• Universitas
  • Portal Akademik
  • Perpustakaan Universitas
  • Webmail
  • Arnawa
  • UM UGM
  • Bahasa Indonesia
    • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
Departemen Bahasa dan Sastra
Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
  • Halaman Muka
  • Profil
    • Visi & Misi
    • Tujuan
    • Keunggulan
    • Prospek Karier
    • Staf Pengajar
  • Akademik
    • Alur Kurikulum
    • Deskripsi Mata Kuliah
    • Sebaran Mata Kuliah
    • Capaian Pembelajaran
    • INFORMASI PERKULIAHAN DAN ADMINISTRASI
    • KONFERENSI DAN KEGIATAN INTERNASIONAL
    • Kalender Akademik
  • KPPB
    • Kerjasama
    • Pengabdian
      • Pengabdian Masyarakat
      • Siniar (Anarka Lālitya)
    • Penelitian
      • Penelitian Staf Pengajar
      • Arsip Kajian Jawa – Arnawa
    • Beasiswa
  • Kemahasiswaan
    • Hasil Survei Mahasiswa
    • HMJ Kamastawa
    • Kegiatan Mahasiswa
    • Karya Mahasiswa
    • Kanal Youtube
    • Kanal Instagram
  • Alumni
    • Profil Alumni
  • Kontak
  • Beranda
  • 2024
  • Juli
Arsip 2024:

Juli

Mengangkat Psikologi Raos dan Ikon Gathotkaca Krodha, Mahasiswa Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa Meraih Juara 3 Esai pada Event Parab Kawi #6

BeritaMahasiswaSDGS Selasa, 30 Juli 2024

Wayang Gathotkaca Krodha bertangan seperti gunting, sumber: https://tokohwayangpurwa.blogspot.com/2009/10/gatutkaca.html

Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada (UGM) memiliki beragam mahasiswa dengan segudang prestasi, baik dari bidang akademik maupun bidang non-akademik. Kali ini, kabar gembira datang dari salah satu mahasiswanya, Muhammad Siswoyo, dari Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa. Mahasiswa angkatan 2022 ini berhasil meraih juara ketiga dalam kompetisi esai pada acara Parab Kawi #6, sebuah ajang bergengsi yang mengangkat tema “Luhuring Kabudayan lan Kasusastran Jawi, Amrih Kalokaning Nagari”.

Kompetisi Parab Kawi tahun ini menghadirkan dua kategori perlombaan, yaitu esai dan kaligrafi. Pada kategori esai, subtema yang diangkat adalah “Tradisi Nilai-Nilai Budaya Jawa, Pengetahuan, dan Teknologi”. Dalam kesempatan ini, Muhammad Siswoyo menyajikan esai yang berjudul “Penggambaran Psikologi Raos Gathotkaca Krodha sebagai Entitas Destruktif dalam Pocapan Abur-aburan Gathotkaca Wayang Kulit Jawa Timuran”.

Esai tersebut membahas tentang pocapan (pengisahan suatu peristiwa pada pergelaran wayang kulit) Abur-aburan yang menggambarkan Gathotkaca Krodha ‘Gatotkaca yang sedang marah’, khususnya pada bagian tubuh dari salah satu anak Werkudara tersebut. Anggota tubuh Gathotkaca Krodha diibaratkan sebagai beragam alat penghancur, seperti gunting, pacul, dsb. Hal tersebut nyatanya relevan dengan bentuk wayang Gathotkaca Krodha yang juga dilukiskan demikian. Konsep ini juga sejalan dengan psikologi raos, yang mengaitkan keadaan rasa seseorang dengan kemampuan untuk menciptakan keadaan tertentu, seperti kemarahan dan kehancuran.

Pergelaran wayang kulit tidak hanya merupakan bentuk kesenian, tetapi juga ‘miniatur’ keragaman budaya Indonesia. Terkandung berbagai unsur kesenian, dari penyajian, permainan, hingga detail bentuk wayang dan ada. Seni tutur dalam pertunjukan wayang kulit juga berperan penting dalam ‘menghidupkan’ pertunjukan serta mengantarkan audiens ke ‘gerbang’ kesastraan serta pesan moral dan makna filosofis yang ada.

Penggalian pengetahuan budaya dapat dilakukan untuk mengetahui alam pandang sebuah masyarakat. Dengan mengetahui pola pikir masyarakat, kita dapat meningkatkan pendidikan sekaligus memahami keberagaman dalam sebuah bingkai harmoni. Dengan demikian, perlombaan tersebut sesuai dengan butir-butir Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, yaitu poin ke-4 (meningkatkan kualitas pendidikan) dan poin ke-17 (kemitraan untuk mencapai tujuan).

 

REFERENSI GAMBAR

Tokohwayangpurwa.blogspot.com. (2009, Oktober). Gatotkaca. Diakses pada https://tokohwayangpurwa.blogspot.com/2009/10/gatutkaca.html.

Prosesi Cucuk Lampah Oleh Ratnaraya pada Acara Wisuda Program Pascasarjana Periode III Tahun Akademik 2023/2024

BeritaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Kamis, 25 Juli 2024

Tangkapan layar utuh dari Universitas Gadjah Mada. (2024, 24 Jul). Wisuda Program Pascasarjana Periode IV Tahun Akademik 2023/2024 – Juli 2024. Youtube. [4:58] Diakses dari https://www.youtube.com/live/nweng5dXFHw?si=5tdXNqMIomqbgBBQ

Pada Rabu (24/07/2024), Universitas Gadjah Mada (UGM) melaksanakan wisuda program pascasarjana periode III tahun akademik 2023/2024 dengan nuansa yang berbeda. Acara yang berlangsung di Grha Sabha Pramana tersebut dibuka dengan prosesi cucuk lampah oleh mahasiswi-mahasiswi Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa yang tergabung dalam Ratnaraya, unit Tari Mahasiswa Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa.

Para mahasiswi yang tampil dalam prosesi cucuk lampah antara lain Dhiny, Nanda, Audrey, dan Ganes. Prosesi ini diikuti oleh rektor Universitas Gadjah Mada, Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K)., Ph.D., ketua Kagama Pusat, Ganjar Pranowo, dan para dekan dari program magister Universitas Gadjah Mada. Mereka diiringi oleh gending Sesanti Gadjah Mada, sebuah komposisi gending yang diciptakan Djoko Walujo.

Tangkapan layar utuh dari Universitas Gadjah Mada. (2024, 24 Jul). Wisuda Program Pascasarjana Periode IV Tahun Akademik 2023/2024 – Juli 2024. Youtube. [5:39] Diakses dari https://www.youtube.com/live/nweng5dXFHw?si=5tdXNqMIomqbgBBQ

Dalam wawancara yang dilakukan pada 26 Juli 2024, Audrey, salah satu mahasiswi yang berpartisipasi dalam prosesi tersebut, mengungkapkan pengalamannya. "Biasanya kami menampilkan tari tradisional dalam sebuah acara, tetapi kali ini kami melakukan tradisi cucuk lampah, mengiringi Ibu Rektor, Bapak Ganjar, dan bapak ibu dekan pascasarjana. Ini menjadi pengalaman baru yang amat berkesan bagi kami," terangnya.

Dilansir dalam desatepus.gunungkidulkab.go.id (2023, 07 September), tradisi cucuk lampah, merupakan seni tradisi pernikahan adat Jawa dengan berbentuk iring-iringan, mengiringi pengantin menuju pelaminan. Posisi para penari cucuk lampah berada di depan, diikuti oleh pager ayu dan pager bagus, pengantin, serta keluarga pengantin. Tujuan dari cucuk lampah bagi masyarakat Jawa adalah sebagai penolak bala yang dapat mengganggu pernikahan. Namun, dalam acara wisuda pascasarjana ini, tradisi tersebut disesuaikan sehingga relevan dengan suasana dan tujuan acara.

Pelestarian tradisi dan kebudayaan Indonesia memiliki nilai estetika, pengajaran, dan filosofi yang mendalam. Kegiatan seperti ini menunjukkan upaya yang efektif dalam melestarikan dan mewariskan jati diri bangsa dengan penyesuaian terhadap relevansi zaman. Kerja sama dari berbagai pihak sangat diperlukan untuk mendorong pelestarian dan pewarisan budaya. Dengan menghadirkan cucuk lampah dalam acara wisuda, Dengan demikian, penghadiran cucuk lampah dalam acara wisuda program pascasarjana sesuai dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG’s) butir ke-4, yaitu peningkatan kualitas pendidikan, dan butir ke-17, yaitu kemitraan untuk mencapai tujuan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Desatepus.gunungkidulkab.go.id (2023, 07 September), Cucuk Lampah dalam Pernikahan Jawa: Simbolisme dan Tradisi yang Mengesankan. Diakses pada 29 Juli 2024, dari https://desatepus.gunungkidulkab.go.id/first/artikel/2708-Cucuk-Lampah-dalam-Pernikahan-Jawa--Simbolisme-dan-Tradisi-yang-Mengesankan#:~:text=Cucuk%20Lampah%20adalah%20salah%20satu,keindahan%20dan%20makna%20dalam%20pernikahan.

Gamelan Sastra Nusantara Ikut Memeriahkan Festival Karawitan Dies Natalis ke-57 Fakultas Filsafat UGM

BeritaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Senin, 22 Juli 2024

Dalam rangka semarak Dies Natalis ke-57, Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada (UGM), mengadakan festival karawitan yang berlangsung selama dua hari, yaitu pada 20-21 Juli 2024. Festival ini diikuti oleh 47 kelompok karawitan, baik dari internal maupun eksternal Universitas Gadjah Mada. Salah satu grup yang tampil dalam kegiatan tersebut adalah Gamelan Sastra Nusantara (Gamasutra).

Gamelan Sastra Nusantara (Gamasutra) merupakan sebuah unit yang terdiri atas mahasiswa dan mahasiswi Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Fakultas Ilmu Budaya, UGM. Grup ini berfokus untuk mempelajari, memperdalam, dan menyajikan seni karawitan. Gamasutra mendapat giliran untuk tampil pada hari Minggu, 21 Juli 2024, tepatnya pada sesi kedua yang diselenggarakan pada pukul 13.00 WIB. Para penampil, yang terdiri atas beragam angkatan, menyajikan Gending Ladrang Bogasampir, Ketawang Kasatriyan, dan Lancaran Sebet dengan laras slendro pathet sanga.

Dikutip utuh dari Filsafat UGM (2024, 21 Juli). Festival Karawitan Dies Natalis ke 57 Fakultas Filsafat UGM Hari ke-2 Sesi 2. Youtube. [32:36], https://www.youtube.com/watch?v=oQYastAouYg

Dilansir dari gloriabarus pada laman filsafat.ugm.ac.id (2024, 20 Juli), Dr. Rr. Siti Murtiningsih, S.S., M.Hum., dekan Fakultas Filsafat, dalam sambutannya menerangkan bahwa keberadaan festival karawitan menjadi wadah untuk menikmati, melestarikan, dan meresapi nilai-nilai filosofis dari seni musik tradisional Jawa ini. Dalam hal ini, Gamasutra sebagai perpanjangan dari Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, ikut serta dalam kolaborasi ini dengan tujuan melestarikan sekaligus menghidupkan kesenian adiluhung tersebut Melalui festival karawitan, diharapkan seni karawitan dapat terus dihargai dan dikembangkan, tidak hanya tetap indah dan lestari, namun juga relevan, hidup, serta bermanfaat dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Gloriabarus. (2024, 20 Juli). Fakultas Filsafat Gelar Festival Karawitan Selama Dua Hari, Menampilkan 47 Kelompok Karawitan Se-DIY. Filsafat.ugm.ac.id. https://filsafat.ugm.ac.id/2024/07/20/fakultas-filsafat-gelar-festival-karawitan-selama-dua-hari-menampilkan-47-kelompok-karawitan-se-diy/

 

SUMBER GAMBAR

Filsafat UGM (2024, 21 Juli). Festival Karawitan Dies Natalis ke 57 Fakultas Filsafat UGM Hari ke-2 Sesi 2. Youtube. [32:36], dari https://www.youtube.com/watch?v=oQYastAouYg

Labuhan di Pantai Glagah: Kesempatan Mahasiswa untuk Berinteraksi Langsung dengan Kebudayaan Jawa

BeritaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Kamis, 18 Juli 2024

Rabu (17/07/2024), Pura Pakualaman melaksanakan upacara adat Labuhan yang bertempat di Pantai Glagah, Kalurahan Glagah, Kapanewon Temon, Kabupaten Kulon Progo, D.I. Yogyakarta. Upacara Labuhan ini dilakukan setiap 10 Muharram atau 10 Sura. Bersama dengan dosen sekaligus abdi dalem Pura Pakualaman, Dr. Ratna Saktimulya, M.Hum., sebanyak 20 mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (FIB UGM) berkesempatan mengikuti prosesi adat Labuhan tersebut.

Dalam pelaksanaannya, terdapat ketentuan khusus berupa busana yang harus dikenakan oleh para mahasiswa. Busana mahasiswa adalah baju adat pranakan dan jarit, sedangkan busana mahasiswi adalah kebaya beserta jarit. Para peserta berkumpul pada pukul 06.00 WIB di Pura Pakualaman sebelum melanjutkan perjalanan menuju Pesanggrahan Glagah menggunakan bus. Sesampainya di sana, mahasiswa mengikuti rangkaian upacara dan pemberkatan. Ubarampe yang telah didoakan kemudian diarak dan para partisipan mengikutinya menuju Joglo Labuhan. Beberapa gunungan kemudian dilarung ke laut.

Pengadaan tradisi Labuhan ini adalah sebagai bentuk syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, mendoakan para leluhur, serta mengharapkan keselamatan, kesehatan, dan kesejahteraan bagi masyarakat. Bagi para mahasiswa, tradisi Labuhan di Pantai Glagah merupakan kesempatan emas untuk terjun langsung dan memahami bentuk kebudayaan Jawa yang adiluhung ini. Pengalaman dan interaksi kultural secara langsung ini diharapkan dapat menjadi sarana dalam mengembangkan kompetensi keilmuan mereka.

Dengan demikian, kesempatan yang diberikan Pura Pakualaman kepada mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa adalah upaya nyata dalam membangun pemahaman sekaligus langkah pelestarian kebudayaan Jawa.

Seputar Jawa: Mengenal Macam-Macam Metode Pengobatan Jamu Menurut Serat Primbon Jampi Jawi

BeritaLain-lainSDGS Jumat, 12 Juli 2024

Sumber gambar: Kemeparekraf.go.id

Apa yang terlintas di benak mahadaya jika mendengar kata jamu? Minuman tradisional? Minuman yang dibawa mbok jamu? atau mungkin frasa populer ’beras kencur’? Benar, jamu dikenal oleh masyarakat luas sebagai pengobatan tradisional berbentuk minuman yang adalah wujud dari kebudayaan Jawa. Namun, bagaimana jika jamu atau metode pengobatan tradisional Jawa tidak hanya diminum? Apakah mahadaya mengetahuinya?

Merujuk pada Wulandari (2011) dalam artikel ilmiahnya yang berjudul Serat Primbon Jampi Jawi Koleksi Perpustakaan Dewantara Kirti Griya (Taman Siswa): Sebuah Dokumentasi Pengobatan Tradisional, terdapat sebuah naskah kuno cetak beraksara Jawa cetak yang merekam pengetahuan pengobatan para sesepuh. Naskah tersebut berjudul Serat Primbon Jampi Jawi. Naskah Serat Primbon Jampi Jawi membahas tentang pengobatan, dari macam-macam penyakit, cara mengobatinya, hingga berbagai macam tanaman dan khasiatnya. Buku ini diterbitkan oleh Penerbit Tan Khoen Swie tahun 1933 dan merupakan naskah koleksi Perpustakaan Taman Siswa.

Pada naskah Serat Primbon Jampi Jawi, terdapat beberapa metode pengobatan tradisional Jawa dengan pemakaiannya selain diminum. Berikut keterangannya:

 

  1. Tapel

Tapel adalah sebuah bentuk jam atau obat yang dapat digunakan dengan diusapkan di perut (Poerwadarminta, 1939, dalam Wulandari, 2011).  Terdapat 16 penyakit yang dapat disembuhkan dengan cara tersebut. Namun, penulis akan menyebutkan lima saja dalam artikel ini, yaitu anak mengidap diare, anak cacingan, orang tua yang merasa perutnya sesak, dan orang tua yang tidak bisa buang angin atau kencing. Berikut contoh terkait penyakit dan pengobatan dengan tapel sebagai berikut:

Tiyang sepuh seneb padharanipun; Cangkok tigan ayam ingkang sampun netes, jae, kapipis kaemoran lisah sulung, kaangge napeli padharan.

Terjemahan:

(Tapel untuk) orang tua yang terasa sesak perutnya: kulit telur ayam yang sudah menetas, jahe, dihaluskan dicampur (dengan) minyak sulung dipakai untuk diusapkan di perut.

 

  1. Boreh

Jamu boreh mirip dengan tapel, perbedannya adalah pada ramuan jejamuan yang dicairkan lalu dibalurkan ke seluruh tubuh. Berikut beberapa sakit yang dapat disembuhkan, antara lain anak yang terkena sawan, anak yang terkena sawan di sembarang tempat, anak yang mengidap sakit demam dan keluar cacing, seseorang mengidap panas dingin, dsb. Adapun satu contoh penyakit dan pengobatannya adalah sebagai berikut:

Lare sawanen sadhengah sawan: ron wungu, santen kapipis kanngge amborehi badan sakojur

Terjemahan:

Anak yang terkena sawan disembarang tempat: daun wungu, santan, dihaluskan dibalurkan di seluruh tubuh

 

  1. Cekok

Beberapa mahadaya mungkin berpikir apakah jamu ini disajikan dengan cara dicekokkan dan atau dipaksakan? Jawabannya iya. Penyajian jamu cekok adalah dengan memeraskan jamu dengan kain di atas mulut secara paksa, biasanya untuk anak kecil (Tim Penyusun, 2002, dalam Wulandari, 2011). Fungsi dari jamu ini untuk kesehatan atau upaya untuk menyembuhkan penyakit. Beberapa hal yang diobati antara lain anak mengidap diare, anak sakit panas di sekujur badan, anak terkena sakit panas dalam, anak mengidap sawan, dsb. Contoh penjelasan jamu cekok terhadap satu penyakit, yaitu:

Lare sakit kenging sawan; dringo bengle, kunir, jinten cemeng, mesoyi, kemukus, brambang kapipis kacekokaken.

Terjemahan:

Anak yang sakit (terkena) sawan, : dringo, bengle kunyit, jinten hitam, mesoyi, kemukus, bawang merah dihaluskan dan dicekokkan.

 

  1. Sembur

Jamu sembur? Benar, mahadaya tidak salah baca. Walaupun terdengar ‘di luar nalar’, namun demikianlah adanya. Beberapa penyakit yang dapat diobati dengan cara ini antara lain, anak terkena sawan, anak sakit batuk, anak sering menangis di malam hari, seseorang sakit di bagian dada dan sesak, dsb. Berikut contoh penjelasan tentang penyakit dan pengobatannya dengan sembur, yaitu:

Lare sakit watuk: sekar blimbing wuluh, jinten, mesoyi, kencur, kabenem, kamamah kasemburaken padharanipun.

Terjemahan :

Anak yang sakit batuk : bunga belimbing wuluh, jinten, mesoyi, kencur, dikunyah dan disemburkan di perut (anak yang sakit).

 

DAFTAR PUSTAKA

Wulandari, A. (2011, Desember). Serat Primbon Jampi Jawi Koleksi Perpustakaan Dewantara Kirti Griya (Taman Siswa): Sebuah Dokumentasi Pengobatan Tradisional. Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara, 2(2), 30-56. https://doi.org/10.37014/jumantara.v2i2.135

 

DAFTAR GAMBAR

Kemenparekraf.go.id. (t.t.). Jamu, Ramuan Herbal Khas Indonesia yang Mendunia. Diakses dari https://kemenparekraf.go.id/ragam-ekonomi-kreatif/jamu-ramuan-herbal-khas-indonesia-yang-mendunia

Dua Dosen dan Seorang Mahasiswa Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa Mengikuti Kursus Intensif Internasional Bahasa Jawa Kuno

BeritaMahasiswaSDGS Jumat, 12 Juli 2024

Perpustakaan Nasional dengan École française d’Extrême-Orient (EFEO) bekerja sama dan mengadakan kursus intensif internasional Bahasa Jawa Kuno pada tanggal 01-10 Juli 2024. Kegiatan ini berlangsung di The Cangkringan Jogja Villas & Spa, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, D.I. Yogyakarta, dan diikuti oleh 25 peserta dari berbagai latar belakang. Para ahli di bidang Jawa Kuno hadir untuk melatih para peserta agar memahami seluk-beluk Bahasa Jawa Kuno.

Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (FIB UGM), turut berpartisipasi dalam kegiatan ini. Dua dosen Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, yaitu Nurmalia Habibah, S.S., M.A. dan Zakariya Pamuji Aminullah, S.S., M.A., hadir sebagai pengajar. Selain itu, Haryo Untoro, mahasiswa dari program studi yang sama, menjadi salah satu peserta kursus intensif tersebut.

Nurmalia Habibah, S.S., M.A. membimbing peserta dalam mempelajari teks Adiparwa

Proses belajar teks Kakawin Ramayana bersama Zakariya Pamuji Aminullah, S.S., M.A.

Selama 10 hari, para peserta berlatih bahasa Jawa Kuno. Pada lima hari pertama, hal yang harus dipahami adalah morfosintaksis bahasa Jawa Kuno. Lima hari berikutnya, para peserta mulai mendalami karya-karya yang menggunakan bahasa Jawa Kuno, seperti Adiparwa, Kakawin Ramayana, Pararaton, Prasasti Landa, dan lain sebagainya. Selain itu, peserta juga mengikuti program ekskursi ke beberapa situs purbakala masa Hindu-Buddha, yaitu Candi Sewu, Candi Plaosan, dan Candi Ratu Boko.

Kursus intensif Bahasa Jawa Kuno ini bertujuan melatih para filolog dalam bidang Jawa Kuno serta mendorong kolaborasi internasional dalam bidang langka tersebut. Bidang Bahasa Jawa Kunp berperan penting untuk mengungkap beragam khazanah masa lampau, baik dalam kebudayaan, pengetahuan, kesejarahan, maupun hal lainnya. Penggalian khazanah-khazanah ini merupakan upaya untuk mengungkap jati diri bangsa serta meningkatkan kualitas pendidikan. Untuk mencapai tujuan tersebut, dibutuhkan kerjasama dari berbagai pihak guna mewujudkan keberlanjutan bidang Jawa Kuno serta dapat relevan dengan perkembangan zaman.

Tari Angguk Dipersembahkan Mahasiswi Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa UGM Memperindah Upacara Pengarahan dan Penerjunan KKN-PPM UGM Periode 2 Tahun 2024

BeritaKarya MahasiswaKegiatan MahasiswaLain-lainMahasiswaSDGS Rabu, 3 Juli 2024

Sebagai bentuk pembelajaran sekaligus pengabdian kepada masyarakat, mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Pada Selasa, 28 Juni 2024, UGM mengadakan Upacara Pengarahan dan Penerjunan KKN-PPM UGM Periode 2 Tahun 2024. Acara tersebut berlangsung di halaman Gedung Balairung pada siang hari dengan berbagai penampilan menarik, salah satunya adalah Tari Angguk

Tari Angguk adalah tarian tradisional khas Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Penampilan ini dibawakan oleh mahasiswi Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa. Para penari, yaitu Arin, Dhiny, Galuh, Kintan, Nanda, Novalia, Wening, Audrey Gizella, Eka, dan Pinky, berhasil memukau penonton. Nanda, salah seorang penari, mengungkapkan bahwa Tari Angguk yang mereka bawakan mendapat sambutan meriah dan gemuruh tepuk tangan dari penonton. "Aku dan teman-teman berusaha untuk mempersembahkan penampilan yang memuaskan. Ketika ditampilkan, para audiens memberikan tanggapan yang sangat meriah dan tepuk tangan yang bergemuruh," ujarnya dalam wawancara (01/07/2024).

Tari Angguk menjadi elemen penting yang menghiasi Upacara Pengarahan dan Penerjunan KKN-PPM UGM Periode 2 Tahun 2024. Lebih dalam lagi, kehadiran Tari Angguk mencerminkan keragaman budaya masyarakat Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa program KKN-PPM UGM berkontribusi kepada masyarakat yang beraneka ragam, wujudnya berupa penerjunan mahasiswa ke 35 provinsi di Indonesia.

Penampilan Tari Angguk juga merupakan upaya konkret dalam nguri-uri (melestarikan) dan ngurip-urip (menyemarakkan) kebudayaan daerah. Usaha pelestarian dan penghidupan kebudayaan daerah merupakan bentuk pemertahanan dan pelekatan identitas bangsa. Dengan mempelajari, memahami, melestarikan, dan mengembangkan pengetahuan dan kearifan lokal, maka turut berperan dalam pengembangan pendidikan dan memberikan manfaat kepada masyarakat. Untuk merealisasikannya, dibutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak guna memaksimalkan dan menjaga keberlangsungan program tersebut. Oleh karena itu, penampilan Tari Angguk dalam Upacara Pengarahan dan Penerjunan KKN-PPM UGM Periode 2 Tahun 2024 berhubungan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) poin 4 dan 17.

Macapatan Jumat Legen: Mengaji dan Meresapi Serat Wedhatama

BeritaKarya MahasiswaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Rabu, 3 Juli 2024

Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (FIB UGM), kembali mengadakan kegiatan Macapatan Jumat Legen pada Hari Kamis, 27 Juni 2024. Acara tersebut bertempat di Pusat Kajian Jawa (Pusaka Jawa) dan mengangkat sebuah karya sastra Jawa yang populer, yaitu Serat Wedhatama.

Serat Wedhatama, sebuah karya sastra yang ditulis oleh Kanjeng Gusti Pangeran Arya Adipati (KGPAA) Mangkunagara IV, merupakan karya yang sarat dengan piwulang tentang konsep ketuhanan serta ajaran moral dalam berkehidupan dan bermasyarakat. Naskah Serat Wedhatama yang tersimpan di Perpustakaan Istana Mangkunegaran Surakarta terdiri dari 100 pada (bait) dan dibagi ke dalam beberapa pupuh, yaitu:

  1. Pupuh Pangkur: 14 pada (bait)
  2. Pupuh Sinom: 18 pada (bait)
  3. Pupuh Pocung: 15 pada (bait)
  4. Pupuh Gambuh: 35 pada (bait)
  5. Pupuh Kinanthi: 18 pada (bait)

Acara menghadirkan Prof. Dr. Hendrokumoro, M.Hum., sebagai pemateri, dan dihadiri oleh peserta dari berbagai kalangan. Selain itu, Dr. Rudy Wiratama, S.I.P., M.A., turut dalam menembangkan Serat Wedhatama di acara pembuka dan beberapa mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa turut serta menabuh gamelan, menambah khidmat suasana acara. Keaktifan peserta dalam membaca dan menembangkan Serat Wedhatama menciptakan suasana yang penuh dengan keindahan.

 

Dr. Rudy Wiratama, S.I.P., M.A., dan mahasiswa menampilkan Serat Wedhatama

Prof. Dr. Hendrokumoro, M.Hum., dalam kesempatan tersebut, menekankan bahwa Serat Wedhatama, dengan nilai-nilai filosofis dan pesan moralnya, dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, pengaktualisasian tersebut perlu diperhatikan agar dapat relevan dengan kondisi pada saat ini.

Prof. Dr. Hendrokumoro, M.Hum. sedang memaparkan Serat Wedhatama

Macapatan Jumat Legen bertujuan untuk untuk menghidupkan tradisi Macapatan dan melestarikan tradisi ini kepada generasi muda. Pelestarian tradisi ini dan penggalian informasi dari karya-karya sastra seperti Serat Wedhatama adalah langkah penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan masyarakat. Kolaborasi berbagai pihak, seperti antara Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa dengan Pusaka Jawa UGM, adalah sebuah upaya untuk memaksimalkan usaha pelestarian tersebut. Dengan demikian, penyelenggaraan Macapatan Jumat Legen ini sejalan dengan butir ke-4 dan butir ke-17 dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG’s).

Recent Post

  • Ruang Berbagi dan Refleksi dalam Pertemuan Mahasiswa Penerima Beasiswa YAD Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026
    Juni 1, 2026
  • Pameran “Pusaka Kata” Angkat Khazanah Manuskrip Nusantara di FIB UGM
    Mei 27, 2026
  • Prof. Dr. Hendrokumoro, M.Hum.: Tetap Berekspresi, Tetap Njawani
    Mei 22, 2026
  • Cipta Karya Sastra Jawa: Wadah Kreatif Mahasiswa dalam Belajar Mengembangkan Karya Sastra
    Mei 21, 2026
  • Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa FIB UGM Meluluskan 11 Mahasiswa pada Wisuda Periode III Akademik 2025/2026
    Mei 21, 2026

Kalender

Juli 2024
S S R K J S M
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  
« Mei   Agu »
  • Fakultas Ilmu Budaya
  • Ujian Masuk UGM
  • PPSMB
  • Alumni
  • Jurnal Humaniora
Juli 2024
S S R K J S M
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  
« Mei   Agu »

Rilis Berita

  • Ruang Berbagi dan Refleksi dalam Pertemuan Mahasiswa Penerima Beasiswa YAD Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026
    Juni 1, 2026
  • Pameran “Pusaka Kata” Angkat Khazanah Manuskrip Nusantara di FIB UGM
    Mei 27, 2026
  • Prof. Dr. Hendrokumoro, M.Hum.: Tetap Berekspresi, Tetap Njawani
    Mei 22, 2026
Universitas Gadjah Mada

Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
Departemen Bahasa dan Sastra
Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada

 

Jl. Sosiohumaniora, Bulaksumur, Yogyakarta
Telp : 0274-901134 Ext. 110, Fax : 0274-550451, WhatsApp : 081211911281
Email : nusantara@ugm.ac.id

© 2025 Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa FIB UGM

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY