• Universitas
  • Portal Akademik
  • Perpustakaan Universitas
  • Webmail
  • Arnawa
  • UM UGM
  • Bahasa Indonesia
    • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
Departemen Bahasa dan Sastra
Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
  • Halaman Muka
  • Profil
    • Visi & Misi
    • Tujuan
    • Keunggulan
    • Prospek Karier
    • Staf Pengajar
  • Akademik
    • Alur Kurikulum
    • Sebaran Mata Kuliah
    • Capaian Pembelajaran
    • Informasi Perkuliahan dan Administrasi
    • KONFERENSI DAN KEGIATAN INTERNASIONAL
    • Kalender Akademik
  • KPPB
    • Kerjasama
    • Pengabdian
      • Pengabdian Masyarakat
      • Siniar (Anarka Lālitya)
    • Penelitian
      • Penelitian Staf Pengajar
      • Arsip Kajian Jawa – Arnawa
    • Beasiswa
  • Kemahasiswaan
    • Hasil Survey Mahasiswa
    • HMJ Kamastawa
    • Kegiatan Mahasiswa
    • Karya Mahasiswa
    • Kanal Youtube
    • Kanal Instagram
  • Alumni
    • Profil Alumni
  • Kontak
  • Beranda
  • Pos oleh
Pos oleh :

haryountoro

Mahasiswa Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa FIB UGM Raih Penghargaan dalam Temu Budaya Nusantara XXXII di UNS

BeritaKarya MahasiswaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Senin, 19 Oktober 2026

Mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (FIB UGM), berhasil menorehkan prestasi dalam Temu Budaya Nusantara (TBN) ke-XXXII Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Daerah Indonesia (Imbasadi) yang diselenggarakan di Universitas Sebelas Maret (UNS) pada 12–15 Oktober 2026. Mengusung tema “Muda Berkarya, Kami Bhima Budaya”, kegiatan ini menjadi wadah bagi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi untuk mengembangkan potensi diri, memperluas wawasan kebudayaan, serta mempererat hubungan antarmahasiswa.

Sebagai kegiatan rutin tahunan Imbasadi, Temu Budaya Nusantara XXXII menyelenggarakan berbagai agenda yang mencakup bidang kebudayaan dan akademik. Kegiatan tersebut meliputi Musyawarah Nasional, seminar kebudayaan, hingga malam puncak yang diisi dengan penganugerahan penghargaan lomba (awarding) serta pelantikan pengurus Imbasadi periode 2026/2028. Melalui rangkaian kegiatan ini, mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia yang memiliki program studi bahasa dan sastra daerah berkesempatan untuk menjalin silaturahmi, bertukar gagasan, dan memperluas wawasan kebudayaan.

Dalam kegiatan tersebut, Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa FIB UGM turut berpartisipasi dengan mengirimkan enam delegasi. Keenam mahasiswa tersebut adalah Shabrina Fitra Azzahra (angkatan 2024), Eva Wulandari (angkatan 2025), Yogi Setiyawan (angkatan 2025), Muthiah Rahmadani (angkatan 2026), Januar Aziz Maulana (angkatan 2026), dan Fabiola Anenina Karissa (angkatan 2026).

Partisipasi delegasi UGM dalam TBN XXXII turut diwarnai dengan sejumlah capaian membanggakan. Dua mahasiswa, yaitu Januar Aziz Maulana dan Fabiola Anenina Karissa, berhasil meraih nominasi Runner-Up II Imbasadi 2026. Sementara itu, Muthiah Rahmadani berhasil meraih juara III dalam lomba desain batik. Selain capaian tersebut, Yogi Setiawan juga mendapat amanah sebagai Presiden Imbasadi periode 2026/2027. Berbagai pencapaian ini menjadi wujud kontribusi mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa FIB UGM dalam mengapresiasi, melestarikan, dan mempromosikan kekayaan budaya Nusantara melalui kegiatan ilmiah dan kebudayaan. Hal ini sekaligus mencerminkan peran aktif mahasiswa dalam memperkuat kolaborasi serta menjalin hubungan antarmahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Melalui penyelenggaraan Temu Budaya Nusantara dan berbagai prestasi yang diraih, diharapkan semangat mahasiswa untuk menjaga dan melestarikan warisan budaya daerah semakin tumbuh. Kegiatan ini juga diharapkan dapat terus mempererat hubungan antarmahasiswa bahasa dan sastra daerah di seluruh Indonesia.

Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa FIB UGM menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan kegiatan tersebut. Semangat kebersamaan dan kecintaan terhadap kebudayaan diharapkan terus menjadi landasan bagi mahasiswa untuk berkarya serta berkontribusi dalam menjaga keberagaman budaya Indonesia.

 

Indonesia beragam, Imbasadi menyatukan.

 

Penulis           : Haryo Untoro
Editor             : Haryo Untoro

Menggali, Mengenali, serta Memahami Kembali Batik Nusantara Melalui Seminar Nasional Hari Batik 2026

BeritaKarya MahasiswaSDGS Selasa, 6 Oktober 2026

KAGAMA UGM bekerja sama dengan KAGAMA Batik dan Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Gadjah Mada (UGM), menyelenggarakan Seminar Nasional Hari Batik 2026 pada Sabtu, 3 Oktober 2026. Bertempat di Auditorium Soegondo, FIB UGM, seminar ini mengusung tema “Merawat Warisan, Menumbuhkan Masa Depan: Batik sebagai Identitas Budaya dan Ruang Inovasi”. Kegiatan tersebut diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional yang jatuh pada 2 Oktober 2026.

Acara diawali dengan pertunjukan Tari Golek Ayun-Ayun sebagai bentuk penyambutan kepada para tamu yang hadir. Kegiatan tersebut semakin semarak melalui peragaan beragam jenis batik dari berbagai daerah, mulai dari batik Jakarta hingga Madura. Rangkaian kegiatan ini menjadi pengantar untuk mengenali kekayaan motif, keragaman tradisi, serta nilai budaya yang terkandung dalam batik Indonesia.

Seminar ini menghadirkan Dr. Eng. Ir. Laretna Trisnantari Adishakti, M.Arch., dosen purnatugas UGM sekaligus Chair UNESCO Chair in Heritage Cities Conservation and Management, sebagai pembicara kunci (keynote speaker). Dalam paparannya, ia mengulas berbagai aspek batik, mulai dari sejarah, kearifan lokal, hingga peran batik dalam pergerakan sosial-budaya dan diplomasi hubungan internasional.

Dr. Eng. Ir. Laretna Trisnantari Adishakti, M.Arch., juga menyoroti tantangan dalam menjaga eksistensi batik di tengah perubahan zaman serta pentingnya merumuskan strategi pelestarian yang berkelanjutan. Salah satu poin utama yang disampaikan adalah peran batik sebagai sarana diplomasi, baik di Nusantara, Asia Tenggara, maupun dalam lingkup global. Selain sebagai identitas budaya, batik juga memiliki potensi untuk mendukung ekonomi regeneratif, yaitu sistem ekonomi yang tidak hanya menciptakan nilai ekonomi, tetapi juga memulihkan lingkungan, memperkuat kehidupan sosial dan budaya, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Setelah sesi pembicara kunci, kegiatan dilanjutkan dengan seminar yang dimoderatori oleh Dr. Sulistyowati, S.S., M.Hum., Ketua Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, FIB UGM. Seminar menghadirkan dua narasumber dengan latar belakang dan pengalaman berbeda, yaitu dr. CHR Sulistyono, M.Sc., FISQua, pemilik Batik Nyah Kiok yang memproduksi batik Lasem, Rembang, serta Aji Setyowijaya, S.S., perajin batik khas Yogyakarta yang juga menggeluti batik tiga negeri.

 

Dalam pemaparannya, dr. CHR Sulistyono, M.Sc., FISQua menjelaskan sejarah Batik Nyah Kiok dan perkembangan batik Lasem, termasuk tantangan yang dihadapi dalam mempertahankan keberlangsungannya. Ia mengungkapkan bahwa keberadaan batik Lasem tidak terlepas dari kebiasaan dan praktik budaya masyarakat yang menggunakannya. Meski memiliki nilai sejarah dan budaya yang kuat, keberadaan batik saat ini menghadapi sejumlah tantangan. Berkurangnya jumlah perajin dan terbatasnya regenerasi menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian. Kondisi tersebut berpotensi menghambat keberlanjutan pengetahuan, keterampilan, dan tradisi membatik yang diwariskan dari generasi ke generasi.

 

Sementara itu, Aji Setyowijaya, S.S., membagikan pengalamannya menekuni dunia batik secara mandiri. Ia menyoroti pentingnya perhatian terhadap teknik dan prosedur pembuatan batik yang dinilai belum memperoleh perhatian memadai. Menurutnya, upaya pelestarian batik perlu juga mencakup keseluruhan proses produksi, termasuk pengetahuan akan bahan dan alat yang digunakan oleh para perajin. Pengetahuan mengenai proses pembuatan, ketersediaan bahan, penggunaan peralatan, serta keterampilan teknis juga perlu dijaga agar tradisi membatik dapat terus lestari dan berlangsung. Perhatian terhadap aspek produksi menjadi semakin penting untuk mendukung keberlanjutan profesi perajin sekaligus membuka ruang bagi inovasi tanpa mengabaikan nilai tradisional.

 

Antusiasme peserta terlihat dari beragam pertanyaan dan tanggapan yang disampaikan selama seminar. Diskusi yang berkembang menunjukkan bahwa batik tidak hanya menarik untuk dibicarakan dari sisi estetika, tetapi juga membuka ruang pembahasan mengenai sejarah, identitas budaya, praktik sosial, keberlanjutan ekonomi, dan tantangan produksi.

 

Seminar Nasional Hari Batik 2026 memperluas pemahaman masyarakat mengenai peran batik dalam kehidupan Indonesia, tidak hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai sarana diplomasi, sumber pengetahuan sejarah, peluang ekonomi, dan ruang inovasi. Pengembangannya perlu diiringi dengan pemberdayaan masyarakat, termasuk perempuan, serta kepedulian terhadap lingkungan dengan melibatkan perajin dan komunitas sebagai bagian penting dalam ekosistem batik. Melalui seminar ini, penyelenggara mengajak masyarakat untuk mengenali dan melestarikan batik secara menyeluruh, mencakup motif, nilai filosofis, pengetahuan, dan keterampilan yang diwariskan antargenerasi. Dengan demikian, batik tidak hanya terjaga sebagai identitas budaya Indonesia, tetapi juga mampu mendukung kesejahteraan masyarakat dan berkembang secara berkelanjutan sebagai sumber inspirasi bagi generasi mendatang.

 

Penulis            : Haryo Untoro
Editor             : Haryo Untoro

Berawal dari Mata Kuliah Tradisi Lisan, Ghibran Arsha Daffa’ Musaffa’ Menghidupkan Kembali Tradisi Gejog Lesung

BeritaKarya MahasiswaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Rabu, 30 September 2026

Pelestarian budaya tidak hanya dilakukan dengan menjaga keberlangsungan tradisi yang masih hidup, tetapi juga dengan menghidupkan kembali kesenian yang mulai ditinggalkan. Upaya tersebut dilakukan oleh Ghibran Arsha Daffa’ Musaffa’, mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (FIB UGM) angkatan 2024. Berawal dari ketertarikannya terhadap tradisi lisan melalui perkuliahan, Ghibran berinisiatif menghidupkan kembali kesenian Gejog Lesung di Dusun Karang Tengah, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Gejog lesung merupakan kesenian tradisional yang memanfaatkan bunyi ketukan lesung sebagai iringan musik. Lesung adalah alat berupa wadah kayu yang digunakan untuk menumbuk gabah menjadi beras. Dalam perkembangannya, aktivitas menumbuk tersebut menghasilkan bunyi berirama yang kemudian dimanfaatkan sebagai bagian dari pertunjukan kesenian. Dalam wawancara yang dilaksanakan secara daring pada 22 September 2026, Ghibran menjelaskan bahwa pertunjukan Gejog Lesung biasanya memadukan ketukan lesung dengan nyanyian lagu-lagu tradisional, seperti Gugur Gunung dan Prau Layar. Di Dusun Karang Tengah, kesenian ini dikenal melalui kelompok Gejog Lesung Ngudi Lestari.

Menurut penuturan Ghibran, keberadaan lesung memiliki keterkaitan erat dengan sejarah Dusun Karang Tengah. Pada wilayah tersebut, ditemukan alat penumbuk berbahan batu, dinamakan watu lumpang yang diperkirakan telah ada sejak sekitar 1632 Masehi. Tradisi menumbuk juga telah berlangsung sejak lama, salah satunya berkaitan dengan peran masyarakat Karang Tengah dalam menyediakan bahan konsumsi bagi para abdi dalem yang membangun kompleks makam raja-raja Mataram di Imogiri. Pada masa itu, kegiatan menumbuk dilakukan untuk mengolah gabah menjadi beras. Seiring perkembangannya, alat penumbuk berbahan batu kemudian digantikan dengan lesung kayu yang dinilai lebih fleksibel untuk digunakan. Aktivitas menumbuk dengan lesung tersebut menghasilkan bunyi yang menarik dan berirama. Bunyi itu tidak hanya mengiringi pekerjaan, tetapi juga dapat meningkatkan semangat saat bekerja serta menjadi tontonan yang menghibur. Dari kebiasaan tersebut, kesenian Gejog Lesung kemudian berkembang sebagai bentuk ekspresi budaya masyarakat setempat.

Dokumentasi Watu Lumpang

Kelompok Gejog Lesung Ngudi Lestari terbentuk pada tahun 1965 dengan pertunjukan yang melibatkan para penumbuk lesung dan penyanyi lagu tradisional. Selanjutnya, di tahun 2000, kelompok ini mulai menghadirkan penari untuk memvisualisasikan isi lagu yang dibawakan. Sebagai contoh, ketika membawakan lagu Gugur Gunung, para penari bergerak dengan menggambarkan kegiatan gotong royong. Perpaduan bunyi lesung, nyanyian, dan tarian tersebut menjadikan pertunjukan lebih beragam.

Dalam perjalanannya, Gejog Lesung Ngudi Lestari kerap tampil dalam berbagai kegiatan masyarakat, mulai dari peringatan hari ulang tahun desa, acara masyarakat, hingga acara kebudayaan. Kelompok ini juga pernah diundang tampil di Kanjengan, Imogiri, dalam rangka tradisi Kirab Siwur, yaitu prosesi mengarak siwur sebagai bagian dari rangkaian ritual nguras enceh. Ritual tersebut dilaksanakan dengan membersihkan dan mengisi air pada wadah di kompleks makam raja-raja Mataram Islam di Imogiri.

Hanya saja, seiring berjalannya waktu, kegiatan kesenian ini mengalami “mati suri” karena tidak adanya regenerasi. Kondisi tersebut mendorong Ghibran untuk mengambil bagian dalam upaya pelestarian kesenian di daerahnya. Ketertarikannya semakin berkembang ketika ia mengikuti mata kuliah Tradisi Lisan di Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa FIB UGM. Perkuliahan tersebut menjadi salah satu titik awal bagi Ghibran untuk mengenal tradisi gejog lesung lebih mendalam sekaligus mendorongnya untuk melakukan upaya pelestarian secara langsung. “Berkat adanya mata kuliah Tradisi Lisan, saya jadi terdorong untuk mengetahui lebih dalam tradisi ini serta menambah semangat saya untuk mengadakannya kembali,” terang Ghibran.

Selain berstatus sebagai mahasiswa, Ghibran aktif dalam organisasi kepemudaan Angkatan Muda-Mudi Islam (AMMI) Karang Tengah, khususnya pada divisi literasi dan edukasi. Melalui keterlibatannya dalam organisasi tersebut, ia menginisiasi pembentukan Gejog Lesung Ngudi Lestari New Generation sebagai upaya meneruskan keberlangsungan kesenian yang sempat terhenti. Inisiatif ini dilakukan dengan melibatkan generasi muda setempat sekaligus mengajak para sesepuh untuk berbagi pengetahuan dan keterampilan mengenai kesenian gejog lesung. “Kami memulainya dari nol dan juga mengajak para sesepuh untuk mau mengajari. Mereka senang karena kesenian ini ada penerusnya,” tambahnya.

Penampilan Gejog Lesung Ngudi Lestari New Generation

Upaya membangun kembali kelompok kesenian tersebut bukan tanpa tantangan. Pada tahap awal, Ghibran menghadapi kesulitan dalam mengajak generasi muda untuk terlibat. Meski demikian, pendekatan yang dilakukan secara bertahap mulai menumbuhkan antusiasme di antara para anggota. “Awalnya memang agak susah-susah gampang. Ada perasaan rendah diri, ada juga yang malu untuk melestarikan ini. Namun, Alhamdulillah, dengan upaya yang kuat, teman-teman jadi semangat dan bahkan ingin ada rencana latihan rutin tiap minggu,” jelas Ghibran.

Perlahan, upaya tersebut mulai membuahkan hasil. Gejog Lesung Ngudi Lestari New Generation kembali tampil dengan memadukan ketukan lesung, nyanyian, tarian, dan kesenian ketoprak dalam kegiatan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus. Penampilan tersebut menjadi langkah untuk memperkenalkan kembali gejog lesung kepada masyarakat sekaligus menumbuhkan ketertarikan generasi muda terhadap kesenian lokal. Upaya ini turut mendapat perhatian dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul dan Wakil Bupati Bantul. Ke depannya, kesenian tersebut direncanakan untuk ditampilkan dalam berbagai program atau kegiatan kebudayaan.

Inisiatif Ghibran menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat berawal dari lingkungan terdekat dan dikembangkan melalui keterlibatan aktif generasi muda. Melalui pengetahuan yang diperoleh di bangku perkuliahan, dukungan organisasi kepemudaan, serta serta keterlibatan para sesepuh dalam pewarisan pengetahuan tradisi, tradisi yang sempat terhenti dapat kembali memperoleh ruang untuk berkembang. Upaya untuk nguri-uri ‘melestarikan’ dan ngurip-urip ‘menghidupkan’ budaya tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak hanya sekadar menjaga identitas semata, tetapi juga membuka ruang bagi budaya untuk memberikan manfaat bagi masyarakat itu sendiri.

 

Penulis           : Haryo Untoro
Editor             : Haryo Untoro

Bersama Titik Renggani, Mahasiswa Diajak Memahami Geliat Sastra Jawa dalam Siaran Radio

BeritaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Senin, 28 September 2026

Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa menyelenggarakan diskusi rutin bertajuk “Geliat Sastra Jawa dalam Media: Cipta, Karya, dan Perubahannya” pada Jumat, 25 September 2026. Pada edisi September ini, diskusi mengangkat tema “Sastra Jawa dalam Siaran Radio” dan dilaksanakan di Ruang 709 FIB UGM pada pukul 13.00–15.00 WIB.

Dalam kegiatan tersebut, Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa menghadirkan Titik Renggani, penyiar senior RRI, pegiat teater, serta pelestari budaya Jawa asal Yogyakarta. Kegiatan dihadiri oleh mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa dari berbagai angkatan serta mahasiswa exchange.

Dalam pemaparannya, Titik Renggani berbagi pengalaman mengenai keberadaan sastra dalam siaran radio, khususnya di RRI. Ia menjelaskan berbagai aspek yang berkaitan dengan proses penciptaan karya sastra, seperti radio, geguritan, majalah udara, feautere, dsb., pembacaan atau penyampaian karya sastra melalui siaran, hingga peran voice actor dalam dunia penyiaran. Selain itu, ia juga memaparkan berbagai peluang yang dapat dikembangkan bagi mereka yang memiliki ketertarikan terhadap dunia radio dan industri kreatif.

Salah satu hal yang menarik perhatian peserta adalah informasi mengenai jumlah audiens RRI Yogyakarta. Pada kesempatan tersebut, Titik Renggani menunjukkan data melalui aplikasi RRI Digital dan menyampaikan bahwa pada hari pelaksanaan kegiatan, Jumat, 25 September 2026, RRI Yogyakarta tercatat didengarkan oleh sekitar 208 ribu audiens. Menurut data yang ditunjukkannya, jumlah tersebut berada di atas jumlah audiens RRI Jakarta dan RRI Surabaya pada saat itu.

Titik Renggani juga memberikan motivasi kepada mahasiswa untuk terus mengembangkan kemampuan dan berkarya melalui bidang yang mereka tekuni. “Bila saya saja yang merupakan lulusan ekonomi mampu untuk terus berkarya dalam siaran, termasuk terkait dengan bahasa dan sastra Jawa, teman-teman juga harus mampu karena mendalami ilmu tersebut,” tuturnya.

 

Setelah sesi pemaparan, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi. Suasana diskusi berlangsung serius, tetapi tetap santai sehingga mendorong peserta untuk aktif menyampaikan pertanyaan. Pertanyaan yang muncul pun beragam, mulai dari proses penciptaan karya sastra Jawa, dunia penyiaran dan RRI, hingga kiat-kiat menghasilkan karya yang menarik dan berkualitas.

 

Diskusi tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk melihat sastra Jawa tidak hanya sebagai objek kajian akademik, tetapi juga sebagai bagian dari praktik kreatif yang dapat hadir dalam berbagai media. Pengalaman yang dibagikan Titik Renggani menunjukkan bahwa radio dapat menjadi salah satu ruang bagi sastra Jawa untuk terus digunakan, dikembangkan, dan diperkenalkan kepada masyarakat.

 

Melalui diskusi ini, peserta memperoleh gambaran mengenai keberadaan dan perkembangan sastra Jawa dalam dunia radio dan penyiaran. Bagi mahasiswa, pengalaman yang dibagikan Titik Renggani juga menjadi wawasan mengenai peluang pengembangan bahasa dan sastra Jawa melalui media kreatif. Diskusi ini sekaligus menunjukkan bahwa upaya nguri-uri ‘melestarikan’ dan ngurip-urip ‘menyemarakkan’ bahasa dan sastra Jawa dapat dilakukan melalui berbagai medium agar tetap hadir dan relevan di tengah perkembangan zaman.

 

Penulis           : Haryo Untoro
Editor             : Haryo Untoro

Abhiseka Kramasisya 2026: Menyambut Mahasiswa Baru melalui Pengenalan dan Ekspresi Seni

BeritaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Minggu, 20 September 2026

Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (FIB UGM), menyelenggarakan Abhiseka Kramasisya 2026 pada Sabtu, 12 September 2026. Kegiatan ini merupakan acara penyambutan dan prosesi pengukuhan mahasiswa baru Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa. Sebagai bagian dari rangkaian awal kehidupan perkuliahan, mahasiswa baru angkatan 2026 mengikuti kegiatan tersebut untuk mengenal lingkungan akademik sekaligus membangun kebersamaan dengan sivitas akademika program studi.

Rangkaian Abhiseka Kramasisya 2026 diisi dengan berbagai kegiatan yang memperkenalkan mahasiswa baru pada kehidupan perkuliahan. Kegiatan diawali dengan penampilan tari pembuka, kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari pembawa acara dan panitia. Mahasiswa baru juga mendapat kesempatan untuk mengenal pengalaman kehidupan kampus melalui talkshow bersama alumni dan sesi tanya jawab dengan dosen. Permainan interaktif turut mencairkan suasana sebelum rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan prosesi siraman sebagai salah satu bagian dari penyambutan mahasiswa baru.

Setelah rangkaian penyambutan tersebut, kegiatan berlanjut ke pentas seni yang memberikan ruang bagi mahasiswa baru untuk mengekspresikan diri melalui berbagai bentuk pertunjukan. Panggung tersebut menjadi kesempatan bagi mereka untuk menampilkan minat dan bakat sekaligus berinteraksi dengan mahasiswa lain, panitia, dosen, dan alumni dalam suasana yang lebih santai. Kreativitas mahasiswa baru terlihat dalam berbagai penampilan yang disajikan, salah satunya melalui teater singkat yang memadukan pesan moral, humor mengenai kehidupan kampus, dan kritik sosial. Para mahasiswa tidak hanya tampil sebagai pemeran, tetapi juga terlibat dalam menghidupkan cerita melalui pengembangan karakter dan penyajian pertunjukan. Penampilan tersebut mendapat respons positif dari penonton melalui gelak tawa dan apresiasi yang diberikan sepanjang pementasan. Lebih dari sekadar hiburan, pentas seni juga menjadi kesempatan bagi mahasiswa baru untuk berani tampil, berkreasi bersama, dan mengenal satu sama lain melalui proses berkarya. Interaksi yang terbangun selama pementasan turut memperkuat suasana kebersamaan di antara mahasiswa baru.

Dokumentasi pentas seni mahasiswa

Melalui rangkaian tersebut, Abhiseka Kramasisya 2026 tidak hanya menjadi kegiatan penyambutan dan pengukuhan mahasiswa baru, tetapi juga menjadi bagian dari pengenalan awal terhadap kehidupan mahasiswa di lingkungan Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa. Pengenalan tersebut tidak berhenti pada kehidupan akademik, tetapi juga menunjukkan bahwa menjadi mahasiswa Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa berarti memiliki ruang untuk mengembangkan kreativitas dan berbagai potensi yang dimiliki. Pentas seni menjadi salah satu ruang untuk mengenalkan hal tersebut kepada mahasiswa baru, bahwa bahasa, sastra, dan budaya Jawa tidak hanya dipelajari melalui kegiatan akademik, tetapi juga dapat dihidupkan melalui kreativitas dan karya. Dengan demikian, kreativitas mahasiswa dapat menjadi bagian dari upaya memelihara, melestarikan, dan mengembangkan budaya Jawa agar tetap hidup dan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.

 

Penulis            : Nurul Fajri Rahmani
Editor             : Haryo Untoro

Mahasiswa Fast Track Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa Ikuti Konferensi Internasional Kajian Linguistik

AlumniBeritaKarya MahasiswaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Senin, 14 September 2026

Pada Kamis–Jumat, 10–11 September 2026, Program Studi Magister Linguistik dan Departemen Bahasa dan Sastra, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (FIB UGM), menyelenggarakan Konferensi Internasional Kajian Linguistik. Kegiatan yang mengangkat tema “Bentuk, Makna, dan Fungsi Bahasa di Era Transformasi Digital” tersebut berlangsung di Gedung Poerbatjaraka, FIB UGM.

Salah satu peserta dalam kegiatan tersebut adalah Haryo Untoro, alumni Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa (BSB Jawa) FIB UGM sekaligus mahasiswa fast track pada Program Studi Magister Linguistik FIB UGM. Dalam konferensi tersebut, Haryo berkesempatan menjadi presenter atau pemakalah dengan mempresentasikan penelitiannya yang berjudul “Negosiasi Identitas Budaya dalam Penerjemahan Puisi Berbahasa Indonesia ke Bahasa Jawa Kuna pada Antologi Puisi Jenggala: Kumpulan Puisi Dwibahasa”.

Penelitian tersebut mengkaji proses pembentukan dan negosiasi identitas budaya dalam penerjemahan puisi berbahasa Indonesia ke bahasa Jawa Kuna. Antologi Jenggala: Kumpulan Puisi Dwibahasa menjadi objek kajian dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa sumber dan bahasa Jawa Kuna sebagai bahasa sasaran. Bahasa Jawa Kuna memiliki posisi yang berbeda dari bahasa Indonesia karena tidak lagi digunakan sebagai bahasa komunikasi sehari-hari dan tidak memiliki penutur asli. Kondisi tersebut menjadi salah satu persoalan yang dikaji dalam penelitian, khususnya terkait dengan bagaimana identitas budaya dinegosiasikan melalui pilihan-pilihan penerjemahan ke dalam bahasa Jawa Kuna.

Pada Kamis, 10 September 2026, Haryo mempresentasikan penelitian tersebut dalam konferensi internasional. Bagi Haryo, konferensi tersebut menjadi pengalaman pertamanya mengikuti konferensi internasional sekaligus mempresentasikan hasil penelitian dalam forum ilmiah. Dalam wawancara pada 18 September 2026, ia mengaku sempat merasa gugup, tetapi tetap berusaha mempersiapkan dan menyampaikan materi dengan sebaik-baiknya.

Keikutsertaan dalam konferensi internasional menjadi salah satu pengalaman akademik yang dapat mendorong mahasiswa untuk terus mengembangkan kemampuan penelitian dan keberanian menyampaikan gagasan dalam forum ilmiah. Di sisi lain, kegiatan akademik tersebut juga menunjukkan bahwa kajian bahasa dan budaya daerah dapat terus dikembangkan melalui penelitian dengan perspektif yang relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan.

Melalui pengalaman tersebut, mahasiswa diharapkan tidak hanya terus mengembangkan kapasitas akademiknya, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap pelestarian dan pengembangan budaya daerah. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan akademik maupun penelitian sebagai bagian dari nguri-uri ‘melestarikan’ dan ngurip-urip ‘menyemarakkan’ budaya agar tetap berkembang dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

 

Penulis           : Nurul Fajri Rahmani
Editor             : Nurul Fajri Rahmani

Divisi Keilmuan HMJ Kamastawa Gelar Sosialisasi KRS dan Perkuliahan bagi Mahadaya 2026

BeritaKarya MahasiswaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Jumat, 11 September 2026

Himpunan Mahasiswa Jurusan Keluarga Mahasiswa Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa (HMJ Kamastawa) melalui Divisi Keilmuan melaksanakan kegiatan Sosialisasi Kartu Rencana Studi (KRS) dan Perkuliahan bagi mahasiswa baru atau Mahadaya angkatan 2026 pada Senin, 11 Agustus 2026. Kegiatan ini diselenggarakan sebagai bentuk pembekalan bagi mahasiswa baru yang mulai memasuki masa pengisian KRS pada 11–14 Agustus 2026.

Dalam kegiatan tersebut, Divisi Keilmuan HMJ Kamastawa memberikan pemaparan mengenai sejumlah hal yang berkaitan dengan persiapan mahasiswa dalam menjalani perkuliahan. Materi yang disampaikan meliputi pengenalan dan pengoperasian Simaster, pengenalan mata kuliah, serta penjelasan mengenai kurikulum 2026. Selain aspek akademik, peserta juga memperoleh informasi mengenai Abhiseka Kramasisya 2026 serta gambaran singkat mengenai Temu Budaya Nusantara (TBN) XXXII, yang merupakan kegiatan tahunan Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Daerah Se-Indonesia (Imbasadi).

Pemaparan mengenai kurikulum 2026 turut menghadirkan Ketua Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Dr. Sulistyowati, S.S., M.Hum. Kehadiran Ketua Program Studi dalam kegiatan tersebut memberikan kesempatan kepada mahasiswa baru untuk memperoleh penjelasan secara lebih mendalam mengenai struktur dan ketentuan kurikulum yang akan mereka jalani. Penjelasan tersebut menjadi penting mengingat terdapat sejumlah perbedaan antara kurikulum 2026 dengan kurikulum yang berlaku bagi mahasiswa angkatan sebelumnya.

Kegiatan sosialisasi berlangsung dalam suasana serius dan interaktif. Mahasiswa baru tidak hanya menyimak materi yang disampaikan, tetapi juga aktif mengajukan berbagai pertanyaan terkait pengisian KRS, mata kuliah, kurikulum, serta kehidupan akademik selama menempuh pendidikan di Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa. Interaksi tersebut menunjukkan antusiasme mahasiswa baru dalam memahami berbagai hal yang akan menjadi bagian dari perjalanan akademik mereka.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa baru angkatan 2026 diharapkan memiliki pemahaman yang lebih jelas mengenai tata cara pengisian KRS, struktur perkuliahan, serta kurikulum yang akan dijalani. Selain memberikan pembekalan akademik, kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk pendampingan HMJ Kamastawa dalam membantu mahasiswa baru beradaptasi dengan lingkungan dan dinamika kehidupan perguruan tinggi.

HMJ Kamastawa melalui Divisi Keilmuan berkomitmen untuk terus mendukung mahasiswa dalam menjalani proses akademik dan kehidupan kemahasiswaan. Pendampingan tersebut diharapkan dapat membantu mahasiswa baru membangun kesiapan, baik dalam aspek akademik maupun dalam keterlibatan mereka di lingkungan Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa.

 

Penulis            : Haryo Untoro
Editor             : Haryo Untoro

Mengenal Lebih Dekat Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa melalui Sesi Keprodian pada Pionir Kampung Budaya 2026

BeritaKarya MahasiswaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Senin, 7 September 2026

Memasuki hari kedua Pionir Kampung Budaya 2026, mahasiswa baru atau Mahadaya mendapatkan kesempatan untuk mengenal lebih dekat program studi yang akan menjadi lingkungan akademik mereka melalui sesi keprodian. Kegiatan tersebut ini dilaksanakan pada Kamis, 6 Agustus 2026, pukul 10.00–11.30 WIB, bekerja sama dengan Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (FIB UGM), dan Himpunan Mahasiswa Jurusan Keluarga Mahasiswa Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa (HMJ Kamastawa).

Sesi keprodian dipandu langsung oleh Ketua Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Dr. Sulistyowati, S.S., M.Hum. Dalam kegiatan ini, Mahadaya diperkenalkan pada berbagai aspek kehidupan akademik di program studi, mulai dari profil program studi dan dosen, peminatan kajian, hingga fasilitas dan layanan akademik. Tiga bidang peminatan yang diperkenalkan meliputi linguistik, filologi, dan sastra. Selain itu, mahasiswa juga memperoleh informasi mengenai pelayanan akademik, termasuk administrasi program studi dan media sosial Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa.

Pengenalan juga mencakup sejumlah informasi mengenai mahasiswa dan perjalanan akademik di Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa. Mahadaya diperkenalkan dengan beberapa mahasiswa berprestasi, mahasiswa yang mengikuti program fast track, serta alumni yang memiliki kiprah di berbagai bidang. Sekilas tentang kurikulum 2026 sebagai kurikulum baru turut disampaikan untuk memberikan gambaran mengenai proses pembelajaran yang akan dijalani mahasiswa selama menempuh pendidikan di program studi.

Sesi keprodian berlangsung dalam suasana serius tetapi santai dan dikemas secara interaktif melalui dialog antara dosen dan mahasiswa. Interaksi juga berlangsung melalui kuis bagi Mahadaya yang berkaitan dengan materi yang telah disampaikan sebelumnya. Mahadaya yang berhasil menjawab pertanyaan dengan tepat mendapatkan hadiah sebagai kenang-kenangan.

Pemutaran video perkenalan Nurmalia Habibah, S.S., M.A., salah satu dosen yang sedang menempuh studi di luar negeri.

Penyerahan hadiah kepada Mahadaya yang berhasil menjawab kuis.

Salah satu momen yang menarik perhatian adalah pemutaran video perkenalan beberapa dosen Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa yang sedang menempuh pendidikan di luar negeri, serta video dari mahasiswa dan alumni. Pemutaran video tersebut memberikan gambaran mengenai pengalaman akademik, kehidupan mahasiswa, dan kiprah alumni yang menjadi bagian dari lingkungan Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa.

Kegiatan ditutup dengan sesi dokumentasi bersama sebagai penanda pertemuan awal antara Mahadaya 2026 dan lingkungan akademik Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa. Melalui kegiatan ini, mahasiswa baru tidak hanya memperoleh informasi mengenai program studi, tetapi juga mendapatkan gambaran awal mengenai lingkungan belajar, bidang kajian, serta berbagai peluang pengembangan diri yang tersedia selama menjalani perkuliahan.

Pelaksanaan sesi keprodian ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) atau tujuan pembangunan berkelanjutan, khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Bermutu melalui pengenalan lingkungan dan proses pembelajaran akademik kepada mahasiswa baru, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi antara program studi dan organisasi mahasiswa.

Selamat datang kepada Mahadaya baru angkatan 2026 di Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa. Mari bersama-sama mempelajari, melestarikan, dan mengembangkan kebudayaan Jawa sebagai bagian dari kekayaan jati diri bangsa serta menghadirkan kebermanfaatan bagi masyarakat.

 

Penulis           : Haryo Untoro
Editor             : Haryo Untoro

Awali Program Pengabdian Masyarakat, Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa UGM Gelar Pertemuan Perdana di SMA Negeri 1 Depok

AlumniBeritaKarya MahasiswaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Jumat, 4 September 2026

Pada Kamis, 3 September 2026, Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (FIB UGM), melaksanakan kunjungan sekaligus pertemuan perdana dalam rangka program pengabdian kepada masyarakat di SMA Negeri 1 Depok, Sleman. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari kerja sama antara Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa FIB UGM dan SMA Negeri 1 Depok melalui program Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ).

Program PKJ dirancang untuk memperkenalkan berbagai aspek bahasa dan budaya Jawa kepada siswa, khususnya aksara Jawa, unggah-ungguh dan budi pekerti Jawa, serta pengetahuan budaya Jawa yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi ruang pembelajaran yang mempertemukan pengetahuan akademik dengan pengalaman kebudayaan secara langsung.

Pertemuan perdana tersebut diawali dengan pembukaan oleh Ketua Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Dr. Sulistyowati, S.S., M.Hum. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan perkenalan tim yang akan terlibat sebagai fasilitator selama pelaksanaan program. Tim fasilitator terdiri atas alumni dan mahasiswa Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, yaitu:

  1. Faradilla Putri Margaretha
  2. Endar Sasmito Aji
  3. Fauzan Adi Fadlurahman
  4. Anggit Galuh Ajar Amanah
  5. Wening Hidayati
  6. Pesdhi Sekar Hayumay
  7. Maysa Putri Fatihah
  8. Muhamad Rafi Nur Fauzy
  9. Pingky Putri Khairani
  10. Meifira Arini Pitaloka
  11. Lakshita Pradnya Dayinta
  12. Dian Patmisari.

Perkenalan teman-teman Fasilitator

Selain memperkenalkan tim fasilitator, pertemuan pertama juga diisi dengan materi dari dua dosen Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa. Dr. Yosephin Apriastuti Rahayu, S.S., M.Hum., menyampaikan materi mengenai aksara Nusantara, termasuk aksara Jawa. Sementara itu, Dr. Bima Slamet Raharja, S.S., M.A., memberikan pemaparan mengenai penggunaan bahasa dan budaya Jawa dalam kehidupan sehari-hari. Penyampaian materi dikemas secara interaktif sehingga siswa dapat mengenal materi kebudayaan Jawa melalui pembelajaran yang lebih dekat dengan pengalaman mereka.

Pemaparan materi oleh Dr. Yosephin Apriastuti Rahayu, S.S., M.Hum., dan Dr. R. Bima Slamet Raharja, S.S., M.A.

Pertemuan pertama ini merupakan awal dari rangkaian tujuh pertemuan yang telah dijadwalkan. Setelah pertemuan perdana, kegiatan pada pertemuan kedua hingga ketujuh akan dilanjutkan oleh para fasilitator melalui pembelajaran dan kegiatan praktik bersama siswa kelas X SMA Negeri 1 Depok.

Pelaksanaan program ini menjadi bagian dari kontribusi Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa FIB UGM dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada poin 4 (Pendidikan Bermutu) melalui pembelajaran bahasa dan budaya Jawa di lingkungan sekolah, poin 10 (Berkurangnya Kesenjangan) melalui perluasan akses terhadap pengetahuan dan pembelajaran kebudayaan, serta poin 11 (Kota dan Komunitas yang Berkelanjutan) melalui upaya pelestarian dan pewarisan budaya Jawa kepada generasi muda. Selain itu, kolaborasi antara Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa FIB UGM dan SMA Negeri 1 Depok juga mendukung poin 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui penguatan kerja sama antara perguruan tinggi dan satuan pendidikan.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, program pengabdian masyarakat ini tidak hanya menjadi bentuk penerapan pengetahuan akademik, tetapi juga menjadi ruang kolaborasi untuk memperkenalkan dan memperkuat pemahaman generasi muda terhadap bahasa dan budaya Jawa.

 

Penulis            : Haryo Untoro
Editor             : Haryo Untoro

Mahasiswi Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa UGM Dokumentasikan Bahasa Temanggung dan Aksara Jawa melalui KKN-PPM di Desa Bansari

BeritaKarya MahasiswaMahasiswaSDGS Rabu, 19 Agustus 2026

Mahasiswi Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa (BSBJ), Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Gadjah Mada (UGM), Eka Nur Cahyani, melaksanakan program pelestarian bahasa dan aksara daerah dalam kegiatan Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) UGM Periode 2 Tahun 2026. Eka yang merupakan mahasiswa angkatan 2023 tergabung dalam unit KKN Waksudha Bansari 2026 dengan kode JT123 yang melaksanakan pengabdian di Desa Bansari, Kabupaten Temanggung, pada tanggal 20 Juni hingga 8 Agustus 2026.

Selama berada di Desa Bansari, Eka menjalankan dua program yang berkaitan dengan bidang keilmuannya, yaitu Nyinau Basa Temanggungan dan Ayo Sinau Aksara Jawa. Program pertama berfokus pada pendokumentasian Bahasa Temanggung dialek Bansari, sedangkan program kedua ditujukan untuk mengenalkan Aksara Jawa kepada siswa SDN Bansari, tepatnya di dusun Pringapus, desa Bansari.

Melalui program Nyinau Basa Temanggungan, Eka menyusun buku saku Kamus Bahasa Temanggung dialek Bansari. Data kosakata dikumpulkan melalui wawancara dengan perangkat desa dan masyarakat yang merupakan penutur asli menggunakan daftar 200 kata Swadesh. Daftar 200 Kata Swadesh (Swadesh 200-word list) merupakan daftar kosakata dasar yang disusun oleh ahli linguistik Morris Swadesh pada tahun 1952. Daftar ini berisi sekitar 200 konsep universal yang diperkirakan dimiliki oleh hampir semua bahasa serta relatif stabil keberadaannya, jarang dipinjam, serta cenderung bertahan dalamwaktu yang lama (Swadesh, 1952).  Data tersebut kemudian dianalisis dan disusun menjadi lema dalam buku saku yang dilengkapi dengan kategori kata serta padanan bahasa Indonesia. Uniknya, penyusunan kamus tersebut juga menjadi penerapan pengetahuan yang diperoleh dari mata kuliah Leksikografi dan Linguistik Interdisipliner. Buku saku tersebut diharapkan dapat mendokumentasikan kosakata Bahasa Temanggung dialek Bansari yang masih digunakan masyarakat sekaligus menjadi media untuk mengenalkan bahasa dan budaya lokal dalam mendukung pengembangan Desa Bansari sebagai desa wisata.

Selanjutnya, program kedua yaitu Ayo Sinau Aksara Jawa dilaksanakan bersama siswa SD Negeri Bansari. Kegiatan dimulai dengan koordinasi bersama guru untuk mengetahui kondisi pembelajaran Aksara Jawa di sekolah. Selanjutnya, materi diberikan melalui flashcard, permainan edukatif, praktik membaca dan menulis, serta pengenalan kaidah penulisan Aksara Jawa.

Antusiasme Para Siswa SDN Bansari dalam Mengikuti Program
Ayo Nyinau Aksara Jawa

Selain membaca dan menulis, Eka juga mengenalkan iluminasi rerenggan pada naskah Jawa kepada para siswa. Iluminasi merupakan pencerahan atau pemertinggi kesan atas halaman naskah melalui teknik penulisan, pola pewarnaan, hiasan dekoratif dan pembingkai teks, rubrikasi, kaligrafi (Behrend, 1996), termasuk pula wedana, rerenggan dan gambar penanda bait (Saktimulya, 2015). Setelah mendapatkan pengenalan mengenai rerenggan sebagai hiasan pada naskah, siswa diajak menghias nama mereka yang telah ditulis menggunakan Aksara Jawa. Dengan kegiatan tersebut, siswa tidak hanya berlatih menulis aksara, tetapi juga mengenal unsur seni dan estetika dalam tradisi naskah Jawa.

Dalam pelaksanaannya, kedua program tersebut tentu juga menghadapi sejumlah tantangan. Pada program Nyinau Basa Temanggungan, misalnya, ditemukan perbedaan penyebutan beberapa kosakata antargenerasi. Kondisi tersebut membuat Eka perlu melakukan verifikasi kepada beberapa narasumber untuk memastikan ketepatan data yang diperoleh. Sementara itu, pada program Ayo Sinau Aksara Jawa, tantangan muncul dari kemampuan siswa yang beragam serta anggapan bahwa Aksara Jawa merupakan materi yang sulit dipelajari.

Meski demikian, kedua program tersebut mendapat sambutan positif dari masyarakat dan pihak sekolah. Dalam penyusunan kamus, masyarakat dan perangkat desa turut memberikan informasi mengenai kosakata yang masih digunakan dalam percakapan sehari-hari. Di sekolah, siswa mengikuti kegiatan Ayo Sinau Aksara Jawa dengan antusias, baik melalui permainan maupun praktik menulis aksara. Menurut Eka, penggunaan media pembelajaran yang interaktif menjadi salah satu cara untuk meningkatkan minat dan kemampuan siswa dalam membaca dan menulis Aksara Jawa.

Pelaksanaan KKN-PPM tersebut menghasilkan dua luaran utama. Program Nyinau Basa Temanggungan menghasilkan buku saku Kamus Bahasa Temanggung dialek Bansari dalam bentuk cetak dan digital yang dapat diakses melalui tautan berikut: https://drive.google.com/file/d/1z5jleLMjLUoRQkwSGrtL1JaqMt6VZSOK/view

Sementara itu, program Ayo Sinau Aksara Jawa menghasilkan sejumlah karya siswa berupa iluminasi rerenggan pada tulisan Aksara Jawa. Kedua luaran tersebut menjadi bagian dari upaya mendokumentasikan bahasa lokal sekaligus mengenalkan aksara dan seni tradisi Jawa kepada generasi muda.

Beberapa contoh karya siswa SDN Bansari

Program KKN-PPM seperti yang dilakukan Eka menjadi salah satu bentuk nyata pengenalan, pelestarian, dan pembumian kekayaan budaya daerah, khususnya bahasa dan budaya Jawa, melalui keterlibatan langsung di tengah masyarakat. Melalui penyusunan buku saku Kamus Bahasa Temanggung dialek Bansari dan pembelajaran Aksara Jawa bagi siswa sekolah dasar, pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan dapat diterapkan sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat. Kegiatan tersebut juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDG’s) poin 4 tentang pendidikan bermutu dan poin 17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan melalui kolaborasi antara mahasiswa, masyarakat, pemerintah desa, dan sekolah.

Penulis           : Eka Nur Cahyani & Haryo Untoro
Editor             : Haryo Untoro

Daftar Pustaka

Behrend, T. E. (1996). Textual Gateways: The Javanese Manuscript Tradition. Dalam A. Kumar & J. H. McGlynn (Ed.), Illuminations: The Writing Traditions of Indonesia: Featuring Manuscripts from the National Library of Indonesia (hlm. 161–200). The Lontar Foundation; New York & Tokyo: Weatherhill, Inc. https://books.google.com/books?id=-n5iAAAAMAAJ 

Swadesh, M. (1952). Lexico-statistic dating of prehistoric ethnic contacts. Proceedings of the American Philosophical Society, 96(4), 452–463.

Saktimulya, S. R. (2015). Naskah-Naskah Skriptorium Pakualaman Periode Paku Alam II (1830–1858): Kajian Kodikologi, Filologi, dan Hermeneutika. École française d'Extrême-Orient.

 

123…18

Recent Post

  • Mahasiswa Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa FIB UGM Raih Penghargaan dalam Temu Budaya Nusantara XXXII di UNS
    Oktober 19, 2026
  • Menggali, Mengenali, serta Memahami Kembali Batik Nusantara Melalui Seminar Nasional Hari Batik 2026
    Oktober 6, 2026
  • Berawal dari Mata Kuliah Tradisi Lisan, Ghibran Arsha Daffa’ Musaffa’ Menghidupkan Kembali Tradisi Gejog Lesung
    September 30, 2026
  • Bersama Titik Renggani, Mahasiswa Diajak Memahami Geliat Sastra Jawa dalam Siaran Radio
    September 28, 2026
  • Abhiseka Kramasisya 2026: Menyambut Mahasiswa Baru melalui Pengenalan dan Ekspresi Seni
    September 20, 2026

Kalender

Oktober 2026
S S R K J S M
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
« Sep    
  • Fakultas Ilmu Budaya
  • Ujian Masuk UGM
  • PPSMB
  • Alumni
  • Jurnal Humaniora
Oktober 2026
S S R K J S M
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
« Sep    

Rilis Berita

  • Mahasiswa Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa FIB UGM Raih Penghargaan dalam Temu Budaya Nusantara XXXII di UNS
    Oktober 19, 2026
  • Menggali, Mengenali, serta Memahami Kembali Batik Nusantara Melalui Seminar Nasional Hari Batik 2026
    Oktober 6, 2026
  • Berawal dari Mata Kuliah Tradisi Lisan, Ghibran Arsha Daffa’ Musaffa’ Menghidupkan Kembali Tradisi Gejog Lesung
    September 30, 2026
Universitas Gadjah Mada

Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
Departemen Bahasa dan Sastra
Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada

 

Jl. Sosiohumaniora, Bulaksumur, Yogyakarta
Telp : 0274-901134 Ext. 110, Fax : 0274-550451, WhatsApp : 08135932426
Email : nusantara@ugm.ac.id

© 2025 Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa FIB UGM

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY