• Universitas
  • Portal Akademik
  • Perpustakaan Universitas
  • Webmail
  • Arnawa
  • UM UGM
  • Bahasa Indonesia
    • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
Departemen Bahasa dan Sastra
Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
  • Halaman Muka
  • Profil
    • Visi & Misi
    • Tujuan
    • Keunggulan
    • Prospek Karier
    • Staf Pengajar
  • Akademik
    • Alur Kurikulum
    • Deskripsi Mata Kuliah
    • Sebaran Mata Kuliah
    • Capaian Pembelajaran
    • INFORMASI PERKULIAHAN DAN ADMINISTRASI
    • KONFERENSI DAN KEGIATAN INTERNASIONAL
    • Kalender Akademik
  • KPPB
    • Pengabdian
      • Pengabdian Masyarakat
      • Siniar (Anarka Lālitya)
    • Kerjasama
    • Beasiswa
    • Penelitian
      • Penelitian Staf Pengajar
      • Arsip Kajian Jawa – Arnawa
  • Kemahasiswaan
    • Hasil Survei Mahasiswa
    • HMJ Kamastawa
    • Kegiatan Mahasiswa
    • Karya Mahasiswa
    • Kanal Youtube
    • Kanal Instagram
  • Alumni
    • Profil Alumni
  • Kontak
  • Beranda
  • Pos oleh
  • hal. 13
Pos oleh :

haryountoro

Perubahan Nama Program Studi Sastra Jawa Menjadi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa

BeritaSDGS Selasa, 10 Januari 2023

Yogyakarta (10/01/2023) – Senin, 28 November 2022 menjadi momen bersejarah bagi Program Studi Sastra Jawa Universitas Gadjah Mada (UGM). Berdasarkan Keputusan Rektor Universitas Gadjah Mada Nomor 1286/UN1.P/KPT/HUKOR/2022, Program Studi Sastra Jawa secara resmi mengubah namanya menjadi Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa.

Perubahan nama Program Studi didasarkan pada Keputusan Rektor Universitas Gadjah Mada Nomor 1718/UN1.P/SK/HUKOR/2017 tentang penamaan Program Studi di lingkungan Universitas Gadjah Mada dipandang tidak sesuai dengan perkembangan Program Studi di lingkungan Universitas Gadjah Mada sehingga perlu dicabut dan diterbitkan ketetapan yang baru. read more

Tiga Kejuaraan Berhasil Diraih Oleh Prodi Sastra Jawa UGM di Temu Budaya Nusantara 2022 Imbasadi

BeritaKarya MahasiswaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Kamis, 22 Desember 2022

Yogyakarta – Program Studi Sastra Jawa Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil merebut tiga kejuaraan dalam ajang Temu Budaya Nusantara 2022 yang diselenggarakan secara daring oleh Program Studi Sastra Batak, Universitas Sumatra Utara (USU) pada tanggal 15 - 20 Desember 2022. 

Kegiatan Temu Budaya Nusantara 2022 mengusung tema Aktualisasi Budaya Lokal dan Peran Generasi Muda, yang menekankan pada peran generasi muda dalam mempertahankan dan melestarikan budaya dan tradisi dalam arus globalisasi saat ini.

Dalam Temu Budaya Nusantara 2022 di USU, terdapat delapan macam perlombaan yang diadakan, antara lain Lomba Tari Nusantara, Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional, Lomba Komik Strip, Lomba Cipta dan Baca Puisi, Lomba Dokumenter Budaya, Lomba TikTok Nusantara, Lomba Esai Nasional, dan Lomba Podcast. 

Program Studi Sastra Jawa UGM mengirimkan delegasinya yang terdiri dari Vighna Rivattyannur Hernawan (angkatan 2020) sebagai ketua delegasi, Nurma Aisyah (angkatan 2021), Bima Muslih Wicaksono (angkatan 2022), Nanda Fitri Riyantika (angkatan 2022), Muhammad Siswoyo (angkatan 2022), dan Wening Hidayati (angkatan 2022).

Berikut adalah tiga kejuaraan yang berhasil diraih oleh Prodi Sastra Jawa UGM:

  1. Juara 1 Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional

Vighna Rivattyannur Hernawan sebagai ketua dan Nurma Aisyah sebagai anggota delegasi berhasil menyabet gelar juara 1 dalam Karya Tulis Ilmiah Nasional. Karya tulis ilmiah mereka berjudul "Baita Adi: Aktualisasi Budaya Nusantara Melalui Alih Wahana Naskah ke Batik Sebagai Perisai dalam Menghadapi Masifnya Perkembangan Global (Sebuah Kajian Budaya)". Karya tulis ilmiah tersebut menitikberatkan tentang batik Baita Adi sebagai objek material yang mana motif dari batik tersebut dihasilkan dari alih wahana naskah Sestra Ageng Adidarma serta perspektif, peran, dan tantangan batik Baita Adi dalam perkembangan era globalisasi.

  1. Juara 2 Lomba Dokumenter Budaya

Bima Muslih Wicaksono berhasil meraih juara 2 dalam Lomba Dokumenter Budaya. Video dokumenter budaya yang dihasilkan olehnya mengangkat tema produksi tradisi batik tulis. Batik tulis adalah kain batik bergambar yang dalam proses penggambarannya masih dengan cara menuliskan malam pada kain. Lewat tangan pengrajinnya, batik tulis yang indah dan sarat akan filosofi ini masih tetap eksis dari gempuran berbagai kain bermotif batik yang dihasilkan oleh mesin.

  1. Juara 2 Lomba Esai Nasional

Muhammad Siswoyo meraih gelar juara 2 dalam Lomba Esai Nasional dengan judul esainya yang berjudul "Karsa Imbasadi: Cipta dan Inovasi Budaya Sebagai Upaya Pelestarian Nilai Tradisi Lintas Masa Pada Era Modernisasi". Esai ini membahas tentang peran para alumnus imbasadi yang menghadirkan beragam inovasi dalam melestarikan nilai tradisi di era modernisasi.

Keberhasilan Prodi Sastra Jawa UGM dalam meraih prestasi tersebut merupakan bukti komitmen mahasiswa Sastra Jawa UGM dalam mengapresiasi dan melestarikan kekayaan budaya dan tradisi di Indonesia. Selain itu, partisipasi mereka dalam Temu Budaya Nusantara Imbasadi 2022 diharapkan dapat memotivasi lebih banyak mahasiswa untuk mempelajari, mengapresiasi, dan melestarikan kebudayaan Indonesia yang kaya.

Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam suksesnya acara ini, termasuk panitia, peserta, dan pendukung lainnya. Semoga Imbasadi dapat konsisten untuk terus menjadi wadah yang memberikan pengalaman berharga, memperluas jaringan relasi, serta mempererat hubungan antar program studi sastra daerah se-Indonesia dalam menggali, mengembangkan, dan melestarikan kebudayaan Indonesia yang kaya dan beragam.

Indonesia beragam, Imbasadi menyatukan.

Seminar “Pembacaan Ulang Kolofon Manuskrip, Arsip, Tinggalan Arkeologi, dan Tradisi Lisan Naskah-Naskah Skriptorium Merapi-Merbabu” Bersama Rendra Agusta, S.S., M.Sos.

BeritaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Jumat, 25 November 2022

Kamis (24/11/2022), Program Studi Sastra Jawa menyelenggarakan seminar bertajuk "Pembacaan Ulang Kolofon Manuskrip, Arsip, Tinggalan Arkeologi, dan Tradisi Lisan Naskah-Naskah Skriptorium Merapi-Merbabu" dilaksanakan di gedung Soegondo ruang 709, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada. Acara yang berlangsung dari pukul 13.00 hingga 15.00 WIB ini dihadiri oleh mahasiswa Prodi Sastra Jawa UGM serta hadirin, khususnya yang tertarik dengan naskah-naskah skriptorium Merapi-Merbabu.

Seminar ini menghadirkan Bima Slamet Raharja, S.S., M.A., salah seorang dosen Sastra Jawa UGM, sebagai moderator. Lengkap dengan salah satu mahasiswi Sastra Jawa, Marsha Allifia Nadhira, sebagai Master of Ceremony (MC).

Pemateri pada acara ini adalah Rendra Agusta, S.S., M.Sos., seorang peneliti dan pemerhati naskah-naskah kuno dalam fokus bidang Jawa Kuna dan Jawa Baru. Beliau juga merupakan pendiri dari Strada Institute, sebuah komunitas yang bergerak dalam penelitian independen terkait isu pelestarian, pengembangan, dan pemanfaatan obyek kebudayaan berbasis teks baik manuskrip ataupun prasasti. Dalam seminar ini, Rendra Agusta, S.S., M.Sos., membimbing para peserta untuk berkenalan dengan naskah-naskah skriptorim Merapi-Merbabu dan mengeksplorasi jejak tradisi dan nilai kearifan lokal yang terkandung di dalamnya.

Salah satu hal menarik yang disampaikan beliau adalah tentang istilah naskah-naskah Merapi-Merbabu itu sendiri. “Istilahnya berubah-ubah. Mulai dari naskah-naskah Merbabu, naskah Merbabu-Merapi, kemudian di katalog ditulis Merapi-Merbabu” demikian disampaikan oleh Rendra Agusta, S.S., M.Sos. “Penyebutan yang belakangan ada di disertasi Abimardha (Dr. Abimardha Kurniawan, M.A.) yang menyebutnya dengan naskah-naskah pegunungan, karena naskah-naskah ini tidak hanya ditemukan di Merapi-Merbabu, juga di Lawu, Wilis, Telomoyo, Andong, Ungaran , dan kemungkinan lebih luas lagi.” Lanjut beliau.

Setelah Rendra Agusta, S.S., M.Sos., selesai dengan pemaparannya, sesi pertanyaan dibuka oleh oleh moderator. Peserta seminar sangat antusias dalam mengikuti acara ini, terbukti dari banyaknya pertanyaan yang diajukan kepada pemateri pada sesi pertanyaan. 

Dengan diselenggarakannya seminar ini, diharapkan dapat meningkatkan pemahaman peserta tentang kolofon naskah-naskah skriptorium Merapi-Merbabu sebagaimana yang disampaikan oleh Arsanti Wulandari S.S, M.Hum., dalam sambutan perwakilan ketua prodi. 

“Harapan bagi kami bagi Prodi Sastra Jawa, dengan paparan yang akan disampaikan oleh Mas Rendra pada hari ini, kita akan belajar dengan melihat dan mengetahui seperti apa kolofon-kolofon yang ada, melacak ada di mana letak kolofon-kolofon itu dan dapat menangkap sebuah konsep dan konteks dari yang kita baca” ujar beliau.

Hari Wayang Dunia ke-VIII: Program Studi Sastra Jawa Mengadakan Kuliah Lapangan ke Institut Seni Indonesia Surakarta

BeritaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Selasa, 8 November 2022

Program Studi Sastra Jawa Universitas Gadjah Mada mengadakan kuliah lapangan ke acara Hari Wayang Dunia ke-VIII yang diadakan di Pendopo Agung G.P.H.Joyokusumo, Institut Seni Indonesia Surakarta pada Sabtu, (5/11/2022). Peserta kuliah lapangan merupakan Mahasiswa Program Studi Sastra Jawa angkatan 2022 didampingi oleh dosen Sastra Jawa UGM, Rudy Wiratama, S.I.P., M.A.

Dalam rangka merayakan Hari Wayang Dunia ke-VIII, Institut Seni Indonesia Surakarta (ISI Surakarta) mengadakan pergelaran wayang selama tiga hari dari tanggal 4-6 November 2022. Tema yang diangkat pada tahun 2022 adalah "Mawayang Hayu: Wayang Moderasi dan Keberagaman". Acara tersebut merupakan perwujudan rasa cinta dan bangga terhadap seni wayang yang telah diakui UNESCO sebagai salah satu warisan budaya dunia. Kisah Panji diangkat dalam acara ini sebab menurut Ketua Pelaksana Hari Wayang Dunia 2022, Cahyo Kuntadi, S.Sn., M.Sn., pada Pembukaan Hari Wayang Dunia ke-VIII, kisah asli Indonesia telah dimasukkan oleh UNESCO sebagai warisan ingatan dunia ini telah tersebar ke tanah air bahkan merambah hingga Malaysia, Thailand, Kamboja, dan Filipina. 

Dalam pelaksanaannya, para mahasiswa berkumpul di pintu selatan Fakultas Ilmu Budaya pada pukul 09.00 WIB dan melanjutkan perjalanan dengan menggunakan armada bus menuju Institut Seni Indonesia, Surakarta. Setelah sampai di sana, para partisipan menyaksikan beberapa pertunjukan wayang, yakni pergelaran wayang "Kluruke Jago Jenggala" oleh Ananda Danendra Kidung Sindhutama. Selanjutnya, partisipan menyaksikan Wayang Gedhog Gagrag Pakualaman "Guntur Segara Takon Bapa" oleh Ki Wahyu Prasetyo Aji dan Wayang Panji "Panji Gandrung" dengan gagrag Jawa Timuran oleh Kelana Ilham Firmansyah.

Pertunjukan Wayang Topeng Panji “Reraket” oleh Komunitas Arjasura menjadi penampilan terakhir yang disaksikan oleh para mahasiswa sebelum akhirnya para mahasiswa kembali ke Fakultas Ilmu Budaya sekitar pukul 20.30 WIB. Pengalaman tersebut sangat berkesan bagi mahasiswa Sastra Jawa karena mereka mendapatkan gambaran tentang peristiwa kebudayaan, khususnya pergelaran wayang. 

Dengan dilaksanakannya kuliah lapangan ini, para mahasiswa diharapkan dapat menambah pengetahuan, pengalaman, serta menjadi sarana dalam mengembangkan kompetensi keilmuan. Selain itu, pengalaman tersebut dapat memberikan dampak positif dalam pengembangan keilmuan dan kecintaan para mahasiswa terhadap seni budaya Indonesia.

ABHISEKA KRAMASIYA 2022: NYAWIJI, NGURI-URI, & MIGUNANI

Uncategorized Senin, 10 Oktober 2022

Abhiseka Kramasisya kembali hadir sebagai kegiatan tahunan Program Studi Sastra Jawa Universitas Gadjah Mada (UGM). Kegiatan ini digelar pada Sabtu hingga Minggu (01/10/2022 - 02/10/2022) di Wisma Gadjah Mada, Kali Urang, Gunung Kidul / Sleman, Yogyakarta. Tujuan dari rangkaian Abhiseka Kramasisya sebagai acara pengukuhan mahasiswa baru dan menjadi bagian dalam Himpunan Mahasiswa Jurusan Keluarga Mahasiswa Sastra Jawa (HMJ Kamastawa)

Sebanyak 51 mahasiswa baru Program Studi Sastra Jawa angkatan 2022 turut serta dalam Abhiseka Kramasisya 2022 dengan tema "Nyawiji, Nguri-uri, dan Migunani". Tema tersebut mencerminkan harapan agar setelah acara ini, mahasiswa Sastra Jawa dapat tetap bersatu dalam jiwa kekeluargaan, bekerja sama dalam berbagai pekerjaan, berguna bagi diri dan lingkungan, serta dapat mempelajari, mengenalkan, dan melestarikan kebudayaan Indonesia, khususnya kebudayaan Jawa.

Sebelum rangkaian Abhiseka Kramasisya dimulai, mahasiswa angkatan 2022 telah dibagi menjadi empat kelompok pada technical meeting, yaitu Kelompok Kulawu, Kurantil, Julungwangi, dan Marakeh. Nama-nama tersebut merupakan bagian dari pawukon Jawa. Para peserta juga diberi penugasan baik tugas individu maupun tugas kelompok.

Pada hari pertama, registrasi dilakukan pada pukul 14.00-14.30 di Wisma Gadjah Mada. Mahasiswa baru kemudian dikenalkan dengan serba-serbi HMJ Kamastawa dan mengikuti talkshow dengan dua alumni Program Studi Sastra Jawa, yaitu R. Bima Slamet Raharja, S.S., M.A., seorang dosen di Prodi Sastra Jawa UGM, dan I Made Christian Wiranata Rediana, seorang pelaku seni Jawa. Dalam talkshow tersebut, dua narasumber membagikan pengalaman serta gambaran setelah masa perkuliahan dari sisi akademis dan non-akademis.

Pada malam harinya, peserta mengikuti kegiatan Seminar Prodi. Seminar Prodi dilangsungkan dengan tujuan untuk memperkenalkan tiga bidang studi yang akan dipilih oleh mahasiswa, yaitu Filologi, Linguistik, dan Sastra. Seminar ini dihadiri oleh dosen-dosen dari bidang studi masing-masing, yakni Nurmalia Habibah, S.S., M.A., selaku dosen bidang Filologi, Imam Prakoso, S.S., M.A., selaku dosen bidang Linguistik, dan Rudy Wiratama, S.I.P., M.A., selaku dosen bidang Sastra. Selanjutnya, acara dilanjutkan dengan Pati Geni (Panggung Inti Pagelaran Seni), di mana masing-masing kelompok menampilkan karya seni yang telah mereka kreasikan.

Hari kedua menjadi puncak acara dari rangkaian Abhiseka Kramasisya. Acara tersebut berupa pelaksanaan siraman dan pengukuhan pada pagi hari (05.00-07.00 WIB). Prosesi ini menandakan resminya mahasiswa angkatan 2022 sebagai bagian dari Keluarga Mahasiswa Sastra Jawa UGM. Setelah pengukuhan, acara dilanjutkan dengan awarding yang berupa pengumuman pemenang dari beberapa nominasi. Pemenang ditentukan berdasarkan kriteria keaktifan dan semangat peserta selama acara berlangsung.

Pukul 10.00 WIB, rangkaian Abhiseka Kramasisya 2022 ditutup dengan penyerahan sertifikat dan foto bersama. Dengan demikian, diharapkan Abhiseka Kramasisya dapat memberikan pengalaman yang berkesan dan pembelajaran yang berharga bagi mahasiswa angkatan 2022. Selain itu, pengukuhan bagi mahasiswa Sastra Jawa angkatan 2022 diharapkan dapat mempertahankan kebersamaan, peduli terhadap pelestarian dan pengembangan budaya daerah, serta memberikan kontribusi positif bagi diri, sesama, dan lingkungan, sesuai dengan tema tahun ini, ‘Nyawiji, Nguri-uri, Migunani’.

Kuliah Umum “Yogyakarta, Versailles of Java: Architectural History and the Making of Heritage City” Bersama Dr. Helene Njoto

BeritaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Rabu, 28 September 2022

Jumat (23/09/2022), Program Studi Sastra Jawa berhasil menyelenggarakan kuliah umum dengan topik “Yogyakarta << Versailles of Java >> Architectural History and the Making of Heritage City” yang bertempat di gedung Soegondo ruang 709, Fakultas Ilmu budaya, Universitas Gadjah Mada.  Kuliah umum ini berlangsung pada pukul 13.00 hingga 15.00 WIB dan dihadiri oleh mahasiswa Prodi Sastra Jawa UGM  yang tertarik dan antusias dengan kesejarahan arsitektur Jawa Kota Yogyakarta.

Kuliah umum tersebut dipandu oleh Nurmalia Habibah, S.S., M.A., dosen Sastra Jawa UGM bidang studi filologi, sebagai Master of Ceremony (MC) dan Imam Prakoso, S.S., M.A., dosen Sastra Jawa UGM bidang studi linguistik, bertindak sebagai moderator.

Pemateri pada acara ini adalah Dr. Helene Njoto, seorang peneliti dengan spesialisasi dalam sejarah seni dan arsitektur modern awal Indonesia, khususnya pada periode Islam awal dan awal kolonial (sekitar abad 15 hingga paruh pertama abad ke-19).  Sejak tahun 2021, beliau menjadi bagian dari École Française d'Extrême-Orient (EFEO) di Jakarta, lembaga di bawah Kementerian Pendidikan Tinggi dan Riset Prancis yang mempelajari peradaban klasik Asia melalui humaniora dan ilmu sosial.

(Dr. Helene Njoto (pada bagian tengah) sedang memaparkan materi)

Dalam seminar ini, Dr. Helene Njoto, memberikan paparan kepada peserta mengenai arsitektur kota Yogyakarta sebelum meletusnya Perang Diponegoro. “Setelah Pangeran Diponegoro ditangkap pada tahun 1833, Yogyakarta dalam keadaan sangat runtuh. Namun, dari reruntuhan tersebut dapat ditebak bahwa Kota Yogyakarta sempat menjadi kerajaan yang luar biasa. Meskipun tidak sampai 1/10 dari kejayaannya yang tersisa, tetapi kejayaan Yogyakarta dapat dilihat dari banyaknya reruntuhan batu besar.  Bahkan dalam catatan Carel Sirardus William van Hogendrop, Gubernur Jenderal Hindia ke-46, Yogyakarta disebut sebagai Versailles of Java.” ungkap beliau.

Selain itu, Dr. Helene Njoto juga menyoroti fakta menarik bahwa Taman Sari, salah satu destinasi wisata kota Yogyakarta, merupakan karya arsitek Jawa bukan arsitek Portugis. “Sekitar 2 tahun lalu, diceritakan bahwa Taman Sari dibangun oleh arsitek Portugis dengan alasan Taman Sari dibangun dengan batu bata dan spesi. Batu bata dan spesi dinilai dengan sangat berbeda dengan arsitektur kayu yang identik dengan arsitektur Jawa, Namun jika diteliti lebih seksama, kenyataannya bukan seperti itu.” terang beliau.

Beliau melanjutkan, “Penguasa pertama Yogyakarta, yaitu Pangeran Mangkubumi, merupakan pembangun situs konstruksi terbesar oleh penguasa Jawa hingga saat ini, yaitu Taman Sari. Taman Sari yang sebenarnya itu luas dan yang saat ini hanya tersisa 1/3 saja, sisanya hilang. Taman Sari mulai dibangun pada awal 1750-an dengan luas sekitar 80 meter persegi, ke arah tenggara pusat Keraton Yogyakarta. Arsitek Taman Sari adalah Pangeran Mangundipura. Pangeran Mangundipura bahkan mengunjungi Batavia  dua kali untuk mencari inspirasi dalam pembangunan Taman Sari.”

Setelah pemaparan Dr. Helene Njoto selesai, moderator membuka sesi pertanyaan. Para peserta kuliah umum ini menunjukkan antusiasme yang tinggi dengan mengajukan berbagai pertanyaan terkait arsitektur Jawa.

Dr. Helene Njoto memberikan pesan kepada mahasiswa agar mau mengunjungi situs-situs peninggalan masa lampau. “Untuk mahasiswa sastra, tentunya banyak hal dan unsur yang dapat ditangkap. Bukan hanya yang terdapat dalam naskah, tetapi juga tergambar pada peninggal, yakni pada reliefnya. Oleh karena itu, jangan ragu untuk pergi ke lapangan. Mumpung masih muda dan mumpung situs-situs tersebut masih ada dan dapat dikunjungi.”

Dengan diselenggarakannya kuliah umum ini, diharapkan dapat membangkitkan motivasi dan membuka wawasan peserta mengenai arsitektur Jawa, terutama bagi mereka yang tertarik untuk menjadikannya sebagai objek penelitian.

"Semoga kuliah umum ini dapat menambah wawasan kita tentang betapa megahnya arsitektur Jawa dan juga dapat menjadi motivasi, terutama bagi teman-teman mahasiswa yang akan menjadikan arsitektur Jawa sebagai objek penelitian," ujar Imam Prakoso, S.S., M.Hum., dalam sesi penutupan kuliah umum tersebut.

Pergantian Nama HMJ KAMASUTRA Menjadi HMJ KAMASTAWA

BeritaKarya MahasiswaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Rabu, 5 Mei 2021

Yogyakarta - Pada hari Senin, 3 Mei 2021, pukul 15.41 WIB, menjadi momen yang bersejarah bagi KAMASUTRA (Keluarga Mahasiswa Sastra Nusantara), sebuah organisasi HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan) yang berada di bawah naungan Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Departemen Bahasa dan Sastra, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (FIB UGM), telah resmi berganti nama menjadi KAMASTAWA (Keluarga Mahasiswa Sastra Jawa).

Secara etimologis, KAMASTAWA berasal dari bahasa Sanskerta yang terdiri dari kata ‘kāma’ yang berarti kasih sayang dan loyalitas dan ‘stawa’ yang berarti doa, harapan, dan pujian. Secara keseluruhan, arti Kamastawa merupakan harapan agar Keluarga Mahasiswa Sastra Jawa untuk senantiasa saling mengasihi, menyayangi dan memiliki jiwa loyalitas yang tinggi terhadap Program Studi Bahasa, Sastra, dan Jawa.

Proses penetapan perubahan nama ini dilakukan secara daring melalui Zoom Meeting, dengan Ketua Keluarga Mahasiswa Sastra Jawa periode 2021/2022, Na’il Yuwana Firdaus, sebagai penandatangan resmi perubahan nama. Selanjutnya, keputusan ini mendapatkan persetujuan dari pembina Keluarga Mahasiswa Sastra Jawa, yakni dosen Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa dengan bidang studi filologi, Zakariya Pamuji Amirullah, S.S., M.A.

Perubahan ini sejalan dengan Surat Keputusan Himpunan Mahasiswa Jurusan Sastra Jawa Departemen Bahasa dan Sastra Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Nomor 001/KAMASTAWA/IV/2021 tentang Perubahan Singkatan Keluarga Mahasiswa Sastra Jawa. Alasan di balik pergantian nama ini adalah untuk mencapai keselarasan antara Program Studi Sastra Jawa, Departemen Bahasa dan Sastra, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, dengan nama himpunan mahasiswa terkait.

Keputusan ini juga didasarkan pada hasil sidang AD/ART Keluarga Mahasiswa Sastra Jawa pada 20 Maret 2021 dan Hasil Musyawarah Anggota Khusus Keluarga Mahasiswa Sastra Jawa periode 2021/2022 pada 4 April 2021, yang keduanya diadakan secara daring melalui Zoom Meeting dan Google Meet.

Selain perubahan nama, terdapat juga perubahan logo Keluarga Mahasiswa Sastra Jawa bagian aksara yang terdapat di atasa lingga-yoni yang telah disesuaikan dengan singkatan baru. Selain itu, aksara yang digunakan pada logo baru adalah aksara Jawa Kuno, menggantikan aksara Dewanagari pada logo lama.

(Logo lama)

(Logo baru)

Dengan pergantian nama yang mencerminkan identitas baru, KAMASTAWA semakin bersemangat dalam memberikan ruang kepada anggota-anggotanya untuk  mempelajari, melestarikan dan menghidupkan warisan kebudayaan Jawa.

Selasa Korsa & Kamis Berbudaya, Kamis Berkebaya

BeritaMahasiswaSDGS Sabtu, 6 Mei 2017

“Ajining raga saka busana”. Pepatah Jawa tersebut mencoba mengingatkan bahwa orang lain akan menghormati kita sesuai pakaian yang kita gunakan. Bahkan sebagian masyarakat mengatakan bahwa pakaian merupakan cara kita merepresentasikan emosi dan kepribadian, serta keingingan persepsi orang lain pada diri kita.

Sastra Nusantara yang sekarang berubah nama menjadi Sastra Jawa merupakan salah satu Prodi yang ada di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Melalui namanya, Prodi tersebut menjadi sarana seorang individu untuk mengetahui lebih banyak budaya yang ada di Nusantara. Melalui nama itu pula banyak para mahasiswa asing dari luar negeri yang berkeinginan mempelajari budaya Indonesia, mengambil salah satu atau beberapa mata kuliah di prodi ini.

Lebih dari sekedar mempelajari tentang keanekaragaman budaya, Prodi ini mencontohkan secara nyata melalui penggunaan busana Nusantara ketika berkuliah. Perubahan nama Sastra Nusantara menjadi Sastra Jawa bukan berarti hanya adat Jawa saja yang dipelajari, begitu pula pada pakaian adat yang dikenakan di kampus.

Pakaian adat Nusantara ini digunakan sebagai sarana mahasiswa menunjukkan identitas diri pada khalayak. Agenda ini merupakan program dari Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) yang mewajibkan mahasiswanya menggunakan pakaian adat Nusantara setiap hari Kamis minggu pertama tiap bulannya.

“Kita ini kan orang Indonesia, ya kita menunjukkan bahwa ini budaya kita, bukan hanya budaya Jawa tapi semua budaya yang ada di Nusantara”. Ungkap Abigail, salah satu mahasiswa Sastra Jawa yang juga menggunakan pakaian adat keraton.

Awalnya hanya program dari HMJ, namun mahasiswa mengapresiasi dengan menggunakannya secara kompak. Bila Anda masuk ke FIB maka akan tampak begitu mencolok perbedaan mahasiswa Sastra Jawa disbanding mahasiswa lainnya.

Ketika lainnya menggunakan pakaian kasual pada umumnya. Mahasiswa Sastra Jawa dengan idealisnya menggunakan kebaya, seperti sedang ada upacara kraton di UGM. Sebagian lainnya menggunakan pakaian adat Bali, seakan ada rombongan dari Bali yang mengunjungi kampus.

Menurut Sri ratna Sakti, ketua Prodi Sastra Jawa, pakaian adat yang dikenakan oleh mahasiswa akan secara langsung mempengaruhi perilaku mahasiswanya sedikit demi sedikit.

“Ya awalnya menggunakan celana, sekarang menggunakan selendang, Ketika berubah menggunakan selendang otomatis mahasiswa tidak gampang untuk jegeng kan mas” tambahnya.

Ke depannya, tradisi ini akan terus dilakukan sebagai perwujudan secara nyata sebuah Program Studi mengamalkan ilmu yang dipelajarinya di dalam perkuliahan. “teladan yang sesungguhnya bukan berasal dari kata-kata namun dari Tindakan nyata”. Harapannya mahasiswa beserta almamaternya mampu terus menjunjung tinggi nilai-nilai luhur budaya milik ibu Pertiwi di bumi Nusantara. (Ahmad Romawi)

 

Dipublikasikan oleh : kintani.inagita.swasti

Dipublikasikan ulang oleh : haryountoro

1…111213

Recent Post

  • Seminar Proposal Gabungan Menjadi Ujian Akhir Semester Mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa UGM
    Januari 2, 2026
  • Tantangan Dalang Muda Rafi Nur Fauzy Menampilkan Wayang Gedhog di Hari Wayang Nasional
    Desember 4, 2025
  • Musyawarah Besar HMJ Kamastawa: Wreksi Pinandhita Terpilih sebagai Ketua Umum Periode 2026
    Desember 4, 2025
  • Menggali Jenis & Makna Budaya Sesajen dalam Workshop Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
    November 28, 2025
  • Studi Banding Sastra Jawa UNNES dan Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa UGM: Pererat Silaturahmi dan Kolaborasi demi Kebudayaan Jawa yang Lestari
    November 13, 2025

Kalender

Januari 2026
S S R K J S M
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
« Des    
  • Fakultas Ilmu Budaya
  • Ujian Masuk UGM
  • PPSMB
  • Alumni
  • Jurnal Humaniora
Januari 2026
S S R K J S M
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
« Des    

Rilis Berita

  • Seminar Proposal Gabungan Menjadi Ujian Akhir Semester Mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa UGM
    Januari 2, 2026
  • Tantangan Dalang Muda Rafi Nur Fauzy Menampilkan Wayang Gedhog di Hari Wayang Nasional
    Desember 4, 2025
  • Musyawarah Besar HMJ Kamastawa: Wreksi Pinandhita Terpilih sebagai Ketua Umum Periode 2026
    Desember 4, 2025
Universitas Gadjah Mada

Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
Departemen Bahasa dan Sastra
Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada

 

Jl. Sosiohumaniora, Bulaksumur, Yogyakarta
Telp : 0274-901134 Ext. 110, Fax : 0274-550451, WhatsApp : 081211911281
Email : nusantara@ugm.ac.id

© 2025 Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa FIB UGM

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY