• Universitas
  • Portal Akademik
  • Perpustakaan Universitas
  • Webmail
  • Arnawa
  • UM UGM
  • Bahasa Indonesia
    • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
Departemen Bahasa dan Sastra
Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
  • Halaman Muka
  • Profil
    • Visi & Misi
    • Tujuan
    • Keunggulan
    • Prospek Karier
    • Staf Pengajar
  • Akademik
    • Alur Kurikulum
    • Deskripsi Mata Kuliah
    • Sebaran Mata Kuliah
    • Capaian Pembelajaran
    • INFORMASI PERKULIAHAN DAN ADMINISTRASI
    • KONFERENSI DAN KEGIATAN INTERNASIONAL
    • Kalender Akademik
  • KPPB
    • Kerjasama
    • Pengabdian
      • Pengabdian Masyarakat
      • Siniar (Anarka Lālitya)
    • Penelitian
      • Penelitian Staf Pengajar
      • Arsip Kajian Jawa – Arnawa
    • Beasiswa
  • Kemahasiswaan
    • Hasil Survei Mahasiswa
    • HMJ Kamastawa
    • Kegiatan Mahasiswa
    • Karya Mahasiswa
    • Kanal Youtube
    • Kanal Instagram
  • Alumni
    • Profil Alumni
  • Kontak
  • Beranda
  • PENGABDIAN MASYARAKAT
  • PENGABDIAN MASYARAKAT
  • hal. 5
Arsip:

PENGABDIAN MASYARAKAT

Macapatan Jumat Legen, Mengaji dan Mengkaji Serat Panitisastra

BeritaMahasiswaSDGS Jumat, 3 November 2023

Yogyakarta (03/11/2023) – Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Gadjah Mada (UGM), mengadakan kegiatan Macapatan Jumat Legen pada hari Kamis malam (02/11/2023) dengan bertempat di Pusat Kajian Jawa (PUSAKA JAWA), Jl. Bungur No. F9, kompleks Perum UGM, Caturtunggal, Depok, Sleman.

Kegiatan yang berkolaborasi dengan PUSAKA JAWA UGM kali ini mengangkat sebuah karya Sastra Jawa yang dibuat pada masa Sri Susuhan Pakubuwana VII dan digubah oleh Yasadipura II, yakni Serat Panitisastra. Serat berisi tentang piwulang mengenai pedoman mengenai etika yang bijaksana dan moral-moral baik yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Serat Panitisastra yang ditembangkan adalah hasil dari alih aksara yang dilakukan oleh Alexander Sudewa. Dalam karya sastra tersebut mengandung 10 pupuh yang di antaranya:

  • Dhandhanggula 10 bait,
  • Sinom 16 bait,
  • Gambuh 13 bait,
  • Pocung 19 bait,
  • Dhandanggula 14 bait,
  • Kinanthi 20 bait,
  • Asmaradana 18 bait,
  • Sinom 15 bait,
  • Jurudemung 9 bait
  • Dhandhanggula 19 bait.

Macapatan Jumat Legen ini menghadirkan R. Putra Sukaca (Angkatan 2020) sebagai MC atau Pewara, Rudy Wiratama, S.I.P., M.A. sebagai pemateri, dan para penampil dari Gamelan Mahasiswa Sastra Nusantara (GAMASUTRA). Para peserta terdiri atas Mahasiswa, dosen, hingga dari Balai Bahasa Yogyakarta dan Komunitas Pemasyarakatan Sastra Lama Jumat Legen. Para peserta amat antusias dalam mengikuti kegiatan Macapatan Jumat Legen, ditandai dengan keaktifan peserta dalam mendapat giliran membaca dan bertanya. Penampilan dari GAMASUTRA dalam menembangkan Serat Panitisastra memberikan kesan Kebudayaan Jawa yang Indah nan luhur ini.

Tujuan dari diadakannya Macapatan Jumat Legen adalah untuk melestarikan tradisi tembang Jawa, sekaligus mengenalkan tradisi tersebut kepada generasi muda saat ini. Selain itu juga, diharapkan pesan moral yang terkandung di dalam Serat Panitisastra dapat dipahami dan dipraktikan dalam berkehidupan. Dengan demikian, tujuan-tujuan tersebut selaras dengan salah satu misi dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG’S), yakni memperbaiki dan mengembangkan kualitas pendidikan.  

Selapanan Talk #2 PUSAKA JAWA Dimeriahkan dengan Penampilan Kesenian Banyumasan oleh PASEBAN dan Mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa

BeritaMahasiswaSDGS Senin, 16 Oktober 2023

Yogyakarta (16/10/2023) – Acara Selapanan Talk #2 yang diselenggarakan pada Jumat (13/10/2023) oleh PUSAKA JAWA UGM berjalan dengan hangat dan meriah. Bukan saja karena topiknya yang menarik serta pematerinya yang luar biasa, namun juga dikarenakan suguhan kesenian yang menarik dan memesona. Kesenian yang berhasil memikat para peserta tidak lain adalah kesenian Banyumasan.

Penampilan kethoprak

Kesenian Banyumasan tersebut dibawakan oleh PASEBAN (Paguyuban Seni Banyumasan) yang mana mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya ikut andil didalamnya. Mereka adalah Yanuar Agung Nugroho (2023) sebagai pemain Calung, dan Taruna Dharma Jati (2019) sebagai penari dan penampil. Kesenian yang ditampilkan di antaranya adalah gending-gending Banyumasan, seperti ricik-ricik Banyumasan, dan eling-eling Banyumasan, kethoprak, dan tari lengger.

Penampilan Lenggeran

Acara Selapanan Talk merupakan kegiatan rutin yang diselenggarakan setiap 35 hari. Tema dalam Selapanan Talk #2 bertajuk "Dialog Rasa, Transformasi Masa"  yang dipaparkan oleh dua pemateri utama, Tania Kristi, S.S.., praktisi kuliner, Mahasiswa S2 FIB UGM, dan peneliti di Pusat Studi Kebudayaan UGM, serta Saiful Bachtiar, Head of Public Policy & Government Relations Central & West Java GOTO. Acara tersebut menghadirkan sebuah diskusi tentang bagaimana proses perjalanan sebuah makanan dapat diperoleh manusia, dari penemuan api, hadirnya berbagai macam proses pengolahan, hingga kemudahan yang dihadirkan lewat aplikasi online.

Mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa Mempersembahkan Tembang Macapat pada Selapanan Talk#1 Pusaka Jawa UGM

BeritaKarya MahasiswaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Senin, 11 September 2023

Yogyakarta – Pada hari Jumat (10/09/2023), dua mahasiswa dari Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, yakni Rafael Raga B. P. dan Affan Akbar, menampilkan tembang Macapat sekar Dhandhanggula dalam acara Selapanan Talk yang diadakan oleh Pusat Kajian Jawa atau Pusaka Jawa UGM.

Sekar Dhandhanggula yang ditembangkan oleh Rafael Raga B.P. merupakan bait ke-13  dari Serat Jampi Susah yang ditulis oleh R. Pujaarja pada tahun 1918. Penampilan tersebut dipersembahkan dengan iringan alat musik gender oleh Affan Akbar, dengan Laras Slendro Pathet Sanga. Berikut adalah cuplikan dari sekar Dhandhanggula pada Serat Jampi Susah bait ke-13 :

Rèhning kabèh ihtiyaring jalmi

Ora kêna lamun dèn têtêpna

Kang têtêp amung kodraté

Pêrlu apa dèn ulur

Iku kêna kinarya mirit

Marang waris kang waras

Aja mèlu-mèlu

Anglalu luru sangsara

Saranané mung narima jroning ati

Ing mêngko arêp apa

Setelah penampilan, Rafael Raga B.P. menjelaskan makna yang terkandung dalam tembang tersebut. Ia menyatakan, "Dalam tembang ini, R. Pujaarja mengemukakan pandangannya bahwa apa pun hasil dan takdir yang telah ditentukan, usaha tetap menjadi hal yang penting dalam mengembangkan diri seseorang dan memberikan hikmahnya kepada sesama. Cara pandang mengenai kodrat dan wiradat menjadi penting karena beratnya masalah dan kesulitan dalam kehidupan dapat teratasi dengan sikap narima (menerima).

Lebih lanjut, ia menambahkan, "R. Pujaarja kemudian menandaskan sebuah pertanyaan, yaitu 'ing mêngko arêp apa?’ (nantinya hendak melakukan apa?)  yang mengajak kita untuk merenung, merefleksikan, dan mengintrospeksi diri dengan bergerak maju menuju masa depan. Dengan sikap seperti ini, diharapkan bahwa masyarakat Jawa dapat merawat kesehatan jiwa mereka agar mencapai tujuan akhir yang baik, yaitu khusnul khotimah, bali marang sangkan paraning dumadi."

Acara Selapanan Talk merupakan kegiatan rutin yang diselenggarakan setiap 35 hari. Pada kesempatan ini, tema yang diangkat adalah "Sehat Jiwa ala Jawa," dan mengundang dua pemateri utama, Rudy Wiratama, S.I.P., M.A., seorang dosen dari Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa UGM, serta Salma Dias Saraswati, CEO dan Co-Founder of Tenang. Acara ini menjadi wadah penting untuk mendiskusikan dan memahami nilai-nilai kehidupan Jawa dalam memberikan makna pada jiwa serta pengaplikasikannya terhadap isu kesehatan mental, khususnya pada generasi muda saat ini.

HMJ KAMASTAWA Menggelar Kegiatan “Sastra Jawa Berbagi dan Mengajar” di Panti Asuhan Al Wahhaab

BeritaKegiatan MahasiswaMahasiswa Senin, 14 Agustus 2023

Minggu (13/08/2023), Divisi Sosial Masyarakat bersama dengan Divisi Keilmuan dari Himpunan Mahasiswa Jurusan Keluarga Mahasiswa Sastra Jawa (HMJ KAMASTAWA) telah berhasil menyelenggarakan kegiatan "Sastra Jawa Berbagi dan Mengajar." Program ini merupakan hasil inisiasi dari kolaborasi Divisi Sosial Masyarakat dan Divisi Keilmuan.

Kegiatan "Sastra Jawa Berbagi dan Mengajar" berlangsung di panti asuhan Al-Wahhaab Sinar Melati 11, yang terletak di Jl. Wijaya Kusuma Gg. Arjuna No. RT. 01/14, Dero, Condongcatur, Kec. Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebanyak 10 anak dari berbagai rentang usia, mulai dari balita hingga kelas satu SMP, turut berpartisipasi dalam kegiatan ini.

Kegiatan dimulai dengan tahap perkenalan antara peserta dan anak-anak panti asuhan, yang diikuti oleh pembelajaran interaktif dalam menulis dan membaca menggunakan flashcard. Serangkaian pembelajaran ini diteruskan dengan sesi kuis yang melibatkan penggunaan flashcard tersebut. Setelahnya, suasana menjadi lebih menyenangkan dengan kegiatan bermain dan bernyanyi tembang dolanan Jawa bersama.

Permainan teka-teki dengan menebak nama benda dalam Bahasa Jawa

Bermain dan bernyanyi tembang dolanan bersama.

Antusiasme yang ditunjukkan oleh para anak sangat terasa, mulai dari awal hingga akhir kegiatan, terutama saat pemberian hadiah-hadiah kecil sebagai penghargaan atas partisipasi mereka dalam kuis flashcard. Selain hadiah, HMJ KAMASTAWA juga memberikan buku pepak basa Jawa sebagai upaya untuk memperkenalkan dan memupuk minat terhadap kebudayaan Jawa kepada anak-anak di panti asuhan tersebut.

Penyerahan kenang-kenangan dari HMJ KAMASTAWA kepada pihak Panti Asuhan Al-Wahhaab

Meskipun sumbangan yang diberikan mungkin sederhana, tetapi harapan dan doa serta niat tulus untuk berbagi dan memberikan pengetahuan senantiasa melatari setiap langkah dalam program "Sastra Jawa Berbagi dan Mengajar" yang dijalankan oleh HMJ KAMASTAWA.

SASTRA JAWA BERBAGI DAN SASTRA JAWA MENGAJAR

BeritaKarya MahasiswaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Selasa, 9 Agustus 2022

Sabtu, (6 Agustus 2021), divisi Sosial Masyarakat, Keluarga Mahasiswa Sastra Jawa (Kamastawa) melaksanakan kegiatan Sastra Jawa Berbagi dan Sastra Jawa Mengajar. Kegiatan tersebut merupakan program kerja yang diinisiasi oleh divisi Sosial Masyarakat HMJ Kamastawa. Pada kegiatan tersebut, pelaksanaan kegiatan tidak hanya dilakukan oleh divisi Sosial Masyarakat saja, namun pelaksanaannya dibantu oleh divisi Keilmuan sebagai divisi yang mengimplementasikan bidang ilmunya di program Sastra Jawa Mengajar.

Kegiatan Sastra Jawa Berbagi dan Sastra Jawa Mengajar dilaksanakan di panti asuhan Rumah Buah Hati yang terletak di Gg. Surya No.24, Jomblangan, Banguntapan, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Panti asuhan tersebut, memiliki anak asuh sebanyak 23 orang dengan rentang usia balita hingga remaja dan pengasuhnya sebanyak 7 orang. Adapun sebagian besar penghuni panti asuhan Rumah Buah Hati adalah anak-anak yang berasal dari daerah Indonesia timur.

Pada hari tersebut, rangkaian kegiatan dimulai dengan program Sastra Jawa Mengajar. Diawali dengan perkenalan dengan anak-anak panti asuhan, lalu dilanjutkan dengan kegiatan mendongeng, yang dilakukan oleh Maria, salah satu anggota divisi Sosial Masyarakat. Setelah itu, dilaksanakan tanya jawab seputar dongeng yang telah diceritakan kepada anak-anak panti asuhan. Antusias yang diberikan anak-anak panti asuhan sangat terasa dari awal kegiatan mendongeng hingga sesi tanya jawab. Tidak hanya itu, setelah kegiatan tanya jawab, teman-teman HMJ Kamastawa juga mengajak anak-anak di panti untuk melakukan relaksasi dengan saling memijat antar teman. Selain itu juga juga dilanjutkan dengan tanya jawab seputar cita-cita yang ingin mereka raih dan diakhiri penyerahan bantuan dari HMJ Kamastawa beserta foto bersama.

Antusiasme yang diberikan anak-anak panti tidak hanya terlihat di awal kegiatan saja, namun sampai akhir kegiatan, bahkan sampai teman-teman HMJ Kamastawa berpamitan, mereka masih terlihat bersemangat. Apalagi, dengan hadiah-hadiah kecil yang diberikan untuk setiap mereka yang ada di panti asuhan tersebut yang menambah antusiasme yang mereka tunjukkan. Meskipun bantuan yang diberikan tidak banyak, namun harapan dan doa yang besar dari HMJ Kamastawa selalu ada di setiap hal yang diberikan melalui program kerja Sastra Jawa Berbagi dan Sastra Jawa Mengajar.

Kursus Singkat Bahasa Indonesia melalui Eksotisme Budaya Jawa

BeritaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Rabu, 27 Juli 2022

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Program Studi Sastra Jawa Universitas Gadjah Mada dengan kerja sama bersama Osaka University yang sudah terjalin sejak tahun 2017. Tahun ini merupakan tahun ketiga kegiatan ini dilaksanakan. 

Kursus singkat bahasa Indonesia memiliki tujuan sebagai pengenalan budaya Jawa sehingga dapat meningkatkan kemampuan softskill berbahasa Indonesia, baik secara lisan dan tulisan dari hasil eksplorasi budaya Jawa di Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Deskripsi Kursus. Kursus Singkat Bahasa Indonesia melalui Eksotisme Budaya Jawa ini adalah perwujudan pengajaran bahasa Indonesia untuk penutur asing (BIPA) yang dilaksanakan di Yogyakarta dan Jawa Tengah dengan mengundang kurang lebih 10 dosen ahli dari Asia, Australia, Eropa, dan Amerika. Kegiatan ini dihadiri oleh 27 mahasiswa Jepang dari Osaka University yang dikhususkan untuk Graduate School of Language and Culture Studies/School of Foreign Studies. Pembelajaran tersebut akan dilaksanakan selama 9 hari. 

Luaran Pembelajaran. Peserta kegiatan diharapkan mampu menunjukkan pemahaman dan mempraktikkan bahasa Indonesia secara aktif, baik dalam bentuk tertulis maupun lisan. Selain itu, peserta juga diharapkan mampu menghasilkan produk tulis baik lisan maupun lisan serta mengembangkan wawasan yang telah didapatkan selama melakukan kursus singkat. 

Metode. Metode pengajaran yang digunakan dalam kursus singkat bahasa Indonesia ini adalah kombinasi dari pertemuan tatap muka dan tatap maya. Sementara itu, proses pembelajaran dilakukan dengan pemaparan, collaborative learning, self learning, dan tugas terstruktur. Pengetahuan secara teoretis disampaikan secara asinkron (dan beberapa topik sinkronus, luring) yang kemudian dilanjutkan dengan ekskursi ke situs-situs warisan budaya. Ada pula sesi wawancara dengan mahasiswa Prodi Jawa sebagai tutor.  

Waktu dan Tempat. Pelaksanaan kursus singkat bahasa Indonesia tersebut dilaksanakan pada 16 - 24 September 2022 di Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Jadwal Penyelenggaraan

Jadwal dapat dilihat dan diunduh melalui tautan di bawah ini:

http://bit.ly/JadwalKursusSingkat

Penulis:

Anggra Dini

Vighna Hernawan

Webinar “Dunia Kerja Era Digital: Peluang dan Tantangan Lulusan Prodi Sastra Jawa”

BeritaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Jumat, 26 November 2021

Jumat, 19 November 2021, pukul 09.00 WIB, program studi Sastra Jawa, Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan webinar yang ditujukan untuk mahasiswa prodi Sastra Jawa, khususnya untuk para alumni. Webinar tersebut bertajuk Dunia Kerja Era Digital: Peluang dan Tantangan Lulusan Prodi Sastra Jawa. Webinar ini tentu menghadirkan narasumber yang berpengalaman. Beliau adalah salah satu alumni Sastra Nusantara (Sastra Jawa saat ini), Universitas Gadjah Mada, yaitu Drs. Imam Gunarto M.Hum. Beliau merupakan salah satu tokoh penting yang saat ini menjabat sebagai kepala Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).

Pada webinar tersebut, Bapak Imam menjelaskan bahwa pada era saat ini, lulusan Sastra Jawa bisa menjadi apapun. Tidak hanya berkutat pada perkejaan sebagai guru atau peneliti, namun Bapak Imam sudah membuktikan bahwa lulusan Sastra Jawa juga bisa menjadi seorang pemimpin. Beliau mengatakan bahwa lulusan Sastra Jawa harus memiliki rasa yang “berbeda” dengan yang lainnya. Selain itu rasa percaya diri juga sangat dibutuhkan untuk mendukung keahlian yang dimiliki.

Hal yang juga tidak boleh dilupakan adalah bahwa saat ini kita juga harus mempersiapkan langkah untuk memasuki dunia 5.0 society. Perencanaan yang matang sejak awal sangat diperlukan untuk menghadapi segala kemungkinan kondisi yang akan terjadi di masa depan. Maka dari itu, untuk menggapai dunia kerja sesuai dengan yang diinginkan, maka penguasaan ilmu interdisipliner juga perlu untuk diperhatikan.

Kondisi yang buruk seperti pandemi yang saat ini sedang terjadi juga mempengaruhi peluang kerja bagi masyarakat. Akibat dari pandemi pun sudah dapat terlihat dengan jelas. Banyak masyarakat yang harus kehilangan pekerjaan mereka karena keadaan yang serba sulit ini. Oleh karena itu, skill sangat diperlukan untuk bertahan di dunia kerja yang semakin hari semakin berat.

Pada webinar Dunia Kerja Era Digital tersebut, Bapak Imam juga menyampaikan bahwa ada berbagai tantangan yang harus dihadapi pada saat ini. Adapun tantangan tersebut meliputi ekosistem kerja, deregulasi, debiroratisasi, format kerja baru, global talent, gap kompetisi antara lulusan perguruan tinggi dan dunia kerja, kapasitas individual, dan sistem diklat yang active learning.

Oleh karena itu, melalui webinar tersebut, Bapak Imam berpesan agar para generasi muda, terutama teman-teman lulusan Sastra Jawa hendaknya memerhatikan kinerja dan kapasitas diri serta kinerja yang baik (how we see the world) dan selalu belajar untuk meningkatkan kapasitas diri (determines what we do) guna mendukung keberlangsungan karir di masa depan.

Sastra Jawa Berbagi

BeritaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Kamis, 2 September 2021

Minggu (22/08/2021), Keluarga Mahasiswa Sastra Jawa (KAMASTAWA) melakukan sebuah aksi peduli sesama di daerah Kulon Progo, Yogyakarta. Kegiatan peduli sesama tersebut bernama Sastra Jawa Berbagi. Sastra Jawa Berbagi adalah sebuah program kerja KAMASTAWA dari divisi Sosial Masyarakat. 

Melalui Sastra Jawa Berbagi, seluruh civitas akademika program studi Sastra Jawa, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, berkesempatan untuk berkontribusi dengan memberikan bantuan berupa dana dan pakaian layak pakai. Penggalangan dana serta baju layak pakai tersebut dilakukan oleh panitia yang dimulai pada tanggal 23 Juli sampai 10 Agustus 2021 dengan hasil uang tunai sebesar Rp 1.050.000,00 dan 10 kantong besar pakaian layak pakai.

Banyak yang mengira bahwa seluruh masyarakat di daerah Yogyakarta mungkin sudah terjamin kesejahteraannya. Namun, pada kenyataannya masih banyak masyarakat yang membutuhkan uluran tangan serta kepedulian kita seperti warga Desa Kalirejo, Sangon II, Kec. Kokap, Kulon Progo, Yogyakarta. Tidak hanya satu atau dua orang, tetapi hampir sebagian besar masyarakatnya memiliki keterbelakangan, baik itu secara mental, psikis, maupun ekonomi. 

Kala itu, teman-teman KAMASTAWA berkesempatan untuk mengunjungi secara langsung masyarakat yang berkebutuhan khusus sebanyak kurang lebih tiga puluh keluarga. Kegiatan tersebut juga melibatkan Lembaga Kesejahteraan Sosial "Baitunnajah" Desa Kalirejo Kec. Kokap, Kulon Progo, Yogyakarta.

Meskipun harus melalui akses jalan yang kurang memadai, namun hal itu tidak menyurutkan niat teman-teman Kamastawa untuk melakukan kegiatan tersebut. Kepedulian serta ketulusan yang diberikan melalui paket kebutuhan bahan-bahan pokok, menciptakan senyum bagi mereka yang menerimanya. Tentu saja hal itu memberikan kebahagiaan tersendiri bagi teman-teman Kamastawa yang dapat berkontribusi secara langsung pada kegiatan tersebut.

Penulis & editor : Anggra Dini

Pengabdian Kepada Masyarakat : Pengembangan Motif Batik Berbasis Cerita Rakyat dan Aksara Jawa di Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten

BeritaSDGS Minggu, 4 Agustus 2019

Kecamatan Bayat yang termasuk Kabupaten Klaten terletak di sudut selatan wilayah ini, berbatasan dengan Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta di sebelah selatan, Kecamatan Cawas di sebelah timur, Kecamatan Wedi di sebelah barat dan Kecamatan Trucuk di sebelah utara. Kecamatan Bayat terletak di daerah pegunungan kapur yang sejalur dengan wilayah Gunungkidul, sehingga penampakan wilayahnya berbukit-bukit dan mayoritas warganya tidak menggantungkan diri dari bertani, melainkan banyak yang berprofesi sebagai perajin, mulai dari gerabah, berbagai macam peralatan dari batu, sampai kain batik.

Kecamatan Bayat dalam lintasan sejarah termasuk wilayah yang penting meskipun tidak terletak di pusat pemerintahan. Hal ini tampak dari berbagai cerita tentang wilayah ini, yang banyak dikaitkan dengan tokoh yang hidup sekitar abad ke-16, yang bernama Ki Ageng Pandanaran. Beliau adalah seorang bupati Semarang yang mengundurkan diri dari kekuasaannya dan memilih untuk menyebarkan agama Islam dengan gelar Sunan Tembayat di daerah ini hingga akhir hayatnya. Selain adanya tokoh Sunan Tembayat, daerah ini juga memiliki banyak tokoh historis lain yang berasal dari peralihan era Majapahit ke Demak Bintara, seperti Seh Sabuk Janur, Ki Ageng Becik, Seh Domba, Ki Ageng Konang, Ki Ageng Menang Lase, Ki Ageng Santri, Pangeran Menangkabo dan Panembahan Jiwa. Mereka memiliki ceritanya masing-masing dalam konteks peranannya sebagai pemimpin masyarakat lokal sejak zaman Demak, Mataram hingga pecahnya menjadi Surakarta dan Yogyakarta. Hal ini menunjukkan bahwa daerah ini, selain usianya yang tua, juga memiliki tempat tersendiri dalam dinamika sejarah.

Kecamatan Bayat memiliki kurang lebih sepuluh sentra industri batik dengan kekhasan dan spesialisasi sendiri-sendiri. Beberapa sentra produksi batik di kecamatan Bayat di antaranya adalah batik cap di Desa Beluk, batik tulis di Desa Jarum dan Desa Kebon serta batik tenun lurik di Desa Tegalrejo. Industri batik di Bayat telah bersifat turun-temurun dan menjadi salah satu daerah pemasok kain batik untuk pasar Klewer di Surakarta dan Beringharjo di Yogyakarta sejak beberapa dekade yang lalu. Batik yang dihasilkan di daerah Bayat sendiri memiliki banyak ragam, mulai dari batik klasik yang memiliki ciri khas warna sogan untuk jarit atau nyamping, batik modern dengan warna-warna alam seperti nila (indigovera), motif-motif kontemporer untuk konsumsi fashion dan selera pembeli internasional, hingga batik kombinasi lurik dan batik di media selain kain seperti batik kayu, batik kulit dan lain sebagainya.

Sebagai sebuah daerah yang kental dengan nuansa sejarah, Kecamatan Bayat tentu menyimpan banyak sekali kearifan lokal di antaranya yang berbentuk tradisi kidungan, mantra, doa-doa, rajah dan petuah-petuah bijak yang berguna bagi masyarakat untuk menyikapi berbagai fenomena kehidupan di masa kini dan mengantisipasi hal-hal yang dapat terjadi di masa depan. Selain itu, banyaknya petilasan atau tapak sejarah banyak tokoh baik dari era Hindu, Islam hingga kerajaan-kerajaan Jawa yang terakhir di wilayah ini menunjukkan bahwa tentu saja akan banyak ditemukan berbagai cerita rakyat terkait dengannya, yang selain dapat berfungsi sebagai media pengingat sejarah juga memuat berbagai nilai-nilai kebudayaan. Selain itu, wilayah Bayat juga menjadi salah satu bagian penting dari sejarah sastra Jawa, karena di gerbang makam Sunan Tembayat ditemukan pula sengkalan atau kronogram, berbunyi Murti Sarira Jleging Ratu (1448) dan Wisaya Hanata Wisiking Ratu (1555), yang gaya hurufnya termasuk arkais, sezaman dengan naskah-naskah yang ditemukan di wilayah pesisir, di antaranya Primbon Sunan Bonang yang disimpan di Perpustakaan Asian Library, Leiden University. Hal-hal ini belum terekspos secara optimal terlebih dalam kaitannya dengan Bayat sebagai salah satu sentra industri kerajinan di Klaten. Pengabdian Pada Masyarakat (PPM) yang dilakukan oleh Prodi Sastra Jawa, Departemen Bahasa dan Sastra, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada Yogyakarta kali ini akan memfokuskan diri kepada pengembangan motif batik bermuatan cerita rakyat dan kearifan lokal dengan media tulisan Jawa, baik gaya Jawa modern yang dikenal sekarang ini maupun ‘gaya Sunan Tembayat’ yang tergambar pada kompleks makam kuno di daerah ini.

Tujuan PPM Prodi Sastra Jawa di Kecamatan Bayat Kabupaten Klaten yang dilaksanakan pada 15 Juli 2019 lalu adalah untuk memperkokoh identitas Bayat sebagai destinasi wisata religi dan sejarah, pusat industri UMKM (Usaha Kecil, Mikro dan Menengah) di bidang kerajinan sekaligus sebagai salah satu wilayah dengan kekhasan tersendiri di bidang kebudayaan, selain itu juga untuk membentuk kelompok masyarakat pengelola potensi seni budaya dan sejarah di Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten.

Hasil yang diharapkan dalam kegiatan pengabdian adalah Kecamatan Bayat sebagai Wilayah Binaan Prodi, lebih khususnya untuk memperkokoh eksistensi Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten sebagai wilayah yang memiliki karakter kebudayaan yang khas dan berakar kuat.

Hasil yang diperoleh dari kegiatan ‘Pengabdian kepada Masyarakat: Pengembangan Motif Batik Berbasis Cerita Rakyat dan Aksara Jawa di Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten’ ini adalah terciptanya motif batik ‘Udan Riris Majaarum’. Motif tersebut dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai motif batik ciri khas daerah Desa Jarum Kecamatan Bayat. Selain motif batik outcome dari kegiatan ini adalah artikel ‘Penciptaan Motif Baru Identitas Desa Jarum, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten’ yang rencananya akan diterbitkan di Jurnal Bakti Budaya dan dokumentasi kegiatan.

1…345

Recent Post

  • Sosialisasi Fon Aksara Jawa Dorong Pemanfaatan Aksara Jawa Digital
    April 22, 2026
  • Seputar Jawa: Sistem Papan Tombol Aksara Jawa Digital
    April 13, 2026
  • First Gathering Kabinet Sahacitta HMJ Kamastawa: Ajang Perkenalan dan Penguatan Kebersamaan
    April 6, 2026
  • Ghibran Arsha Daffa’ Musaffa’ Dinobatkan sebagai Insan Berprestasi Kalangan Mahasiswa Tahun 2026
    Maret 12, 2026
  • Seputar Jawa: Bahasa Jawa Dialek Banten, Dialek Bahasa yang Eksis di Ujung Barat Pulau Jawa
    Maret 10, 2026

Kalender

Mei 2026
S S R K J S M
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
« Apr    
  • Fakultas Ilmu Budaya
  • Ujian Masuk UGM
  • PPSMB
  • Alumni
  • Jurnal Humaniora
Mei 2026
S S R K J S M
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
« Apr    

Rilis Berita

  • Sosialisasi Fon Aksara Jawa Dorong Pemanfaatan Aksara Jawa Digital
    April 22, 2026
  • Seputar Jawa: Sistem Papan Tombol Aksara Jawa Digital
    April 13, 2026
  • First Gathering Kabinet Sahacitta HMJ Kamastawa: Ajang Perkenalan dan Penguatan Kebersamaan
    April 6, 2026
Universitas Gadjah Mada

Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
Departemen Bahasa dan Sastra
Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada

 

Jl. Sosiohumaniora, Bulaksumur, Yogyakarta
Telp : 0274-901134 Ext. 110, Fax : 0274-550451, WhatsApp : 081211911281
Email : nusantara@ugm.ac.id

© 2025 Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa FIB UGM

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY