April
Pada Jumat (24/04/2026), Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta bersama Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (FIB UGM) melaksanakan penandatanganan kerja sama mengenai sinergi pengembangan, pembinaan, dan perlindungan bahasa serta sastra melalui peran strategis perguruan tinggi. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kolaborasi antara lembaga kebahasaan dan institusi akademik dalam menjaga keberlangsungan bahasa dan sastra di tengah dinamika globalisasi.
Penandatanganan kerja sama tersebut dilakukan oleh Drs. Umar Solikhan, M.Hum., selaku Kepala Balai Bahasa Provinsi DIY bersama Dr. Mimi Savitri, M.A. selaku Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, Kerja Sama, dan Alumni Fakultas Ilmu Budaya. Melalui kerja sama ini, kedua pihak berkomitmen mengembangkan berbagai program kolaboratif di bidang pendidikan, kebahasaan, dan pengembangan akademik, seperti program magang mahasiswa, penguatan kompetensi bahasa, pelestarian bahasa daerah, kegiatan ilmiah, serta pengembangan Program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA).
Kegiatan ini juga dihadiri oleh pimpinan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa serta para kepala balai bahasa dari berbagai provinsi, di antaranya Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Kehadiran para pemangku kepentingan tersebut menunjukkan pentingnya sinergi lintas wilayah dalam memperkuat kebijakan sekaligus implementasi program kebahasaan secara nasional.
Dalam sambutannya, Drs. Umar Solikhan, M.Hum., menegaskan bahwa perhatian Balai Bahasa tidak hanya tertuju pada kedudukan bahasa Indonesia, tetapi juga pada keberlangsungan bahasa daerah. Menurutnya, pelestarian bahasa daerah menjadi salah satu pekerjaan besar yang perlu segera diperkuat.
“Di Indonesia, jumlah kekayaan bahasa kita sangat luar biasa. Namun, saat ini kondisinya tentu tidak baik-baik saja. Generasi muda kita tampaknya sudah mulai tidak mengenal dan sulit untuk menggunakan bahasa daerah.”
Ia menjelaskan bahwa Balai Bahasa akan memperkuat upaya pelestarian bahasa daerah melalui beberapa langkah, seperti peningkatan kompetensi guru dan kualitas pengajaran bahasa daerah, penyesuaian kurikulum pembelajaran, serta pemberdayaan komunitas. Dalam konteks tersebut, kerja sama antara Balai Bahasa DIY dan Fakultas Ilmu Budaya menjadi salah satu bentuk langkah konkret untuk mendukung upaya tersebut.
Melalui kerja sama ini, diharapkan dapat terbangun ekosistem yang mendukung penguatan identitas kebahasaan dan kesastraan Indonesia maupun daerah, sekaligus mendorong inovasi dalam kajian serta praktik kebahasaan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat masa kini. Salah satu langkah konkret yang telah dilakukan ialah pengembangan korpus bahasa Jawa yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Provinsi DIY dengan melibatkan mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, FIB UGM.
Penulis : Haryo Untoro
Editor : Haryo Untoro
Sosialisasi Fon Aksara Jawa Dorong Pemanfaatan Aksara Jawa Digital
BeritaKarya MahasiswaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Rabu, 22 April 2026
Yogyakarta, Selasa, 22 April 2026 — Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, menyelenggarakan kegiatan sosialisasi fon aksara Jawa di ruang Margono 402. Kegiatan ini ditujukan bagi perwakilan dosen dan mahasiswa sebagai upaya meningkatkan pemahaman penggunaan aksara Jawa dalam ranah digital.
Sosialisasi ini dilatarbelakangi oleh berbagai kendala yang selama ini dihadapi civitas academica dalam penggunaan fon aksara Jawa. Sejumlah permasalahan yang kerap muncul antara lain perbedaan tata letak papan tombol dengan sistem huruf Latin, ketidakterbacaan fon pada perangkat tertentu yang ditandai dengan kemunculan simbol tofu atau kotak (tanda tidak terbaca), hingga perbedaan kompatibilitas antara sistem papan tombol atau keyboard layout seperti Windows dan Macintosh. Kondisi tersebut dinilai menghambat penggunaan aksara Jawa, padahal aksara ini menjadi bagian penting dalam kajian serta preservasi budaya di lingkungan program studi.
Untuk menjawab persoalan tersebut, kegiatan ini menghadirkan Setya Amrih Prasaja, S.S., M.Pd., alumni Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, yang dikenal sebagai pengembang fon aksara Jawa digital. Selain itu, kegiatan ini juga dihadiri oleh perwakilan Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai bentuk dukungan terhadap upaya pelestarian budaya melalui teknologi.
Dalam pemaparannya, narasumber menjelaskan proses pengembangan fon dan keyboard layout aksara Jawa, termasuk tantangan teknis yang dihadapi dalam penerapannya di berbagai platform. Ia juga menguraikan langkah-langkah pengenalan aksara Jawa digital di tingkat nasional maupun internasional, serta pengembangan sistem yang dapat dioperasikan pada berbagai perangkat. Tidak hanya itu, peserta juga diperkenalkan pada sejumlah fon aksara Jawa yang dapat diakses secara bebas tanpa kendala lisensi.
Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai penggunaan papan tombol dan fon aksara Jawa dalam konteks digital. Lebih lanjut, sosialisasi ini diharapkan dapat mendorong penyebarluasan pengetahuan kepada civitas academica dan khalayak yang lebih luas, sebagai bagian dari upaya pelestarian sekaligus penguatan eksistensi aksara Jawa di era digital.
Penulis : Haryo Untoro
Editor : Haryo Untoro
Mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa Mengikuti Pengembangan dan Pemanfaatan Korpus Bahasa Jawa
BeritaKarya MahasiswaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Rabu, 22 April 2026
Pada Selasa (21/04/2026), 10 mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, mengikuti kegiatan bertajuk “Korpus Kebahasaan yang Dikembangkan” yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan ini berlangsung pukul 08.00–16.00 WIB di Ruang Pandawa 2, Swiss-Belboutique Yogyakarta. 10 mahasiswa tersebut adalah Andini Nuraini, Arfia Kholifatul Ummamah, Bernadetta Rahayunin Tyas, David Sofyan Wilaynto, Diyah Pitaloka, Inoora Putri Haliza, Marseli Dwitanti, Maysa Putri Fatihah, Pingky Putri Khairani, dan Wreksi Awinanggya Pinandhita.
Dalam kegiatan tersebut, para peserta memperoleh pengetahuan mengenai pengembangan dan pemanfaatan korpus, pelestarian bahasa Jawa berbasis korpus, serta teknik pengumpulan dan pengolahan data korpus. Berdasarkan wawancara daring dengan Maysa Putri Fatihah, salah satu peserta, pada 27 April 2026, pertemuan awal difokuskan pada penjelasan teknis serta pembagian tugas. Tahap selanjutnya adalah pengumpulan data awal korpus bahasa Jawa selama 20 hari, dilanjutkan dengan proses pengolahan data seperti pembersihan dan penyuntingan yang berlangsung sekitar satu bulan. Seluruh tahapan awal ini dilakukan oleh peserta yang dalam program tersebut disebut sebagai asisten lapangan. Adapun tahap lanjutan, seperti pengodean, penginputan metadata, hingga finalisasi data, dikelola oleh pihak Balai Bahasa Yogyakarta.
Dalam proses pengembangannya, perangkat korpus yang digunakan adalah AntConc. Data bahasa Jawa dikumpulkan dari berbagai sumber teks tertulis, seperti naskah lama, buku, bab buku, artikel, karya ilmiah, media massa, berita surat kabar, media sosial, blog, karya sastra, cerita rakyat, surat, hingga pidato. Seluruh teks tersebut kemudian melalui proses penyuntingan sebelum diinput ke dalam sistem sebagai bahan korpus.
Berdasarkan penuturan Maysa, dirinya merasa senang dapat menjadi bagian dari program ini. “Saya sangat bersyukur bisa belajar hal baru, apalagi dalam hal teknis pengolahan data korpus yang dipraktikkan secara langsung. Sebelumnya saya sendiri sudah pernah ikut kuliah umum tentang korpus naskah Jawa, tetapi hanya sebatas teoretis saja,” ujarnya.
Pengembangan korpus bahasa Jawa menjadi langkah strategis dalam upaya mereservasi sekaligus mempreservasi bahasa Jawa sebagai bagian dari kekayaan bahasa daerah Nusantara. Lebih dari sekadar pelestarian, korpus ini juga membuka peluang pemanfaatan dalam ranah digital humanities, seperti penelitian linguistik, pengembangan bahan ajar, hingga penyusunan kurikulum berbasis data kebahasaan. Program ini sekaligus mencerminkan kolaborasi antara lembaga pemerintah dan institusi pendidikan dalam menghadirkan inovasi kebahasaan yang relevan dengan perkembangan zaman.
Penulis : Haryo Untoro
Author : Haryo Untoro
Seputar Jawa: Sistem Papan Tombol Aksara Jawa Digital
BeritaKarya MahasiswaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Senin, 13 April 2026
Mengetik aksara Jawa di perangkat digital sering kali tidak semudah yang dibayangkan. Alih-alih menampilkan huruf yang diharapkan, layar justru kerap memperlihatkan deretan kotak kosong atau tofu, tanda bahwa fon tidak terbaca dengan baik. Masalah tersebut tidak berdiri sendiri. Selain keterbatasan fon, perbedaan sistem pengetikan antara huruf Latin dan aksara Jawa juga menyulitkan pengguna dalam beradaptasi. Belum lagi, tata letak papan tombol yang berbeda-beda di setiap sistem operasi, mulai dari Windows, Macintosh, hingga Android. Hal tersebut secara langsung makin menambah sulit upaya penggunaan dan preservasi aksara Jawa, khususnya dalam ranah digital.
Sejumlah fon aksara Jawa sebenarnya telah tersedia dan dapat digunakan secara bebas, seperti NyK Ngayogyan dan NyK Ngayogyan Jejeg yang dikembangkan oleh Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Namun, persoalan tidak berhenti pada tampilan visual. Tanpa sistem papan tombol yang seragam, pengguna tetap menghadapi hambatan dalam praktik pengetikan sehari-hari.
Kondisi ini mendorong pengembangan sistem papan tombol aksara Jawa berbasis keyboard aksara nusantara SNI 9048. Sistem ini disusun dengan merujuk pada naskah Serat Wulangreh sebagai pijakan kultural, sekaligus disesuaikan dengan kebutuhan penggunaan pada berbagai perangkat digital. Melalui standarisasi ini, diharapkan tercipta keseragaman dalam pengetikan aksara Jawa, sehingga pengguna tidak lagi harus beradaptasi dengan sistem yang berbeda-beda.
Sistem papan tombol tersebut kini telah tersedia untuk berbagai perangkat dan dapat diakses secara bebas oleh masyarakat. Pengguna dapat mengunduh dan memasangnya sesuai dengan sistem operasi yang digunakan, baik Windows, Machintoh, maupun Android. Pengunduhan sistem papan tombol aksara Jawa dapat dilakukan melalui https://wongsayuk.webnode.page/my-work/ atau https://wongsaayuk.webnode.page dengan memilih menu lèsèhan. Pada laman tersebut, tersedia bagian “Kejboard Aksara Djawa”, lalu pilih sistem SNI Nataksara dalam berbagai format sesuai perangkat, yaitu file.exe untuk Windows, file.dmg untuk Macintosh, dan file.apk untuk Android.
Setelah proses pengunduhan dan instalasi, pengguna disarankan untuk melakukan restart perangkat apabila sistem belum dapat langsung digunakan. Selain itu, panduan pemasangan (pitoedoeh) juga disediakan untuk memudahkan proses instalasi, sehingga sistem dapat digunakan secara optimal.
Setelah sistem terpasang, pemahaman terhadap tata letak papan tombol menjadi langkah penting berikutnya. Pengguna perlu mengetahui perbedaan antara sistem berbasis SNI 9048 dengan sistem bawaan perangkat, khususnya pada perangkat Windows. Perbedaan tersebut dapat diamati melalui gambar di bawah ini.
Papan tombol aksara Jawa versi SNI 9048
Diunduh dari Papan tombol aksara Djawa versi SNI 9048, oleh S.A. Prasaja, t.t. wongsayuk (https://wongsayuk.webnode.page/my-work/).
Papan tombol aksara Jawa versi Windows
Diunduh dari Papan tombol aksara Djawa versi Windows, oleh S.A. Prasaja, t.t. wongsayuk (https://wongsayuk.webnode.page/my-work/).
Penerapan sistem papan tombol yang terstandarisasi ini menjadi langkah penting dalam menjawab berbagai kendala teknis yang selama ini dihadapi pengguna. Lebih dari itu, kehadiran aksara Jawa di ruang digital tidak sekadar berfungsi sebagai elemen visual, melainkan juga sebagai bagian dari upaya menjaga keberlangsungan budaya di tengah perkembangan teknologi.
Pada akhirnya, pelestarian aksara Jawa tidak cukup berhenti pada upaya mempertahankan, tetapi juga menuntut keberanian untuk mengembangkan dan menyesuaikannya dengan zaman. Dukungan berkelanjutan dari berbagai pihak menjadi kunci, agar aksara Jawa tidak hanya tetap hidup, tetapi juga hadir dan berdaya di tengah ekosistem digital yang terus bergerak.
Penulis : Haryo Untoro
Editor : Haryo Untoro
Daftar Gambar
Prasaja, S.A. (t.t.) Papan Tombol Aksara Djawa Versi SNI 9048. Wongsayuk. https://wongsayuk.webnode.page/my-work/
Prasaja, S.A. (t.t.) Papan Tombol Aksara Djawa Versi Windows. Wongsayuk. https://wongsayuk.webnode.page/my-work/
Pada hari Sabtu (4/4/2026), Himpunan Mahasiswa Jurusan Keluarga Mahasiswa Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, atau HMJ Kamastawa, menyelenggarakan kegiatan first gathering atau pertemuan perdana Kabinet Sahacitta di Auditorium Gedung Soegondo lantai 7. Kegiatan ini digelar sebagai sarana untuk membangun keakraban antarpengurus sekaligus memperkenalkan struktur organisasi serta rencana program kerja selama satu periode kepengurusan.
Rangkaian acara dimulai sejak pukul 07.30 WIB dengan open gate, yang kemudian dilanjutkan dengan sajian cokekan sebagai pembuka suasana. Selain dihadiri oleh seluruh pengurus dan mahasiswa, kegiatan ini juga dihadiri oleh dosen Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada sebagai bentuk dukungan terhadap aktivitas kemahasiswaan.
Acara selanjutnya dibuka secara resmi melalui sambutan Ketua Pelaksana dan Ketua HMJ Kamastawa 2026. Dalam kesempatan tersebut, pembina HMJ Kamastawa, Dr. Rudy Wiratama, S.IP., M.A., turut memberikan sambutan sekaligus meresmikan Kabinet Sahacitta secara simbolis.
Memasuki sesi utama, pengurus memperkenalkan Kabinet Sahacitta dengan memaparkan filosofi nama, identitas visual, serta arah gerak organisasi. Secara etimologis, “Sahacitta” berasal dari bahasa Sanskerta, yakni saha yang berarti ‘bersama’ dan citta yang bermakna ‘rasa’. Penamaan ini mencerminkan semangat kebersamaan dalam satu kesadaran untuk mencapai tujuan organisasi.
Kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan struktur divisi dan jajaran pengurus yang akan menjalankan program kerja selama satu periode. Masing-masing divisi menjelaskan fungsi dan fokus kerjanya sebagai bagian dari upaya pengembangan organisasi, sekaligus kontribusi dalam pelestarian dan pengembangan bahasa, sastra, serta budaya Jawa.
Sebagai penutup, kegiatan diakhiri dengan sesi dokumentasi bersama yang menandai dimulainya kepengurusan Kabinet Sahacitta. Melalui kegiatan ini, diharapkan seluruh pengurus dapat bekerja secara sinergis dalam menguatkan peran organisasi, baik di lingkungan akademik maupun dalam masyarakat luas.
Penulis : Haryo Untoro
Editor : Haryo Untoro

