• Universitas
  • Portal Akademik
  • Perpustakaan Universitas
  • Webmail
  • Arnawa
  • UM UGM
  • Bahasa Indonesia
    • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
Departemen Bahasa dan Sastra
Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
  • Halaman Muka
  • Profil
    • Visi & Misi
    • Tujuan
    • Keunggulan
    • Prospek Karier
    • Staf Pengajar
  • Akademik
    • Alur Kurikulum
    • Sebaran Mata Kuliah
    • Capaian Pembelajaran
    • Informasi Perkuliahan dan Administrasi
    • KONFERENSI DAN KEGIATAN INTERNASIONAL
    • Kalender Akademik
  • KPPB
    • Kerjasama
    • Pengabdian
      • Pengabdian Masyarakat
      • Siniar (Anarka Lālitya)
    • Penelitian
      • Penelitian Staf Pengajar
      • Arsip Kajian Jawa – Arnawa
    • Beasiswa
  • Kemahasiswaan
    • Hasil Survei Mahasiswa
    • HMJ Kamastawa
    • Kegiatan Mahasiswa
    • Karya Mahasiswa
    • Kanal Youtube
    • Kanal Instagram
  • Alumni
    • Profil Alumni
  • Kontak
  • Beranda
  • 2026
  • Juli
Arsip 2026:

Juli

Menjaga Tradisi Batik Yogyakarta melalui Karya Aji Setyowijaya, Alumni Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa

BeritaSDGS Jumat, 31 Juli 2026

Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, telah melahirkan banyak alumni yang berkiprah dalam pelestarian dan pengembangan bahasa, sastra, maupun budaya Jawa. Salah satunya ialah Aji Setyowijaya, alumni angkatan 2008 yang kini menekuni dunia batik sebagai pengrajin batik khas Yogyakarta.

 

Tim Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa berkesempatan mengunjungi sekaligus mewawancarai Aji Setyowijaya, selanjutnya ditulis sebagai Mas Aji, secara langsung pada Selasa, 21 Juli 2026. Alumni angkatan 2008 yang juga merupakan penerima beasiswa Yayasan Arsari Djojohadikusumo (YAD) atau Yayasan Keluarga Hasyim Djojohadikusumo (YKHD) tersebut menceritakan bahwa ketertarikannya terhadap batik bermula dari kekagumannya pada kain-kain batik peninggalan. Ia mengaku sering menjumpai kain batik lama yang memiliki kualitas dan keindahan tinggi, tetapi kondisinya sudah rapuh sehingga tidak lagi layak digunakan. "Saya dulu senang ketika melihat kain batik peninggalan. Kainnya bagus dan ingin dipakai, tetapi sudah rawan. Akhirnya, saya termotivasi untuk mencoba mereproduksi kain batik yang sudah tua. Hal itu ditambah dengan waktu berkuliah saya sedang senang menggunakan rasukan atau pakaian Jawa," ungkapnya.

 

Ketertarikan tersebut mendorongnya mulai belajar membatik pada 2009. Dirinya mempelajari berbagai teknik membatik dengan mengamati dan belajar secara langsung di sejumlah sentra batik di Yogyakarta. Pada masa awal tersebut, Mas Aji memfokuskan diri untuk memahami pakem dan teknik batik tradisi Yogyakarta sebagai fondasi utama sebelum mengembangkan karyanya sendiri.

 

Berbekal pemahaman tersebut, pada sekitar 2013 hingga 2015, Mas Aji mulai memproduksi batik antik, yang juga dikenal sebagai batik kama atau batik lawasan. Menurutnya, pada masa itu masyarakat maupun kolektor memberikan apresiasi yang tinggi terhadap batik lawasan karena dianggap berasal dari puluhan tahun silam. "Pada tahun tersebut, dalam perdagangan, orang lebih mengapresiasi batik antik atau kama atau lawasan dengan asumsi batik itu dari 50–70 tahun yang lalu," jelasnya.

 

Namun, pengalaman tersebut justru memunculkan kegelisahan dalam dirinya. Menurut Mas Aji, batik tidak semestinya hanya dipandang sebagai karya klasik yang berhenti pada proses reproduksi masa lalu. Batik juga perlu terus berkembang tanpa meninggalkan akar tradisinya. Berangkat dari pemikiran tersebut, ia mulai menghadirkan identitas pribadinya dalam setiap karya yang dibuat serta memperluas eksplorasi di luar gaya batik khas Yogyakarta.

 

Sejalan dengan semangat tersebut, sejak 2018 Mas Aji mulai mendalami teknik pewarna alami (natural dye) untuk batik pakem tradisi Yogyakarta. Baginya, mempelajari pewarna alami bukan sekadar menghasilkan ragam warna yang berbeda, melainkan juga menjadi bagian dari upaya memahami kembali pengetahuan teknis yang telah diwariskan oleh para pembatik terdahulu.

 

Dalam proses berkarya, Mas Aji tidak bekerja seorang diri. Ia berkolaborasi dengan rekannya, Yahya Adi Sutikno, yang berfokus pada proses perancangan desain, sementara Mas Aji lebih banyak menangani proses produksi. Kolaborasi tersebut memungkinkan keduanya menghasilkan berbagai karya batik dengan pendekatan yang saling melengkapi.

 

Berbagai karya batik telah dihasilkan, mulai dari sample pieces ragam motif batik dalam satu kain yang terdiri atas 27, 260, hingga 480 contoh motif, karya-karya batik replikasi, batik lawasan, hingga batik hasil transformasi, alih media, dan berbagai bentuk batik kreasi. Tidak hanya pada kain batik, eksplorasi tersebut juga diterapkan pada berbagai media tekstil lain, seperti sarung dan media kain lainnya.

Batik berisi 480 sample pieces motif Yogyakarta

Batik Yogyakarta motif Gurda

Batik yang memuat lakon carangan “Bima Tani”

Selain berkecimpung dalam pembuatan kain batik, Mas Aji juga aktif dalam Perkumpulan Wastra Indonesia, sebuah komunitas yang menghimpun para pegiat dan pencinta wastra Nusantara. Dedikasinya terhadap batik juga diwujudkan melalui kontribusinya dalam buku Pesona Padu Padan Wastra Indonesia sebagai kontributor busana yang menampilkan penggunaan batik tradisi Yogyakarta.

 

Di balik seluruh proses kreatif tersebut, Mas Aji menilai bahwa salah satu aspek yang perlu terus dijaga dalam dunia batik adalah pengetahuan teknis. Menurutnya, pembahasan mengenai batik selama ini lebih banyak berfokus pada makna filosofis, simbol, dan nilai budaya, sementara pengetahuan mengenai teknik membatik justru berpotensi hilang apabila tidak didokumentasikan dan diwariskan. "Menurut saya, ranah tersebut (filosofi) tidak mudah hilang karena literaturnya sudah banyak. Tetapi, kalau soal teknis, itu bisa hilang. Misalnya, motif parang itu mau dibuat dari mana, arahnya dari mana. Ada cara dan metodenya.” Bagi Mas Aji, menjaga pengetahuan teknis sama pentingnya dengan menjaga nilai filosofis batik karena keduanya merupakan satu kesatuan yang membentuk tradisi membatik.

 

Menjelang akhir wawancara, Mas Aji juga menyampaikan pesan kepada mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa agar tidak takut mencoba berbagai peluang di luar ruang kelas. "Masalah besar dikecilkan, dan masalah kecil diabaikan. Jangan ragu atau takut untuk mencoba dan bereksplorasi. Jangan juga menutup wawasan hanya pada perkuliahan saja."

 

Perjalanan Mas Aji Setyowijaya menunjukkan bahwa pembelajaran mengenai bahasa, sastra, dan budaya Jawa tidak hanya berhenti pada ranah akademik, tetapi juga dapat diwujudkan melalui praktik pelestarian budaya yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Melalui dedikasinya dalam mempelajari teknik membatik, mereproduksi batik tradisi, mengembangkan inovasi berbasis pakem, serta terus mengeksplorasi berbagai kemungkinan baru dalam dunia wastra, Mas Aji membuktikan bahwa warisan budaya dapat terus hidup dan berkembang mengikuti zaman tanpa kehilangan jati dirinya.

 

Bagi para mahadaya yang ingin mengenal lebih dekat karya maupun aktivitas Mas Aji, dapat mengunjungi akun Instagram @setyowijaya dan Facebook Batik Setyowijaya. Melalui kedua media sosial tersebut, Mas Aji membagikan berbagai proses kreatif, hasil karya, serta aktivitasnya dalam melestarikan dan mengembangkan seni batik.

 

Penulis            : Haryo Untoro
Editor              : Haryo Untoro

Muhamad Rafi Nur Fauzy dan Meifira Arini Pitaloka, Dua Mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa Terpilih sebagai Penerima Program Fast Track FIB UGM

BeritaMahasiswa Rabu, 22 Juli 2026

Dua mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Gadjah Mada (UGM), Muhamad Rafi Nur Fauzy dan Meifira Arini Pitaloka, berhasil terpilih sebagai penerima Program Fast Track sarjana–magister (S1–S2) di FIB UGM. Pengumuman tersebut disampaikan pada Jumat (17/7/2026) di media sosial milik Fakultas Ilmu Budaya UGM. Melalui program ini, mahasiswa berkesempatan menempuh pendidikan sarjana (S1) dan magister (S2) secara beririsan sehingga masa studi dapat diselesaikan dengan lebih singkat. Keduanya memilih melanjutkan studi ke Program Magister Sastra FIB UGM.

Dalam wawancara yang dilakukan secara daring pada Senin (20/7/2026), keduanya mengungkapkan rasa syukur dan antusiasme atas kesempatan menjadi penerima Program Fast Track FIB UGM. Bagi Muhamad Rafi Nur Fauzy, program ini menjadi langkah untuk memperdalam keilmuan yang telah dipelajari selama menempuh pendidikan sarjana. "Saya berkeinginan untuk memahami dunia Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa secara lebih mendalam agar nantinya dapat bermanfaat bagi masyarakat," jelasnya. Senada dengan itu, Meifira Arini Pitaloka menilai bahwa kesempatan melanjutkan studi melalui Program Fast Track menjadi ruang untuk terus mengembangkan minat akademik sekaligus memperluas wawasan. "Saya ingin terus mendalami hal yang saya minati dengan memanfaatkan segala kesempatan dan kemauan yang ada," terangnya.

Mengenai rencana kajian pada jenjang magister, keduanya memiliki ketertarikan yang berbeda. Rafi mengaku ingin mendalami bidang kesusastraan dan kebudayaan Jawa, khususnya mengenai eksistensi cerita Panji di Jawa Tengah. "Saya tertarik untuk mendalami lagi mengenai kesusastraan dan kebudayaan Jawa. Misalnya tentang eksistensi cerita Panji di Jawa Tengah, sementara dunia Panji sendiri lebih populer di Malang," jelasnya. Sementara itu, Meifira berencana mengeksplorasi bidang sastra yang lebih luas. "Saya ingin mencoba untuk tidak membatasi diri hanya pada sastra Jawa. Rencananya, kajian saya masih akan berkaitan dengan gambar, mungkin seperti sastra komik atau sastra anak," ungkapnya.

Keduanya juga telah mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan selama menjalani Program Fast Track. Menurut Rafi, tantangan terbesar terletak pada kemampuan mengatur waktu agar dapat menyeimbangkan studi sarjana dan magister. "Saya ingin lebih tertib, lebih mampu memanfaatkan waktu untuk studi, serta menyediakan waktu untuk penelitian lapangan," katanya. Di sisi lain, Meifira menilai bahwa kesiapan mental menjadi aspek yang tidak kalah penting. Selain berusaha memberikan yang terbaik, ia juga menekankan pentingnya doa dan kesadaran diri dalam menjalani proses studi. "Saya mencoba berusaha sebaik mungkin, tidak lupa berdoa, serta membangun kesadaran diri dalam menghadapi tantangan ke depan," terangnya.

Menutup wawancara, keduanya membagikan pesan kepada mahasiswa lain agar tetap bersemangat dan konsisten dalam menjalani perkuliahan. Rafi mengajak mahasiswa untuk mengembangkan hal-hal yang benar-benar diminati sehingga proses belajar dapat dijalani dengan lebih menyenangkan. "Jalani secara konsisten hal yang benar-benar disukai. Dengan begitu, proses belajar pun akan terasa lebih menyenangkan. Tetap semangat, jalani dengan santai. Melu ilining banyu ning ora nganti keli (ikut arus air, tetapi tidak sampai terbawa arus)," pesannya.  Meifira pun menyampaikan pesan serupa. Menurutnya, setiap pilihan yang telah diambil perlu dijalani dengan sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab. "Do what you love and love what you do, lakukan apa yang kamu cintai dan cintai apa pun yang kamu lakukan," katanya.

Keberhasilan Muhamad Rafi Nur Fauzy dan Meifira Arini Pitaloka menjadi penerima Program Fast Track FIB UGM diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa untuk terus mengembangkan potensi akademik serta memanfaatkan berbagai peluang yang tersedia. Semoga langkah keduanya dalam menempuh pendidikan magister dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang bahasa, sastra, dan budaya Jawa.

Penulis: Haryo Untoro
Editor : Haryo Untoro

Merawat Seni Menjaga Harmoni, Gamasutra Tampil di Festival Karawitan Filsafat UGM 2026

BeritaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Senin, 20 Juli 2026

Gamasutra, Gamelan Mahasiswa Sastra Nusantara, ikut memeriahkan Festival Karawitan dan Bazar Nusantara yang diselenggarakan oleh Fakultas Filsafat UGM pada Sabtu, 18 Juli 2026. Festival Karawitan merupakan rangkaian acara dalam menyongsong Dies Natalis ke-59 Fakultas Filsafat UGM. Kegiatan tersebut diselenggarakan di Lapangan Fakultas Filsafat UGM dan pada tahun ini memasuki penyelenggaraan yang kedelapan.

 

Pada tahun ini, Festival Karawitan diikuti oleh 52 kelompok karawitan yang berasal dari lingkungan UGM maupun komunitas seni dari berbagai daerah. Seluruh penampilan dibagi dalam dua hari, yakni Sabtu dan Minggu, dengan jadwal pertunjukan pada pukul 07.00–22.00 WIB. Acara ini juga disiarkan secara daring melalui live streaming di saluran YouTube Fakultas Filsafat. Sebagai salah satu kelompok yang turut berpartisipasi dalam festival tersebut, Gamasutra tidak hanya hadir sebagai penampil, tetapi juga ikut meramaikan Bazar Nusantara.

Gamasutra tampil pada hari pertama, pukul 21.00 WIB. Lagu yang disajikan terdiri atas ladrang Sumyar, kemudian dilanjutkan dengan gendhing-gendhing dolanan, seperti Emplek-emplek Ketepu, Kembang Jagung, Aku Duwe Pitik, dan Manggung Sore, yang kemudian ditutup dengan Ayak-ayak Pamungkas RRI jugag. mMenjelang pementasan, anggota Gamasutra menjalani latihan agar penampilan dapat berlangsung dengan lancar dan maksimal. Latihan tersebut dilaksanakan selama kurang lebih dua minggu dengan enam kali pertemuan. Seluruh anggota Gamasutra menunjukkan antusiasme yang tinggi selama proses latihan hingga akhirnya tampil dalam festival tersebut.

 

Festival Karawitan tahun 2026 menjadi salah satu kegiatan Gamasutra dalam melestarikan seni budaya Nusantara. Kegiatan tersebut selaras dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-4, yaitu pendidikan berkualitas. Gamasutra menjadi sarana belajar bersama, khususnya dalam mendalami seni karawitan. Selain itu, keterlibatan Gamasutra dalam Festival Karawitan yang diselenggarakan oleh Fakultas Filsafat UGM juga merupakan implementasi SDGs poin ke-17, yaitu kemitraan untuk mencapai tujuan. Dalam konteks ini, tujuan yang ingin dicapai ialah pelestarian seni budaya Nusantara.

 

Penulis            : Carlos Jose Prabakusuma
Editor              : Carlos Jose Prabakusuma & Haryo Untoro

Workshop Internasional Membaca Ulang Wayang: Mengenang yang Silam, Menjelang yang Datang

BeritaSDGS Jumat, 10 Juli 2026

Dalam rangka Dies Natalis ke-80 Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada (UGM), Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa FIB UGM menyelenggarakan Workshop Internasional bertajuk Membaca Ulang Wayang: Mengenang yang Silam, Menjelang yang Datang pada Kamis (9/7/2026). Kegiatan ini mengajak akademisi, mahasiswa, dan masyarakat umum untuk meninjau kembali seni pewayangan, tidak hanya sebagai warisan budaya masa lalu, tetapi juga sebagai tradisi yang terus berkembang dan tetap relevan dalam menjawab tantangan masa kini maupun masa depan.

Untuk mengulas tema tersebut secara komprehensif, workshop menghadirkan tiga narasumber yang memiliki kepakaran di bidangnya, yaitu Prof. Matthew Isaac Cohen, Ph.D., Alan H. Feinstein, Ph.D., dan Dr. G.R. Lono Lastoro Simatupang, M.A. Jalannya diskusi dipandu oleh Zakariya Pamuji Aminullah, S.S., M.A. sebagai moderator.

Sambutan dari Dr. Rudy Wiratama, S.I.P.., M.A., ketua koordinator kegiatan

Sambutan dari Dr. Mimi Savitri, M.A., Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, Kerja Sama, dan Alumni FIB UGM

Acara dimulai pada pukul 09.00 WIB dengan sambutan dari Dr. Rudy Wiratama, S.I.P., M.A. selaku ketua koordinator kegiatan, yang kemudian dilanjutkan oleh Dr. Mimi Savitri, M.A. selaku Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, Kerja Sama, dan Alumni FIB UGM. Setelah sesi pembukaan, workshop internasional resmi dimulai.

Sebagai pembicara pertama, Prof. Matthew Isaac Cohen, Ph.D., membahas kehidupan seni wayang di ruang virtual, khususnya perkembangan yang semakin terlihat pada masa pandemi. Menurutnya, keberadaan seni wayang di dunia digital sebenarnya telah dimulai jauh sebelum pandemi melalui siaran langsung pertunjukan wayang kulit. "Hidupnya seni wayang dalam dunia virtual ternyata sudah dimulai sebelum era pandemi, dengan hadirnya siaran langsung wayang kulit yang telah dilakukan," jelasnya. Ia juga memaparkan bahwa eksistensi wayang di ruang virtual terus mengalami transformasi melalui berbagai bentuk inovasi, mulai dari hadirnya komunitas seperti Posko Dalang Nusantara, publikasi buku #Dalang Goes to Twitter, kemunculan Wayang Jemblung pada masa pandemi, hingga pengembangan wayang dalam bentuk animasi berbasis kecerdasan artifisial (AI).

Pembicara kedua, Alan H. Feinstein, Ph.D., mengangkat tema historiografi dan dokumentasi lakon wayang Jawa. Ia menjelaskan bahwa upaya pendokumentasian lakon wayang telah dilakukan sejak masa kolonial, baik melalui proyek dokumentasi lakon carangan maupun penghimpunan berbagai sumber naskah kuno. Menurutnya, wayang dapat dikaji dari beragam perspektif keilmuan sehingga dokumentasi terhadap fakta, data, dokumen, maupun berbagai bentuk bukti lainnya menjadi sangat penting. Hal tersebut diperlukan karena pertunjukan wayang bersifat fana dan tidak meninggalkan jejak setelah dalang mengakhiri pementasannya.

Pada sesi terakhir, Dr. G.R. Lono Lastoro Simatupang, M.A., membahas eksistensi perempuan dalam seni pertunjukan wayang, baik dari perspektif dalang, tokoh wayang, representasi perempuan, maupun lakon yang dipentaskan. Ia menjelaskan bahwa keterlibatan perempuan dalam dunia pewayangan telah menunjukkan perkembangan yang positif, meskipun masih memerlukan berbagai upaya penguatan. "Saya menyarankan penambahan dalang perempuan, peningkatan keterampilan perempuan dalam seni pertunjukan wayang, hingga penciptaan lakon-lakon carangan yang sesuai dengan perkembangan zaman," ungkapnya.

Melalui workshop ini, wayang Jawa dipahami tidak hanya sebagai seni pertunjukan, tetapi juga sebagai cermin dinamika sosial dan kebudayaan yang terus berkembang. Berbagai paparan yang disampaikan menunjukkan bahwa eksistensi wayang senantiasa berkelindan dengan konteks zamannya serta terus mengalami transformasi tanpa kehilangan nilai-nilai budaya yang menjadi pondasinya. Sejalan dengan tema Membaca Ulang Wayang: Mengenang yang Silam, Menjelang yang Datang, workshop ini memperlihatkan bahwa pelestarian wayang tidak hanya dilakukan melalui pewarisan tradisi, tetapi juga melalui dokumentasi, pembacaan kritis, serta berbagai inovasi yang menjaga relevansinya di tengah perkembangan zaman.

Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa Raih Gelar Doktor melalui Kajian Naskah Jawa Pertengahan Uttarakāṇḍa

BeritaKarya MahasiswaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Rabu, 8 Juli 2026

Selasa (7/7/2026) menjadi hari yang membahagiakan bagi Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Gadjah Mada (UGM). Dosen bidang filologi Jawa Kuna dan Jawa Pertengahan, Yosephin Apriastuti Rahayu, S.S., M.Hum., berhasil meraih gelar doktor setelah menjalani sidang promosi terbuka di Universiteit Leiden.

Dalam disertasinya yang berjudul Learning from the Scribes: A Study of the Old Javanese Uttarakāṇḍa from the Merapi-Merbabu Tradition, Yosephin mengkaji Uttarakāṇḍa, karya sastra Jawa Kuna berbentuk prosa yang merupakan kitab ketujuh dari kisah Rāmāyaṇa. Penelitian tersebut berfokus pada empat manuskrip Uttarakāṇḍa dari koleksi tradisi Merapi-Merbabu dan Bali untuk memahami bagaimana para juru tulis menyalin, melestarikan, dan mewariskan naskah tersebut.

Melalui penelitian ini, Ibu Apriastuti menemukan bahwa proses penyalinan naskah tidak sekadar menyalin teks, tetapi melibatkan serangkaian aktivitas, seperti membaca, mengingat, merefleksikan, mendikte, dan menuliskan kembali isi naskah. Penelitian ini juga menunjukkan adanya perbedaan sistem ejaan serta variasi penulisan yang dipengaruhi oleh tradisi dan budaya masing-masing. Temuan tersebut membantu mengidentifikasi kesalahan penyalinan sekaligus mendukung upaya merekonstruksi bentuk teks yang lebih mendekati naskah aslinya. Selain itu, penelitian ini memperlihatkan adanya perbedaan karakteristik antara tradisi penulisan Merapi-Merbabu dan tradisi Bali.

Usai memaparkan hasil penelitiannya, Ibu Apriastuti menjawab berbagai pertanyaan dari para penguji. Diskusi tersebut membahas sejumlah topik, di antaranya peran tradisi naskah Merapi-Merbabu sebagai penghubung budaya Jawa Klasik dengan tradisi Jawa dan Bali, perkembangan sistem aksara dari masa Jawa Kuna hingga aksara Jawa modern, serta hubungan budaya dan sastra antara tradisi Sanskerta, Jawa Kuna, dan Bali.

Keberhasilan Yosephin meraih gelar doktor sekaligus menjadi kontribusi penting bagi pengembangan kajian filologi Jawa Kuna. Penelitian tersebut tidak hanya memperkaya pemahaman mengenai tradisi pernaskahan di Nusantara, tetapi juga mendukung upaya pelestarian warisan budaya tulis, khususnya naskah-naskah Jawa Kuna yang menjadi sumber penting dalam memahami sejarah, sastra, dan kebudayaan Indonesia.

Recent Post

  • Menjaga Tradisi Batik Yogyakarta melalui Karya Aji Setyowijaya, Alumni Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
    Juli 31, 2026
  • Muhamad Rafi Nur Fauzy dan Meifira Arini Pitaloka, Dua Mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa Terpilih sebagai Penerima Program Fast Track FIB UGM
    Juli 22, 2026
  • Merawat Seni Menjaga Harmoni, Gamasutra Tampil di Festival Karawitan Filsafat UGM 2026
    Juli 20, 2026
  • Workshop Internasional Membaca Ulang Wayang: Mengenang yang Silam, Menjelang yang Datang
    Juli 10, 2026
  • Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa Raih Gelar Doktor melalui Kajian Naskah Jawa Pertengahan Uttarakāṇḍa
    Juli 8, 2026

Kalender

Juli 2026
S S R K J S M
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
« Jun    
  • Fakultas Ilmu Budaya
  • Ujian Masuk UGM
  • PPSMB
  • Alumni
  • Jurnal Humaniora
Juli 2026
S S R K J S M
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
« Jun    

Rilis Berita

  • Menjaga Tradisi Batik Yogyakarta melalui Karya Aji Setyowijaya, Alumni Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
    Juli 31, 2026
  • Muhamad Rafi Nur Fauzy dan Meifira Arini Pitaloka, Dua Mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa Terpilih sebagai Penerima Program Fast Track FIB UGM
    Juli 22, 2026
  • Merawat Seni Menjaga Harmoni, Gamasutra Tampil di Festival Karawitan Filsafat UGM 2026
    Juli 20, 2026
Universitas Gadjah Mada

Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
Departemen Bahasa dan Sastra
Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada

 

Jl. Sosiohumaniora, Bulaksumur, Yogyakarta
Telp : 0274-901134 Ext. 110, Fax : 0274-550451, WhatsApp : 08135932426
Email : nusantara@ugm.ac.id

© 2025 Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa FIB UGM

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY