Mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa menjadi Pengiring dalam Kirab Pusaka Dalem Mangkunegaran 1 Sura Be 1960

Kiri: Potret Nindy Rosalina Ekaputri. Kanan: Suasana Prosesi Kirab Pusaka Mangkunegaran (Dok. Vinta, 2025 via Diskominfo SP Surakarta.)

Mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa sekaligus penerima beasiswa Yayasan Arsari Djojohadikusumo (YAD), Nindy Rosalina Ekaputri, berkesempatan mengikuti Kirab Pusaka Dalem Mangkunegaran dalam rangka peringatan Tahun Baru Jawa 1 Sura Be 1960 yang mengusung tema SuraMulihPulih. Keikutsertaan tersebut menjadi pengalaman berharga bagi Nindy untuk memahami secara langsung praktik budaya Jawa yang selama ini dipelajari melalui perkuliahan dan kajian akademik.

Sebelum pelaksanaan kirab, peserta mengikuti gladi bersih yang diselenggarakan sehari sebelumnya. Dalam kegiatan tersebut, peserta memperoleh pengarahan mengenai tata tertib pelaksanaan kirab, posisi dalam barisan, serta rute yang akan dilalui. Seluruh formasi peserta ditentukan oleh pihak Mangkunegaran guna menjaga ketertiban dan keselarasan prosesi.

Pada hari pelaksanaan, rangkaian kegiatan diawali dengan dhahar bersama, nyuwun palilah dalem, dan doa bersama. Selanjutnya, pusaka-pusaka dalem miyos dari Dalem Ageng dan diserahkan kepada G.P.H. Paundrakarna Jiwo Suryonegoro selaku Cucuk Lampah Kirab, pemimpin proses yang memandu jalannya kirab sekaligus memastikan rangkaian acara berlangsung sesuai tradisi yang berlaku. Prosesi kemudian diberangkatkan secara resmi oleh K.G.P.A.A. Mangkoenagoro X pada pukul 20.30 WIB.

Dalam prosesi tersebut, enam pusaka dalem dikirab mengelilingi kawasan pusat Kota Surakarta. Selama kirab berlangsung, seluruh peserta menjalankan tapa bisu dan berjalan tanpa alas kaki. Bagi Nindy, keheningan tersebut tidak sekadar menjadi aturan yang harus dipatuhi, melainkan ruang dialog batin yang paling jujur. Proses ini mengajak peserta kirab untuk memaknai secara mendalam konsep atita (melepas masa lalu), atiki (hadir sepenuhnya saat ini), dan anagata (menyongsong masa depan) yang menjadi inti filosofis dari peringatan 1 Sura di Mangkunegaran. Suasana hening yang menyelimuti perjalanan kirab ini sungguh selaras dengan tema SuraMulihPulih, yakni ajakan untuk menata diri dan mempersiapkan langkah menuju kehidupan yang lebih baik.

Antusiasme masyarakat terlihat sangat tinggi sepanjang jalur kirab. Ribuan warga memadati berbagai titik untuk menyaksikan prosesi yang berlangsung dengan tertib dan khidmat. Selain menyaksikan kirab, masyarakat juga sangat antusias menanti air bekas jamasan pusaka. Dalam tradisi Jawa, air ini sering dianggap sebagai simbol pembawa berkah dan harapan baik bagi mereka yang mendapatkannya.

Setelah kirab selesai, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan pembagian udik-udik kepada masyarakat oleh K.G.P.A.A. Mangkoenagoro X, G.P.H. Paundrakarna Jiwo Suryonegoro, dan G.R.Aj. Ancillasura Marina Sudjiwo. Peserta kirab juga memperoleh sajian ketan hitam dan ketan putih yang melambangkan keseimbangan serta keharmonisan dalam kehidupan.

Bagi Nindy, keterlibatan sebagai pengiring pusaka menjadi pengalaman yang memperkaya pemahaman mengenai budaya Jawa. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak hanya dilakukan melalui pembelajaran di ruang kelas, tetapi juga melalui keterlibatan langsung dalam tradisi yang masih hidup di tengah masyarakat. Melalui partisipasi generasi muda, warisan budaya seperti Kirab Pusaka Dalem Mangkunegaran diharapkan dapat terus terjaga, dan diwariskan kepada generasi mendatang.

 

Penulis            : Nindy Rosalina Ekaputri
Editor             : Nindy Rosalina Ekaputri & Haryo Untoro

 

Daftar Gambar

Vita. (2024, Juli 8). Ribuan warga saksikan Kirab Pusaka Malam Satu Suro di Surakarta. Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik dan Persandian Kota Surakarta. https://diskominfosp.surakarta.go.id/detail-berita/ribuan-warga-saksikan-kirab-pusaka-malam-satu-suro-di-surakarta-7537