• Universitas
  • Portal Akademik
  • Perpustakaan Universitas
  • Webmail
  • Arnawa
  • UM UGM
  • Bahasa Indonesia
    • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
Departemen Bahasa dan Sastra
Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
  • Halaman Muka
  • Profil
    • Visi & Misi
    • Tujuan
    • Keunggulan
    • Prospek Karier
    • Staf Pengajar
  • Akademik
    • Alur Kurikulum
    • Deskripsi Mata Kuliah
    • Sebaran Mata Kuliah
    • Capaian Pembelajaran
    • INFORMASI PERKULIAHAN DAN ADMINISTRASI
    • KONFERENSI DAN KEGIATAN INTERNASIONAL
    • Kalender Akademik
  • KPPB
    • Kerjasama
    • Pengabdian
      • Pengabdian Masyarakat
      • Siniar (Anarka Lālitya)
    • Penelitian
      • Penelitian Staf Pengajar
      • Arsip Kajian Jawa – Arnawa
    • Beasiswa
  • Kemahasiswaan
    • Hasil Survei Mahasiswa
    • HMJ Kamastawa
    • Kegiatan Mahasiswa
    • Karya Mahasiswa
    • Kanal Youtube
    • Kanal Instagram
  • Alumni
    • Profil Alumni
  • Kontak
  • Beranda
  • Lain-lain
Arsip:

Lain-lain

Pidato Pengukuhan Prof. Dr. Hendrokumoro, M.Hum., sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Linguistik FIB UGM

BeritaLain-lainSDGS Kamis, 8 Mei 2025

Dikutip utuh dari: https://fib.ugm.ac.id/2025/05/pengukuhan-prof-dr-hendrokumoro-m-hum-sebagai-guru-besar-bidang-ilmu-linguistik-fakultas-ilmu-budaya-ugm.html

Suasana khidmat menyelimuti Balai Senat, Gedung Pusat Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Kamis (8/5/2025), saat Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM mengukuhkan Prof. Dr. Hendrokumoro, M.Hum. sebagai Guru Besar dalam bidang Ilmu Linguistik. Pengukuhan ini menjadi momen bersejarah bagi Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa FIB UGM, yang turut berbangga atas pencapaian salah satu dosen terbaiknya. read more

Seputar Jawa: Tembang Dolanan Sebagai Alat Komunikasi Berbahasa Jawa

BeritaLain-lainSDGS Selasa, 5 November 2024

Dikutip langsung dari music.youtube.com

Sedang viral sebuah kidung atau nyanyian Jawa di media sosial berjudul “Lela Ledhung”, lagu ini sangat banyak dibawakan atau dijadikan backsound sebuah video. Lela Ledhung adalah lagu yang diciptakan oleh Markasan. Lagu yang dimaksudkan oleh Markasan sebagai tembang pengantar tidur, yang kemudian menjadi lagu yang cukup popular di masa pasca kemerdekaan Republik Indonesia. Lela Ledung menjadi viral karena penampilan Yogyakarta Royal Orchestra pada Konser Hari Penegakan Kedaulatan Negara 2024. Lela Ledhung yang memiliki laras pelog diaransemen oleh ML. Widyoyitnowaditro (Joko Suprayitno, S. Sn., M. Sn.) ke dalam format orchestra dengan apik.

Lela Ledhung ini masuk kedalam salah satu contoh tembang dolanan Jawa. Tembang dolanan Jawa, sebuah jenis lagu tradisional yang sarat dengan nilai-nilai budaya. Dikenal sebagai lagu-lagu yang sering diperdengarkan dalam permainan anak-anak, tembang dolanan mengandung filosofi mendalam yang tak hanya mengajarkan nilai moral, tetapi juga melestarikan kearifan lokal melalui musik. Tembang dolanan merupakan bagian penting dari tradisi musik Jawa, yang melibatkan permainan kata dan nada yang mudah diingat. Bahasa yang digunakan dalam tembang dolanan terbilang sederhana dan mudah dilafalkan, merujuk dari Winarti (2010) tembang dolanan menunjukkan beberapa fungsi-fungsi bahasa sebagai alat komunikasi dalam bahasa Jawa.

Berdasarkan penelitian Winarti. D (2010) dalam Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Widyaparwa mengenai Lirik Lagu Dolanan sebagai Salah Satu Bentuk Komunikasi Berbahasa Jawa, beberapa fungsi bahasa yang ada dalam lagu Lela Ledhung, antara lain:

  • Fungsi regulatoris

Lagu Lela Ledhung memiliki fungsi regulatoris terletak pada liriknya “Cep menenga aja pijer nangis” yang memiliki makna untuk menyuruh seseorang, karena pada dasarnya fungsi regulatoris ini ditandai dengan penggunaan kata perintah.

  • Fungsi interaksi

Sering kali dijumpai kata-kata interaksi dalam lagu dolanan seperti bentuk sapaan dan pertanyaan, seperti pada lirik “Anakku sing ayu rupane” merupakan sapaan untuk anaknya yang berwajah cantik.

  • Fungsi personal

Fungsi personal biasanya menunjukkan tentang dirinya sendiri, contohnya menunjukkan sifat cantik untuk anaknya sendiri.

  • Fungsi heuristik

Merupakan penggunaan bahasa untuk memperoleh ilmu pengetahuan dan bersifat mendidik, contohnya “Dadia wanita utama” dan “Dadia pendekaring bangsa”

  • Fungsi imajinatif

Memberikan gagasan yang bersifat imajinasi dan khayalan-khayalan, seperti pada lirik “Kae bulane ndadari kaya ndhas buta nggilani” memberikan imajinasi bahwa bulannya besar seperti buta atau raksasa.

  • Fungsi Informatif

Lagu dolanan banyak menggunakan bahasa yang mengandung informasi, memberikan pernyataan atau menjelaskan sesuatu. Contoh pada lagu Lela Ledhung terdapat pada lirik jika menjadi orang utama maka dapat menaikkan derajat dan nama orang tua.

  • Fungsi Puitik

Sebuah lagu diciptakan pasti mengandung unsur keindahan didalamnya, seperti penggunaan rima dan gaya bahasa atau diksi tertentu, contohnya “Tak emban slendhang bathik kawung” dilanjutkan dengan “Yen nangis mundhak gawe bingung” memiliki rima yang sama yakni “ung”

Fungsi-fungsi yang ada di lagu Lela Ledhung ini juga berlaku untuk tembang dolanan yang lainnya. Walaupun bahasa yang digunakan sederhana tetapi lagu dolanan memiliki banyak fungsi dan nilai-nilai yang ada didalamnya, yang dapat memberikan pengajaran dan pelajaran hidup bermasyarakat. Dengan semangat pelestarian budaya, tembang dolanan Jawa bukan hanya menjadi hiburan, tetapi juga media yang efektif untuk menyampaikan ajaran-ajaran luhur yang masih relevan bagi kehidupan modern saat ini.

DAFTAR PUSTAKA

Winarti, D. (2010). Lirik Lagu Dolanan Sebagai Salah Satu Bentuk Komunikasi Berbahasa Jawa: Analisis Fungsi. Widyaparwa, 38(1), 1-12.



Seputar Jawa: Rekaman Wabah Penyakit dan Metode Penyembuhannya dalam Kesusastraan Tulis Jawa

BeritaLain-lainSDGS Rabu, 18 September 2024

Dikutip utuh dari: cebu.fkkmk.ugm.ac.id

Baru-baru ini, World Health Organization (WHO) menetapkan cacar monyet (Monkeypox) sebagai darurat kesehatan global. Penyakit yang pertama kali menular pada manusia pada tahun 1970 di Republik Kongo ini telah terdeteksi di Indonesia, dan hingga 17 Agustus 2024, tercatat 88 kasus terkonfirmasi (Rokom, 2024).  Kejadian ini mengingatkan kita pada pandemi COVID-19 yang melanda dunia pada tahun 2020.

Sejarah wabah penyakit sebenarnya bukan hal baru. Flu Asia (1957-1958), Flu Spanyol (1918-1920), dan The Black Death (1346-1353) (Kautsar, 2024), hanyalah sebagian contoh dari wabah besar yang pernah melanda dunia. Selain wabah besar, berbagai endemi kecil juga kerap terjadi di beberapa wilayah tertentu.

Ragam wabah pernyakit telah tercatat dalam naskah dan catatan tertulis. Taruna Dharma Jati, Muhammad Ibu Prarista, Zalsabila Purnama, & Zakariya Pamuji Aminullah (2022) dalam artikel ilmiah berjudul Lawe Wĕnang Singid: Benang Merah Kontinuitas Penanganan Pagĕblug dalam Perspektif Kesusastraan Jawa menerangkan bahwa kesusastraan tulis Jawa telah memuat informasi berupa jejak dan penanganan wabah secara fisik dan kosmologis dalam kesusastraan lisan dan tulis Jawa.

Beberapa naskah yang memuat informasi mengenai penanganan wabah penyakit secara fisik di antaranya adalah Naskah Ngelmu Kawarasan oleh Sardjita (1920), Naskah Lĕlĕmbut Kolerah oleh Samsimihardja (1914), dan Naskah Lĕlara Gudhig oleh Sardjita (1921). Naskah-naskah ini memberikan panduan tentang pencegahan dan pengobatan berbagai penyakit yang pernah melanda masyarakat pada zamannya.

  • Naskah Ngelmu Kawarasan

Naskah Ngelmu Kawarasan memuat pengetahuan tentang penyakit seperti malaria, cacar, pes, dan tuberkulosis. Salah satu bagian dari naskah ini menjelaskan cara penanggulangan wabah pes:

[...] Rekadaya kangge nanggulangi pes, botĕn wontĕn malih kajawi tikus-tikus punika kĕdah dipuntumpĕs. Griya-griya ingkang kĕrĕp dipunrĕsiki. Sarta sampun nyimpĕni sisa tedha

"Upaya penanggulangan pes, tiada lagi selain menumpas tikus-tikus, rumah-rumah sering dibersihkan, serta jangan menyimpan sisa makanan."

Panduan ini menunjukkan pentingnya kebersihan lingkungan sebagai langkah pencegahan terhadap penyakit menular seperti pes, yang ditularkan oleh tikus.

  • Naskah Lĕlĕmbut Kolerah

Naskah Lĕlĕmbut Kolerah berfokus pada cara-cara menghindari penyakit kolera. Berikut adalah salah satu isi naskah tersebut:

[...] Prentah nagara dikon ngombe banyu bening wedang ora kĕna mamangan kang ora matĕng, ora kalawan diratĕngi adus ing bangawan.

"Perintah negara menyuruh minum air putih yang telah dimasak, tidak boleh makan makanan yang mentah, dan seringlah mandi di sungai."

Di sini, terlihat penekanan pada konsumsi air matang dan kebersihan diri sebagai langkah pencegahan.

  • Naskah Lĕlara Gudhig

Naskah Lĕlara Gudhig Naskah ini menjelaskan mengenai cara pencegahan dan penyembuhan penyakit gudik (gudhig), yaitu penyakit kulit menular. Salah satu kutipan dari naskah ini menyebutkan:

[...] Supaya wong sing wis waras iku ora kumat maneh. Yen panyegahe lalara gudhig iku arĕp ditindakake supaya wong-wong bumi liya-liyane padha bisa milu. Dheweke kudu dipĕrdi rĕsikan, yaiku: ngrĕksa rĕsiking kulite ing panggonan-panggonan sing pĕrlu. Sedhiyan banyu adus kudu dibecikake. Sarta kudu ambudidaya supaya rĕgane sabun dimurah bangĕt, nganti wong miskin padha kelar sabunan. Wong-wong mau ditĕrangake sing tĕmĕnan, yen ora mung awake bae sing mesthi rĕsikan nanging sandhangan lan paturone uga mangkonoa. [...]

"Agar orang yang sudah sehat dari penyakit gudik tidak kambuh lagi, pencegahan penyakit gudik baiknya dilakukan supaya orang-orang daerah lain bisa saling mengikuti. Mereka harus dibiasakan hidup bersih, menjaga kebersihan kulit dan tempat-tempat yang dirasa perlu. Menyediakan air yang baik untuk mandi, serta harus mengusahakan agar harga sabun dimurahkan hingga orang miskin dapat memakai sabun. Orang-orang tersebut dijelaskan dengan sungguh-sungguh, bahwasannya tidak hanya diri yang harusbersih tetapi juga pakaian dan tempat tidur juga demikian. [...]"

Pesan ini menyoroti pentingnya kebersihan pribadi dengan akses terhadap alat kebersihan, seperti sabun, serta memastikan pakaian dan tempat tidurnya bersih, untuk mencegah penyakit kulit.

 

Penjelasan di atas hanyalah sedikit dari beragam penjelasan mengenai pencegahan wabah dalam kesusastraan Jawa. Meskipun dapat dikatakan sebagai barang yang lawas, namun prinsip-prinsip yang termuat masih relevan hingga kini, terutama dalam konteks pencegahan wabah penyakit yang menular melalui lingkungan tidak bersih.

Penggalian lebih lanjut terhadap naskah-naskah Jawa kuno adalah langkah penting untuk memperluas wawasan kita tentang sejarah kesehatan dan pengobatan di Indonesia. Kolaborasi antara akademisi, ahli filologi, dan praktisi kesehatan dapat membantu mengembangkan pengetahuan yang tercatat dalam naskah-naskah tersebut, sehingga dapat bermanfaat bagi masyarakat luas.

 

DAFTAR PUSTAKA

Bestari, N.P. (2022, 24 Juli). Sejarah Perjalanan Cacar Monyet dari Afrika sampai Mendunia. Cnbcindonesia.com. Diakses dari https://www.cnbcindonesia.com/news/20220724153248-4-358100/sejarah-perjalanan-cacar-monyet-dari-afrika-sampai-mendunia.

 

Jati, T.D., Prarista, M.I., Purnama, Z. & Aminullah, Z.P. (2022). Lawe Wĕnang Singid: Benang Merah Kontinuitas Penanganan Pagĕblug dalam Perspektif Kesusastraan Jawa. Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara, 13(01), 95-112, dari https://doi.org/10.37014/jumantara.v13i1.2847. 

 

Rokom. (2024, 18 Agustus). 88 Kasus Konfirmasi Mpox di Indonesia, Seksual Sesama Jenis jadi Salah Satu Penyebab. Sehatnegeriku.kemkes.go.id., Diakses dari https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20240818/1546252/88-kasus-konfirmasi-mpox-di-indonesia-seksual-sesama-jenis-jadi-salah-satu-penyebab/. 

 

DAFTAR GAMBAR

Cebu.fkkmk.ugm.ac.id. (2020, 19 Agustus). CE&BU Bersama PKMK dan Cochrane Indonesia Menyelenggarakan Webinar Mengenai Bukti Ilmiah tentang Penanganan Wabah Pandemik COVID-19. Dikutip pada https://cebu.fkkmk.ugm.ac.id/2020/08/19/cebu-bersama-pkmk-dan-cochrane-indonesia-menyelenggarakan-webinar-mengenai-bukti-ilmiah-tentang-penanganan-wabah-pandemik-covid-19/.







Seputar Jawa: Mengenal Macam-Macam Metode Pengobatan Jamu Menurut Serat Primbon Jampi Jawi

BeritaLain-lainSDGS Jumat, 12 Juli 2024

Sumber gambar: Kemeparekraf.go.id

Apa yang terlintas di benak mahadaya jika mendengar kata jamu? Minuman tradisional? Minuman yang dibawa mbok jamu? atau mungkin frasa populer ’beras kencur’? Benar, jamu dikenal oleh masyarakat luas sebagai pengobatan tradisional berbentuk minuman yang adalah wujud dari kebudayaan Jawa. Namun, bagaimana jika jamu atau metode pengobatan tradisional Jawa tidak hanya diminum? Apakah mahadaya mengetahuinya?

Merujuk pada Wulandari (2011) dalam artikel ilmiahnya yang berjudul Serat Primbon Jampi Jawi Koleksi Perpustakaan Dewantara Kirti Griya (Taman Siswa): Sebuah Dokumentasi Pengobatan Tradisional, terdapat sebuah naskah kuno cetak beraksara Jawa cetak yang merekam pengetahuan pengobatan para sesepuh. Naskah tersebut berjudul Serat Primbon Jampi Jawi. Naskah Serat Primbon Jampi Jawi membahas tentang pengobatan, dari macam-macam penyakit, cara mengobatinya, hingga berbagai macam tanaman dan khasiatnya. Buku ini diterbitkan oleh Penerbit Tan Khoen Swie tahun 1933 dan merupakan naskah koleksi Perpustakaan Taman Siswa.

Pada naskah Serat Primbon Jampi Jawi, terdapat beberapa metode pengobatan tradisional Jawa dengan pemakaiannya selain diminum. Berikut keterangannya:

 

  1. Tapel

Tapel adalah sebuah bentuk jam atau obat yang dapat digunakan dengan diusapkan di perut (Poerwadarminta, 1939, dalam Wulandari, 2011).  Terdapat 16 penyakit yang dapat disembuhkan dengan cara tersebut. Namun, penulis akan menyebutkan lima saja dalam artikel ini, yaitu anak mengidap diare, anak cacingan, orang tua yang merasa perutnya sesak, dan orang tua yang tidak bisa buang angin atau kencing. Berikut contoh terkait penyakit dan pengobatan dengan tapel sebagai berikut:

Tiyang sepuh seneb padharanipun; Cangkok tigan ayam ingkang sampun netes, jae, kapipis kaemoran lisah sulung, kaangge napeli padharan.

Terjemahan:

(Tapel untuk) orang tua yang terasa sesak perutnya: kulit telur ayam yang sudah menetas, jahe, dihaluskan dicampur (dengan) minyak sulung dipakai untuk diusapkan di perut.

 

  1. Boreh

Jamu boreh mirip dengan tapel, perbedannya adalah pada ramuan jejamuan yang dicairkan lalu dibalurkan ke seluruh tubuh. Berikut beberapa sakit yang dapat disembuhkan, antara lain anak yang terkena sawan, anak yang terkena sawan di sembarang tempat, anak yang mengidap sakit demam dan keluar cacing, seseorang mengidap panas dingin, dsb. Adapun satu contoh penyakit dan pengobatannya adalah sebagai berikut:

Lare sawanen sadhengah sawan: ron wungu, santen kapipis kanngge amborehi badan sakojur

Terjemahan:

Anak yang terkena sawan disembarang tempat: daun wungu, santan, dihaluskan dibalurkan di seluruh tubuh

 

  1. Cekok

Beberapa mahadaya mungkin berpikir apakah jamu ini disajikan dengan cara dicekokkan dan atau dipaksakan? Jawabannya iya. Penyajian jamu cekok adalah dengan memeraskan jamu dengan kain di atas mulut secara paksa, biasanya untuk anak kecil (Tim Penyusun, 2002, dalam Wulandari, 2011). Fungsi dari jamu ini untuk kesehatan atau upaya untuk menyembuhkan penyakit. Beberapa hal yang diobati antara lain anak mengidap diare, anak sakit panas di sekujur badan, anak terkena sakit panas dalam, anak mengidap sawan, dsb. Contoh penjelasan jamu cekok terhadap satu penyakit, yaitu:

Lare sakit kenging sawan; dringo bengle, kunir, jinten cemeng, mesoyi, kemukus, brambang kapipis kacekokaken.

Terjemahan:

Anak yang sakit (terkena) sawan, : dringo, bengle kunyit, jinten hitam, mesoyi, kemukus, bawang merah dihaluskan dan dicekokkan.

 

  1. Sembur

Jamu sembur? Benar, mahadaya tidak salah baca. Walaupun terdengar ‘di luar nalar’, namun demikianlah adanya. Beberapa penyakit yang dapat diobati dengan cara ini antara lain, anak terkena sawan, anak sakit batuk, anak sering menangis di malam hari, seseorang sakit di bagian dada dan sesak, dsb. Berikut contoh penjelasan tentang penyakit dan pengobatannya dengan sembur, yaitu:

Lare sakit watuk: sekar blimbing wuluh, jinten, mesoyi, kencur, kabenem, kamamah kasemburaken padharanipun.

Terjemahan :

Anak yang sakit batuk : bunga belimbing wuluh, jinten, mesoyi, kencur, dikunyah dan disemburkan di perut (anak yang sakit).

 

DAFTAR PUSTAKA

Wulandari, A. (2011, Desember). Serat Primbon Jampi Jawi Koleksi Perpustakaan Dewantara Kirti Griya (Taman Siswa): Sebuah Dokumentasi Pengobatan Tradisional. Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara, 2(2), 30-56. https://doi.org/10.37014/jumantara.v2i2.135

 

DAFTAR GAMBAR

Kemenparekraf.go.id. (t.t.). Jamu, Ramuan Herbal Khas Indonesia yang Mendunia. Diakses dari https://kemenparekraf.go.id/ragam-ekonomi-kreatif/jamu-ramuan-herbal-khas-indonesia-yang-mendunia







Tari Angguk Dipersembahkan Mahasiswi Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa UGM Memperindah Upacara Pengarahan dan Penerjunan KKN-PPM UGM Periode 2 Tahun 2024

BeritaKarya MahasiswaKegiatan MahasiswaLain-lainMahasiswaSDGS Rabu, 3 Juli 2024

Sebagai bentuk pembelajaran sekaligus pengabdian kepada masyarakat, mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Pada Selasa, 28 Juni 2024, UGM mengadakan Upacara Pengarahan dan Penerjunan KKN-PPM UGM Periode 2 Tahun 2024. Acara tersebut berlangsung di halaman Gedung Balairung pada siang hari dengan berbagai penampilan menarik, salah satunya adalah Tari Angguk

Tari Angguk adalah tarian tradisional khas Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Penampilan ini dibawakan oleh mahasiswi Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa. Para penari, yaitu Arin, Dhiny, Galuh, Kintan, Nanda, Novalia, Wening, Audrey Gizella, Eka, dan Pinky, berhasil memukau penonton. Nanda, salah seorang penari, mengungkapkan bahwa Tari Angguk yang mereka bawakan mendapat sambutan meriah dan gemuruh tepuk tangan dari penonton. "Aku dan teman-teman berusaha untuk mempersembahkan penampilan yang memuaskan. Ketika ditampilkan, para audiens memberikan tanggapan yang sangat meriah dan tepuk tangan yang bergemuruh," ujarnya dalam wawancara (01/07/2024).



Tari Angguk menjadi elemen penting yang menghiasi Upacara Pengarahan dan Penerjunan KKN-PPM UGM Periode 2 Tahun 2024. Lebih dalam lagi, kehadiran Tari Angguk mencerminkan keragaman budaya masyarakat Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa program KKN-PPM UGM berkontribusi kepada masyarakat yang beraneka ragam, wujudnya berupa penerjunan mahasiswa ke 35 provinsi di Indonesia.



Penampilan Tari Angguk juga merupakan upaya konkret dalam nguri-uri (melestarikan) dan ngurip-urip (menyemarakkan) kebudayaan daerah. Usaha pelestarian dan penghidupan kebudayaan daerah merupakan bentuk pemertahanan dan pelekatan identitas bangsa. Dengan mempelajari, memahami, melestarikan, dan mengembangkan pengetahuan dan kearifan lokal, maka turut berperan dalam pengembangan pendidikan dan memberikan manfaat kepada masyarakat. Untuk merealisasikannya, dibutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak guna memaksimalkan dan menjaga keberlangsungan program tersebut. Oleh karena itu, penampilan Tari Angguk dalam Upacara Pengarahan dan Penerjunan KKN-PPM UGM Periode 2 Tahun 2024 berhubungan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) poin 4 dan 17.





Memahami Naskah Koleksi Widyabudaya Keraton Ngayogyakarta dan Koleksi Widyapustaka Pura Pakualaman serta Tahapan Restorasinya

BeritaKegiatan MahasiswaLain-lainMahasiswaSDGS Rabu, 29 Mei 2024

Pada hari Senin, 27 Mei 2024, Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa mengadakan kuliah lapangan dalam rangka mata kuliah Kodikologi. Kegiatan ini diselenggarakan di Perpustakaan Widyabudaya Keraton Ngayogyakarta dan Perpustakaan Widyapustaka Pura Pakualaman. Para peserta kegiatan ini adalah mahasiswa peserta mata kuliah Kodikologi 2024, dipandu oleh Dr. Sri Ratna Saktimulya, M.Hum., sebagai dosen pengampu mata kuliah tersebut.

Dalam kuliah lapangan ini, mahasiswa mendapat kesempatan untuk melihat dan mempelajari secara langsung manuskrip, arsip, dan upaya preservasi naskah-naskah tersebut. Lokasi pertama yang dikunjungi adalah Widyabudaya Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Di sini, mahasiswa dijamu terlebih dahulu dengan minuman teh hangat khas Keraton Yogyakarta. Setelah itu, mereka dibagi menjadi empat kelompok dan dipandu oleh abdi dalem untuk mengamati secara mendalam koleksi manuskrip, arsip, dan proses restorasinya.



Mahasiswa  mengamati penjelasan dan menikmati jamuan yang disediakan oleh Keraton Yogyakarta.

Lokasi kedua yang dikunjugi adalah Perpustakaan Widyapustaka Pura Pakualaman. Pada tempat tersebut, para peserta disuguhi jamu beras kencur dan beberapa hidangan tradisional. Setelah menikmati hidangan, para peserta diberi kesempatan untuk melihat langsung koleksi manuskrip dan arsip. Mereka juga mendengarkan penjelasan dari pustakawan mengenai kondisi, aspek, dan pelestarian naskah-naskah tersebut.



Mahasiswa mendengarkan penjelasan dari dosen pembimbing Mata Kuliah

Pelaksanaan kuliah lapangan ini berjalan dengan baik dan lancar. Para mahasiswa sangat antusias, terlihat dari tingginya rasa ingin tahu mereka terhadap berbagai koleksi naskah dan arsip, serta tahap-tahap revitalisasinya. Tujuan dari kegiatan ini adalah sebagai ajang pelestarian dalam bentuk pengenalan budaya Indonesia, khususnya budaya Jawa, kepada generasi muda. Dengan demikian, diharapkan rasa cinta terhadap budaya bangsa pada generasi muda terus tumbuh dan dapat diwujudkan dalam upaya-upaya nyata untuk tetap nguri-uri (melestarikan) dan ngurip-urip (menghidupkan) jati diri bangsa tersebut.

Keberadaan berbagai manuskrip dan arsip merupakan sumber jejak sejarah sekaligus cermin dari kehidupan budaya pada masanya. Oleh karena itu, pelestarian bukti-bukti sejarah dan penggalian informasi di dalamnya perlu dilakukan sebagai langkah untuk memahami bentuk kebudayaan, pengetahuan, sejarah, dan kejayaan Nusantara. Selain itu, sinergi dari berbagai pihak diperlukan demi mewujudkan hal tersebut. Hal ini sejalan dengan poin keempat dan poin ketujuh belas pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, yaitu menghadirkan dan meningkatkan kualitas pendidikan serta kerjasama antarkemitraan untuk mencapai tujuan.

 

Penulis          : Nanda Nursa Alya & Haryo Untoro

Editor             : Haryo Untoro





Workshop Pelatihan Penulisan Majalah “Memetri” 2024 Diikuti oleh 5 Mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa

BeritaLain-lainMahasiswaSDGS Jumat, 23 Februari 2024

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Sleman mengadakan Workshop Pelatihan Penulisan Majalah “Memetri” setiap tahunnya. Pada tahun ini, workshop berlangsung pada Kamis (15/02/2024), bertempat di Floating Resto Sleman. Workshop ini diikuti oleh berbagai kalangan, di antaranya Pasbuja (Paguyuban Sastra dan Budaya Jawa), FGSM (Forum Guru Sleman Mengajar), dan lima (5) mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa angkatan 2023. Mereka adalah Rafif Wicaksono, M. Rafi Nur Fauzy, Audrey Gizella Islamey, Rela Sazkia, dan Zidna Nabila.

Workshop Pelatihan Penulisan Majalah “Memetri” tahun ini dikhususkan pada penulisan karya berbentuk feature berbahasa Jawa. Tujuannya adalah melatih para peserta untuk menulis feature, meningkatkan kreativitas, dan melestarikan bahasa Jawa. Terdapat berbagai materi yang disampaikan oleh narasumber, seperti rumus menulis feature, metode menulis feature, dan cara memilih rujukan untuk feature yang akan ditulis. Wiwien Widyawati Rahayu, dosen Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, turut menjadi narasumber dalam workshop ini. Beliau menyampaikan metode dalam mencari sumber feature.



Audrey Gizella menyampaikan pendapatnya dalam mengikuti workshop tersebut. “Alhamdulillah, workshop ini sangat menyenangkan, tidak membosankan, dan mendapatkan ilmu baru untuk menulis feature.” Rafif Wicaksono menambahkan, “Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi kami, terlebih lagi program studi kami juga berhubungan dengan sastra. Sebab itu, kami dapat mengetahui seluk-beluk penulisan feature yang baik dan benar,” tuturnya.



Kegiatan workshop ini diakhiri dengan praktek menulis feature dengan mengangkat topik sekitar Floating Resto Sleman. Lima penulis dengan hasil karya terbaik akan berkesempatan menjadi wartawan majalah “Memetri” oleh Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman. Dengan ini, diharapkan akan terdapat banyak orang yang gemar menulis dalam bahasa Jawa, khususnya feature, untuk majalah “Memetri”.

Penyelenggaraan Workshop Pelatihan Penulisan Majalah “Memetri” merupakan sebuah upaya konkret untuk melatih generasi muda agar dapat menulis feature sekaligus ikut serta dalam pelestarian Kebudayaan Jawa. Upaya pendidikan dan kerja sama dari berbagai pihak dalam melestarikan budaya sesuai dengan tujuan pembangunan berkelanjutan, yaitu meningkatkan kualitas pendidikan (poin ke-4) dan kemitraan untuk mencapai tujuan (poin ke-17).

 

Penulis: Zidna Nabila

Editor  : Haryo Untoro





Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa Ditetapkan Menjadi Tuan Rumah Temu Budaya Nusantara XXX IMBASADI

BeritaLain-lainMahasiswaSDGS Rabu, 15 November 2023

Kegiatan Temu Budaya Nusantara ke-XXIX Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Se-Indonesia (IMBASADI) telah diselenggarakan oleh Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa, bertempat di kampus Bangli. Musyawarah Nasional (Munas) yang merupakan fokus kegiatan dari Temu Budaya Nusantara telah menghasilkan beberapa keputusan, di antaranya adalah penentuan tuan rumah Temu Budaya Nusantara ke-XXX. Hasil Munas dituangkan dalam Surat Keputusan Nomor: 007/Munas-XXIX/Imbasadi/XI/2023 tentang Penetapan Tuan Rumah Musyawarah Nasional ke XXX Tahun 2024, menetapkan Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, ditetapkan menjadi Tuan Rumah Musyawarah Nasional Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Daerah se-Indonesia (Imbasadi) ke-XXX tahun 2024. Penyelenggaraan Temu Budaya Nusantara ke XXX dapat mengangkat, mempelajari, dan melestarikan budaya nusantara, sesuai dengan poin ke-4 pada tujuan pembangunan berkelanjutan, yakni peningkatan kualitas pendidikan. Selain itu, juga dapat menjadi ajang merekatkan hubungan antara mahasiswa jurusan sastra daerah se-Indonesia. Dengan demikian, dimohonkan doa dan dukungan dari berbagai pihak untuk turut mensukseskan kegiatan Temu Budaya Nusantara ke-XXX IMBASADI yang akan digelar pada tahun 2024 nanti.



Menelisik Sejarah Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada  

BeritaLain-lainSDGS Jumat, 20 Januari 2023

Berdasarkan Keputusan Rektor Universitas Gadjah Mada Nomor 1286/UN1.P/KPT/HUKOR/2022, Program Studi Sastra Jawa secara resmi mengubah namanya menjadi Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa. Perubahan nama Program Studi tersebut terjadi pada Senin, 28 November 2022. Namun, pergantian nama Program Studi ini bukanlah kali pertama terjadi. Dalam sejarahnya, perkembangan Program Studi  Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa tidak akan dapat dilepaskan dari kesejarahan dari Universitas Gadjah Mada itu sendiri.

Merujuk pada artikel Mengenal Jurusan Sastra Nusantara Sastra dan Kebudayaan UGM oleh Prof. Dr. Darusprapta (1980), pada tahun 1946 terdapat yayasan bernama “Jajasan Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada” di Yogyakarta yang memiliki dua bagian:

  1. Faculteit Hukum dan Ekonomi, dengan ketua Prof. Dr. Djaka Soetana.
  2. Faculteit Sastra, Filsafat, dan Kebudayaan, dengan ketua Prof. Dr. R. Prijana.

Pada masa itu, kuliah-kuliah yang diselenggarakan belum menggambarkan jurusan-jurusan tertentu. Meskipun demikian, mata kuliah Bahasa dan Sastra Jawa Baru dan mata kuliah Bahasa dan Sastra Jawa Kuna yang dirangkap dengan mata kuliah Bahasa Sanskerta telah diberikan.

Namun, pada akhir tahun 1946 hingga akhir tahun 1949, perkuliahan dihentikan karena Yogyakarta diduduki militer Belanda. Pada akhir tahun 1949, “Jajasan Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada” bergabung dengan Sekolah Tinggi Tehnik di Jetis, Yogyakarta; Sekolah Tinggi Kedokteran di Klaten; dan Sekolah Tinggi Ilmu Politik di Sala, menjadi Universitit Negeri Gadjah Mada. Penggabungan tersebut diresmikan pada tanggal 19 Desember 1949, yang kemudian ditentukan sebagai tanggal Dies Natalis-nya.

Setelah penggabungan tersebut, Fakultit Sastra, Pedagogik, dan Filsafat diresmikan pada tanggal 23 Januari 1951, dengan jurusan-jurusan sebagai berikut:

  1. Sastra Timur
  2. Sastra Barat
  3. Sejarah
  4. Ilmu Bumi
  5. Pedagogik

Pusat tempat kuliah bertempat di Bulaksumur, yang kemudian menjadi SD / SMP IKIP Yogyakarta. Pada tahun 1951 – 1955, Fakultit Sastra, Pedagogik, dan Filsafat, diketuai oleh Prof. Drs. Abdullah Sigit.

Pada tanggal 19-09-1955, untuk kelengkapan susunan Universitas Gadjah Mada, Fakultas Sastra, Pedagogik, dan Filsafat kemudian menjadi:

  1. Fakultas Sastra dan Kebudayaan
  2. Fakultas Pedagogik
  3. Fakultas Filsafat

Gedung Fakultas Sastra dan Kebudayaan berpusat di Dalem Wijilan, Yudanegaran 37, Yogyakarta. Fakultas Sastra dan Kebudayaan diketuai oleh Prof. Dr. RMNg. Poerbatjaraka pada tahun 1955-1960, yang juga merangkap sebagai Ketua Fakultas Sastra, Universitas Airlangga (Udayana). Fakultas dan Sastra kebudayaan memiliki beberapa jurusan sebagai berikut:

  1. Sastra Timur
  2. Sastra Barat
  3. Sejarah
  4. Ilmu Bumi

Pada jurusan Sastra Timur, terdapat sub-jurusan Sastra Indonesia dan sub-jurusan Sastra Jawa pada tingkat doktoral yang kemudian pada tahun 1958/1959 sub-jurusan Sastra Indonesia menjadi Jurusan Sastra Indonesia diketuai oleh Prof. Drs. Siti Baroroh Baried, dan sub-jurusan Sastra Jawa menjadi Jurusan Sastra Jawa diketuai oleh Dra. Sukesi Adiwimarta. Pada tingkat doktoral Jurusan Sastra Jawa, kemudian dibuka keahlian Jawa Baru dan keahlian Jawa Kuna. Pada Jurusan Sastra Jawa waktu itu terdaftar satu orang mahasiswa.

Prof. Dra. Siti Baroroh Baried lan menjadi dekan pada tahun 1962-1966 dan Jurusan Sastra Jawa diketuai oleh Drs. M. Ramlan yang merupakan sarjana lulusan pertama Jurusan Sastra Timur, Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gadjah Mada (1958).

Pada tahun 1964, Sub-Jurusan Sastra Jawa pada Jurusan Sastra Timur meluluskan seorang sarjana dan pada tahun yang itu pula, Jurusan Sastra Jawa berubah nama menjadi Jurusan Sastra Nusantara dengan harapan agar jangkauan keilmuan yang dapat dicapai bertambah luas. Pada tingkat doktoral, terdapat tiga bidang keahlian pada Jurusan Sastra Nusantara, yakni:

  1. Filologi
  2. Sastra
  3. Ilmu Bahasa

Pada tahun 1965, gedung fakultas dipindahkan dari Dalum Wijilan Yudanegaran ke Karangmalang (sekarang komplek IKIP Negeri Yogyakarta).  Pada tahun 1966, Jurusan Sastra Nusantara meluluskan seorang sarjana dengan keahlian Jawa Kuna.

Pada tahun 1967-1969, Jurusan Sastra Nusantara diketuai oleh Prof. Dr. Darusuprapto, yang merupakan sarjana dari Jurusan Sastra Timur (1964). Pada tahun 1970-1971, Jurusan Sastra Nusantara diketuai oleh Drs. Sumarti Suprayitna, sarjana lulusan Jurusan Sastra Timur (1960) yang memusatkan keahliannya dalam bahasa dan sastra Jawa Kuna.

Tanggal 1 Juli 1970, Fakultas Sastra dan Kebudayaan menempati gedung baru dalam Universitas Gadjah Mada, Bulaksumur. Tahun 1972-1975, Jurusan Sastra Nusantara diketuai oleh Drs. RS. Subalidinata, sarjana lulusan Jurusan Sastra Nusantara yang pertama (th. 1969), dengan meluluskan seorang sarjana berkeahlian filologi.

Pada periode kepengurusan tahun 1976-1977 dengan Dekan Drs. Djoko Soekiman, dan Ketua Jurusan Darusuprapta, Jurusan Sastra Nusantara telah meluluskan empat orang sarjana. Pada periode kepengurusan berikutnya,tahun 1976-1979, dengan Dekan Drs. Djoko Soekiman dan 1980-1981 dengan Dekan Prof. Dr. Sulastin Sutrisno, Jurusan Sastra Nusantara diketuai oleh Dra. Sumarti Suprayitna.

Jurusan Sastra Nusantara telah menggunakan sistem kredit sejak tahun 1974. Pada tahun 1980, sistem kredit program S1 dan S2 mulai diterapkan dengan pembagian sebagai berikut:

  1. Studi Sarjana Muda dengan jumlah SKS 120
  2. Sarjana (S1) dengan jumlah SKS 160
  3. Pasca Sarjana (S2) dengan jumlah SKS 194

Dalam jenjang studi Sarjana (S1), terdapat pembagian keahlian Jawa Kuna, Jawa Pertengahan dan Jawa Baru dalam bidang studi Filologi, Sastra, dan Linguistik.

Berdasarkan pasal 2 dalam Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor: 0553/0/1983 tentang Jenis dan Jumlah Jurusan Pada Fakultas di Lingkungan Universitas Gadjah Mada, Jurusan Sastra Nusantara kemudian resmi berganti nama menjadi Jurusan Sastra Daerah.

Pada tahun 2005, Jurusan Sastra Daerah kembali berubah nama menjadi Sastra Nusantara. Hal tersebut diikuti dengan berubahnya KMSD (Keluarga Mahasiswa Sastra Daerah) menjadi KAMASUTRA (Keluarga Mahasiswa Sastra Nusantara) pada 3 Maret 2005 (admin, 2014). Bukti perubahan tersebut juga dapat ditemukan pada Jurnal Humaniora UGM. Pada cover belakang Jurnal Humaniora Volume 17, Nomor 1, Februari 2005, nama jurusan ini masih tertera dengan Sastra Daerah. Namun, dalam cover belakang Jurnal Humaniora Volume 17, Nomor 2, Juni 2005, nama jurusan telah berubah menjadi Sastra Nusantara.

Berdasarkan lampiran II dalam Keputusan Rektor Universitas Gadjah Mada Nomor 437/P/SK/HT/2010 tentang Penataan dan Penetapan Kembali Izin Penyelenggaraan Program Studi di Universitas Gadjah Mada yang dikeluarkan pada tanggal 5 Juli 2010, nama “Sastra Nusantara” masih secara resmi menjadi nama Jurusan hingga jangka waktu 20 November 2012.

Dalam wawancara dengan Imam Prakoso, S.S., M.A., dosen Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa dengan fokus bidang studi Linguistik, pada tahun 2010 telah dilakukan pergantian sebutan “jurusan” menjadi “program studi”. Selain itu, beliau mengatakan bahwa memang program studi tetap bernama “Program Studi Sastra Nusantara”, namun terdapat tambahan berupa “Studi Sastra Jawa”.

Berdasarkan lampiran I dalam Keputusan Rektor Universitas Gadjah Mada Nomor 1184/P/SK/HT/2012 tentang Perpanjangan Izin Penyelenggaraan Program Studi Jenjang Diploma IV, Sarjana, dan Profesi di Lingkungan Universitas Gadjah Mada yang dikeluarkan pada tanggal 1 Oktober 2012, nama jurusan “Sastra Nusantara” kembali diperpanjang hingga jangka waktu 30 September 2016.

Kemudian, pada lampiran II dalam Keputusan Rektor Universitas Gadjah Mada Nomor 1718/UN1.P/SK/HUKOR/2017 tentang Penamaan Program Studi di Lingkungan Universitas Gadjah Mada, yang dikeluarkan pada tanggal 16 November 2017, Program Studi Sastra Nusantara resmi berubah menjadi Program Studi Sastra Jawa.

Lalu, perubahan nama Program Studi dilakukan kembali sesuai dengan keterangan pada paragraf pertama, yakni pada tanggal 28 November 2022, sesuai pada lampiran I dalam Keputusan Rektor Universitas Gadjah Mada Nomor 1286/UN1.P/KPT/HUKOR/2022, Program Studi Sastra Jawa resmi berubah nama menjadi Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa.

Berdasarkan wawancara dengan Ketua Program Studi Bahasa, Sastra dan Budaya, Dr. Daru Winarti, M.Hum., perubahan nama Program Studi Sastra Jawa menjadi Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa dikarenakan pembahasan tentang “Jawa” tidak bisa hanya terkait kesastraannya saja, tetapi unsur kebudayaan juga terkandung di dalamnya.

Senada dengan pendapat tersebut, Rudy Wiratama S.I.P.,M.A., seorang dosen Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa yang berfokus pada bidang studi sastra, memaparkan bahwa aspek sastra tidak dapat dipisahkan dari aspek budaya. Bahkan menurut beliau, terbuka kemungkinan untuk penambahan minat bidang studi, yakni bidang studi budaya. 

Untuk penjelasan lebih lanjut terkait alasan, uraian, gambaran ke depan, dan harapan terhadap Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa dapat melalui tautan berikut.

Lini Masa

Berikut lini masa terkait nama resmi Program Studi ini dari masa ke masa:

  1. Faculteit Sastra, Filsafat, dan Kebudayaan (03 Maret 1946 – 18 Desember 1949)
  2. Jurusan Sastra Timur, Fakulteit Sastra, Pedagogik, dan Filsafat (23 Januari 1951)
  3. Jurusan Sastra Timur, Sub-Jurusan Sastra Jawa pada tingkat doktoral, Fakultas Sastra dan Kebudayaan (19 September 1955)
  4. Jurusan Sastra Jawa, Fakultas Sastra, Pedagogik, dan Filsafat (1958/1959)
  5. Jurusan Sastra Nusantara, Fakultas Sastra dan Kebudayaan (1964)
  6. Jurusan Sastra Daerah, Fakultas Sastra (1983)
  7. Jurusan Sastra Nusantara, Fakultas Ilmu Budaya (2005)
  8. Program Studi Sastra Jawa, Fakultas Ilmu Budaya (16 November 2017)
  9. Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Fakultas Ilmu Budaya (22 November 2022)

Daftar Pustaka

Admin. (2014, 3 Maret). Keluarga Mahasiswa Sastra Nusantara. FIB. https://fib.ugm.ac.id/keluarga-mahasiswa-sastra-nusantara.

Admin. (2023, 31 Juli). Sejarah. FIB. https://fib.ugm.ac.id/profil/sejarah#:~:text=Fakultas%20Ilmu%20Budaya%20berdiri%20sejak,1949%20sampai%2013%20Agustus%201950).

Musliichah. (2016). Sejarah Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM 1946-1982. Khazanah, 9(2). 46-56.

Suprapta, Daru. (Agustus, 1980). Mengenal Jurusan Sastra Nusantara, Sastra dan Kebudayaan UGM. Badrawada, I(12), 50-59.



KUNJUNGAN MAHASISWA UNIVERSITAS OSAKA DALAM RANGKA KEGIATAN “KURSUS SINGKAT BAHASA INDONESIA”

Lain-lain Senin, 3 Oktober 2022

Yogyakarta - September 2022, merupakan bulan yang berkesan khususnya untuk sebagian besar mahasiswa Sastra Jawa. Pada bulan tersebut dilaksanakan kegiatan kursus singkat Bahasa Indonesia yang dinamai “Kursus Singkat Bahasa Indonesia Melalui Eksotisme Budaya Jawa”. Kegiatan tersebut merupakan kegiatan dari buah kerja sama antara Program Studi Sastra Jawa Universitas Gadjah Mada dan Jurusan Bahasa Indonesia Universitas Osaka. Pelaksanaan kegiatan tersebut bukanlah yang pertama kalinya. Sebelumnya sudah pernah dilaksanakan juga kegiatan serupa, tepatnya pada tahun 2019.



Kegiatan Kursus Singkat Bahasa Indonesia tersebut dirangkai menjadi sebuah kegiatan yang dilaksanakan selama 9 hari, yaitu pada tanggal 17 – 25 September 2022, yang diikuti 27 mahasiswa dari Universitas Osaka dengan pendampingan 1 dosen dan 1 asisten dosen. Kegiatan tersebut juga melibatkan mahasiswa Sastra Jawa sebanyak 27 orang yang berperan sebagai pendamping setiap mahasiswa dari Universitas Osaka selama berlangsungnya kegiatan.  Pengemasan kegiatan dilakukan dengan metode pembelajaran secara langsung yang dibalut dengan aspek budaya, khususnya Jawa, dan dilaksanakan di tempat-tempat bersejarah yang ada di Yogyakarta dan sekitarnya.

Adapun pada hari pertama dilaksanakan pembukaan kegiatan di Fakultas Ilmu Budaya. Kemudian dilanjutkan dengan kegiatan pembelajaran secara praktik yaitu kegiatan membatik di Pura Pakualaman. Seluruh mahasiswa dari Universitas Osaka diperkenalkan secara langsung tentang apa dan bagaimana proses membatik dilakukan. Setelah itu kegiatan dilanjutkan ke Malioboro. Mahasiswa Osaka diperkenalkan dengan berbagai hal yang ada di Malioboro, misalnya adanya transportasi kuda dan andong yang ada di sepanjang jalan Malioboro.





Pada hari kedua, pembelajaran dilaksanakan di Candi Borobudur dan Candi Prambanan. Seluruh mahasiswa Universitas Osaka yang mengikuti kegiatan tersebut dikenalkan dengan peninggalan dari zaman kerajaan yang ada di pulau Jawa, khususnya di daerah Yogyakarta dan sekitarnya.



Kegiatan pada hari ketiga dilaksanakan dengan melakukan kunjungan ke Makam Raja-Raja di Imogiri. Di sana, peserta kegiatan dikenalkan dengan siapa itu raja-raja yang dimakamkan di makam Imogiri dan sejarah singkat tentang tokoh-tokoh tersebut. Setelah itu, kegiatan hari ketiga dilanjutkan dengan kunjungan ke Pantai Ngrawe dan Bukit Bintang. Di sana peserta kegiatan difasilitasi untuk mengeksplorasi keindahan alam yang ada.



Pada hari keempat, kegiatan dilaksanakan di dalam Fakultas Ilmu Budaya. Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah kuliah kebudayaan dengan narasumber Arlo Griffiths dari EFEO. Selanjutnya, kegiatan dilanjutkan dengan wawancara antara mahasiswa dari Universitas Osaka dan Sastra Jawa terkait dengan kegiatan-kegiatan yang sudah dilaksanakan serta pertanyaan-pertanyaan yang sudah dipersiapkan oleh mahasiswa Osaka untuk laporan akhir kegiatan mereka. Mereka juga sempat belajar karawitan di ruang karawitan Margono 405.

Pada hari kelima, perjalanan dilanjutkan dengan mengunjungi Keraton Yogyakarta. Setelah selesai, kemudian teman-teman Osaka beristirahat dengan makan siang di Bale Raos. Selanjutnya mereka melakukan perjalanan ke Tamansari. Di sana mereka menikmati pemandangan indah yang masih terjaga dari petilasan pemandian raja-raja tersebut. 





Pada hari keenam, teman-teman Osaka bersama-sama pergi ke Diorama Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) Yogyakarta. Di sana mereka melihat lika-liku perjuangan bangsa Indonesia untuk bebas dari penjajah hingga merdeka. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan ke Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga untuk melakukan presentasi dan ke pondok pesantren untuk mengetahui lebih dekat kehidupan religius Islam. 





Pada hari ketujuh, agenda kegiatannya adalah berkeliling UGM. Mahasiswa Osaka dikenalkan dengan bangunan-bangunan dan wilayah kampus UGM menggunakan mobil listrik UGM. Kegiatan selanjutnya adalah wawancara dengn tutor dan kegiatan belajar bersama. 





Tiba pada hari terakhir yaitu upacara penutupan. Masing-masing dari mahasiswa Osaka maupun mahasiswa UGM memberikan persembahan dengan penampilan bernyanyi dan menari bersama. Malamnya, teman-teman dari Osaka pergi ke Candi Prambanan dan melihat pentas sendratari Ramayana Ballet Prambanan. 





Demikian serangkaian acara dan kegiatan Kursus Singkat Bahasa Indonesia “Eksotisme Budaya Jawa” di Universitas Gadjah Mada sert Yogyakarta dan sekitarnya. Semoga melalui kegiatan ini, Program Studi Sastra Jawa Universitas Gadjah Mada dengan Jurusan Bahasa Indonesia Universitas Osaka menjadi semakin erat hubungannya dan dapat melakukan kerja sama kembali nantinya.

12

Recent Post

  • Seputar Jawa: Bahasa Jawa Dialek Banten, Dialek Bahasa yang Eksis di Ujung Barat Pulau Jawa
    Maret 10, 2026
  • Seputar Jawa: Bentuk-Bentuk Peribahasa Jawa
    Maret 9, 2026
  • Lulus dalam 3,5 Tahun: Strategi Tiga Mahasiswa Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa UGM dalam Menyelesaikan Studinya
    Maret 2, 2026
  • Seputar Jawa: Basa Kedhaton dan Basa Bagongan, Ragam Tutur Khas Keraton Surakarta dan Yogyakarta
    Maret 2, 2026
  • Tiga Mahasiswa Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa Berhasil Lulus dalam Waktu 3,5 Tahun
    Februari 26, 2026

Kalender

April 2026
S S R K J S M
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  
« Mar    
  • Fakultas Ilmu Budaya
  • Ujian Masuk UGM
  • PPSMB
  • Alumni
  • Jurnal Humaniora
April 2026
S S R K J S M
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  
« Mar    

Rilis Berita

  • Seputar Jawa: Bahasa Jawa Dialek Banten, Dialek Bahasa yang Eksis di Ujung Barat Pulau Jawa
    Maret 10, 2026
  • Seputar Jawa: Bentuk-Bentuk Peribahasa Jawa
    Maret 9, 2026
  • Lulus dalam 3,5 Tahun: Strategi Tiga Mahasiswa Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa UGM dalam Menyelesaikan Studinya
    Maret 2, 2026
Universitas Gadjah Mada

Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
Departemen Bahasa dan Sastra
Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada

 

Jl. Sosiohumaniora, Bulaksumur, Yogyakarta
Telp : 0274-901134 Ext. 110, Fax : 0274-550451, WhatsApp : 081211911281
Email : nusantara@ugm.ac.id

© 2025 Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa FIB UGM

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY