• Universitas
  • Portal Akademik
  • Perpustakaan Universitas
  • Webmail
  • Arnawa
  • UM UGM
  • Bahasa Indonesia
    • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
Departemen Bahasa dan Sastra
Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
  • Halaman Muka
  • Profil
    • Visi & Misi
    • Tujuan
    • Keunggulan
    • Prospek Karier
    • Staf Pengajar
  • Akademik
    • Alur Kurikulum
    • Deskripsi Mata Kuliah
    • Sebaran Mata Kuliah
    • Capaian Pembelajaran
    • INFORMASI PERKULIAHAN DAN ADMINISTRASI
    • KONFERENSI DAN KEGIATAN INTERNASIONAL
    • Kalender Akademik
  • KPPB
    • Kerjasama
    • Pengabdian
      • Pengabdian Masyarakat
      • Siniar (Anarka Lālitya)
    • Penelitian
      • Penelitian Staf Pengajar
      • Arsip Kajian Jawa – Arnawa
    • Beasiswa
  • Kemahasiswaan
    • Hasil Survei Mahasiswa
    • HMJ Kamastawa
    • Kegiatan Mahasiswa
    • Karya Mahasiswa
    • Kanal Youtube
    • Kanal Instagram
  • Alumni
    • Profil Alumni
  • Kontak
  • Beranda
  • 2026
Arsip:

2026

Seputar Jawa: Bahasa Jawa Dialek Banten, Dialek Bahasa yang Eksis di Ujung Barat Pulau Jawa

BeritaSDGS Selasa, 10 Maret 2026

Bahasa Jawa selama ini sering diasosiasikan dengan wilayah Yogyakarta dan Surakarta yang dikenal sebagai pusat budaya Jawa. Selain itu, masyarakat juga akrab dengan dialek Jawa Timuran yang lugas atau dialek Banyumasan yang kerap dianggap unik oleh penutur bahasa Jawa lainnya. Namun, tidak banyak yang menyadari bahwa bahasa Jawa juga hidup dan berkembang di luar wilayah utama tersebut, yakni di Provinsi Banten, sebelah ujung barat pulau Jawa. Di wilayah ini, berkembang sebuah variasi bahasa yang dikenal sebagai Bahasa Jawa dialek Banten.

Dalam klasifikasi dialek bahasa Jawa, Ras (1994) membagi bahasa Jawa menjadi tiga kelompok besar, yaitu dialek Jawa bagian barat, tengah, dan timur. Bahasa Jawa Dialek Banten (BJDB) termasuk kelompok dialek Jawa bagian barat dan sering pula disebut sebagai bahasa Jawa Serang atau Jaseng, karena sebagian besar penuturnya berada di Kota Serang dan Kabupaten Serang (Rohbiah & Mu’awwanah, 2021).

Terdapat beberapa sumber yang menyebutkan wilayah penggunaan BJDB secara berbeda. Penelitian Danasasmita dan Pronggodigdo menyebutkan bahwa dialek ini digunakan di wilayah bekas Keresidenan Banten yang mencakup Kabupaten Serang, Pandeglang, dan Lebak. Sementara itu, Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Barat juga memasukkan wilayah Tangerang sebagai daerah yang memiliki penutur dialek tersebut (Iskandarwassid, Mulyana, Hudari, et al., 1985). Secara geografis, keberadaan bahasa ini cukup unik karena berada di antara beberapa komunitas bahasa lain, yaitu penutur bahasa Betawi di wilayah Jakarta, penutur bahasa Sunda di bagian selatan Banten, serta penutur bahasa Lampung di seberang Selat Sunda (Rohbiah & Mu’awwanah, 2020).

 

Pengaruh Sejarah dalam Perkembangan Dialek

Kemunculan bahasa Jawa di Banten tidak terlepas dari proses sejarah panjang kawasan tersebut. Pada awal abad ke-16, wilayah Banten masih berada di bawah kekuasaan Kerajaan Sunda. Situasi ini berubah setelah terjadinya Perjanjian Sunda–Portugis pada tahun 1522. Perjanjian tersebut memicu konflik yang kemudian berujung pada penaklukan Pelabuhan Banten pada tahun 1526 dan Sunda Kelapa pada tahun 1527 oleh pasukan Demak dan Cirebon (Iskandarwassid, Mulyana, Hudari, et al., 1985).

Setelah penaklukan tersebut, Banten dipimpin oleh Syarif Hidayatullah yang berasal dari Cirebon. Hanya saja, secara politik, Banten sebenarnya dikendalikan oleh Sultan Demak. Di bawah kepemimpinan Syarif Hidayatullah,  Banten berkembang menjadi kerajaan Islam yang aktif dalam jaringan perdagangan dan perhubungan bagi para pedagang Jawa dan Islam (Iskandarwassid, Mulyana, Hudari, et al., 1985). Patmadiwiria (1977) menambahkan bahwa bermukimnya prajurit penaklukan Banten dari Jawa juga membawa serta bahasa dan kebudayaan Jawa. Oleh karena itu, dapat dipahami bahwa Kesultanan Demak dan Cirebon menjadi penyebab atau asal-muasal dari munculnya dialek Banten.

Pengaruh budaya Jawa juga semakin kuat pada abad ke-17 ketika Kesultanan Mataram memperluas pengaruhnya ke wilayah Jawa Barat. Penyebaran budaya Jawa pada masa itu tidak hanya terjadi di kalangan elit, tetapi juga pada masyarakat lapisan bawah (Iskandarwassid, Mulyana, Hudari, et al., 1985).

Selain faktor sejarah, kondisi geografis turut membentuk perkembangan BJDB. Keberadaan Pelabuhan Merak yang menjadi jalur penghubung antara Jawa dan Sumatra memungkinkan interaksi intensif dengan masyarakat Lampung. Interaksi tersebut melahirkan komunitas penutur bahasa Lampung di beberapa wilayah pesisir Banten, seperti di Kecamatan Anyer. Kontak budaya ini kemudian turut memengaruhi kosakata dalam bahasa Jawa dialek Banten (Rohbiah & Mu’awwanah, 2021).

 

Keunikan Pelafalan

Sebagai sebuah dialek, BJDB memiliki ciri khas yang tampak, terutama pada aspek pelafalan dan kosakata. Salah satu keunikan paling menonjol adalah variasi pelafalan fonem /a/. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Iskandarwassid, Mulyana, Hudari, et al. (1985), disebutkan bahwa bunyi ini memiliki tiga variasi pengucapan yang berbeda, bergantung pada wilayah penuturnya.

Di daerah Kota Serang, Cilegon, dan wilayah sekitarnya, fonem /a/ sering dilafalkan mendekati bunyi [ɤ], yang mirip dengan bunyi “eu” dalam bahasa Sunda (Patmadiwiria, 1977; Iskandarwassid, Mulyana, Hudari, et al., 1985). Sementara itu, di wilayah pinggiran Serang seperti Barugbug, Pagelaran, Cikande, dan Kragilan, fonem /a/ tetap dilafalkan sebagai [a]. Adapun di beberapa daerah seperti Rancasawah dan sebagian wilayah Cilegon, fonem /a/ dibunyikan sebagai [ɔ] (Iskandarwassid, Mulyana, Hudari, et al., 1985).

Variasi bunyi atas fonem /a/ terjadi dari beberapa keadaan, di antaranya sebagai berikut (Karia, 1914; Iskandarwassid Mulyana, Hudari, et al., 1985):

  1. Fonem /a/ pada suku kata terbuka akan menghadirkan variasi bunyi. Contoh: sira [sirɤ], ora [orɤ], dan kula [kulɤ].
  2. Khusus pada daerah Kota Serang dan sekitarnya, /a/ dapat berbunyi [ɤ] pada kata bersilabel satu, yaitu mah [mɤh]. Akan tetapi, kata bersilabel satu lainnya seperti lah, la, dan tah tetap dibaca [a].
  3. Jika /a/ terletak pada sebuah kata dengan suku kata terbuka, lalu kemudian ditutup dengan pelekatan sufiks, maka /a/ dilafalkan sebagai /a/. Contoh: sira [sirɤ] menjadi sirane [siranI] dan apa [apɤ] menjadi apane [apanI].

 

Kosakata Khas

Selain pelafalan, BJDB juga memiliki sejumlah kosakata yang berbeda dari bahasa Jawa standar yang digunakan di Yogyakarta dan Surakarta. Berikut 5 contoh beserta pengucapannya didasarkan dan disesuaikan dengan Karia (1914), Iskandarwassid, Mulyana, Hudari, et al. (1985), Poerwadarminta (1939), Sulistyowati (2015), dan Patmadiwiria (1977):

  1. kastelâ atau kêstelâ ‘pepaya’, yang dalam bahasa Jawa standar disebut kates
  2. sirâ ‘kamu’, yang dalam bahasa Jawa standar disebut kowe
  3. kepremen ‘bagaimana’, yang setara dengan kepiye
  4. ayun ‘ingin’, yang dalam bahasa Jawa standar disebut arep
  5. ning ‘jika’, yang setara dengan yen
  6. derbe ‘punya’, yang dalam bahasa Jawa standar disebut duwe
  7. linggar ‘pergi’, yang setara dengan lungå

Perbedaan kosakata ini menunjukkan bahwa BJDB memiliki perkembangan leksikal yang khas dan tidak sepenuhnya identik dengan bahasa Jawa standar.

*Untuk memberi kemudahan, penulis memberikan simbol khusus untuk <a> yang dibunyikan [a], <å> yang dibunyikan [ɔ], dan <â> yang dibunyikan [ɤ]

 

Hasil Kontak Bahasa

Keunikan BJDB juga tercermin dari banyaknya kosakata hasil kontak dengan bahasa lain. Bahasa Sunda, Betawi, Melayu, dan Lampung turut memberikan pengaruh terhadap perbendaharaan kata dalam dialek ini. Berlandaskan pada Rohbiah & Mu’awwanah (2021), berikut adalah contoh-contoh pengaruh dari masing-masing bahasa tersebut.

  1. Dari bahasa Sunda, misalnya, kata kolot yang berarti ‘tua’ serta beuleum yang berarti ‘membakar’ yang digunakan oleh penutur BJDB daerah di Desa Binong, Kecamatan Pamarayan, alih-alih menggunakan kata tuâ dan ngobong dalam BJDB.
  2. Dari bahasa Betawi terdapat kata engkong yang berarti ‘kakek’ dan betot yang berarti ‘menarik’ yang digunakan oleh penutur BJDB di Desa Pedaleman, Kecamatan Tanara, alih-alih menggunakan kata ende lanang dan narik dalam BJDB.
  3. Pengaruh bahasa Melayu terlihat pada penggunaan kata laki untuk menyebut ‘suami’ oleh penutur BJDB di Desa Kampung Baru & Binong, Kecamatan Pamarayan, Desa Pontang & Wanayasa, Kecamatan Pontang, Desa Tanara & Pedaleman, Kecamatan Tanara, dan Desa Anyar & Cikoneng, Kecamatan Anyar, alih-alih menggunakan kata rayat lanang dalam BJDB.
  4. Pengaruh bahasa Lampung muncul kata eppak yang berarti ‘empat’ dan duwai yang berarti ‘danau’ yang digunakan oleh penutur BJDB di Desa Anyar, Kecamatan Anyar, alih-alih menggunakan kata papat dan danau dalam BJDB.

Fenomena penyerapan tersebut biasanya muncul di wilayah-wilayah yang memiliki intensitas kontak budaya tinggi dengan komunitas bahasa tertentu.

 

 

Daftar Pustaka

Iskandarwassid; Mulyana, Y.; Hudari, A; Sjarif, T.K.S. (1985). Struktur Bahasa Jawa Dialek Banten. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Karia, M. M. D. (1914). Dialect Djawa Banten. Batavia: G Kolff & Co.

Patmadiwiria, M. (1977). Kamus Dialek Jawa Banten-Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Poerwadarminta, W.J.S. (1939). Baoesastra Jawa. Batavia: J.B. Wolters’ Uitgevers-Maatschappij N. V. Groningen.

Ras, J.J. (1994). Inleiding tot het Modern Javaans. Leiden: KITLV.

Rohiah, T.S., & Mu’awwanah, U. (2020). Inovasi Leksikal Bahasa Jawa Banten di Perbatasan Kabupaten Serang Provinsi Banten: Kajian Geografis – Linguistik. Serang: Media Madani

Sulistyowati. (2018). Kompleksitas dan Fleksibilitas Realisasi Bunyi Vokal Bahasa Jawa. Mutiara dalam Sastra Jawa Edisi 4, 4(3), 29-45.

 

Daftar Gambar

Akbar. (2025, 13 Oktober). Keraton Kaibon, Jejak Kejayaan Kesultanan Banten di Kota Serang [Gambar]. Serangkota.go.id. https://serangkota.go.id/detailpost/keraton-kaibon-jejak-kejayaan-kesultanan-banten-di-kota-serang.

 

Penulis: Haryo Untoro
Editor: Haryo Untoro & Nurul Fajri Rahmani
Pembuat Keluku: Nurul Fajri Rahmani

Lulus dalam 3,5 Tahun: Strategi Tiga Mahasiswa Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa UGM dalam Menyelesaikan Studinya

BeritaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Senin, 2 Maret 2026

Kelulusan dalam waktu 3,5 tahun bukan lagi suatu yang mustahil bagi mahasiswa. Hal ini dibuktikan oleh tiga mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa UGM, yaitu Yasmin Nabiha Sahda, Pesdhi Sekar Hayumay, dan Hanundita Salma. Ketiga mahasiswa tersebut resmi diwisuda pada Rabu, 25 Februari 2026, setelah menuntaskan pendidikannya hanya dalam waktu tujuh semester saja.

Dalam sesi wawancara pada Jumat, 27 Februari 2026, ketiganya membagikan tips agar mahasiswa bisa menyelesaikan skripsi dan dapat meraih kelulusan yang cepat. Yasmin Nabiha Sahda (Yasmin) menyarankan mahasiswa untuk sudah memantapkan objek penelitian sejak semester enam. Strategi ini menurutnya sangat efektif agar mahasiswa bisa langsung fokus mendalami literatur dan menyusun kerangka penelitian tanpa membuang waktu di masa pengerjaan skripsi.

Selain persiapan awal, minat dan manajemen waktu juga berpengaruh besar dalam proses penyusunan skripsi. Pesdhi Sekar Hayumay (Pesdhi) menekankan bahwa memilih objek penelitian yang sesuai dengan kemampuan dan ketertarikan pribadi akan membuat proses riset berjalan lebih lancar. Ia juga menambahkan bahwa penetapan target pengerjaan yang jelas dan penguasaan teori yang relevan dapat membantu mahasiswa tetap fokus selama proses penelitian.

Sementara itu, Hanundita Salma (Hanun) menyampaikan bahwa skripsi yang tampak berat harus dipecah menjadi beberapa tahap kecil agar pengerjaannya terasa lebih terarah. Hanundita juga menyoroti pentingnya lingkungan pertemanan yang saling mendukung serta komunikasi aktif dengan dosen sebagai mitra diskusi untuk mempercepat proses penyelesaian tugas akhir.

Selain itu, ketiga wisudawan ini juga memberikan pesan bagi rekan-rekan mahasiswa yang masih berjuang. Yasmin mendorong agar masa kuliah benar-benar digunakan untuk memperkaya diri dengan literasi sastra Jawa yang mendalam. Sementara itu, Pesdhi dan Hanun sepakat bahwa kunci utama menghadapi tugas akhir bukanlah kecepatan semata, melainkan ketekunan dalam menghadapi skripsi tanpa kehilangan kegembiraan selama prosesnya.

Pengalaman ketiganya menunjukkan bahwa skripsi dapat diselesaikan secara bertahap dengan perencanaan yang baik. Melalui tips dan pengalaman tersebut, diharapkan dapat menjadi referensi dan menambah semangat mahasiswa yang sedang merencanakan dan menyelesaikan tugas skripsinya.

 

Penulis                        : Haryo Untoro
Editor                         : Haryo Untoro & Nanda Nursa Alya
Pembuat Keluku       : Haryo Untoro

Seputar Jawa: Basa Kedhaton dan Basa Bagongan, Ragam Tutur Khas Keraton Surakarta dan Yogyakarta

BeritaSDGS Senin, 2 Maret 2026

Pembahasan mengenai tingkat tutur bahasa Jawa umumnya berhenti pada dua istilah yang paling populer, yakni tingkat tutur ngoko dan krama. Padahal, di lingkungan keraton Jawa berkembang satu ragam bahasa khusus yang digunakan oleh para abdi dalem di lingkungan istana, yaitu Basa Kedhaton dan Basa Bagongan. Apa itu Basa Kedhaton atau Basa Bagongan?

Secara istilah, basa berarti ‘bahasa’, sedangkan kedhaton merujuk pada ‘keraton’ atau ‘kerajaan’. Basa Kedhaton atau Basa Bagongan itu sendiri digunakan oleh para sentana ‘kerabat raja’ dan abdi dalem ketika menghadap raja, seperti Sultan atau Sunan, serta Pangeran Adipati Anom ‘putra mahkota’ di Keraton (Padmosoekotjo, 1953:16). Istilah yang digunakan di Keraton Kasunanan Surakarta adalah Basa Kedhaton, sementara di Keraton Kasultanan Yogyakarta dikenal sebagai Basa Bagongan (Padmosoekotjo, 1953).

Dalam naskah Serat Purwa Ukara, tercatat bahwa Sejarah penggunaan Basa Bagongan sendiri telah tercatat sejak masa pemerintahan Hamengkubuwana (HB) I. Namun, penggunaannya sempat dilarang pada masa HB V karena kurang disukai, sebelum akhirnya diperbolehkan kembali oleh HB VI (Setyowijaya, 2015:61–63).

Istilah “Bagongan” sendiri kerap dihubungkan dengan tokoh Bagong dalam tradisi pewayangan Yogyakarta. Tokoh ini dikenal lugas, apa adanya, dan tidak terlalu halus dalam bertutur. Karakter tersebut dinilai merepresentasikan sifat Basa Bagongan yang “setengah madya”, tidak sehalus krama, tetapi tetap sopan dan beritikad baik (Padmosoekotjo, 1953:89). Sementara itu, dalam naskah Serat Purwa Ukara dijelaskan bahwa istilah “Bagongan” diciptakan oleh Sri Sultan itu sendiri. Istilah ini identik dengan pegoan ‘bahasa Jawa yang tidak lazim atau menyimpang dari kebiasaan’ (Setyowijaya, 2015:62–63).

Keunikan dari Basa Kedhaton dan Basa Bagongan dapat diketahui dari bentuk kebahasaannya, yaitu memiliki istilah-istilah khusus, struktur gramatikal, dan penggunaan bentuk sastra dengan pelekatan imbuhan ragam bahasa Kawi atau bahasa Jawa Kuna untuk sastra (Padmosoekotjo, 1953; Setyowijaya, 2015; dan Poedjosoedarmo & Laginem, 2014).

Ciri paling menonjol dari Basa Kedhaton adalah penggunaan kata ganti orang pertama (aku) dan kata ganti orang kedua (kamu). Bentuk kata ganti di Kasunanan Surakata dibedakan sesuai jabatan: mara ‘aku’ dan para ‘kamu’ yang digunakan oleh putra-sentana ‘anak pejabat istana’, manira ‘aku’ dan pakenira ‘kamu’ untuk penggawa, kula ‘aku’ dan jengandika ‘kamu’ untuk panèwu ‘camat’ dan mantri ‘lurah’, serta robaja ‘aku’ dan pantèn ‘kamu’ untuk pujangga. Sementara itu, di Yogyakarta hanya dikenal pasangan manira ‘aku’ dan pakenira ‘kamu’ (Padmosoekotjo, 1953:16).

Selain itu, terdapat sejumlah kosakata khas lainnya. Poedjosoedarmo dan Laginem (2014) mencatat bahwa terdapat sekitar 40 kosakata khusus dari Basa Kedhaton dan 11 kosakata khusus Basa Bagongan. Beberapa di antaranya ialah:

  • enggèh ‘iya’
  • wènten ‘ada’,
  • wikana ‘tidak tahu’,
  • sumitra ‘singa’.

Kemudian, ragam ini juga sering memanfaatkan bentuk bernuansa sastra atau imbuhan Kawi, misalnya kakersake ‘dikehendaki’, mangangge ‘memakai’, sinerat ‘ditulis’, dan lumebet ‘masuk’.

Dari segi tata bahasa, terdapat perbedaan antara struktur tata bahasa Basa Kedhaton dari Surakarta dan Basa Bagongan dari Yogyakarta. Basa Kedhaton dari Surakarta yang tetap menggunakan tata kalimat dalam wujud krama. Berdasarkan hal tersebut, maka prefiks dan sufiks yang digunakan tetap menggunakan variasi krama, yaitu prefiks pasif {dipun-} dan sufiks {-aken}.

Kondisi tersebut berbeda dengan struktur Basa Bagongan memperlihatkan percampuran krama dan ngoko dalam satu bentuk. Contoh yang ditemukan dalam Serat Purwa Ukara yaitu sebagai berikut:

Rawuhé Kanjeng Tuwan Panes, wènten ing negari Ngayugya minangka kumissarising gupermèn…

‘Datangnya Kanjeng Tuwan Panes, di Negari Yogyakarta sebagai komisaris gupermen..’.

Dalam hal ini, kata rawuhé, berasal dari kata dasar rawuh ‘datang’ (krama inggil) yang dilekati sufiks {-é} (ngoko). Fenomena tersebut menunjukkan perpaduan tingkat tutur dalam satu kata (Setyowijaya, 2015:57).

Selain itu, perbedaan lainnya adalah perbedaan penggunaan antara Basa Kedhaton dan Basa Bagongan. Basa Kedhaton tidak dimaksudkan untuk menghadirkan efek kesejajaran antarpengguna (Poedjosoedarmo & Laginem, 2014:21–22). Poedjosoedarmo & Laginem (2014:22) menerangkan bahwa terdapat beberapa tingkatan yang berbeda, seperti:

  • Manungkara, digunakan oleh para bangsawan, seperti Kanjeng Gusti dan Bendara Pangeran
  • Mangungkak basa, digunakan oleh para punggawa pangkat tinggi antara satu dengan yang lain
  • Angagok wicara, digunakan oleh bangsawan tinggi kepada orang yang lebih rendah pangkatnya.

Hal tersebut berbeda dengan Basa Bagongan di Yogyakarta yang tetap menyampaikan rasa hormat sekaligus menghadirkan kesetaraan di antara penutur dan mitra tutur (Poedjosoedarmo & Laginem, 2014:10).

Fungsi dari Basa Bagongan tidak sekadar untuk komunikasi lisan di lingkungan istana saja. Variasi bahasa Jawa ini juga ditemukan dalam komunikasi tulis atau persuratan. Selain itu, Basa Bagongan juga digunakan dalam upacara adat Keraton, tepatnya ketika pemimpin prajurit diperintahkan untuk mengantarkan gunungan dalam proses adat Grebeg (Setyowijaya, 2015:63-66).

Baik Basa Kedhaton maupun Basa Bagongan memiliki ciri khasnya tersendiri. Kendatipun menjadi kekayaan budaya yang tidak ternilai, keberadaan Basa Bagongan kini semakin jarang dijumpai. Setyowijaya (2015:66–67) mencatat bahwa penutur aktif umumnya abdi dalem berusia di atas 60 tahun. Generasi muda keraton cenderung hanya menggunakan ngoko dan krama. Regenerasi dari luar lingkungan keraton serta anggapan kurang sopan jika dipakai kepada pejabat tinggi turut menyebabkan ragam ini jarang digunakan.

Daftar Pustaka

Padmosoekotjo, S. (1953). Ngéngréngan Kasusastran Djawa. Jogyakarta: Hien Hoo Sing

Poedjosoedarmo, S., dan Laginem. (2014). Bahasa Bagongan. Yogyakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Setyowijaya, A. (2015). Teks Basa Bagongan dalam Naskah Sêrat Purwa Ukara: Suntinga Teks, Terjemahan, dan Deskripsi Kebahasaan. Skripsi. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

 

Daftar Gambar

Verkaik, A. (t.t.). Abdi Dalem – Yogya [Gambar]. Pinterest. https://pin.it/5XmXoVqln

Widya. (t.t.). Keraton Kasunan Surakarta Hadiningrat / Surakarta Hadiningrat Royal Palace. Solo, Java [Gambar]. Pinterest.  https://pin.it/5Wm9RNcqm.

Wirasandjaya, F.R. (2019, 16 Agustus). Spiritualisme Masyarakat Jawa [Gambar]. Kompasiana.com. https://www.kompasiana.com/frwirasandjaya/5d56c9ff097f3675ad5e5bd4/spiritualisme-masyarakat-jawa.

 

Penulis: Haryo Untoro

Editor: Haryo Untoro

Pembuat Keluku: Nurul Fajri Rahmani

Tiga Mahasiswa Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa Berhasil Lulus dalam Waktu 3,5 Tahun

BeritaMahasiswaSDGS Kamis, 26 Februari 2026

Kabar gembira datang dari Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada. Tiga mahasiswa program studi tersebut berhasil menyelesaikan studi sarjana dalam waktu 3,5 tahun atau tujuh semester, lebih cepat dari masa studi yang umumnya ditempuh selama empat tahun atau delapan semester. Ketiga mahasiswa tersebut adalah Yasmin Nabiha Sahda, Hanundita Salma, dan Pesdhi Sekar Hayumay. Mereka  mengikuti wisuda pada Periode II Tahun Akademik 2025/2026 yang diselenggarakan pada Rabu, 25 Februari 2026.

Topik tugas akhir yang mereka angkat berkaitan dengan berbagai aspek bidang bahasa, sastra, serta budaya Jawa. Yasmin Nabiha Sahda meneliti folklor Putri Ayu Limbasari sebagai bagian dari kajian sastra lisan. Hanundita Salma mengkaji kebahasaan yang digunakan oleh para nelayan di wilayah Cilacap, yang memperlihatkan dinamika penggunaan bahasa dalam komunitas pesisir. Sementara itu, Pesdhi Sekar Hayumay meneliti toponimi padukuhan di Kapanewon Samigaluh, yang berada di wilayah Kulon Progo, dengan menyoroti aspek penamaan tempat dalam perspektif kebudayaan dan sejarah lokal.

Melalui dedikasi dan komitmen dalam menyelesaikan penelitian, ketiga mahasiswa tersebut mampu menuntaskan penyusunan skripsi dengan baik dalam waktu yang relatif singkat. Pencapaian ini diharapkan dapat menjadi inspirasi sekaligus motivasi bagi mahasiswa lainnya, khususnya di lingkungan Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, untuk terus berprestasi serta merencanakan studi dengan baik sehingga dapat menyelesaikan pendidikan secara optimal.

 

Penulis: Haryo Untoro
Editor: Haryo Untoro

Serah Terima Jabatan HMJ Kamastawa Periode 2026/2027

BeritaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Selasa, 24 Februari 2026

Himpunan Mahasiswa Jurusan Keluarga Mahasiswa Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa (HMJ Kamastawa) menyelenggarakan Serah Terima Jabatan (Sertijab) kepengurusan periode 2026/2027 pada Senin (23/06/2026) di Gedung Poerbatjaraka 203, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada. Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran pengurus HMJ Kamastawa periode 2025/2026 dan periode 2026/2027, serta perwakilan dosen dari program studi.

Turut hadir dalam acara tersebut Ketua Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Dr. Sulistyowati, M.Hum., serta dosen pembina HMJ Kamastawa, Dr. Rudy Wiratama, S.I.P., M.A. Kehadiran para pimpinan program studi tersebut menegaskan dukungan prodi terhadap keberlanjutan organisasi kemahasiswaan.

Acara dimulai pukul 16.15 WIB dan dipandu oleh Muhammad Bagus Ulinnuha selaku pembawa acara. Rangkaian kegiatan diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Hymne Gadjah Mada

Pemberian kata sambutan oleh Dr. Rudy Wiratama, S.I.P., M.A., selaku pembina HMJ Kamastawa

Dalam sambutannya, Dr. Rudy Wiratama, S.I.P., M.A. menekankan pentingnya menjaga prestasi dalam ranah positif serta membangun jejaring seluas-luasnya. Ia juga berpesan agar para pengurus senantiasa menerapkan nilai asah, asih, dan asuh, baik dengan sesama pengurus, kakak tingkat, maupun dengan alumni.

Pemberian kata sambutan oleh Ketua Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Dr. Sulistyowati, M.Hum.

Sementara itu, Dr. Sulistyowati, M.Hum. mengingatkan agar para pengurus tetap tangguh dalam menghadapi dinamika dan tantangan organisasi. Ia menegaskan pentingnya koordinasi dengan dosen esehat serta menjaga keseimbangan antara prestasi, esehatan fisik dan mental, serta komunikasi yang harmonis di internal kepengurusan.

Prosesi inti kegiatan berupa pembacaan dan penandatanganan berita acara yang dibacakan oleh Ketua HMJ periode 2025/2026, Dwiyan Teguh Darmawan, dilanjutkan dengan penyerahan jabatan secara simbolis oleh Ketua Program Studi. Selanjutnya, pembacaan naskah pelantikan dipandu oleh Dr. Rudy Wiratama, S.I.P., M.A., serta pembacaan sumpah jabatan yang dipimpin oleh Ketua HMJ periode 2026/2027, Wreksi Awinanggya Pinandhita.

Serah terima jabatan kepada pengurus HMJ Kamastawa

Acara kemudian dilanjutkan dengan serah terima jabatan secara simbolis kepada pengurus HMJ Kamastawa, penyampaian pesan dan kesan dari HMJ periode 2025/2026, serta sambutan dari Ketua HMJ periode 2026/2027. Rangkaian kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama guna mengabadikan momen kebersamaan tersebut.

Acara kemudian dilanjutkan dengan serah terima jabatan secara simbolis kepada pengurus HMJ Kamastawa, penyampaian pesan dan kesan dari HMJ periode 2025/2026, serta sambutan dari Ketua HMJ periode 2026/2027. Rangkaian kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama guna mengabadikan momen kebersamaan tersebut.

Dr. Arsanti Wulandari, M.Hum., Menjadi Pemateri dalam FGD “Islam dalam Babad Jawa: Ikhtiar Revitalisasi Islam Mataraman”

BeritaSDGS Selasa, 10 Februari 2026

Dr. Arsanti Wulandari, M.Hum., dosen Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa bidang Filologi, menjadi salah satu pemateri dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Islam dalam Babad Jawa: Ikhtiar Revitalisasi Islam Mataraman”. Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh PPM Aswaja Nusantara di Aula PPM Aswaja Nusantara Mlangi pada Jumat (6/2/2026) pukul 13.30–16.30 WIB.

Dalam pemaparannya, Dr. Arsanti Wulandari, M.Hum. menjelaskan keterkaitan antara karya sastra babad, khususnya Babad Ngayogyakarta, dengan perkembangan dan eksistensi agama Islam di Keraton Yogyakarta. Beliau memaparkan bahwa Babad Ngayogyakarta merupakan karya yang ditulis pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwana (HB) V dan disalin kembali pada masa HB VII. Naskah tersebut ditulis menggunakan aksara Jawa dan memuat ekspresi ajaran Islam yang berkembang di lingkungan Keraton Yogyakarta.

Babad tersebut memuat kronik masa HB IV-V, dimulai dari IV dari masa kecil HB IV hingga masa penobatan HB V. Dalam masa tersebut, Pangeran Diponegoro dikisahkan juga sebagai perwalian dari HB IV hingga meletusnya perang Diponegoro. Pangeran Diponegoro juga dilukiskan sebagai tokoh yang memegang teguh ajaran Islam serta menghidupkan ajaran tersebut di dalam kehidupan Kesultanan Yogyakarta.

Salah satu contoh yang diangkat adalah peran Pangeran Diponegoro dalam memberikan pendidikan Islam kepada Hamengkubuwana IV. Pendidikan tersebut mencakup kewajiban mempelajari Al-Qur’an, memahami ilmu fikih, serta penanaman nilai-nilai perjuangan. Dr. Arsanti Wulandari, M.Hum. juga menjelaskan bahwa konsep perjuangan Diponegoro tercermin dalam perang melawan kolonialisme yang dilandasi semangat menegakkan ajaran Islam, termasuk seruan sabilullah sebagai penyemangat pasukan.

Melalui kajian terhadap karya sastra Babad Ngayogyakarta, dapat ditemukan berbagai informasi penting, mulai dari fakta sejarah, bentuk kesusastraan, hingga informasi tentang eksistensi agama Islam di Tanah Jawa. Beliau menggambarkan keberadaan Islam pada masa tersebut ke dalam tiga (3) kata, yaitu manjing ‘masuk’, ajur ‘lebur’, dan ajer ‘berjalan beriringan’.

Informasi-informasi terkait dengan kesusastraan dan sejarah masa lampau dapat tersimpan dalam berbagai manuskrip. Dalam hal ini, ilmu filologi berperan penting dalam membuka kembali informasi yang terkandung dalam naskah-naskah kuno agar dapat dipahami dan dimanfaatkan oleh masyarakat masa kini. Selain itu, kajian filologi juga menjadi bagian dari upaya preservasi dan pelestarian bahasa, sastra, dan budaya daerah di Indonesia.

Kegiatan FGD ini selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya poin 4 tentang pendidikan berkualitas, poin 11 tentang kota dan komunitas yang berkelanjutan, serta poin 17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan pembangunan.

Seputar Jawa: Pelestarian Aksara Jawa melalui Pemanfaatan Fon Digital Bebas Lisensi

BeritaSDGSUncategorized Selasa, 27 Januari 2026

Aksara Jawa merupakan salah satu sistem tulisan tradisional di Indonesia yang masih dikenal dan digunakan hingga saat ini. Aksara ini tergolong sebagai aksara abugida atau silabik serta merupakan bagian dari rumpun aksara Kawi (Maulana, 2020). Sejak masa lampau, aksara Jawa berperan penting dalam mendokumentasikan berbagai pengetahuan, nilai budaya, serta karya sastra yang tercatat dalam naskah-naskah Jawa.

Perkembangan teknologi dan globalisasi membawa dampak signifikan terhadap pola komunikasi masyarakat. Penggunaan aksara Latin yang semakin dominan, khususnya di kalangan generasi muda, menyebabkan aksara Jawa dan aksara daerah lainnya mulai terpinggirkan. Minimnya penggunaan dalam kehidupan sehari-hari berpotensi mengakibatkan berkurangnya kemampuan membaca dan menulis aksara Jawa pada generasi penerus.

Kondisi tersebut menuntut adanya upaya revitalisasi yang mampu menyesuaikan aksara daerah dengan perkembangan zaman. Revitalisasi ini merupakan upaya untuk mengenalkan bentuk secara simbolis serta mendorong penggunaannya secara aktif pada sekarang ini.

Salah satu bentuk revitalisasi aksara Jawa yang relevan dengan perkembangan teknologi adalah melalui penyediaan fon aksara Jawa. Fon merupakan representasi digital dari aksara yang memungkinkan penggunaannya pada berbagai platform, seperti perangkat komputer, gawai, dokumen digital, serta media daring.

Keberadaan fon aksara Jawa memberikan kemudahan dalam proses pembelajaran dan pengajaran, karena aksara dapat ditulis, dibaca, dan dipelajari secara praktis. Selain itu, fon aksara Jawa juga membuka peluang pemanfaatan aksara sebagai elemen estetis dalam desain grafis dan karya kreatif.

Hingga saat ini, berbagai fon aksara Jawa telah tersedia dan dapat diakses melalui berbagai media. Namun, agar pemanfaatannya dapat berlangsung secara berkelanjutan, baik untuk keperluan penulisan maupun estetika, penggunaan fon aksara Jawa yang bebas lisensi menjadi pilihan yang lebih tepat.

Fon bebas lisensi memungkinkan penggunaan secara luas tanpa adanya hambatan hukum atau kewajiban biaya lisensi. Hal ini sangat mendukung pemanfaatan aksara Jawa oleh institusi pendidikan, komunitas budaya, desainer, serta masyarakat umum.

Sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian aksara Jawa, pada tahun 2020 Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta merilis fon aksara Jawa yang dikembangkan oleh Apri Nugroho. Terdapat dua jenis fon yang diperkenalkan, yaitu nyk Ngayogyan dan nyk Ngayogyan Jejeg. Kedua fon tersebut dapat diunduh melalui tautan berikut:

  • Fon nyk Ngayogyan

https://aksaradinusantara.com/fonta/nyk-ngayogyan.font

 

  • Fon nyk Ngayogyan Jejeg

https://aksaradinusantara.com/fonta/nyk-ngayogyan-jejeg.font

Selain menyediakan fon, pengembang juga melengkapi dengan pedoman pemasangan, cara pengetikan, serta tata letak papan ketik (keyboard). Pedoman ini bertujuan untuk memudahkan pengguna dalam menginstal dan menggunakan fon aksara Jawa secara tepat dan konsisten.

Pemanfaatan fon aksara Jawa juga memiliki keterkaitan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) nomor 4 dan 17. Dalam konteks SDGs 4 tentang pendidikan berkualitas, keberadaan fon aksara Jawa mendukung penyediaan bahan ajar yang inklusif, kontekstual, dan berbasis budaya lokal, sehingga mempermudah proses pembelajaran serta meningkatkan literasi budaya peserta didik. Sementara itu, pencapaian tujuan tersebut tidak dapat dilepaskan dari poin SDGs ke-17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan, karena pengembangan dan pemanfaatan fon aksara Jawa membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, pengembang teknologi, komunitas budaya, dan masyarakat luas.

 

Penulis            : Haryo Untoro

Editor             : Haryo Untoro

 

Daftar Pustaka

Maulana, R. (2020). Aksara-Aksara di Nusatara: Seri Ensiklopedia. Writing Tradition Project

Mengenalkan Rumpun Sastra Budaya Universitas Gadjah Mada dalam Kegiatan Saba Tilik 6.0 X Saba Education Fair

BeritaKarya MahasiswaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Jumat, 23 Januari 2026

SMAN 1 Bantul menyelenggarakan kegiatan Saba Tilik 6.0 X Saba Education Fair pada Kamis (22/01/2026). Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan motivasi serta informasi lanjutan pendidikan kepada para siswa, khususnya peserta didik tingkat akhir, agar memiliki gambaran yang lebih luas mengenai dunia perguruan tinggi dan pilihan program studi.

Dalam kegiatan tersebut, dua mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa angkatan 2025, Universitas Gadjah Mada (UGM), yang juga merupakan alumni SMAN 1 Bantul, yakni Nurul Fajri Rahmani dan Tri Wulandari, turut berpartisipasi sebagai pemateri. Kehadiran mereka dimanfaatkan untuk berbagi pengalaman akademik sekaligus mengenalkan berbagai program studi yang ada di Universitas Gadjah Mada kepada para siswa.

Berdasarkan wawancara daring dengan Nurul Fajri Rahmani pada Jumat (23/01/2026), disampaikan bahwa materi yang diberikan berfokus pada pengenalan rumpun sastra dan budaya, khususnya Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa. Selain itu, Fajri juga membagikan pengalamannya dalam menempuh perjalanan menuju perguruan tinggi melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) dan Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT).

Fajri mengungkapkan bahwa tantangan utama dalam kegiatan tersebut adalah masih rendahnya minat siswa terhadap rumpun Sastra dan Budaya. “Karenanya, kami berusaha menjelaskan sebaik baik mungkin tentang prospek kerja, potensi keilmuan, serta berbagai keuntungan dan pengalaman menarik yang dapat diperoleh selama menempuh pendidikan di rumpun sastra budaya” terangnya. Penjelasan tersebut diharapkan mampu membuka wawasan dan mengubah pandangan siswa terhadap studi sastra dan budaya.

Bagi Fajri, keikutsertaannya dalam Saba Tilik 6.0 X Saba Education Fair menjadi pengalaman yang sangat berkesan. Selain dapat kembali ke almamater dan bertemu dengan teman-teman seangkatan, dirinya juga berkesempatan untuk berbagi cerita dan informasi mengenai dunia perkuliahan. Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan guna membangkitkan minat dan semangat siswa-siswi dalam melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Kegiatan Saba Tilik 6.0 X Saba Education Fair sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDGs 4 tentang pendidikan berkualitas melalui pemberian akses informasi pendidikan tinggi yang inklusif dan merata. Pemberian informasi ini membantu siswa dalam mengambil keputusan pendidikan secara lebih sadar dan terarah. Dalam cakupan yang lebih luas, kegiatan ini juga bersinggungan dengan SDGs 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan), yakni melalui peningkatan literasi dan wawasan komunitas pendidikan yang menjadi fondasi terbentuknya masyarakat yang berpengetahuan dan berkelanjutan. Kolaborasi antara sekolah menengah dan perguruan tinggi dalam kegiatan ini juga mencerminkan implementasi SDGs 17, yakni kemitraan untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan melalui sinergi antarlembaga pendidikan

Penulis : Haryo Untoro
Editor  : Haryo Untoro

Mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa Angkatan 2025 Pentaskan Drama Weton Waton

BeritaKarya MahasiswaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Sabtu, 17 Januari 2026

Mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa Angkatan 2025 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada mementaskan drama berjudul Weton Waton pada Selasa (16/12/2025). Pementasan tersebut berlangsung di Auditorium Gedung Poerbatjaraka FIB UGM pada pukul 18.00 WIB.

Kegiatan ini diselenggarakan sebagai bagian dari tugas Ujian Akhir Semester (UAS) Mata Kuliah Bahasa Jawa Lisan Komunikatif yang diampu oleh Dr. R. Bima Slamet Raharja, S.S., M.A. Pementasan drama Weton Waton dipimpin oleh Safa Rahmatul H. selaku pimpinan produksi.

Drama Weton Waton mengisahkan konflik rumah tangga antara suami dan istri yang dipicu oleh persoalan finansial. Akar permasalahan tersebut terletak pada keputusan sang suami yang berhenti bekerja dan memilih terlibat dalam perjudian sabung ayam. Konflik yang terus berlarut kemudian mendorong orang tua pihak istri membawa permasalahan tersebut kepada seorang dukun. Dalam cerita, dukun tersebut menyebutkan bahwa pertengkaran rumah tangga pasangan tersebut disebabkan oleh ketidakcocokan weton yang berupa tiba pegat.

Melalui pementasan ini, mahasiswa berupaya menyampaikan pesan agar setiap permasalahan tidak serta-merta dikaitkan dengan sifat atau watak berdasarkan weton. Selain itu, pementasan ini juga memaparkan pengetahuan mengenai konsep dina, pasaran, dan wuku yang masih dipercaya oleh sebagian masyarakat Jawa sebagai bagian dari tradisi.

Berdasarkan wawancara daring bersama Yogi Setiyawan pada 28 Desember 2025, pementasan Weton Waton merupakan tugas UAS yang mengharuskan seluruh mahasiswa peserta mata kuliah untuk terlibat langsung dalam pertunjukan. Tema weton dipilih sebagai upaya mengangkat tradisi perhitungan weton, dina, pasaran, dan wuku yang berkembang di masyarakat Jawa.

“Dalam mempersiapkan pementasan Weton Waton, persiapan kami dapat dikatakan masih memiliki sejumlah keterbatasan. Tantangan yang dihadapi meliputi penyusunan naskah, pembagian kelompok, hingga kendala pendanaan. Dari proses ini, kami belajar bahwa komunikasi yang baik dan terbuka antaranggota menjadi hal yang sangat penting dalam sebuah pertunjukan,” ujar Yogi.

Yogi juga mengungkapkan rasa bangganya dapat terlibat dalam pementasan perdana mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa angkatan 2025. Ia berharap kegiatan ini dapat menjadi langkah awal untuk menghasilkan karya-karya yang lebih baik di masa mendatang.

Pementasan drama Weton Waton tidak hanya menjadi sarana melatih kemampuan berbahasa Jawa secara lisan, tetapi juga menjadi wadah bagi mahasiswa untuk berkarya dan mengaplikasikan kemampuan berbahasa ke dalam bentuk pertunjukan. Sejalan dengan ajaran KGPAA Mangkunegara IV dalam Serat Wedhatama yang menyatakan ngelmu iku kalakone kanthi laku atau ilmu harus dilaksanakan dengan praktik, pementasan ini menjadi wujud nyata dalam membangkitkan gairah berbahasa Jawa sekaligus mengasah kreativitas mahasiswa. Melalui kegiatan semacam ini, mahasiswa diharapkan dapat terus nguri-uri (melestarikan) dan ngurip-urip (menghidupkan) kebudayaan Jawa melalui upaya nyata yang bermanfaat bagi masyarakat.

Penulis : Haryo Untoro
Editor   : Haryo Untoro

Gema Gamasutra dalam Melestarikan Budaya Nusantara

BeritaKarya MahasiswaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Kamis, 15 Januari 2026

Gamasutra ‘Gamelan Mahasiswa Sastra Nusantara’ merupakan wadah pengembangan kreativitas mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (UGM). Berada di bawah naungan Divisi Minat dan Bakat Seni Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Keluarga Mahasiswa Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa (Kamastawa), komunitas ini berkomitmen untuk melestarikan seni karawitan sebagai bagian dari kekayaan budaya Nusantara.

Komitmen Gamasutra terhadap seni tradisi tidak hanya berfungsi sebagai sarana pembelajaran bagi mahasiswa, tetapi juga menjadi representasi identitas budaya di lingkungan akademik. Melalui dedikasi yang berkelanjutan, Gamasutra secara konsisten menjadi duta Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa dalam berbagai forum resmi serta festival seni, baik di tingkat fakultas maupun universitas.

Penampilan Gamasutra dalam Festival Karawitan Fakultas Filsafat UGM

Dalam perjalanan kiprahnya, Gamasutra telah berpartisipasi dalam sejumlah agenda strategis dan seremonial di lingkungan Universitas Gadjah Mada. Keterlibatan tersebut antara lain dalam Festival Karawitan Fakultas Filsafat UGM, seremoni peletakan batu pertama gedung baru Fakultas Ilmu Budaya UGM, serta mendukung pengukuhan organisasi melalui kegiatan Grand Launching HMJ Kamastawa. Selain itu, Gamasutra turut aktif dalam kegiatan silaturahmi lintas instansi melalui agenda Sowan Kadang Sastra Jawa UGM x Universitas Indonesia.

Penampilan Gamasutra dalam sowan kadang Sastra Jawa UGM X UI

Di tengah tantangan modernitas, Gamasutra terus menunjukkan eksistensinya sebagai pelestari budaya Jawa. Hal ini dibuktikan dengan kepercayaan yang diberikan kepada Gamasutra sebagai pembuka dan pengiring acara Pionir Kampung Budaya 2025 serta Forum Internasional Semeja (Seminar Melayu Jawa) IV. Forum internasional tersebut pada tahun 2025 diselenggarakan di Universitas Gadjah Mada.

Penampilan Gamasutra dalam seminar internasional Semeja

Dengan memadukan kemahiran teknis dalam seni karawitan dan pemahaman literasi budaya, Gamasutra berkomitmen untuk terus menghidupkan seni musik tradisional. Upaya ini dilakukan sebagai bagian dari penguatan identitas bangsa agar tetap dinamis, relevan, dan mampu diwariskan kepada generasi mendatang.

Kiprah Gamasutra selaras dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) poin 4, yaitu pendidikan berkualitas, melalui perannya sebagai ruang pembelajaran yang mendorong pengembangan kompetensi mahasiswa dalam bidang seni karawitan, literasi budaya, serta penguatan identitas keilmuan di lingkungan akademik. Selain itu, keterlibatan Gamasutra dalam berbagai kegiatan lintas fakultas, institusi, dan forum internasional, seperti kerja sama UGM dengan Universitas Indonesia serta partisipasi dalam Forum Internasional Semeja IV, mencerminkan implementasi SDGs Nomor 17, yakni penguatan kemitraan untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan. Melalui kolaborasi tersebut, Gamasutra tidak hanya memperluas jejaring akademik dan budaya, tetapi juga berkontribusi dalam upaya kolektif pelestarian budaya Nusantara yang inklusif dan berkelanjutan.

 

Penulis            : Maysa Putri Fatihah & Haryo Untoro
Editor             : Haryo Untoro

12

Recent Post

  • Seputar Jawa: Bahasa Jawa Dialek Banten, Dialek Bahasa yang Eksis di Ujung Barat Pulau Jawa
    Maret 10, 2026
  • Lulus dalam 3,5 Tahun: Strategi Tiga Mahasiswa Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa UGM dalam Menyelesaikan Studinya
    Maret 2, 2026
  • Seputar Jawa: Basa Kedhaton dan Basa Bagongan, Ragam Tutur Khas Keraton Surakarta dan Yogyakarta
    Maret 2, 2026
  • Tiga Mahasiswa Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa Berhasil Lulus dalam Waktu 3,5 Tahun
    Februari 26, 2026
  • Serah Terima Jabatan HMJ Kamastawa Periode 2026/2027
    Februari 24, 2026

Kalender

Maret 2026
S S R K J S M
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  
« Feb    
  • Fakultas Ilmu Budaya
  • Ujian Masuk UGM
  • PPSMB
  • Alumni
  • Jurnal Humaniora
Maret 2026
S S R K J S M
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  
« Feb    

Rilis Berita

  • Seputar Jawa: Bahasa Jawa Dialek Banten, Dialek Bahasa yang Eksis di Ujung Barat Pulau Jawa
    Maret 10, 2026
  • Lulus dalam 3,5 Tahun: Strategi Tiga Mahasiswa Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa UGM dalam Menyelesaikan Studinya
    Maret 2, 2026
  • Seputar Jawa: Basa Kedhaton dan Basa Bagongan, Ragam Tutur Khas Keraton Surakarta dan Yogyakarta
    Maret 2, 2026
Universitas Gadjah Mada

Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
Departemen Bahasa dan Sastra
Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada

 

Jl. Sosiohumaniora, Bulaksumur, Yogyakarta
Telp : 0274-901134 Ext. 110, Fax : 0274-550451, WhatsApp : 081211911281
Email : nusantara@ugm.ac.id

© 2025 Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa FIB UGM

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY