• Universitas
  • Portal Akademik
  • Perpustakaan Universitas
  • Webmail
  • Arnawa
  • UM UGM
  • Bahasa Indonesia
    • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
Departemen Bahasa dan Sastra
Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
  • Halaman Muka
  • Profil
    • Visi & Misi
    • Tujuan
    • Keunggulan
    • Prospek Karier
    • Staf Pengajar
  • Akademik
    • Alur Kurikulum
    • Deskripsi Mata Kuliah
    • Sebaran Mata Kuliah
    • Capaian Pembelajaran
    • INFORMASI PERKULIAHAN DAN ADMINISTRASI
    • KONFERENSI DAN KEGIATAN INTERNASIONAL
    • Kalender Akademik
  • KPPB
    • Kerjasama
    • Pengabdian
      • Pengabdian Masyarakat
      • Siniar (Anarka Lālitya)
    • Penelitian
      • Penelitian Staf Pengajar
      • Arsip Kajian Jawa – Arnawa
    • Beasiswa
  • Kemahasiswaan
    • Hasil Survei Mahasiswa
    • HMJ Kamastawa
    • Kegiatan Mahasiswa
    • Karya Mahasiswa
    • Kanal Youtube
    • Kanal Instagram
  • Alumni
    • Profil Alumni
  • Kontak
  • Beranda
  • 2026
Arsip:

2026

Prof. Dr. Hendrokumoro, M.Hum.: Tetap Berekspresi, Tetap Njawani

BeritaKarya MahasiswaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Jumat, 22 Mei 2026

Prof. Dr. Hendrokumoro, M.Hum., dalam Siaran Kawruh Pro 4 Radio Republik Indonesia Yogyakarta. Dari Gen Z Berekspresi Modern namun Tetap Membumi dan Njawani [Foto], oleh Titik Renggani, 2026, rri.co.id. Dikutip utuh dari: https://rri.co.id/yogyakarta/budaya/2433916/gen-z-berekspresi-modern-namun-tetap-membumi-dan-njawani.

Derasnya arus budaya global membuat generasi muda masa kini rentan terombang-ambing dan berpotensi kehilangan jati diri. Untuk menjawab tantangan tersebut, pendidikan karakter berbasis lokal dinilai menjadi fondasi penting dalam menjaga identitas sekaligus membentuk kepribadian yang kuat. Hal tersebut didiskusikan oleh Prof. Dr. Hendrokumoro, M.Hum., dosen Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, dalam Siaran Kawruh Pro 4 Radio Republik Indonesia Yogyakarta pada Jumat, 22 Mei 2026, pukul 09.00–10.00 WIB. Siaran tersebut mengangkat tema “Slay tapi Njawani: Manifesto Pendidikan Karakter Berbasis Lokal di Hari Kebangkitan Nasional” dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Renggani, 2026).

Dalam paparannya, Prof. Dr. Hendrokumoro, M.Hum., menjelaskan modernitas bukanlah sesuatu yang harus ditolak. Generasi muda dipersilakan untuk berekspresi, namun tetap berpegang pada nilai-nilai budaya Jawa atau njawani. Nilai tersebut diwujudkan melalui sikap andhap asor (rendah hati), tidak sombong, serta menjunjung tinggi etika dalam berperilaku.

Ia juga menekankan bahwa melestarikan budaya tidak berarti meninggalkan perkembangan zaman. Sebaliknya, kearifan lokal justru dapat berjalan selaras dengan modernitas. Dalam konteks bahasa, misalnya, meskipun bahasa terus berkembang secara dinamis, generasi muda tetap perlu memahami konsep empan papan, yakni menggunakan bahasa secara tepat sesuai situasi dan kondisi.

Lebih lanjut, ia menyoroti bahwa penanaman nilai etika dan moral tidak dapat dilakukan melalui pendekatan yang menyalahkan semata. Proses tersebut harus dilakukan dengan cara mendengarkan, mengarahkan, dan menempatkan secara proporsional. Dalam hal ini, peran orang tua menjadi penting sebagai teladan, sebagaimana ungkapan ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani ‘yang di depan menjadi teladan, yang di tengah membangun kemauan, yang di belakang memberikan dorongan’.

Kehadiran diskusi ini diharapkan mampu membuka wawasan masyarakat tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara budaya dan kemajuan zaman. Budaya tidak harus ditinggalkan demi modernitas, melainkan perlu diselaraskan agar tetap relevan dalam kehidupan masa kini.

Selain itu, kegiatan ini juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 tentang pendidikan berkualitas melalui penyebaran pengetahuan kepada masyarakat. Selain itu, diskusi ini turut mendukung SDG 17 terkait kemitraan, dengan menekankan pentingnya kolaborasi antara lembaga pendidikan, institusi kebudayaan, dan masyarakat dalam melestarikan budaya Nusantara, khususnya budaya Jawa.

 

 

Daftar Pustaka

Renggani, T. (2026, 23 Mei). Gen Z Berekspresi Modern namun Tetap Membumi dan Njawani [Foto]. rri.co.id. Diakses pada 24 Mei 2026, dari https://rri.co.id/yogyakarta/budaya/2433916/gen-z-berekspresi-modern-namun-tetap-membumi-dan-njawani.

 

 

Daftar Gambar

Renggani, T. (2026, 23 Mei), Gen Z Berekspresi Modern namun Tetap Membumi dan Njawani [Foto]. rri.co.id. Dikutip utuh dari https://rri.co.id/yogyakarta/budaya/2433916/gen-z-berekspresi-modern-namun-tetap-membumi-dan-njawani.

 

Penulis            : Haryo Untoro
Editor             : Haryo Untoro

Cipta Karya Sastra Jawa: Wadah Kreatif Mahasiswa dalam Belajar Mengembangkan Karya Sastra

BeritaKarya MahasiswaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Kamis, 21 Mei 2026

Dalam rangka meningkatkan kemampuan menulis mahasiswa, khususnya dalam bidang karya sastra Jawa, Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan kegiatan praktisi mengajar bertema Cipta Karya Sastra Jawa. Kegiatan ini dilaksanakan di Ruang Margono 404, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada dalam mata kuliah Bahasa Jawa Tulis Produktif pada tanggal 14 dan 21 April 2026.

Kegiatan tersebut menghadirkan Sri Suryani, S.S., M.A., sebagai dosen praktisi yang membimbing mahasiswa untuk lebih mengenal dunia kepenulisan sastra Jawa. Perkuliahan ini merupakan bagian dari mata kuliah Bahasa Jawa Tulis Produktif tahun akademik 2026 yang diampu oleh Dr. Sulistyowati, M.Hum.

Pada pertemuan pertama, 14 April 2026, mahasiswa memperoleh materi mengenai karya sastra Jawa modern serta teknik penulisan kreatif, khususnya prosa berjenis cerkak. Selain pemaparan materi, mahasiswa bersama dosen praktisi juga mendiskusikan rencana luaran kegiatan berupa antologi cerkak dan geguritan. Dalam pertemuan tersebut, mahasiswa diberi kesempatan untuk mengumpulkan karya tulis mereka yang selanjutnya akan dibahas pada pertemuan berikutnya.

Sementara itu, pada pertemuan kedua, 21 April 2026, mahasiswa memperoleh materi mengenai geguritan dengan fokus pada unsur stilistika. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pembahasan karya yang telah dikumpulkan sebelumnya. Mahasiswa mempresentasikan draf tulisan mereka dan mendiskusikannya bersama dosen praktisi serta peserta lainnya. Suasana diskusi berlangsung aktif karena mahasiswa tidak hanya belajar menulis, tetapi juga memahami proses pengembangan, penyuntingan, hingga persiapan karya untuk diterbitkan.

Kegiatan praktisi mengajar ini berlangsung dengan baik dan lancar, didukung oleh antusiasme mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa dalam mempelajari dunia kepenulisan sastra Jawa. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh pemahaman mengenai proses kreatif penulisan sastra, tetapi juga mendapatkan pengalaman untuk mengembangkan karya mereka secara lebih matang. Luaran kegiatan berupa karya sastra Jawa, baik cerkak maupun geguritan, diharapkan dapat menjadi media pembelajaran sekaligus sarana bagi generasi muda untuk menumbuhkan rasa cinta dan kebanggaan terhadap budaya Indonesia, khususnya budaya Jawa. Selain itu, kegiatan ini juga sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 4 tentang pendidikan berkualitas melalui penguatan kompetensi literasi dan kreativitas mahasiswa, serta SDG 17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan melalui kolaborasi antara akademisi dan praktisi dalam pengembangan pembelajaran berbasis pengalaman.

 

Penulis            : Haryo Untoro
Editor             : Haryo Untoro

Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa FIB UGM Meluluskan 11 Mahasiswa pada Wisuda Periode III Akademik 2025/2026

BeritaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Kamis, 21 Mei 2026

Kamis, 21 Mei 2026, menjadi hari yang penuh kebahagiaan bagi keluarga besar Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa. Pada Wisuda Program Sarjana dan Sarjana Terapan Periode III Tahun Akademik 2025/2026, sebanyak 11 mahasiswa resmi dinyatakan lulus dan sukses menyelesaikan masa studinya di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada.

Adapun mahasiswa yang mengikuti wisuda tersebut adalah:

 

  1. Agnes Anggito Sekar Laras
  2. Azaliya Khoirunnisa
  3. Dewi Halimatus Solikhah N
  4. Endar Sasmito Aji
  5. Haryo Untoro
  6. Jifani Wahyu Anggra Rani
  7. Muhammad Siswoyo
  8. Novia Hikmatul Mubarokah
  9. Rizqy Salsabila Ratna Purwadi
  10. Septi Indah Lestari
  11. Yosafat Dimas Rangga Adigama

 

Momen wisuda kali ini juga menjadi kebanggaan tersendiri bagi Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa. Dalam acara Mangayubagya Wisudawan/Wisudawati Sarjana Periode III Tahun Akademik 2025/2026 Fakultas Ilmu Budaya UGM, Dekan Fakultas Ilmu Budaya UGM, Prof. Dr. Setiadi, S.Sos., M.Si., mengumumkan bahwa Novia Hikmatul Mubarokah berhasil meraih predikat sebagai mahasiswa dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tertinggi ketiga pada wisuda Fakultas Ilmu Budaya periode ini.

Kelulusan ini menjadi awal perjalanan baru bagi para lulusan setelah menempuh proses studi. Bekal ilmu, pengalaman, serta semangat yang telah dibangun diharapkan dapat menjadi pijakan dalam menghadapi dunia profesional maupun kehidupan bermasyarakat. Wisudawan dan wisudawati juga diharapkan tetap memiliki kepedulian untuk menjaga, melestarikan, dan mengembangkan kebudayaan Jawa, agar tetap hidup dan bermanfaat bagi masyarakat serta kemajuan bangsa.

 

Penulis            : Haryo Untoro

Editor             : Haryo Untoro

Sosialisasi Fon Aksara Jawa Dorong Pemanfaatan Aksara Jawa Digital

BeritaKarya MahasiswaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Rabu, 22 April 2026

Yogyakarta, Selasa, 22 April 2026 — Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, menyelenggarakan kegiatan sosialisasi fon aksara Jawa di ruang Margono 402. Kegiatan ini ditujukan bagi perwakilan dosen dan mahasiswa sebagai upaya meningkatkan pemahaman penggunaan aksara Jawa dalam ranah digital.

Sosialisasi ini dilatarbelakangi oleh berbagai kendala yang selama ini dihadapi civitas academica dalam penggunaan fon aksara Jawa. Sejumlah permasalahan yang kerap muncul antara lain perbedaan tata letak papan tombol dengan sistem huruf Latin, ketidakterbacaan fon pada perangkat tertentu yang ditandai dengan kemunculan simbol tofu atau kotak (tanda tidak terbaca), hingga perbedaan kompatibilitas antara sistem papan tombol atau keyboard layout seperti Windows dan Macintosh. Kondisi tersebut dinilai menghambat penggunaan aksara Jawa, padahal aksara ini menjadi bagian penting dalam kajian serta preservasi budaya di lingkungan program studi.

Untuk menjawab persoalan tersebut, kegiatan ini menghadirkan Setya Amrih Prasaja, S.S., M.Pd., alumni Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, yang dikenal sebagai pengembang fon aksara Jawa digital. Selain itu, kegiatan ini juga dihadiri oleh perwakilan Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai bentuk dukungan terhadap upaya pelestarian budaya melalui teknologi.

Dalam pemaparannya, narasumber menjelaskan proses pengembangan fon dan keyboard layout aksara Jawa, termasuk tantangan teknis yang dihadapi dalam penerapannya di berbagai platform. Ia juga menguraikan langkah-langkah pengenalan aksara Jawa digital di tingkat nasional maupun internasional, serta pengembangan sistem yang dapat dioperasikan pada berbagai perangkat. Tidak hanya itu, peserta juga diperkenalkan pada sejumlah fon aksara Jawa yang dapat diakses secara bebas tanpa kendala lisensi.

Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai penggunaan papan tombol dan fon aksara Jawa dalam konteks digital. Lebih lanjut, sosialisasi ini diharapkan dapat mendorong penyebarluasan pengetahuan kepada civitas academica dan khalayak yang lebih luas, sebagai bagian dari upaya pelestarian sekaligus penguatan eksistensi aksara Jawa di era digital.

Penulis           : Haryo Untoro
Editor             : Haryo Untoro

Seputar Jawa: Sistem Papan Tombol Aksara Jawa Digital

BeritaKarya MahasiswaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Senin, 13 April 2026

Mengetik aksara Jawa di perangkat digital sering kali tidak semudah yang dibayangkan. Alih-alih menampilkan huruf yang diharapkan, layar justru kerap memperlihatkan deretan kotak kosong atau tofu, tanda bahwa fon tidak terbaca dengan baik. Masalah tersebut tidak berdiri sendiri. Selain keterbatasan fon, perbedaan sistem pengetikan antara huruf Latin dan aksara Jawa juga menyulitkan pengguna dalam beradaptasi. Belum lagi, tata letak papan tombol yang berbeda-beda di setiap sistem operasi, mulai dari Windows, Macintosh, hingga Android. Hal tersebut secara langsung makin menambah sulit upaya penggunaan dan preservasi aksara Jawa, khususnya dalam ranah digital.

Sejumlah fon aksara Jawa sebenarnya telah tersedia dan dapat digunakan secara bebas, seperti NyK Ngayogyan dan NyK Ngayogyan Jejeg yang dikembangkan oleh Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Namun, persoalan tidak berhenti pada tampilan visual. Tanpa sistem papan tombol yang seragam, pengguna tetap menghadapi hambatan dalam praktik pengetikan sehari-hari.

Kondisi ini mendorong pengembangan sistem papan tombol aksara Jawa berbasis keyboard aksara nusantara SNI 9048. Sistem ini disusun dengan merujuk pada naskah Serat Wulangreh sebagai pijakan kultural, sekaligus disesuaikan dengan kebutuhan penggunaan pada berbagai perangkat digital. Melalui standarisasi ini, diharapkan tercipta keseragaman dalam pengetikan aksara Jawa, sehingga pengguna tidak lagi harus beradaptasi dengan sistem yang berbeda-beda.

Sistem papan tombol tersebut kini telah tersedia untuk berbagai perangkat dan dapat diakses secara bebas oleh masyarakat. Pengguna dapat mengunduh dan memasangnya sesuai dengan sistem operasi yang digunakan, baik Windows, Machintoh, maupun Android. Pengunduhan sistem papan tombol aksara Jawa dapat dilakukan melalui  https://wongsayuk.webnode.page/my-work/ atau https://wongsaayuk.webnode.page dengan memilih menu lèsèhan. Pada laman tersebut, tersedia bagian “Kejboard Aksara Djawa”, lalu pilih sistem SNI Nataksara dalam berbagai format sesuai perangkat, yaitu file.exe untuk Windows, file.dmg untuk Macintosh, dan file.apk untuk Android.

Setelah proses pengunduhan dan instalasi, pengguna disarankan untuk melakukan restart perangkat apabila sistem belum dapat langsung digunakan. Selain itu, panduan pemasangan (pitoedoeh) juga disediakan untuk memudahkan proses instalasi, sehingga sistem dapat digunakan secara optimal.

Setelah sistem terpasang, pemahaman terhadap tata letak papan tombol menjadi langkah penting berikutnya. Pengguna perlu mengetahui perbedaan antara sistem berbasis SNI 9048 dengan sistem bawaan perangkat, khususnya pada perangkat Windows. Perbedaan tersebut dapat diamati melalui gambar di bawah ini.

Papan tombol aksara Jawa versi SNI 9048
Diunduh dari Papan tombol aksara Djawa versi SNI 9048, oleh S.A. Prasaja, t.t. wongsayuk (https://wongsayuk.webnode.page/my-work/).

Papan tombol aksara Jawa versi Windows
Diunduh dari Papan tombol aksara Djawa versi Windows, oleh S.A. Prasaja, t.t. wongsayuk (https://wongsayuk.webnode.page/my-work/).

Penerapan sistem papan tombol yang terstandarisasi ini menjadi langkah penting dalam menjawab berbagai kendala teknis yang selama ini dihadapi pengguna. Lebih dari itu, kehadiran aksara Jawa di ruang digital tidak sekadar berfungsi sebagai elemen visual, melainkan juga sebagai bagian dari upaya menjaga keberlangsungan budaya di tengah perkembangan teknologi.

Pada akhirnya, pelestarian aksara Jawa tidak cukup berhenti pada upaya mempertahankan, tetapi juga menuntut keberanian untuk mengembangkan dan menyesuaikannya dengan zaman. Dukungan berkelanjutan dari berbagai pihak menjadi kunci, agar aksara Jawa tidak hanya tetap hidup, tetapi juga hadir dan berdaya di tengah ekosistem digital yang terus bergerak.

 

Penulis           : Haryo Untoro
Editor             : Haryo Untoro

 

Daftar Gambar

Prasaja, S.A. (t.t.) Papan Tombol Aksara Djawa Versi SNI 9048. Wongsayuk. https://wongsayuk.webnode.page/my-work/

Prasaja, S.A. (t.t.) Papan Tombol Aksara Djawa Versi Windows. Wongsayuk. https://wongsayuk.webnode.page/my-work/

First Gathering Kabinet Sahacitta HMJ Kamastawa: Ajang Perkenalan dan Penguatan Kebersamaan

BeritaMahasiswaSDGS Senin, 6 April 2026

Pada hari Sabtu (4/4/2026), Himpunan Mahasiswa Jurusan Keluarga Mahasiswa Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, atau HMJ Kamastawa, menyelenggarakan kegiatan first gathering atau pertemuan perdana Kabinet Sahacitta di Auditorium Gedung Soegondo lantai 7. Kegiatan ini digelar sebagai sarana untuk membangun keakraban antarpengurus sekaligus memperkenalkan struktur organisasi serta rencana program kerja selama satu periode kepengurusan.

Rangkaian acara dimulai sejak pukul 07.30 WIB dengan open gate, yang kemudian dilanjutkan dengan sajian cokekan sebagai pembuka suasana. Selain dihadiri oleh seluruh pengurus dan mahasiswa, kegiatan ini juga dihadiri oleh dosen Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada sebagai bentuk dukungan terhadap aktivitas kemahasiswaan.

Acara selanjutnya dibuka secara resmi melalui sambutan Ketua Pelaksana dan Ketua HMJ Kamastawa 2026. Dalam kesempatan tersebut, pembina HMJ Kamastawa, Dr. Rudy Wiratama, S.IP., M.A., turut memberikan sambutan sekaligus meresmikan Kabinet Sahacitta secara simbolis.

Memasuki sesi utama, pengurus memperkenalkan Kabinet Sahacitta dengan memaparkan filosofi nama, identitas visual, serta arah gerak organisasi. Secara etimologis, “Sahacitta” berasal dari bahasa Sanskerta, yakni saha yang berarti ‘bersama’ dan citta yang bermakna ‘rasa’. Penamaan ini mencerminkan semangat kebersamaan dalam satu kesadaran untuk mencapai tujuan organisasi.

Kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan struktur divisi dan jajaran pengurus yang akan menjalankan program kerja selama satu periode. Masing-masing divisi menjelaskan fungsi dan fokus kerjanya sebagai bagian dari upaya pengembangan organisasi, sekaligus kontribusi dalam pelestarian dan pengembangan bahasa, sastra, serta budaya Jawa.

Sebagai penutup, kegiatan diakhiri dengan sesi dokumentasi bersama yang menandai dimulainya kepengurusan Kabinet Sahacitta. Melalui kegiatan ini, diharapkan seluruh pengurus dapat bekerja secara sinergis dalam menguatkan peran organisasi, baik di lingkungan akademik maupun dalam masyarakat luas.

Penulis           : Haryo Untoro
Editor             : Haryo Untoro

Ghibran Arsha Daffa’ Musaffa’ Dinobatkan sebagai Insan Berprestasi Kalangan Mahasiswa Tahun 2026

BeritaKarya MahasiswaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Kamis, 12 Maret 2026

Pada hari Selasa (3/3/2026), Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar Rapat Senat Terbuka dalam rangka Dies Natalis ke-80. Di tengah khidmatnya perayaan tersebut, penghargaan "Insan Berprestasi Unsur Mahasiswa" diberikan kepada individu-individu terpilih, salah satunya adalah Ghibran Arsha Daffa’ Musaffa’ dari Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa.

Terpilihnya Ghibran sebagai Mahasiswa Berprestasi bukan tanpa alasan. Ghibran dikenal sebagai mahasiswa yang akif berkiprah di lini kebudayaan Jawa. Beberapa capaian yang pernah ia dapatkan di antaranya Juara 3 Lomba Dongeng Temu Budaya Nusantara, Juara Harapan 2 Lomba Pranatacara Remaja Kompetisi Bahasa dan Sastra Kabupaten Bantul 2025, dan terpilih sebagai finalis Dimas Diajeng Kota Jogja 2025.

Selain perlombaan, Ghibran juga aktif di berbagai kegiatan lainnya. Ia pernah terlibat sebagai pemeran dalam lakon Adisari Cahaya Kasih di Balik Penaklukan, bertindak sebagai Master of Ceremony (MC) pada Closing Ceremony Wonderful Indonesia Wellness, hingga menjadi pendongeng dalam Field Program Dimas Diajeng Jogja di Desa Wisata Sleman.

Namun, di balik keberhasilan tersebut, Ghibran mengungkapkan bahwa perjalanannya merupakan proses yang panjang. Dalam wawancara daring pada Jumat (24/4/2026), ia menceritakan bahwa dorongan untuk berprestasi sudah tumbuh sejak bangku sekolah dasar.

“Motivasi saya dimulai dari hal sederhana dan mungkin terdengar lucu. Sedari SD, saya ingin mendapatkan uang saku tambahan karena ekonomi keluarga kami saat itu kurang mampu,” ungkap Ghibran. Ia mengenang masa ketika uang jajannya hanya sejumlah Rp2.000 saat kelas 4 SD. Ketika itu, sang Ibu memberi tantangan kepadanya agar uang saku itu tidak habis. Dari sana, ia justru membuatnya melirik lomba-lomba berhadiah.

Kemenangan pertamanya dalam lomba Ngudar Kawruh Tembang se-Kabupaten Bantul menjadi titik balik. Sejak saat itu, Ghibran menyadari bahwa prestasi bukan sekadar uang tetapi sebagai jalan pembuka. Dengan prestasi yang ia toreh, ia dapat masuk SMP melalui jalur prestasj hingga kesempatan tampil di media nasional seperti TVRI.

Memasuki jenjang perkuliahan di UGM, Ghibran berprinsip untuk memberikan kontribusi nyata bagi almamater. “Saya mungkin bukan mahasiswa yang paling mencolok di akademik murni, tapi saya selalu berusaha memberi 'kenang-kenangan' berupa trofi bagi universitas,” tuturnya. Puncaknya, ia berkesempatan membacakan puisi di hadapan Menteri Pendidikan RI pada tahun 2024.

Baginya, gelar Mahasiswa Berprestasi bukan sekadar penghargaan. Ada rasa syukur, tapi juga beban tanggung jawab yang ia rasakan. Hal itu malah jadi penyemangat untuk terus berkarya. “Rencana saya ke depan, saya ingin lulus tepat waktu, tapi tetap aktif ikut lomba. Saya ingin terus jadi pribadi yang bermanfaat” terangnya.

Ia juga membagikan resep konsistensinya. Sejak dulu, ia terbiasa menuliskan target-targetnya di selembar kertas dan menempelnya di dinding kamar. “Jangan pernah malu untuk bermimpi besar. Bagi saya, bermimpi adalah langkah awal dari sebuah pencapaian. Melalui kerja keras dan doa, satu per satu impian tersebut menjadi kenyataan,” pungkasnya. Ia juga menekankan pentingnya rasa syukur dalam setiap proses, baik saat meraih kemenangan maupun menghadapi kegagalan.

 

Penulis            : Haryo Untoro
Editor             : Haryo Untoro

Seputar Jawa: Bahasa Jawa Dialek Banten, Dialek Bahasa yang Eksis di Ujung Barat Pulau Jawa

BeritaSDGS Selasa, 10 Maret 2026

Bahasa Jawa selama ini sering diasosiasikan dengan wilayah Yogyakarta dan Surakarta yang dikenal sebagai pusat budaya Jawa. Selain itu, masyarakat juga akrab dengan dialek Jawa Timuran yang lugas atau dialek Banyumasan yang kerap dianggap unik oleh penutur bahasa Jawa lainnya. Namun, tidak banyak yang menyadari bahwa bahasa Jawa juga hidup dan berkembang di luar wilayah utama tersebut, yakni di Provinsi Banten, sebelah ujung barat pulau Jawa. Di wilayah ini, berkembang sebuah variasi bahasa yang dikenal sebagai Bahasa Jawa dialek Banten.

Dalam klasifikasi dialek bahasa Jawa, Ras (1994) membagi bahasa Jawa menjadi tiga kelompok besar, yaitu dialek Jawa bagian barat, tengah, dan timur. Bahasa Jawa Dialek Banten (BJDB) termasuk kelompok dialek Jawa bagian barat dan sering pula disebut sebagai bahasa Jawa Serang atau Jaseng, karena sebagian besar penuturnya berada di Kota Serang dan Kabupaten Serang (Rohbiah & Mu’awwanah, 2021).

Terdapat beberapa sumber yang menyebutkan wilayah penggunaan BJDB secara berbeda. Penelitian Danasasmita dan Pronggodigdo menyebutkan bahwa dialek ini digunakan di wilayah bekas Keresidenan Banten yang mencakup Kabupaten Serang, Pandeglang, dan Lebak. Sementara itu, Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Barat juga memasukkan wilayah Tangerang sebagai daerah yang memiliki penutur dialek tersebut (Iskandarwassid, Mulyana, Hudari, et al., 1985). Secara geografis, keberadaan bahasa ini cukup unik karena berada di antara beberapa komunitas bahasa lain, yaitu penutur bahasa Betawi di wilayah Jakarta, penutur bahasa Sunda di bagian selatan Banten, serta penutur bahasa Lampung di seberang Selat Sunda (Rohbiah & Mu’awwanah, 2020).

 

Pengaruh Sejarah dalam Perkembangan Dialek

Kemunculan bahasa Jawa di Banten tidak terlepas dari proses sejarah panjang kawasan tersebut. Pada awal abad ke-16, wilayah Banten masih berada di bawah kekuasaan Kerajaan Sunda. Situasi ini berubah setelah terjadinya Perjanjian Sunda–Portugis pada tahun 1522. Perjanjian tersebut memicu konflik yang kemudian berujung pada penaklukan Pelabuhan Banten pada tahun 1526 dan Sunda Kelapa pada tahun 1527 oleh pasukan Demak dan Cirebon (Iskandarwassid, Mulyana, Hudari, et al., 1985).

Setelah penaklukan tersebut, Banten dipimpin oleh Syarif Hidayatullah yang berasal dari Cirebon. Hanya saja, secara politik, Banten sebenarnya dikendalikan oleh Sultan Demak. Di bawah kepemimpinan Syarif Hidayatullah,  Banten berkembang menjadi kerajaan Islam yang aktif dalam jaringan perdagangan dan perhubungan bagi para pedagang Jawa dan Islam (Iskandarwassid, Mulyana, Hudari, et al., 1985). Patmadiwiria (1977) menambahkan bahwa bermukimnya prajurit penaklukan Banten dari Jawa juga membawa serta bahasa dan kebudayaan Jawa. Oleh karena itu, dapat dipahami bahwa Kesultanan Demak dan Cirebon menjadi penyebab atau asal-muasal dari munculnya dialek Banten.

Pengaruh budaya Jawa juga semakin kuat pada abad ke-17 ketika Kesultanan Mataram memperluas pengaruhnya ke wilayah Jawa Barat. Penyebaran budaya Jawa pada masa itu tidak hanya terjadi di kalangan elit, tetapi juga pada masyarakat lapisan bawah (Iskandarwassid, Mulyana, Hudari, et al., 1985).

Selain faktor sejarah, kondisi geografis turut membentuk perkembangan BJDB. Keberadaan Pelabuhan Merak yang menjadi jalur penghubung antara Jawa dan Sumatra memungkinkan interaksi intensif dengan masyarakat Lampung. Interaksi tersebut melahirkan komunitas penutur bahasa Lampung di beberapa wilayah pesisir Banten, seperti di Kecamatan Anyer. Kontak budaya ini kemudian turut memengaruhi kosakata dalam bahasa Jawa dialek Banten (Rohbiah & Mu’awwanah, 2021).

 

Keunikan Pelafalan

Sebagai sebuah dialek, BJDB memiliki ciri khas yang tampak, terutama pada aspek pelafalan dan kosakata. Salah satu keunikan paling menonjol adalah variasi pelafalan fonem /a/. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Iskandarwassid, Mulyana, Hudari, et al. (1985), disebutkan bahwa bunyi ini memiliki tiga variasi pengucapan yang berbeda, bergantung pada wilayah penuturnya.

Di daerah Kota Serang, Cilegon, dan wilayah sekitarnya, fonem /a/ sering dilafalkan mendekati bunyi [ɤ], yang mirip dengan bunyi “eu” dalam bahasa Sunda (Patmadiwiria, 1977; Iskandarwassid, Mulyana, Hudari, et al., 1985). Sementara itu, di wilayah pinggiran Serang seperti Barugbug, Pagelaran, Cikande, dan Kragilan, fonem /a/ tetap dilafalkan sebagai [a]. Adapun di beberapa daerah seperti Rancasawah dan sebagian wilayah Cilegon, fonem /a/ dibunyikan sebagai [ɔ] (Iskandarwassid, Mulyana, Hudari, et al., 1985).

Variasi bunyi atas fonem /a/ terjadi dari beberapa keadaan, di antaranya sebagai berikut (Karia, 1914; Iskandarwassid Mulyana, Hudari, et al., 1985):

  1. Fonem /a/ pada suku kata terbuka akan menghadirkan variasi bunyi. Contoh: sira [sirɤ], ora [orɤ], dan kula [kulɤ].
  2. Khusus pada daerah Kota Serang dan sekitarnya, /a/ dapat berbunyi [ɤ] pada kata bersilabel satu, yaitu mah [mɤh]. Akan tetapi, kata bersilabel satu lainnya seperti lah, la, dan tah tetap dibaca [a].
  3. Jika /a/ terletak pada sebuah kata dengan suku kata terbuka, lalu kemudian ditutup dengan pelekatan sufiks, maka /a/ dilafalkan sebagai /a/. Contoh: sira [sirɤ] menjadi sirane [siranI] dan apa [apɤ] menjadi apane [apanI].

 

Kosakata Khas

Selain pelafalan, BJDB juga memiliki sejumlah kosakata yang berbeda dari bahasa Jawa standar yang digunakan di Yogyakarta dan Surakarta. Berikut 5 contoh beserta pengucapannya didasarkan dan disesuaikan dengan Karia (1914), Iskandarwassid, Mulyana, Hudari, et al. (1985), Poerwadarminta (1939), Sulistyowati (2015), dan Patmadiwiria (1977):

  1. kastelâ atau kêstelâ ‘pepaya’, yang dalam bahasa Jawa standar disebut kates
  2. sirâ ‘kamu’, yang dalam bahasa Jawa standar disebut kowe
  3. kepremen ‘bagaimana’, yang setara dengan kepiye
  4. ayun ‘ingin’, yang dalam bahasa Jawa standar disebut arep
  5. ning ‘jika’, yang setara dengan yen
  6. derbe ‘punya’, yang dalam bahasa Jawa standar disebut duwe
  7. linggar ‘pergi’, yang setara dengan lungå

Perbedaan kosakata ini menunjukkan bahwa BJDB memiliki perkembangan leksikal yang khas dan tidak sepenuhnya identik dengan bahasa Jawa standar.

*Untuk memberi kemudahan, penulis memberikan simbol khusus untuk <a> yang dibunyikan [a], <å> yang dibunyikan [ɔ], dan <â> yang dibunyikan [ɤ]

 

Hasil Kontak Bahasa

Keunikan BJDB juga tercermin dari banyaknya kosakata hasil kontak dengan bahasa lain. Bahasa Sunda, Betawi, Melayu, dan Lampung turut memberikan pengaruh terhadap perbendaharaan kata dalam dialek ini. Berlandaskan pada Rohbiah & Mu’awwanah (2021), berikut adalah contoh-contoh pengaruh dari masing-masing bahasa tersebut.

  1. Dari bahasa Sunda, misalnya, kata kolot yang berarti ‘tua’ serta beuleum yang berarti ‘membakar’ yang digunakan oleh penutur BJDB daerah di Desa Binong, Kecamatan Pamarayan, alih-alih menggunakan kata tuâ dan ngobong dalam BJDB.
  2. Dari bahasa Betawi terdapat kata engkong yang berarti ‘kakek’ dan betot yang berarti ‘menarik’ yang digunakan oleh penutur BJDB di Desa Pedaleman, Kecamatan Tanara, alih-alih menggunakan kata ende lanang dan narik dalam BJDB.
  3. Pengaruh bahasa Melayu terlihat pada penggunaan kata laki untuk menyebut ‘suami’ oleh penutur BJDB di Desa Kampung Baru & Binong, Kecamatan Pamarayan, Desa Pontang & Wanayasa, Kecamatan Pontang, Desa Tanara & Pedaleman, Kecamatan Tanara, dan Desa Anyar & Cikoneng, Kecamatan Anyar, alih-alih menggunakan kata rayat lanang dalam BJDB.
  4. Pengaruh bahasa Lampung muncul kata eppak yang berarti ‘empat’ dan duwai yang berarti ‘danau’ yang digunakan oleh penutur BJDB di Desa Anyar, Kecamatan Anyar, alih-alih menggunakan kata papat dan danau dalam BJDB.

Fenomena penyerapan tersebut biasanya muncul di wilayah-wilayah yang memiliki intensitas kontak budaya tinggi dengan komunitas bahasa tertentu.

 

 

Daftar Pustaka

Iskandarwassid; Mulyana, Y.; Hudari, A; Sjarif, T.K.S. (1985). Struktur Bahasa Jawa Dialek Banten. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Karia, M. M. D. (1914). Dialect Djawa Banten. Batavia: G Kolff & Co.

Patmadiwiria, M. (1977). Kamus Dialek Jawa Banten-Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Poerwadarminta, W.J.S. (1939). Baoesastra Jawa. Batavia: J.B. Wolters’ Uitgevers-Maatschappij N. V. Groningen.

Ras, J.J. (1994). Inleiding tot het Modern Javaans. Leiden: KITLV.

Rohiah, T.S., & Mu’awwanah, U. (2020). Inovasi Leksikal Bahasa Jawa Banten di Perbatasan Kabupaten Serang Provinsi Banten: Kajian Geografis – Linguistik. Serang: Media Madani

Sulistyowati. (2018). Kompleksitas dan Fleksibilitas Realisasi Bunyi Vokal Bahasa Jawa. Mutiara dalam Sastra Jawa Edisi 4, 4(3), 29-45.

 

Daftar Gambar

Akbar. (2025, 13 Oktober). Keraton Kaibon, Jejak Kejayaan Kesultanan Banten di Kota Serang [Gambar]. Serangkota.go.id. https://serangkota.go.id/detailpost/keraton-kaibon-jejak-kejayaan-kesultanan-banten-di-kota-serang.

 

Penulis: Haryo Untoro
Editor: Haryo Untoro & Nurul Fajri Rahmani
Pembuat Keluku: Nurul Fajri Rahmani

Seputar Jawa: Bentuk-Bentuk Peribahasa Jawa

BeritaSDGS Senin, 9 Maret 2026

Masyarakat Indonesia kerap menggunakan peribahasa atau ungkapan ketika berkomunikasi. Salah satu contohnya adalah seringnya penggunaan ungkapan dari Melayu "tak kenal maka tak sayang" untuk mencairkan suasana dalam berbagai forum resmi maupun santai. Namun, jika ditelisik lebih dalam, budaya Jawa juga memiliki ungkapan dan peribahasa yang menarik untuk diketahui. Dalam disertasinya, Hendrokumoro (2016) memaparkan bahwa budaya Jawa memiliki 8 jenis peribahasa, antara lain paribasan, bêbasan, saloka, pêpindhan, sanepa, panyandra, isbat, dan sêmboyan.

Bentuk pertama yang dijelaskan adalah Paribasan. Secara teknis, paribasan merupakan satuan gramatikal dengan struktur tetap yang bersifat lugas dan tidak mengandung perumpamaan, namun memiliki makna kiasan (Padmosoektojo, 1958). Salah satu contohnya adalah ungkapan ana catur mungkur yang secara harfiah berarti 'ada pembicaraan minggat'. Makna di balik ungkapan ini adalah sikap bijak seseorang yang enggan mempedulikan gunjingan atau pembicaraan buruk dari orang lain (Padmosoektojo, 1958:62).

Selanjutnya, ada peribahasa Jawa yang dikenalkan sebagai Bebasan. Bebasan merupakan peribahasa yang memiliki bentuk yang tetap, memiliki makna kias, serta menekankan pada perumpamaan keadaan atau tindak-tanduk seseorang (Padmosoekotjo, 1958). Contohnya adalah wis kêbak sundukane ‘sudah penuh tusukannya’ yang menyatakan bahwa orang yang dimaksud telah melakukan banyak kesalahan. Kiasan ini lahir dari budaya para orang tua atau pemimpin di masa lampau yang menusukkan sundukan untuk mencatat kesalahan bawahannya. Apabila sundukan tersebut sudah penuh, maka maknanya orang tersebut telah melakukan terlampau banyak kesalahan (Padmosoektojo, 1958:62).

Kategori berikutnya adalah Saloka, peribahasa Jawa yang berbentuk kata-kata tetap dan memiliki kesamaan antara penggunaan dan maknanya (Padmosoekotjo, 1958). Aspek yang diutamakan adalah subjek atau orangnya, yang diumpamakan adalah orang, sifat, atau keadaannya dengan menggunakan perumpamaan berupa hewan atau benda (Padmosoekotjo, 1958; Subalidinata, 1968; Dirdjosiswojo, 1956). Contoh dari saloka adalah asu bêlang kalung wang ‘anjing belang berkalung uang’, yang menggambarkan rakyat kecil atau masyarakat kelas bawah yang memiliki kekayaan melimpah (Padmosoekotjo, 1958:76).

Selain itu, terdapat pula pêpindhan yang berfungsi sebagai instrumen penyamaan. Berbeda dengan bentuk lain, pêpindhan sering menggunakan kata pembanding seperti lir, pindha, kaya, atau sinonimnya untuk menyamakan benda dengan manusia (Padmosoekotjo, 1958; Hadiwidjana, 1967). Sebagai contoh, ungkapan kuning pindha mas sinangling ‘kuning seperti emas yang di-sangling’ digunakan untuk menggambarkan warna kuning yang berkilau indah layaknya emas yang telah digosok. Sebagai tambahan sangling sendiri merupakan alat yang digunakan untuk menggosok emas (Padmosoekotjo, 1958: 95).

 

Kemudian, Sanepa merupakan perumpamaan sifat yang maknanya justru menunjukkan perlawanan atau penyangatan (Subalidinata, 1968). Ungkapan suwe banyu sinaring ‘lama air disaring’ misalnya, justru digunakan untuk mendeskripsikan seseorang yang sangat cepat dalam merespons sesuatu (Hendrokumoro, 2016).

Peribahasa Jawa juga menggunakan bentuk estetika atau keindahan dalam bentuk panyandra atau candra. Panyandra atau candra digunakan untuk menggambarkan keindahan fisik sebagai bentuk pujian yang mengesankan (Padmosoekotjo, 1958; Hendrokumoro, 2016). Salah satu bentuk estetika tubuh yang sering dipuji adalah drijine mucuk eri, yang menggambarkan bentuk jari jemari yang indah seperti ujung duri, dengan ciri ujung jari lebih kecil daripada pangkal jari (Hendrokumoro, 2016).

Wujud peribahasa Jawa selanjutnya dinamakan Isbat. Wujud dari isbat mirip dengan saloka, yang isinya atau maksud yang dikandungnya berhubungan dengan dimensi metafisika, filsafat, atau ilmu gaib yang mengandung pesan-pesan spiritual (Widati dkk., 2015; Subalidinata, 1968). Ungkapan golek gêni adêdamar ‘mencari api membawa lampu’ menjadi sebuah metafora filosofis bahwa dalam mencari ilmu sejati, seseorang memerlukan dasar pengetahuan sebagai penuntun.

Terakhir, sebagai pendorong semangat, dikenal istilah Sêmboyan merupakan satuan kalimat berbentuk bentuk yang berfungsi menciptakan optimisme dan prinsip bertindak (Hendrokumoro, 2016). Sêmboyan legendaris rawe-rawe rantas, malang-malang putung ‘benda bergelantungan diterjang, benda melintang diputus’ mencerminkan tekad pantang menyerah untuk memutus segala hambatan demi tercapainya tujuanyang dikehendaki (Hendrokumoro, 2016:92).

 

Daftar Pustaka

Dirdjosiswojo. (1956). Paribasan. Jogjakarta: Kalimosodo.

Hendrokumoro. (2016). Peribahasa dalam Bahasa Jawa. Disertasi. Yogyakarta: Program Pascasarjana, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada.

Padmosoekotjo, S. (1958). Ngengrengan Kasusastraan Djawa I: Kanggo Para Siswa Sekolah Guru lan Sekolah Landjutan Lijane. Jogjakarta: Hien Hoo Sing.

Subalidinata, R.S. (1968). Sarining Kasusastraan Djawa. Jogjakarta: Jaker.

Widati, S., Rahayu, P., dan Prabowo, D.P. (2015). Ensiklopedi Sastra Jawa. Yogyakarta: Kementerian Pendisikan dan Kebudayaan, Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

 

Penulis: Haryo Untoro
Editor  : Haryo Untoro, Nurul Fajri Rahmani

Lulus dalam 3,5 Tahun: Strategi Tiga Mahasiswa Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa UGM dalam Menyelesaikan Studinya

BeritaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Senin, 2 Maret 2026

Kelulusan dalam waktu 3,5 tahun bukan lagi suatu yang mustahil bagi mahasiswa. Hal ini dibuktikan oleh tiga mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa UGM, yaitu Yasmin Nabiha Sahda, Pesdhi Sekar Hayumay, dan Hanundita Salma. Ketiga mahasiswa tersebut resmi diwisuda pada Rabu, 25 Februari 2026, setelah menuntaskan pendidikannya hanya dalam waktu tujuh semester saja.

Dalam sesi wawancara pada Jumat, 27 Februari 2026, ketiganya membagikan tips agar mahasiswa bisa menyelesaikan skripsi dan dapat meraih kelulusan yang cepat. Yasmin Nabiha Sahda (Yasmin) menyarankan mahasiswa untuk sudah memantapkan objek penelitian sejak semester enam. Strategi ini menurutnya sangat efektif agar mahasiswa bisa langsung fokus mendalami literatur dan menyusun kerangka penelitian tanpa membuang waktu di masa pengerjaan skripsi.

Selain persiapan awal, minat dan manajemen waktu juga berpengaruh besar dalam proses penyusunan skripsi. Pesdhi Sekar Hayumay (Pesdhi) menekankan bahwa memilih objek penelitian yang sesuai dengan kemampuan dan ketertarikan pribadi akan membuat proses riset berjalan lebih lancar. Ia juga menambahkan bahwa penetapan target pengerjaan yang jelas dan penguasaan teori yang relevan dapat membantu mahasiswa tetap fokus selama proses penelitian.

Sementara itu, Hanundita Salma (Hanun) menyampaikan bahwa skripsi yang tampak berat harus dipecah menjadi beberapa tahap kecil agar pengerjaannya terasa lebih terarah. Hanundita juga menyoroti pentingnya lingkungan pertemanan yang saling mendukung serta komunikasi aktif dengan dosen sebagai mitra diskusi untuk mempercepat proses penyelesaian tugas akhir.

Selain itu, ketiga wisudawan ini juga memberikan pesan bagi rekan-rekan mahasiswa yang masih berjuang. Yasmin mendorong agar masa kuliah benar-benar digunakan untuk memperkaya diri dengan literasi sastra Jawa yang mendalam. Sementara itu, Pesdhi dan Hanun sepakat bahwa kunci utama menghadapi tugas akhir bukanlah kecepatan semata, melainkan ketekunan dalam menghadapi skripsi tanpa kehilangan kegembiraan selama prosesnya.

Pengalaman ketiganya menunjukkan bahwa skripsi dapat diselesaikan secara bertahap dengan perencanaan yang baik. Melalui tips dan pengalaman tersebut, diharapkan dapat menjadi referensi dan menambah semangat mahasiswa yang sedang merencanakan dan menyelesaikan tugas skripsinya.

 

Penulis                        : Haryo Untoro
Editor                         : Haryo Untoro & Nanda Nursa Alya
Pembuat Keluku       : Haryo Untoro

12

Recent Post

  • Prof. Dr. Hendrokumoro, M.Hum.: Tetap Berekspresi, Tetap Njawani
    Mei 22, 2026
  • Cipta Karya Sastra Jawa: Wadah Kreatif Mahasiswa dalam Belajar Mengembangkan Karya Sastra
    Mei 21, 2026
  • Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa FIB UGM Meluluskan 11 Mahasiswa pada Wisuda Periode III Akademik 2025/2026
    Mei 21, 2026
  • Sosialisasi Fon Aksara Jawa Dorong Pemanfaatan Aksara Jawa Digital
    April 22, 2026
  • Seputar Jawa: Sistem Papan Tombol Aksara Jawa Digital
    April 13, 2026

Kalender

Juni 2026
S S R K J S M
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  
« Mei    
  • Fakultas Ilmu Budaya
  • Ujian Masuk UGM
  • PPSMB
  • Alumni
  • Jurnal Humaniora
Juni 2026
S S R K J S M
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  
« Mei    

Rilis Berita

  • Prof. Dr. Hendrokumoro, M.Hum.: Tetap Berekspresi, Tetap Njawani
    Mei 22, 2026
  • Cipta Karya Sastra Jawa: Wadah Kreatif Mahasiswa dalam Belajar Mengembangkan Karya Sastra
    Mei 21, 2026
  • Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa FIB UGM Meluluskan 11 Mahasiswa pada Wisuda Periode III Akademik 2025/2026
    Mei 21, 2026
Universitas Gadjah Mada

Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
Departemen Bahasa dan Sastra
Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada

 

Jl. Sosiohumaniora, Bulaksumur, Yogyakarta
Telp : 0274-901134 Ext. 110, Fax : 0274-550451, WhatsApp : 081211911281
Email : nusantara@ugm.ac.id

© 2025 Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa FIB UGM

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY