• Universitas
  • Portal Akademik
  • Perpustakaan Universitas
  • Webmail
  • Arnawa
  • UM UGM
  • Bahasa Indonesia
    • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
Departemen Bahasa dan Sastra
Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
  • Halaman Muka
  • Profil
    • Visi & Misi
    • Tujuan
    • Keunggulan
    • Prospek Karier
    • Staf Pengajar
  • Akademik
    • Alur Kurikulum
    • Deskripsi Mata Kuliah
    • Sebaran Mata Kuliah
    • Capaian Pembelajaran
    • INFORMASI PERKULIAHAN DAN ADMINISTRASI
    • KONFERENSI DAN KEGIATAN INTERNASIONAL
    • Kalender Akademik
  • KPPB
    • Kerjasama
    • Pengabdian
      • Pengabdian Masyarakat
      • Siniar (Anarka Lālitya)
    • Penelitian
      • Penelitian Staf Pengajar
      • Arsip Kajian Jawa – Arnawa
    • Beasiswa
  • Kemahasiswaan
    • Hasil Survei Mahasiswa
    • HMJ Kamastawa
    • Kegiatan Mahasiswa
    • Karya Mahasiswa
    • Kanal Youtube
    • Kanal Instagram
  • Alumni
    • Profil Alumni
  • Kontak
  • Beranda
  • Berita
  • Seputar Jawa: Bentuk-Bentuk Peribahasa Jawa

Seputar Jawa: Bentuk-Bentuk Peribahasa Jawa

  • Berita, SDGS
  • 9 Maret 2026, 11.03
  • Oleh: haryountoro
  • 0

Masyarakat Indonesia kerap menggunakan peribahasa atau ungkapan ketika berkomunikasi. Salah satu contohnya adalah seringnya penggunaan ungkapan dari Melayu "tak kenal maka tak sayang" untuk mencairkan suasana dalam berbagai forum resmi maupun santai. Namun, jika ditelisik lebih dalam, budaya Jawa juga memiliki ungkapan dan peribahasa yang menarik untuk diketahui. Dalam disertasinya, Hendrokumoro (2016) memaparkan bahwa budaya Jawa memiliki 8 jenis peribahasa, antara lain paribasan, bêbasan, saloka, pêpindhan, sanepa, panyandra, isbat, dan sêmboyan.

Bentuk pertama yang dijelaskan adalah Paribasan. Secara teknis, paribasan merupakan satuan gramatikal dengan struktur tetap yang bersifat lugas dan tidak mengandung perumpamaan, namun memiliki makna kiasan (Padmosoektojo, 1958). Salah satu contohnya adalah ungkapan ana catur mungkur yang secara harfiah berarti 'ada pembicaraan minggat'. Makna di balik ungkapan ini adalah sikap bijak seseorang yang enggan mempedulikan gunjingan atau pembicaraan buruk dari orang lain (Padmosoektojo, 1958:62).

Selanjutnya, ada peribahasa Jawa yang dikenalkan sebagai Bebasan. Bebasan merupakan peribahasa yang memiliki bentuk yang tetap, memiliki makna kias, serta menekankan pada perumpamaan keadaan atau tindak-tanduk seseorang (Padmosoekotjo, 1958). Contohnya adalah wis kêbak sundukane ‘sudah penuh tusukannya’ yang menyatakan bahwa orang yang dimaksud telah melakukan banyak kesalahan. Kiasan ini lahir dari budaya para orang tua atau pemimpin di masa lampau yang menusukkan sundukan untuk mencatat kesalahan bawahannya. Apabila sundukan tersebut sudah penuh, maka maknanya orang tersebut telah melakukan terlampau banyak kesalahan (Padmosoektojo, 1958:62).

Kategori berikutnya adalah Saloka, peribahasa Jawa yang berbentuk kata-kata tetap dan memiliki kesamaan antara penggunaan dan maknanya (Padmosoekotjo, 1958). Aspek yang diutamakan adalah subjek atau orangnya, yang diumpamakan adalah orang, sifat, atau keadaannya dengan menggunakan perumpamaan berupa hewan atau benda (Padmosoekotjo, 1958; Subalidinata, 1968; Dirdjosiswojo, 1956). Contoh dari saloka adalah asu bêlang kalung wang ‘anjing belang berkalung uang’, yang menggambarkan rakyat kecil atau masyarakat kelas bawah yang memiliki kekayaan melimpah (Padmosoekotjo, 1958:76).

Selain itu, terdapat pula pêpindhan yang berfungsi sebagai instrumen penyamaan. Berbeda dengan bentuk lain, pêpindhan sering menggunakan kata pembanding seperti lir, pindha, kaya, atau sinonimnya untuk menyamakan benda dengan manusia (Padmosoekotjo, 1958; Hadiwidjana, 1967). Sebagai contoh, ungkapan kuning pindha mas sinangling ‘kuning seperti emas yang di-sangling’ digunakan untuk menggambarkan warna kuning yang berkilau indah layaknya emas yang telah digosok. Sebagai tambahan sangling sendiri merupakan alat yang digunakan untuk menggosok emas (Padmosoekotjo, 1958: 95).

 

Kemudian, Sanepa merupakan perumpamaan sifat yang maknanya justru menunjukkan perlawanan atau penyangatan (Subalidinata, 1968). Ungkapan suwe banyu sinaring ‘lama air disaring’ misalnya, justru digunakan untuk mendeskripsikan seseorang yang sangat cepat dalam merespons sesuatu (Hendrokumoro, 2016).

Peribahasa Jawa juga menggunakan bentuk estetika atau keindahan dalam bentuk panyandra atau candra. Panyandra atau candra digunakan untuk menggambarkan keindahan fisik sebagai bentuk pujian yang mengesankan (Padmosoekotjo, 1958; Hendrokumoro, 2016). Salah satu bentuk estetika tubuh yang sering dipuji adalah drijine mucuk eri, yang menggambarkan bentuk jari jemari yang indah seperti ujung duri, dengan ciri ujung jari lebih kecil daripada pangkal jari (Hendrokumoro, 2016).

Wujud peribahasa Jawa selanjutnya dinamakan Isbat. Wujud dari isbat mirip dengan saloka, yang isinya atau maksud yang dikandungnya berhubungan dengan dimensi metafisika, filsafat, atau ilmu gaib yang mengandung pesan-pesan spiritual (Widati dkk., 2015; Subalidinata, 1968). Ungkapan golek gêni adêdamar ‘mencari api membawa lampu’ menjadi sebuah metafora filosofis bahwa dalam mencari ilmu sejati, seseorang memerlukan dasar pengetahuan sebagai penuntun.

Terakhir, sebagai pendorong semangat, dikenal istilah Sêmboyan merupakan satuan kalimat berbentuk bentuk yang berfungsi menciptakan optimisme dan prinsip bertindak (Hendrokumoro, 2016). Sêmboyan legendaris rawe-rawe rantas, malang-malang putung ‘benda bergelantungan diterjang, benda melintang diputus’ mencerminkan tekad pantang menyerah untuk memutus segala hambatan demi tercapainya tujuanyang dikehendaki (Hendrokumoro, 2016:92).

 

Daftar Pustaka

Dirdjosiswojo. (1956). Paribasan. Jogjakarta: Kalimosodo.

Hendrokumoro. (2016). Peribahasa dalam Bahasa Jawa. Disertasi. Yogyakarta: Program Pascasarjana, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada.

Padmosoekotjo, S. (1958). Ngengrengan Kasusastraan Djawa I: Kanggo Para Siswa Sekolah Guru lan Sekolah Landjutan Lijane. Jogjakarta: Hien Hoo Sing.

Subalidinata, R.S. (1968). Sarining Kasusastraan Djawa. Jogjakarta: Jaker.

Widati, S., Rahayu, P., dan Prabowo, D.P. (2015). Ensiklopedi Sastra Jawa. Yogyakarta: Kementerian Pendisikan dan Kebudayaan, Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

 

Penulis: Haryo Untoro
Editor  : Haryo Untoro, Nurul Fajri Rahmani

Tags: BAHASA JAWA BAHASA SASTRA DAN BUDAYA JAWA SASTRA JAWA SDGS 4: PENDIDIKAN BERKUALITAS SDGS 4: PENDIDIKAN BERMUTU SEPUTAR JAWA

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Recent Post

  • Seputar Jawa: Bahasa Jawa Dialek Banten, Dialek Bahasa yang Eksis di Ujung Barat Pulau Jawa
    Maret 10, 2026
  • Seputar Jawa: Bentuk-Bentuk Peribahasa Jawa
    Maret 9, 2026
  • Lulus dalam 3,5 Tahun: Strategi Tiga Mahasiswa Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa UGM dalam Menyelesaikan Studinya
    Maret 2, 2026
  • Seputar Jawa: Basa Kedhaton dan Basa Bagongan, Ragam Tutur Khas Keraton Surakarta dan Yogyakarta
    Maret 2, 2026
  • Tiga Mahasiswa Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa Berhasil Lulus dalam Waktu 3,5 Tahun
    Februari 26, 2026

Kalender

April 2026
S S R K J S M
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  
« Mar    
  • Fakultas Ilmu Budaya
  • Ujian Masuk UGM
  • PPSMB
  • Alumni
  • Jurnal Humaniora
April 2026
S S R K J S M
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  
« Mar    

Rilis Berita

  • Seputar Jawa: Bahasa Jawa Dialek Banten, Dialek Bahasa yang Eksis di Ujung Barat Pulau Jawa
    Maret 10, 2026
  • Seputar Jawa: Bentuk-Bentuk Peribahasa Jawa
    Maret 9, 2026
  • Lulus dalam 3,5 Tahun: Strategi Tiga Mahasiswa Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa UGM dalam Menyelesaikan Studinya
    Maret 2, 2026
Universitas Gadjah Mada

Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
Departemen Bahasa dan Sastra
Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada

 

Jl. Sosiohumaniora, Bulaksumur, Yogyakarta
Telp : 0274-901134 Ext. 110, Fax : 0274-550451, WhatsApp : 081211911281
Email : nusantara@ugm.ac.id

© 2025 Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa FIB UGM

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY