• Universitas
  • Portal Akademik
  • Perpustakaan Universitas
  • Webmail
  • Arnawa
  • UM UGM
  • Bahasa Indonesia
    • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
Departemen Bahasa dan Sastra
Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
  • Halaman Muka
  • Profil
    • Visi & Misi
    • Tujuan
    • Keunggulan
    • Prospek Karier
    • Staf Pengajar
  • Akademik
    • Alur Kurikulum
    • Sebaran Mata Kuliah
    • Capaian Pembelajaran
    • Informasi Perkuliahan dan Administrasi
    • KONFERENSI DAN KEGIATAN INTERNASIONAL
    • Kalender Akademik
  • KPPB
    • Kerjasama
    • Pengabdian
      • Pengabdian Masyarakat
      • Siniar (Anarka Lālitya)
    • Penelitian
      • Penelitian Staf Pengajar
      • Arsip Kajian Jawa – Arnawa
    • Beasiswa
  • Kemahasiswaan
    • Hasil Survei Mahasiswa
    • HMJ Kamastawa
    • Kegiatan Mahasiswa
    • Karya Mahasiswa
    • Kanal Youtube
    • Kanal Instagram
  • Alumni
    • Profil Alumni
  • Kontak
  • Beranda
  • Berita
  • Menjaga Tradisi Batik Yogyakarta melalui Karya Aji Setyowijaya, Alumni Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa

Menjaga Tradisi Batik Yogyakarta melalui Karya Aji Setyowijaya, Alumni Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa

  • Berita, SDGS
  • 31 Juli 2026, 14.59
  • Oleh: haryountoro
  • 0

Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, telah melahirkan banyak alumni yang berkiprah dalam pelestarian dan pengembangan bahasa, sastra, maupun budaya Jawa. Salah satunya ialah Aji Setyowijaya, alumni angkatan 2008 yang kini menekuni dunia batik sebagai pengrajin batik khas Yogyakarta.

 

Tim Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa berkesempatan mengunjungi sekaligus mewawancarai Aji Setyowijaya, selanjutnya ditulis sebagai Mas Aji, secara langsung pada Selasa, 21 Juli 2026. Alumni angkatan 2008 yang juga merupakan penerima beasiswa Yayasan Arsari Djojohadikusumo (YAD) atau Yayasan Keluarga Hasyim Djojohadikusumo (YKHD) tersebut menceritakan bahwa ketertarikannya terhadap batik bermula dari kekagumannya pada kain-kain batik peninggalan. Ia mengaku sering menjumpai kain batik lama yang memiliki kualitas dan keindahan tinggi, tetapi kondisinya sudah rapuh sehingga tidak lagi layak digunakan. "Saya dulu senang ketika melihat kain batik peninggalan. Kainnya bagus dan ingin dipakai, tetapi sudah rawan. Akhirnya, saya termotivasi untuk mencoba mereproduksi kain batik yang sudah tua. Hal itu ditambah dengan waktu berkuliah saya sedang senang menggunakan rasukan atau pakaian Jawa," ungkapnya.

 

Ketertarikan tersebut mendorongnya mulai belajar membatik pada 2009. Dirinya mempelajari berbagai teknik membatik dengan mengamati dan belajar secara langsung di sejumlah sentra batik di Yogyakarta. Pada masa awal tersebut, Mas Aji memfokuskan diri untuk memahami pakem dan teknik batik tradisi Yogyakarta sebagai fondasi utama sebelum mengembangkan karyanya sendiri.

 

Berbekal pemahaman tersebut, pada sekitar 2013 hingga 2015, Mas Aji mulai memproduksi batik antik, yang juga dikenal sebagai batik kama atau batik lawasan. Menurutnya, pada masa itu masyarakat maupun kolektor memberikan apresiasi yang tinggi terhadap batik lawasan karena dianggap berasal dari puluhan tahun silam. "Pada tahun tersebut, dalam perdagangan, orang lebih mengapresiasi batik antik atau kama atau lawasan dengan asumsi batik itu dari 50–70 tahun yang lalu," jelasnya.

 

Namun, pengalaman tersebut justru memunculkan kegelisahan dalam dirinya. Menurut Mas Aji, batik tidak semestinya hanya dipandang sebagai karya klasik yang berhenti pada proses reproduksi masa lalu. Batik juga perlu terus berkembang tanpa meninggalkan akar tradisinya. Berangkat dari pemikiran tersebut, ia mulai menghadirkan identitas pribadinya dalam setiap karya yang dibuat serta memperluas eksplorasi di luar gaya batik khas Yogyakarta.

 

Sejalan dengan semangat tersebut, sejak 2018 Mas Aji mulai mendalami teknik pewarna alami (natural dye) untuk batik pakem tradisi Yogyakarta. Baginya, mempelajari pewarna alami bukan sekadar menghasilkan ragam warna yang berbeda, melainkan juga menjadi bagian dari upaya memahami kembali pengetahuan teknis yang telah diwariskan oleh para pembatik terdahulu.

 

Dalam proses berkarya, Mas Aji tidak bekerja seorang diri. Ia berkolaborasi dengan rekannya, Yahya Adi Sutikno, yang berfokus pada proses perancangan desain, sementara Mas Aji lebih banyak menangani proses produksi. Kolaborasi tersebut memungkinkan keduanya menghasilkan berbagai karya batik dengan pendekatan yang saling melengkapi.

 

Berbagai karya batik telah dihasilkan, mulai dari sample pieces ragam motif batik dalam satu kain yang terdiri atas 27, 260, hingga 480 contoh motif, karya-karya batik replikasi, batik lawasan, hingga batik hasil transformasi, alih media, dan berbagai bentuk batik kreasi. Tidak hanya pada kain batik, eksplorasi tersebut juga diterapkan pada berbagai media tekstil lain, seperti sarung dan media kain lainnya.

Batik berisi 480 sample pieces motif Yogyakarta

Batik Yogyakarta motif Gurda

Batik yang memuat lakon carangan “Bima Tani”

Selain berkecimpung dalam pembuatan kain batik, Mas Aji juga aktif dalam Perkumpulan Wastra Indonesia, sebuah komunitas yang menghimpun para pegiat dan pencinta wastra Nusantara. Dedikasinya terhadap batik juga diwujudkan melalui kontribusinya dalam buku Pesona Padu Padan Wastra Indonesia sebagai kontributor busana yang menampilkan penggunaan batik tradisi Yogyakarta.

 

Di balik seluruh proses kreatif tersebut, Mas Aji menilai bahwa salah satu aspek yang perlu terus dijaga dalam dunia batik adalah pengetahuan teknis. Menurutnya, pembahasan mengenai batik selama ini lebih banyak berfokus pada makna filosofis, simbol, dan nilai budaya, sementara pengetahuan mengenai teknik membatik justru berpotensi hilang apabila tidak didokumentasikan dan diwariskan. "Menurut saya, ranah tersebut (filosofi) tidak mudah hilang karena literaturnya sudah banyak. Tetapi, kalau soal teknis, itu bisa hilang. Misalnya, motif parang itu mau dibuat dari mana, arahnya dari mana. Ada cara dan metodenya.” Bagi Mas Aji, menjaga pengetahuan teknis sama pentingnya dengan menjaga nilai filosofis batik karena keduanya merupakan satu kesatuan yang membentuk tradisi membatik.

 

Menjelang akhir wawancara, Mas Aji juga menyampaikan pesan kepada mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa agar tidak takut mencoba berbagai peluang di luar ruang kelas. "Masalah besar dikecilkan, dan masalah kecil diabaikan. Jangan ragu atau takut untuk mencoba dan bereksplorasi. Jangan juga menutup wawasan hanya pada perkuliahan saja."

 

Perjalanan Mas Aji Setyowijaya menunjukkan bahwa pembelajaran mengenai bahasa, sastra, dan budaya Jawa tidak hanya berhenti pada ranah akademik, tetapi juga dapat diwujudkan melalui praktik pelestarian budaya yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Melalui dedikasinya dalam mempelajari teknik membatik, mereproduksi batik tradisi, mengembangkan inovasi berbasis pakem, serta terus mengeksplorasi berbagai kemungkinan baru dalam dunia wastra, Mas Aji membuktikan bahwa warisan budaya dapat terus hidup dan berkembang mengikuti zaman tanpa kehilangan jati dirinya.

 

Bagi para mahadaya yang ingin mengenal lebih dekat karya maupun aktivitas Mas Aji, dapat mengunjungi akun Instagram @setyowijaya dan Facebook Batik Setyowijaya. Melalui kedua media sosial tersebut, Mas Aji membagikan berbagai proses kreatif, hasil karya, serta aktivitasnya dalam melestarikan dan mengembangkan seni batik.

 

Penulis            : Haryo Untoro
Editor              : Haryo Untoro

Tags: AJI SETYOWIJAYA ALUMNI BAHASA SASTRA DAN BUDAYA JAWA BATIK BATIK INDONESIA BATIK YOGYAKARTA BUDAYA JAWA FIB SASTRA JAWA SDGS 11: KOTA DAN KOMUNITAS YANG BERKELANJUTAN SDGS 12: KONSUMSI DAN PRODUKSI YANG BERTANGGUNG JAWAB SDGS 17: KEMITRAAN MENCAPAI TUJUAN SDGS 17: KEMITRAAN UNTUK MENCAPAI TUJUAN SDGS 4: PENDIDIKAN BERKUALITAS SDGS 4: PENDIDIKAN BERMUTU SDGS 9: INDUSTRI INDUSTRI DAN INFRASTRUKTUR UGM

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Recent Post

  • Mahasiswi Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa UGM Dokumentasikan Bahasa Temanggung dan Aksara Jawa melalui KKN-PPM di Desa Bansari
    Agustus 19, 2026
  • Menjaga Tradisi Batik Yogyakarta melalui Karya Aji Setyowijaya, Alumni Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
    Juli 31, 2026
  • Muhamad Rafi Nur Fauzy dan Meifira Arini Pitaloka, Dua Mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa Terpilih sebagai Penerima Program Fast Track FIB UGM
    Juli 22, 2026
  • Merawat Seni Menjaga Harmoni, Gamasutra Tampil di Festival Karawitan Filsafat UGM 2026
    Juli 20, 2026
  • Workshop Internasional Membaca Ulang Wayang: Mengenang yang Silam, Menjelang yang Datang
    Juli 10, 2026

Kalender

September 2026
S S R K J S M
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  
« Agu    
  • Fakultas Ilmu Budaya
  • Ujian Masuk UGM
  • PPSMB
  • Alumni
  • Jurnal Humaniora
September 2026
S S R K J S M
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  
« Agu    

Rilis Berita

  • Mahasiswi Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa UGM Dokumentasikan Bahasa Temanggung dan Aksara Jawa melalui KKN-PPM di Desa Bansari
    Agustus 19, 2026
  • Menjaga Tradisi Batik Yogyakarta melalui Karya Aji Setyowijaya, Alumni Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
    Juli 31, 2026
  • Muhamad Rafi Nur Fauzy dan Meifira Arini Pitaloka, Dua Mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa Terpilih sebagai Penerima Program Fast Track FIB UGM
    Juli 22, 2026
Universitas Gadjah Mada

Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
Departemen Bahasa dan Sastra
Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada

 

Jl. Sosiohumaniora, Bulaksumur, Yogyakarta
Telp : 0274-901134 Ext. 110, Fax : 0274-550451, WhatsApp : 08135932426
Email : nusantara@ugm.ac.id

© 2025 Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa FIB UGM

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY