memiliki intensitas kontak budaya tinggi dengan komunitas bahasa tertentu.

 

 

Daftar Pustaka

Iskandarwassid; Mulyana, Y.; Hudari, A; Sjarif, T.K.S. (1985). Struktur Bahasa Jawa Dialek Banten. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Karia, M. M. D. (1914). Dialect Djawa Banten. Batavia: G Kolff & Co.

Patmadiwiria, M. (1977). Kamus Dialek Jawa Banten-Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Poerwadarminta, W.J.S. (1939). Baoesastra Jawa. Batavia: J.B. Wolters’ Uitgevers-Maatschappij N. V. Groningen.

Ras, J.J. (1994). Inleiding tot het Modern Javaans. Leiden: KITLV.

Rohiah, T.S., & Mu’awwanah, U. (2020). Inovasi Leksikal Bahasa Jawa Banten di Perbatasan Kabupaten Serang Provinsi Banten: Kajian Geografis – Linguistik. Serang: Media Madani

Sulistyowati. (2018). Kompleksitas dan Fleksibilitas Realisasi Bunyi Vokal Bahasa Jawa. Mutiara dalam Sastra Jawa Edisi 4, 4(3), 29-45.

 

Daftar Gambar

Akbar. (2025, 13 Oktober). Keraton Kaibon, Jejak Kejayaan Kesultanan Banten di Kota Serang [Gambar]. Serangkota.go.id. https://serangkota.go.id/detailpost/keraton-kaibon-jejak-kejayaan-kesultanan-banten-di-kota-serang.

 

Penulis: Haryo Untoro
Editor: Haryo Untoro & Nurul Fajri Rahmani
Pembuat Keluku: Nurul Fajri Rahmani

Tiga Mahasiswa Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa Berhasil Lulus dalam Waktu 3,5 Tahun

BeritaMahasiswaSDGS Kamis, 26 Februari 2026

Kabar gembira datang dari Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada. Tiga mahasiswa program studi tersebut berhasil menyelesaikan studi sarjana dalam waktu 3,5 tahun atau tujuh semester, lebih cepat dari masa studi yang umumnya ditempuh selama empat tahun atau delapan semester. Ketiga mahasiswa tersebut adalah Yasmin Nabiha Sahda, Hanundita Salma, dan Pesdhi Sekar Hayumay. Mereka  mengikuti wisuda pada Periode II Tahun Akademik 2025/2026 yang diselenggarakan pada Rabu, 25 Februari 2026.

Topik tugas akhir yang mereka angkat berkaitan dengan berbagai aspek bidang bahasa, sastra, serta budaya Jawa. Yasmin Nabiha Sahda meneliti folklor Putri Ayu Limbasari sebagai bagian dari kajian sastra lisan. Hanundita Salma mengkaji kebahasaan yang digunakan oleh para nelayan di wilayah Cilacap, yang memperlihatkan dinamika penggunaan bahasa dalam komunitas pesisir. Sementara itu, Pesdhi Sekar Hayumay meneliti toponimi padukuhan di Kapanewon Samigaluh, yang berada di wilayah Kulon Progo, dengan menyoroti aspek penamaan tempat dalam perspektif kebudayaan dan sejarah lokal.

Melalui dedikasi dan komitmen dalam menyelesaikan penelitian, ketiga mahasiswa tersebut mampu menuntaskan penyusunan skripsi dengan baik dalam waktu yang relatif singkat. Pencapaian ini diharapkan dapat menjadi inspirasi sekaligus motivasi bagi mahasiswa lainnya, khususnya di lingkungan Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, untuk terus berprestasi serta merencanakan studi dengan baik sehingga dapat menyelesaikan pendidikan secara optimal.

 

Penulis: Haryo Untoro
Editor: Haryo Untoro

Serah Terima Jabatan HMJ Kamastawa Periode 2026/2027

BeritaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Selasa, 24 Februari 2026

Himpunan Mahasiswa Jurusan Keluarga Mahasiswa Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa (HMJ Kamastawa) menyelenggarakan Serah Terima Jabatan (Sertijab) kepengurusan periode 2026/2027 pada Senin (23/06/2026) di Gedung Poerbatjaraka 203, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada. Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran pengurus HMJ Kamastawa periode 2025/2026 dan periode 2026/2027, serta perwakilan dosen dari program studi.

Turut hadir dalam acara tersebut Ketua Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Dr. Sulistyowati, M.Hum., serta dosen pembina HMJ Kamastawa, Dr. Rudy Wiratama, S.I.P., M.A. Kehadiran para pimpinan program studi tersebut menegaskan dukungan prodi terhadap keberlanjutan organisasi kemahasiswaan.

Acara dimulai pukul 16.15 WIB dan dipandu oleh Muhammad Bagus Ulinnuha selaku pembawa acara. Rangkaian kegiatan diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Hymne Gadjah Mada

Pemberian kata sambutan oleh Dr. Rudy Wiratama, S.I.P., M.A., selaku pembina HMJ Kamastawa

Dalam sambutannya, Dr. Rudy Wiratama, S.I.P., M.A. menekankan pentingnya menjaga prestasi dalam ranah positif serta membangun jejaring seluas-luasnya. Ia juga berpesan agar para pengurus senantiasa menerapkan nilai asah, asih, dan asuh, baik dengan sesama pengurus, kakak tingkat, maupun dengan alumni.

Pemberian kata sambutan oleh Ketua Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Dr. Sulistyowati, M.Hum.

Sementara itu, Dr. Sulistyowati, M.Hum. mengingatkan agar para pengurus tetap tangguh dalam menghadapi dinamika dan tantangan organisasi. Ia menegaskan pentingnya koordinasi dengan dosen esehat serta menjaga keseimbangan antara prestasi, esehatan fisik dan mental, serta komunikasi yang harmonis di internal kepengurusan.

Prosesi inti kegiatan berupa pembacaan dan penandatanganan berita acara yang dibacakan oleh Ketua HMJ periode 2025/2026, Dwiyan Teguh Darmawan, dilanjutkan dengan penyerahan jabatan secara simbolis oleh Ketua Program Studi. Selanjutnya, pembacaan naskah pelantikan dipandu oleh Dr. Rudy Wiratama, S.I.P., M.A., serta pembacaan sumpah jabatan yang dipimpin oleh Ketua HMJ periode 2026/2027, Wreksi Awinanggya Pinandhita.

Serah terima jabatan kepada pengurus HMJ Kamastawa

Acara kemudian dilanjutkan dengan serah terima jabatan secara simbolis kepada pengurus HMJ Kamastawa, penyampaian pesan dan kesan dari HMJ periode 2025/2026, serta sambutan dari Ketua HMJ periode 2026/2027. Rangkaian kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama guna mengabadikan momen kebersamaan tersebut.

Acara kemudian dilanjutkan dengan serah terima jabatan secara simbolis kepada pengurus HMJ Kamastawa, penyampaian pesan dan kesan dari HMJ periode 2025/2026, serta sambutan dari Ketua HMJ periode 2026/2027. Rangkaian kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama guna mengabadikan momen kebersamaan tersebut.

Seputar Jawa: Pelestarian Aksara Jawa melalui Pemanfaatan Fon Digital Bebas Lisensi

BeritaSDGSUncategorized Selasa, 27 Januari 2026

Aksara Jawa merupakan salah satu sistem tulisan tradisional di Indonesia yang masih dikenal dan digunakan hingga saat ini. Aksara ini tergolong sebagai aksara abugida atau silabik serta merupakan bagian dari rumpun aksara Kawi (Maulana, 2020). Sejak masa lampau, aksara Jawa berperan penting dalam mendokumentasikan berbagai pengetahuan, nilai budaya, serta karya sastra yang tercatat dalam naskah-naskah Jawa.

Perkembangan teknologi dan globalisasi membawa dampak signifikan terhadap pola komunikasi masyarakat. Penggunaan aksara Latin yang semakin dominan, khususnya di kalangan generasi muda, menyebabkan aksara Jawa dan aksara daerah lainnya mulai terpinggirkan. Minimnya penggunaan dalam kehidupan sehari-hari berpotensi mengakibatkan berkurangnya kemampuan membaca dan menulis aksara Jawa pada generasi penerus.

Kondisi tersebut menuntut adanya upaya revitalisasi yang mampu menyesuaikan aksara daerah dengan perkembangan zaman. Revitalisasi ini merupakan upaya untuk mengenalkan bentuk secara simbolis serta mendorong penggunaannya secara aktif pada sekarang ini.

Salah satu bentuk revitalisasi aksara Jawa yang relevan dengan perkembangan teknologi adalah melalui penyediaan fon aksara Jawa. Fon merupakan representasi digital dari aksara yang memungkinkan penggunaannya pada berbagai platform, seperti perangkat komputer, gawai, dokumen digital, serta media daring.

Keberadaan fon aksara Jawa memberikan kemudahan dalam proses pembelajaran dan pengajaran, karena aksara dapat ditulis, dibaca, dan dipelajari secara praktis. Selain itu, fon aksara Jawa juga membuka peluang pemanfaatan aksara sebagai elemen estetis dalam desain grafis dan karya kreatif.

Hingga saat ini, berbagai fon aksara Jawa telah tersedia dan dapat diakses melalui berbagai media. Namun, agar pemanfaatannya dapat berlangsung secara berkelanjutan, baik untuk keperluan penulisan maupun estetika, penggunaan fon aksara Jawa yang bebas lisensi menjadi pilihan yang lebih tepat.

Fon bebas lisensi memungkinkan penggunaan secara luas tanpa adanya hambatan hukum atau kewajiban biaya lisensi. Hal ini sangat mendukung pemanfaatan aksara Jawa oleh institusi pendidikan, komunitas budaya, desainer, serta masyarakat umum.

Sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian aksara Jawa, pada tahun 2020 Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta merilis fon aksara Jawa yang dikembangkan oleh Apri Nugroho. Terdapat dua jenis fon yang diperkenalkan, yaitu nyk Ngayogyan dan nyk Ngayogyan Jejeg. Kedua fon tersebut dapat diunduh melalui tautan berikut:

  • Fon nyk Ngayogyan

https://aksaradinusantara.com/fonta/nyk-ngayogyan.font

 

  • Fon nyk Ngayogyan Jejeg

https://aksaradinusantara.com/fonta/nyk-ngayogyan-jejeg.font

Selain menyediakan fon, pengembang juga melengkapi dengan pedoman pemasangan, cara pengetikan, serta tata letak papan ketik (keyboard). Pedoman ini bertujuan untuk memudahkan pengguna dalam menginstal dan menggunakan fon aksara Jawa secara tepat dan konsisten.

Pemanfaatan fon aksara Jawa juga memiliki keterkaitan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) nomor 4 dan 17. Dalam konteks SDGs 4 tentang pendidikan berkualitas, keberadaan fon aksara Jawa mendukung penyediaan bahan ajar yang inklusif, kontekstual, dan berbasis budaya lokal, sehingga mempermudah proses pembelajaran serta meningkatkan literasi budaya peserta didik. Sementara itu, pencapaian tujuan tersebut tidak dapat dilepaskan dari poin SDGs ke-17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan, karena pengembangan dan pemanfaatan fon aksara Jawa membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, pengembang teknologi, komunitas budaya, dan masyarakat luas.

 

Penulis            : Haryo Untoro

Editor             : Haryo Untoro

 

Daftar Pustaka

Maulana, R. (2020). Aksara-Aksara di Nusatara: Seri Ensiklopedia. Writing Tradition Project

Mengenalkan Rumpun Sastra Budaya Universitas Gadjah Mada dalam Kegiatan Saba Tilik 6.0 X Saba Education Fair

BeritaKarya MahasiswaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Jumat, 23 Januari 2026

SMAN 1 Bantul menyelenggarakan kegiatan Saba Tilik 6.0 X Saba Education Fair pada Kamis (22/01/2026). Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan motivasi serta informasi lanjutan pendidikan kepada para siswa, khususnya peserta didik tingkat akhir, agar memiliki gambaran yang lebih luas mengenai dunia perguruan tinggi dan pilihan program studi.

Dalam kegiatan tersebut, dua mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa angkatan 2025, Universitas Gadjah Mada (UGM), yang juga merupakan alumni SMAN 1 Bantul, yakni Nurul Fajri Rahmani dan Tri Wulandari, turut berpartisipasi sebagai pemateri. Kehadiran mereka dimanfaatkan untuk berbagi pengalaman akademik sekaligus mengenalkan berbagai program studi yang ada di Universitas Gadjah Mada kepada para siswa.

Berdasarkan wawancara daring dengan Nurul Fajri Rahmani pada Jumat (23/01/2026), disampaikan bahwa materi yang diberikan berfokus pada pengenalan rumpun sastra dan budaya, khususnya Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa. Selain itu, Fajri juga membagikan pengalamannya dalam menempuh perjalanan menuju perguruan tinggi melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) dan Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT).

Fajri mengungkapkan bahwa tantangan utama dalam kegiatan tersebut adalah masih rendahnya minat siswa terhadap rumpun Sastra dan Budaya. “Karenanya, kami berusaha menjelaskan sebaik baik mungkin tentang prospek kerja, potensi keilmuan, serta berbagai keuntungan dan pengalaman menarik yang dapat diperoleh selama menempuh pendidikan di rumpun sastra budaya” terangnya. Penjelasan tersebut diharapkan mampu membuka wawasan dan mengubah pandangan siswa terhadap studi sastra dan budaya.

Bagi Fajri, keikutsertaannya dalam Saba Tilik 6.0 X Saba Education Fair menjadi pengalaman yang sangat berkesan. Selain dapat kembali ke almamater dan bertemu dengan teman-teman seangkatan, dirinya juga berkesempatan untuk berbagi cerita dan informasi mengenai dunia perkuliahan. Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan guna membangkitkan minat dan semangat siswa-siswi dalam melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Kegiatan Saba Tilik 6.0 X Saba Education Fair sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDGs 4 tentang pendidikan berkualitas melalui pemberian akses informasi pendidikan tinggi yang inklusif dan merata. Pemberian informasi ini membantu siswa dalam mengambil keputusan pendidikan secara lebih sadar dan terarah. Dalam cakupan yang lebih luas, kegiatan ini juga bersinggungan dengan SDGs 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan), yakni melalui peningkatan literasi dan wawasan komunitas pendidikan yang menjadi fondasi terbentuknya masyarakat yang berpengetahuan dan berkelanjutan. Kolaborasi antara sekolah menengah dan perguruan tinggi dalam kegiatan ini juga mencerminkan implementasi SDGs 17, yakni kemitraan untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan melalui sinergi antarlembaga pendidikan

Penulis : Haryo Untoro
Editor  : Haryo Untoro

Gema Gamasutra dalam Melestarikan Budaya Nusantara

BeritaKarya MahasiswaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Kamis, 15 Januari 2026

Gamasutra ‘Gamelan Mahasiswa Sastra Nusantara’ merupakan wadah pengembangan kreativitas mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (UGM). Berada di bawah naungan Divisi Minat dan Bakat Seni Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Keluarga Mahasiswa Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa (Kamastawa), komunitas ini berkomitmen untuk melestarikan seni karawitan sebagai bagian dari kekayaan budaya Nusantara.

Komitmen Gamasutra terhadap seni tradisi tidak hanya berfungsi sebagai sarana pembelajaran bagi mahasiswa, tetapi juga menjadi representasi identitas budaya di lingkungan akademik. Melalui dedikasi yang berkelanjutan, Gamasutra secara konsisten menjadi duta Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa dalam berbagai forum resmi serta festival seni, baik di tingkat fakultas maupun universitas.

Penampilan Gamasutra dalam Festival Karawitan Fakultas Filsafat UGM

Dalam perjalanan kiprahnya, Gamasutra telah berpartisipasi dalam sejumlah agenda strategis dan seremonial di lingkungan Universitas Gadjah Mada. Keterlibatan tersebut antara lain dalam Festival Karawitan Fakultas Filsafat UGM, seremoni peletakan batu pertama gedung baru Fakultas Ilmu Budaya UGM, serta mendukung pengukuhan organisasi melalui kegiatan Grand Launching HMJ Kamastawa. Selain itu, Gamasutra turut aktif dalam kegiatan silaturahmi lintas instansi melalui agenda Sowan Kadang Sastra Jawa UGM x Universitas Indonesia.

Penampilan Gamasutra dalam sowan kadang Sastra Jawa UGM X UI

Di tengah tantangan modernitas, Gamasutra terus menunjukkan eksistensinya sebagai pelestari budaya Jawa. Hal ini dibuktikan dengan kepercayaan yang diberikan kepada Gamasutra sebagai pembuka dan pengiring acara Pionir Kampung Budaya 2025 serta Forum Internasional Semeja (Seminar Melayu Jawa) IV. Forum internasional tersebut pada tahun 2025 diselenggarakan di Universitas Gadjah Mada.

Penampilan Gamasutra dalam seminar internasional Semeja

Dengan memadukan kemahiran teknis dalam seni karawitan dan pemahaman literasi budaya, Gamasutra berkomitmen untuk terus menghidupkan seni musik tradisional. Upaya ini dilakukan sebagai bagian dari penguatan identitas bangsa agar tetap dinamis, relevan, dan mampu diwariskan kepada generasi mendatang.

Kiprah Gamasutra selaras dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) poin 4, yaitu pendidikan berkualitas, melalui perannya sebagai ruang pembelajaran yang mendorong pengembangan kompetensi mahasiswa dalam bidang seni karawitan, literasi budaya, serta penguatan identitas keilmuan di lingkungan akademik. Selain itu, keterlibatan Gamasutra dalam berbagai kegiatan lintas fakultas, institusi, dan forum internasional, seperti kerja sama UGM dengan Universitas Indonesia serta partisipasi dalam Forum Internasional Semeja IV, mencerminkan implementasi SDGs Nomor 17, yakni penguatan kemitraan untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan. Melalui kolaborasi tersebut, Gamasutra tidak hanya memperluas jejaring akademik dan budaya, tetapi juga berkontribusi dalam upaya kolektif pelestarian budaya Nusantara yang inklusif dan berkelanjutan.

 

Penulis            : Maysa Putri Fatihah & Haryo Untoro
Editor             : Haryo Untoro

Dr. Sulistyowati, M.Hum. Dilantik Menjadi Ketua Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa Periode 2026-2030

BeritaSDGS Rabu, 7 Januari 2026

Dikutip utuh dari: https://www.instagram.com/p/DTZVAzRARUy/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==

 

Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa resmi mencatatkan pergantian kepemimpinan pada 7 Januari 2026. Jabatan Ketua Program Studi kini dipercayakan kepada Dr. Sulistyowati, M.Hum., yang akan mengemban amanah tersebut selama lima tahun, yakni untuk periode 2026–2030.

Dr. Sulistyowati, M.Hum., menggantikan Dr. Daru Winarti, M.Hum., yang sebelumnya menjabat sebagai Ketua Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa pada periode 2021–2025. Selama masa kepemimpinannya, Dr. Daru Winarti, M.Hum. telah menjalankan berbagai program akademik serta berkontribusi dalam penguatan tata kelola dan identitas keilmuan program studi.

Pergantian kepemimpinan ini diharapkan dapat menjadi langkah berkelanjutan dalam upaya pengembangan Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa Dengan kepemimpinan yang baru, Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa diharapkan dapat terus berkembang dan meningkatkan perannya, khususnya dalam bidang pengajaran, pelestarian, serta pengembangan bahasa, sastra, dan budaya Jawa.

 

Penulis            : Haryo Untoro
Editor             : Haryo Untoro

Daftar Gambar

Sastrajawaugm [@sastrajawaugm]. (2026, 12 Januari). [ NDHEREK MANGAYUBAGYA ] Pada tanggal 7 Januari 2026, Dr. Sulistyowati, S.S., M.Hum. resmi dilantik sebagai Kepala Program Studi S1 Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa. Selamat mengemban jabatan akademik, Ibu Sulis🙌 [Foto]. Instagram. https://www.instagram.com/p/DTZVAzRARUy/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==.

Seminar Proposal Gabungan Menjadi Ujian Akhir Semester Mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa UGM

BeritaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Jumat, 2 Januari 2026

Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Gadjah Mada (UGM), menyelenggarakan Ujian Akhir Semester (UAS) secara gabungan melalui kegiatan seminar proposal gabungan pada 15–17 Desember 2025. Kegiatan tersebut dilaksanakan di ruang Multimedia lantai 2 Gedung Margono, FIB UGM, mulai pukul 08.00 hingga 11.30 WIB.

Seminar proposal gabungan ini merupakan UAS untuk tiga mata kuliah, yakni Seminar Filologi, Seminar Linguistik, dan Seminar Sastra. Melalui kegiatan ini, mahasiswa mempresentasikan proposal skripsi sekaligus memaparkan perkembangan penelitian yang telah mereka lakukan.

Dalam pelaksanaannya, para dosen Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa turut hadir sebagai penguji dan penanggap. Para dosen memberikan komentar, masukan, serta saran konstruktif terkait substansi penelitian, metodologi, dan arah pengembangan skripsi mahasiswa.

Kegiatan seminar proposal gabungan ini tidak hanya berfungsi sebagai evaluasi akademik akhir semester, tetapi juga menjadi wadah diskusi ilmiah antara mahasiswa dan dosen. Melalui forum tersebut, mahasiswa diharapkan memperoleh umpan balik yang komprehensif untuk menyempurnakan penelitian skripsi mereka.

Penyelenggaraan kegiatan ini diharapkan dapat membantu mahasiswa dalam mematangkan perencanaan dan pelaksanaan skripsi, sekaligus meningkatkan kualitas penelitian di bidang bahasa, sastra, dan budaya Jawa.

 

Penulis             : Haryo Untoro

Editor               : Haryo Untoro

Tantangan Dalang Muda Rafi Nur Fauzy Menampilkan Wayang Gedhog di Hari Wayang Nasional

BeritaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Kamis, 4 Desember 2025

Unit Kesenian Jawa Gaya Surakarta (UKJGS) UGM berkolaborasi dengan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Pedhalangan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta menggelar pentas kolaboratif Wayang Gedhog dalam rangka memperingati Hari Wayang Nasional. Pementasan diadakan pada Kamis, 27 November 2025, pukul 19.00 WIB di Pendapa Tari ISI Yogyakarta. Acara ini merupakan kolaborasi sinergi seniman muda dari UKJGS UGM dengan HMJ Pedalangan ISI Yogyakarta dalam melestarikan seni pertunjukan langka.

Pagelaran Wayang Gedhog untuk memperingati Hari Wayang Nasional ini diselenggarakan oleh HMJ Pedalangan ISI Yogyakarta dengan mengundang UKJGS UGM untuk mengisi atau menjadi partisipan. Sebagai koordinator divisi Pedhalangan UKJGS UGM sekaligus mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa UGM, Muhammad Rafi Nur Fauzy memaparkan hal tersebut menjadi satu kesempatan yang bagus untuk mengenalkan bahwa UKJGS juga bisa berkarya dalam ranah pedalangan juga, sekaligus memeriahkan dalam Peringatan Hari Wayang Nasional.

Peran dhalang dalam Pagelaran Wayang Gedhog ini diembankan kepada Rafi dengan iringan musik oleh anggota UKJGS lain. Pagelaran ini mengangkat Wayang Gedhog karena jarangnya sajian Wayang Gedhog ditampilkan. Wayang tersebut seperti mati suri dalam jangka waktu yang panjang dan dihidupkan kembali beberapa dekade yang lalu. Sajian Wayang Gedhog ini sejatinya dirasakan kaku karena terkekang oleh hierarki keraton dalam isi tampilannya. Wayang Gedhog juga diangkat sebagai pengenalan kekayaan khazanah wayang kepada masyarakat umum.

Lakon Panji Laleyan Duta (Sayembara Keris Jaka Piturun) dipilih untuk ditampilkan karena penyesuaian terhadap situasi dan informasi terkini yang terjadi dan menjadi perbincangan hangat dalam masyarakat, yaitu polemik pergantian raja di Keraton Surakarta (Solo). Menurut Rafi, kita perlu mempertanyakan bagaimana monarki Jawa ini bisa hidup di tengah situasi demokrasi. Tidak hanya Keraton Surakarta, tapi juga di Yogyakarta.

Sebagai mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa UGM, Rafi mengungkapkan perasaan senang dan bangga bisa memperoleh kesempatan untuk menampilkan Wayang Gedhog. Saat ini, tidak banyak dhalang yang ingin memainkan Wayang Gedhog karena sajian Wayang Gedhog dinilai sulit karena iringannya itu terpatok. Sajiannya juga hanya beberapa dhalang saja yang mengerti. Dengan bimbingan dosen Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Dr. Rudy Wiratama, S.I.P., M.A., Rafi dapat dengan baik menampilkan Wayang Gedhog yang dinilai tidak mudah tersebut.

Pagelaran Wayang Gedhog mendukung pencapaian SDGs poin 4 Pendidikan Berkualitas dan poin 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, yaitu sebagai media edukasi dan pengenalan khazanah wayang dan memperkaya pengetahuan tentang warisan budaya di lingkungan akademis, serta sebagai peluang regenerasi seni pertunjukan dan penghidupan bagi seniman muda. Tak hanya itu, pertunjukan ini berkontribusi dalam pencapaian SDGs poin 16 Perdamaian, Keadilan, dan Institusi yang Tangguh dengan menggunakan peran seni sebagai sarana untuk menyuarakan kritik konstruktif terhadap polemik kepemimpinan di Keraton Surakarta. Kolaborasi partisipatif antara UKJGS UGM dan HMJ Pedhalangan ISI Yogyakarta mendukung pencapaian SDGs dan poin 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

 

Penulis         : Maysa Putri Fatihah

Editor           : Haryo Untoro

Musyawarah Besar HMJ Kamastawa: Wreksi Pinandhita Terpilih sebagai Ketua Umum Periode 2026

BeritaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Kamis, 4 Desember 2025

Musyawarah Besar Himpunan Mahasiswa Jurusan Keluarga Mahasiswa Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa (HMJ Kamastawa) dilaksanakan pada Minggu, 30 November 2025 di Ruang Auditorium Gedung Soegondo, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada. Dalam Musyawarah Besar ini, dilaksanakan sidang laporan pertanggungjawaban kegiatan untuk kepengurusan tahun 2025, dilanjutkan sidang Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), dan ditutup dengan musyawarah pemilihan ketua umum HMJ Kamastawa periode 2026.

Musyawarah Besar HMJ Kamastawa menjadi agenda wajib yang dilaksanakan setiap tahunnya dalam rangka menciptakan forum musyawarah mahasiswa Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa. Forum ini diciptakan sebagai wadah aspirasi, opini, dan keterbukaan HMJ Kamastawa sebagai anggota khusus organisasi di bawah Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa. Musyawarah Besar ini diikuti oleh peserta luring yang hadir dalam forum dan peserta daring melalui Google Meet.

Musyawarah Besar ini dibuka oleh Master of Ceremony (MC). Kemudian, terdapat sambutan oleh Ketua Umum HMJ Kamastawa periode 2025, Dwiyan Teguh Darmawan dan dilanjutkan sambutan oleh Ketua Prodi (Kaprodi) Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Dr. Daru Winarti, M.Hum. Setelah sambutan, dilangsungkan pemilihan pimpinan sidang I dan II dengan persetujuan peserta Musyawarah Besar. Pimpinan sidang I memulai Musyawarah Besar sesi pertama berupa sidang laporan pertanggungjawaban kegiatan untuk kepengurusan tahun 2025. Musyawarah Besar sesi pertama berjalan dengan baik dan cepat, sedikit evaluasi dan usulan dari peserta Musyawarah Besar membumbui sidang laporan tersebut.

sesi kedua ditandai dengan pergantian pimpinan sidang I kepada pimpinan sidang II. Sesi kedua merupakan sidang Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) HMJ Kamastawa untuk kepengurusan periode 2026. Mayoritas peserta Musyawarah Besar sesi kedua secara aktif memperdebatkan poin-poin krusial dalam AD/ART yang memerlukan penyesuaian situasi dan kondisi. Keputusan sidang tersebut diambil melalui musyawarah, voting, dan persetujuan peserta Musyawarah Besar dengan suara yang bulat.

Sesi terakhir Musyawarah Besar HMJ Kamastawa merupakan pemilihan ketua umum HMJ Kamastawa periode 2026. Pemilihan ini dilaksanakan dengan tahapan sebagai berikut.

  1. Pembacaan syarat ketua umum HMJ Kamastawa,
  2. Pengusungan calon ketua oleh peserta Musyawarah Besar yang hadir dalam forum,
  3. Pengecekan kelulusan syarat calon ketua umum,
  4. Penyampaian pernyataan pribadi oleh masing-masing calon ketua umum,
  5. Tanya jawab oleh peserta Musyawarah Besar yang hadir dalam forum terhadap calon ketua umum,
  6. Musyawarah pemilihan ketua umum,
  7. Pengumuman ketua umum terpilih, dan
  8. Sambutan ketua umum terpilih.

Kandidat calon ketua umum HMJ Kamastawa yang diusung oleh peserta Musyawarah Besar yaitu Wreksi Awinanggya Pinandhita, Bayu Seta Ardiansyah, Nurcholish Ramadhan, Inoora Putri Haliza, Muhammad Jundy Ashiddiqie, dan Zahra Nova Putri. Dalam tahap pengecekan kelulusan syarat calon ketua umum, kandidat Nurcholish Ramadhan gugur karena tidak memenuhi salah satu syarat calon ketua umum, yaitu tidak menjabat sebagai ketua dalam kepengurusan organisasi kemahasiswaan di lingkungan Universitas Gadjah Mada. Setelah melalui tahap musyawarah pemilihan ketua umum, dihasilkan suara yang bulat dengan terpilihnya Wreksi Awinanggya Pinandhita sebagai ketua umum HMJ Kamastawa periode 2026.

Wreksi Pinandhita menyatakan bahwa terpilihnya Wreksi sebagai ketua umum HMJ Kamastawa akan menjadi tantangan baru dan harus dijalankan sebaik mungkin sebagai amanah mahasiswa Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa kepada dirinya. Wreksi berharap agar kepengurusan yang akan Ia pimpin dalam periode satu tahun kedepan berjalan dengan lancar dan lebih baik dari periode sebelumnya dengan dukungan dari keluarga mahasiswa Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa.

 

Musyawarah Besar HMJ Kamastawa secara langsung berkontribusi dalam pencapaian SDGs poin 4 Pendidikan Berkualitas yang mendukung dan mengembangkan keterampilan kepemimpinan dan soft skills mahasiswa. Tak hanya itu, Musyawarah Besar tersebut juga mendukung pencapaian SDGs poin 16 Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh dengan mempraktikkan musyawarah besar sebagai forum tertinggi yang demokratis dan transparan. Terakhir, kegiatan tersebut juga sejalan dengan SDGs poin 17, yaitu Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Hadirnya Musyawarah Besar HMJ Kamastawa juga merupakan bentuk komitmen mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa dalam nguri-uri ‘melestarikan’ dan ngurip-urip ‘menyemarakkan’ kebudayaan Nusantara, khususnya kebudayaan Jawa.

 

Penulis         : Maysa Putri Fatihah

Editor           : Haryo Untoro

123…8

Recent Post

  • Seputar Jawa: Bahasa Jawa Dialek Banten, Dialek Bahasa yang Eksis di Ujung Barat Pulau Jawa
    Maret 10, 2026
  • Seputar Jawa: Bentuk-Bentuk Peribahasa Jawa
    Maret 9, 2026
  • Lulus dalam 3,5 Tahun: Strategi Tiga Mahasiswa Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa UGM dalam Menyelesaikan Studinya
    Maret 2, 2026
  • Seputar Jawa: Basa Kedhaton dan Basa Bagongan, Ragam Tutur Khas Keraton Surakarta dan Yogyakarta
    Maret 2, 2026
  • Tiga Mahasiswa Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa Berhasil Lulus dalam Waktu 3,5 Tahun
    Februari 26, 2026

Kalender

April 2026
S S R K J S M
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  
« Mar    
  • Fakultas Ilmu Budaya
  • Ujian Masuk UGM
  • PPSMB
  • Alumni
  • Jurnal Humaniora
April 2026
S S R K J S M
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  
« Mar    

Rilis Berita

  • Seputar Jawa: Bahasa Jawa Dialek Banten, Dialek Bahasa yang Eksis di Ujung Barat Pulau Jawa
    Maret 10, 2026
  • Seputar Jawa: Bentuk-Bentuk Peribahasa Jawa
    Maret 9, 2026
  • Lulus dalam 3,5 Tahun: Strategi Tiga Mahasiswa Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa UGM dalam Menyelesaikan Studinya
    Maret 2, 2026
Universitas Gadjah Mada

Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
Departemen Bahasa dan Sastra
Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada

 

Jl. Sosiohumaniora, Bulaksumur, Yogyakarta
Telp : 0274-901134 Ext. 110, Fax : 0274-550451, WhatsApp : 081211911281
Email : nusantara@ugm.ac.id

© 2025 Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa FIB UGM

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY