• Universitas
  • Portal Akademik
  • Perpustakaan Universitas
  • Webmail
  • Arnawa
  • UM UGM
  • Bahasa Indonesia
    • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
Departemen Bahasa dan Sastra
Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
  • Halaman Muka
  • Profil
    • Visi & Misi
    • Tujuan
    • Keunggulan
    • Prospek Karier
    • Staf Pengajar
  • Akademik
    • Alur Kurikulum
    • Deskripsi Mata Kuliah
    • Sebaran Mata Kuliah
    • Capaian Pembelajaran
    • INFORMASI PERKULIAHAN DAN ADMINISTRASI
    • KONFERENSI DAN KEGIATAN INTERNASIONAL
    • Kalender Akademik
  • KPPB
    • Kerjasama
    • Pengabdian
      • Pengabdian Masyarakat
      • Siniar (Anarka Lālitya)
    • Penelitian
      • Penelitian Staf Pengajar
      • Arsip Kajian Jawa – Arnawa
    • Beasiswa
  • Kemahasiswaan
    • Hasil Survei Mahasiswa
    • HMJ Kamastawa
    • Kegiatan Mahasiswa
    • Karya Mahasiswa
    • Kanal Youtube
    • Kanal Instagram
  • Alumni
    • Profil Alumni
  • Kontak
  • Beranda
  • PENGABDIAN MASYARAKAT
  • PENGABDIAN MASYARAKAT
  • hal. 2
Arsip:

PENGABDIAN MASYARAKAT

Noviyanti Alfitri Dinobatkan sebagai Diajeng Gunungkidul 2025

BeritaMahasiswaSDGS Senin, 3 Maret 2025

Noviyanti Alfitri (NIM 24/533646/SA/22795), mahasiswa angkatan 2024 program studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa dinobatkan sebagai Diajeng Gunungkidul 2025 pada akhir bulan Februari lalu. Diajeng adalah representasi dari pemudi dari suatu kabupaten—dalam hal ini, Kabupaten Gunungkidul—terkhusus dalam bidang pariwisata. Biasanya Diajeng dipasangkan dengan Dimas (sebagai representasi pemuda). Mereka melakukan promosi pariwisata alam dan berbasis budaya yang ada di kabupatennya serta menjadi ikon pemuda-pemudi.

Proses seleksi pemilihan ikon Dimas-Diajeng ini dimulai dari bulan Desember 2024 lalu. Diawali dari seleksi berkas dan administrasi, seleksi tertulis, seleksi wawancara, lalu pengumuman 15 finalis yang dikarantina, dan dinobatkan secara resmi di malam penobatan pada tanggal 22 Februari 2025.

Sebagai penyandang titel Diajeng Gunungkidul, Noviyanti atau yang akrab dipanggil Upik ini memiliki tanggung jawab utama yaitu membantu bidang pemasaran di Dinas Pariwisata dalam promosi pariwisata yang ada di kabupaten Gunungkidul.

Bukan malam penobatan, menurut Upik, pengalaman paling berkesan selama menjalani proses seleksi Dimas-Diajeng ini malah saat karantina. Di masa karantina, Upik mendapatkan banyak sekali ilmu mulai dari materi kepariwisataan, kebudayaan, keistimewaan daerah, public speaking, dan lain-lain. Hal ini membuat pengetahuan Upik bertambah banyak dan Upik belajar hal-hal baru dalam masa karantina tersebut.

Selain momen paling berkesan, Upik juga menceritakan bahwa ia sempat merasakan kesusahan dalam manajemen waktu. Karena linimasa proses seleksi yang padat, Upik harus menyesuaikan diri dengan jadwal kuliahnya di UGM dengan kegiatannya yang lain. Namun, untungnya Upik bisa menjalani semuanya dengan lancar dengan membuat skala prioritas.

Kendati sudah dinobatkan sebagai Diajeng Gunungkidul 2025, Upik menyadari bahwa dia masih bagian dari mahasiswa Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa UGM. Karena itu, Upik ingin banyak berkontribusi untuk program studinya ini. Ia ingin melakukan beberapa hal; jadi penulis atau peserta dalam Ubud Writers & Readers Festival di Bali, menjadi talent atau tim produksi dalam kegiatan Gugur Gunung, dan mungkin mengikuti lomba untuk membawa nama program studi. Selain itu Upik juga memiliki cita-cita untuk bisa menulis antologi miliknya sendiri.

Wah, banyak sekali yaa keinginan dan cita-cita Upik! Semoga semua yang Upik cita-citakan tersebut bisa tercapai dengan jalan yang mulus tanpa halangan berarti. Dengan cerita ini, semoga mahasiswa lainnya juga termotivasi untuk menjalani hal yang disukai dan semakin mengembangkan diri, ya!

Membawa Kebanggaan sebagai Mahasiswa Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa serta Menginspirasi Siswa Sekolah

BeritaMahasiswaSDGSWorkshop Jumat, 24 Januari 2025

Tidak kalah dengan program studi terkenal lain, ternyata menjadi mahasiswa Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa itu juga bisa membanggakan dan menginspirasi orang sekitar, loh! Contohnya adalah Dian Nitami (Dian) dan Miktahul Ulumudin (Ulum) berikut ini. Keduanya adalah mahasiswa jurusan Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa angkatan tahun 2023 dan 2024.

Dian dan Ulum diundang ke acara Campus Expo tahunan yang diadakan oleh ikatan alumni MAN 1 Tulungagung, melalui Forum Komunikasi Mahasiswa Tulungagung (FKMT). Campus Expo ini diadakan pada Rabu, 15 Januari 2025 lalu di MAN 1 Tulungagung. Seperti acara Campus Expo pada umumnya, disini Dian dan Ulum bertugas mengedukasi dan berbagi pengalaman tentang menjadi mahasiswa UGM. Mereka membahas topik seputar seleksi masuk UGM, edukasi UKT, beasiswa KIP, dan selayang pandang tentang UGM itu sendiri.

Campus Expo ini sendiri dihadiri oleh seluruh kelas 10-12, namun untuk sesi seminar khususnya dihadiri oleh kelas 12 dimana kelas tersebut pastinya sedang mempersiapkan ujian untuk masuk kuliah. Dian diundang menjadi salah satu pembicara karena ⁠ia termasuk mahasiswa beruntung yang berkesempatan berkuliah UGM dengan pembiayaan dibantu beasiswa. Jadi di acara ini Dian memberikan testimoni bahwasanya beasiswa di UGM sangat terbuka bagi para mahasiswanya dari jalur seleksi masuk manapun.

 

Dari sudut pandang Dian dan Ulum, siswa MAN 1 Tulungagung ⁠tentunya sangat senang karena dapat bertemu dengan kakak-kakak yang berkuliah di UGM. Lalu kejadian yang mengesankan adalah ketika para pembicara masuk, mereka disambut dengan lagu selebrasi Pionir dengan antusiasme Mantasa (sebutan siswa MAN 1 Tulungagung) yang meluap-luap. Kemudian di sesi penutupan pun dimeriahkan kembali oleh tarian selebrasi Pionir tersebut sehingga ini menandakan bahwa siswa MAN 1 Tulungagung benar-benar bersemangat mengikuti sesi seminar ini.

Lalu bagi Dian, kesan yang didapat dari pengalaman ini adalah rasa senang karena ini merupakan kali pertama Dian berkesempatan menjadi pembicara yang tentunya bisa mengedukasi serta memotivasi para siswa MAN tersebut.

Dengan adanya cerita berharga ini dari Dian dan Ulum, diharapkan hal ini bisa menjadi inspirasi bagi teman-teman mahasiswa lain untuk tetap selalu bisa memberikan manfaat dan menebar semangat positif kepada orang di sekitar, bahwasanya menjadi bagian dari keluarga mahasiswa jurusan Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa itu membanggakan dan tidak kalah keren dari jurusan lain.

Pameran Filologi: Alih Wahana Menguak Pesan Masa Lalu untuk Kini dan Masa Depan

BeritaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Senin, 9 Desember 2024

Dikutip utuh dari: hystoryana.blogspot.com

Filologi, sebagai kajian tentang naskah dan teks klasik, mempunyai peranan penting dalam menjaga warisan budaya dan sejarah suatu bangsa. Salah satu aspek yang menarik dalam filologi adalah upaya untuk memahami dan mengalih wahana naskah, yang berarti mentransformasikan naskah-naskah kuno dari format asli mereka ke bentuk-bentuk baru yang lebih mudah diakses dan dipelajari, seperti dalam bentuk cerita bergambar, kain batik, dan lain sebagainya.

Paleografi adalah disiplin ilmu yang mempelajari mengenai karakter tulisan-tulisan kuno yang ada pada naskah atau manuskrip. Sebagai ilmu yang mendukung peminatan Filologi, Paleografi menjadi mata kuliah wajib Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya.

Pada hari Jumat, tanggal 6 Desember 2024 Program Studi Bahasa, Sastra dan Budaya Jawa menggelar pameran alih wahana yang diinisiasi oleh dosen pengampu mata kuliah Filologi, Dr. Sri Ratna Saktimulya M.Hum,. dan Dr. Arsanti Wulandari M.Hum,. Pameran alih wahana ini melibatkan mahasiswa Magister Sastra dalam mata kuliah Filologi dan S1 Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa untuk mata kuliah Paleografi. Pameran filologi "Mengalih Wahana Naskah" bertujuan untuk memperkenalkan kepada publik mengenai pentingnya naskah-naskah kuno dalam pembentukan sejarah dan budaya Indonesia. Naskah-naskah tersebut tidak hanya berfungsi sebagai dokumen sejarah, tetapi juga sebagai sarana pemahaman nilai-nilai luhur dan kebijaksanaan yang diwariskan oleh leluhur kita. Pameran ini juga menggali bagaimana naskah-naskah tersebut bertransformasi dari bentuk tulisan tangan menjadi suatu tulisan bergambar yang lebih menarik maupun kain batik yang dapat dikenakan. Menjadi sarana untuk mengenalkan kepada masyarakat bahwa naskah kuno bukan hanya sekadar dokumen teks, tetapi juga karya seni yang mengandung nilai estetik  tinggi.

Mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa dalam Pameran Alih Wahana

“Sangat senang bisa menyelenggarakan pameran ini, sebelumnya kita yang angkatan 2023 diminta untuk membatik kain, lalu akan dipamerkan pada hari ini, seru bisa mencoba membatik kain dan sekaligus mendapatkan nilai Ujian Akhir Semester” ungkap Dwiyan Teguh, salah satu mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya.

Pameran ini memamerkan kain-kain batik yang sebelumnya telah dibuat oleh mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa dalam workshop Alih Wahana. Kain batik selempang panjang tersebut ditulis berdasarkan minat setiap mahasiswa. Terdapat 3 aksara yang dapat dipilih untuk menuliskan kalimat proposisi yang sudah dibuat. Aksara Jawa, Aksara Pegon, dan Aksara Bali, masing-masing memiliki keunikan dan keindahannya sendiri. Dr. Arsanti Wulandari M.Hum,. mengungkapkan bahwa projek ini akan diambil nilainya sebagai pemenuhan Ujian Akhir Semester mata kuliah Paleografi tahun 2024. Terdapat pula cerita bergambar yang dibuat oleh mahasiswa Magister Sastra.

Mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa Membatik Kain untuk Pameran Alih Wahana

Diharapkan dengan adanya pameran Filologi: Alih Wahana ini mampu mengenalkan masyarakat awam terhadap eksistensi Filologi sebagai ilmu yang bermanfaat untuk kehidupan. Naskah-naskah kuno dapat diserap pelajarannya dengan ilmu Filologi untuk bekal untuk kehidupan kini dan masa depan. Selain itu, pameran ini menjadi salah satu cara untuk melestarikan naskah kuno dalam kebudayaan Jawa.

Malam Awarding Temu Budaya Nusantara XXX, Menampilkan Wayang Lakon Gajah Mada Kridha (Ra Kuti Balela)

BeritaKarya MahasiswaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Rabu, 20 November 2024

Kamis malam (14/11/2024), Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa menggelar acara pementasan wayang dengan lakon Gajahmada Kridha (Ra Kuti Balela). Malam tersebut sekaligus menjadi malam penganugerahan juara kepada para pemenang lomba Temu Budaya Nusantara XXX, pementasan wayang ini juga diselenggarakan dalam rangka Peringatan Hari Wayang Dunia. Pementasan wayang dilaksanakan di Greenland Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada. Didalangi oleh M. Rafi Nur Fauzy, mahasiswa angkatan 2023 Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa dan bekerjasama dengan Unit Kesenian Jawa Gaya Surakarta (UKJGS) UGM, pementasan wayang Gajahmada Kridha berjalan dengan lancar.

Berdasarkan wawancara dengan Rafi, Gadjahmada Kridha (Ra Kuti Balela) menceritakan tentang peran Gajah Mada dalam menumpas pemberontakan Ra Kuti, seorang Dharmaputra atau abdi dalem pada masa itu. Pemberontakan yang dilakukan Ra Kuti ini didasari oleh rasa tidak puas terhadap Raja Jayanegara yang sangat lemah dan mudah disetir oleh bawahannya. Hal tersebut membuat beberapa punggawanya tidak senang, termasuk Ra Kuti. Ra Kuti menginginkan kembalinya harkat dan martabat Majapahit kala itu. Namun, ternyata gagasan Ra Kuti tidak disetujui oleh masyarakat sehingga masyarakat menganggap bahwa Ra Kuti melakukan sebuah pemberontakan. Saat Ra Kuti berhasil menduduki ibu kota, Jayanegara berhasil dilarikan oleh pasukan Bhayangkara. Setelah menyusun strategi, pasukan Bhayangkara bisa membalikkan keadaan dan Ra Kuti mati di tangan Gajah Mada.

Pemberontakan yang dilakukan oleh Ra Kuti mengubah seorang Gajah Mada yang awalnya hanya sebagai komandan prajurit kemudian diangkat menjadi patih. Awal pemberontakan ra kuti sebagai Dharmaputra disebabkan adanya adu domba, oleh Mahapati, orang yang licik. Dia membuat siasat agar semua pendahulu Majapahit habis dan Mahapati bisa menyetir negara, walaupun ia tak menginginkan kedudukan raja. Gajahmada yang mengetahui kedok Mahapati berhasil membuat Mahapati mati di tangan Gajah Mada.

Pementasan wayang Gajadmada Kridha (Ra Kuti Balela) yang didalangi oleh Rafi Nur Fauzy

Banyak proses terjadi dalam penulisan sanggit atau naskah pementasan wayang kali ini. Dengan bantuan R. Bima Slamet Raharja, S.S., M.A., dan Dr. Rudy Wiratama, S.I.P., M.A., sebagai akademisi dan praktisi wayang, Rafi mengungkapkan “Awalnya membaca Negara Kertagama tapi tidak ada secara eksplisit peran Gajah Mada didalamnya. Lalu konsultasi dengan Pak bima dan Pak Rudy disarankan membaca komik, tutur tinular, dan Pararaton.” Dapat membawakan sanggit hasil guratan tangan sendiri menjadi hal yang membanggakan dan menyenangkan untuk Rafi. Namun, sayang kurang ada apresiasi yang besar dari Fakultas Ilmu Budaya terkait pementasan pewayangan ini. Langkah awal yang baik bagi Program Studi Bahasa, Ssastra, dan Budaya Jawa dapat menyelenggarakan pagelaran wayang di Fakultas Ilmu Budaya, terutama untuk mengenalkan kepada mahasiswa dan warga Universitas Gadjah Mada tentang pewayangan.

Diharapkan dengan adanya pementasan wayang ini, semakin banyak mahasiswa maupun masyarakat umum yang tertarik dengan pewayangan, karena pada dasarnya wayang di era globalisasi ini sudah lebih fleksibel, tidak terpaku pada konvensi pedalangan. Tidak mengharuskan wayang klasik, tetapi boleh juga kontemporer sesuai dengan selera masing-masing. Untuk generasi muda agar bisa mencintai wayang dari apa yang menurut mereka menarik, bisa dari musik iringannya, ceritanya, dan tokohnya. Terdapat banyak sekali pelajaran hidup yang dapat dipetik dari pewayangan, yang dapat digunakan untuk bekal menjalani kehidupan kelak.

Seputar Jawa: Tembang Dolanan Sebagai Alat Komunikasi Berbahasa Jawa

BeritaLain-lainSDGS Selasa, 5 November 2024

Dikutip langsung dari music.youtube.com

Sedang viral sebuah kidung atau nyanyian Jawa di media sosial berjudul “Lela Ledhung”, lagu ini sangat banyak dibawakan atau dijadikan backsound sebuah video. Lela Ledhung adalah lagu yang diciptakan oleh Markasan. Lagu yang dimaksudkan oleh Markasan sebagai tembang pengantar tidur, yang kemudian menjadi lagu yang cukup popular di masa pasca kemerdekaan Republik Indonesia. Lela Ledung menjadi viral karena penampilan Yogyakarta Royal Orchestra pada Konser Hari Penegakan Kedaulatan Negara 2024. Lela Ledhung yang memiliki laras pelog diaransemen oleh ML. Widyoyitnowaditro (Joko Suprayitno, S. Sn., M. Sn.) ke dalam format orchestra dengan apik.

Lela Ledhung ini masuk kedalam salah satu contoh tembang dolanan Jawa. Tembang dolanan Jawa, sebuah jenis lagu tradisional yang sarat dengan nilai-nilai budaya. Dikenal sebagai lagu-lagu yang sering diperdengarkan dalam permainan anak-anak, tembang dolanan mengandung filosofi mendalam yang tak hanya mengajarkan nilai moral, tetapi juga melestarikan kearifan lokal melalui musik. Tembang dolanan merupakan bagian penting dari tradisi musik Jawa, yang melibatkan permainan kata dan nada yang mudah diingat. Bahasa yang digunakan dalam tembang dolanan terbilang sederhana dan mudah dilafalkan, merujuk dari Winarti (2010) tembang dolanan menunjukkan beberapa fungsi-fungsi bahasa sebagai alat komunikasi dalam bahasa Jawa.

Berdasarkan penelitian Winarti. D (2010) dalam Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Widyaparwa mengenai Lirik Lagu Dolanan sebagai Salah Satu Bentuk Komunikasi Berbahasa Jawa, beberapa fungsi bahasa yang ada dalam lagu Lela Ledhung, antara lain:

  • Fungsi regulatoris

Lagu Lela Ledhung memiliki fungsi regulatoris terletak pada liriknya “Cep menenga aja pijer nangis” yang memiliki makna untuk menyuruh seseorang, karena pada dasarnya fungsi regulatoris ini ditandai dengan penggunaan kata perintah.

  • Fungsi interaksi

Sering kali dijumpai kata-kata interaksi dalam lagu dolanan seperti bentuk sapaan dan pertanyaan, seperti pada lirik “Anakku sing ayu rupane” merupakan sapaan untuk anaknya yang berwajah cantik.

  • Fungsi personal

Fungsi personal biasanya menunjukkan tentang dirinya sendiri, contohnya menunjukkan sifat cantik untuk anaknya sendiri.

  • Fungsi heuristik

Merupakan penggunaan bahasa untuk memperoleh ilmu pengetahuan dan bersifat mendidik, contohnya “Dadia wanita utama” dan “Dadia pendekaring bangsa”

  • Fungsi imajinatif

Memberikan gagasan yang bersifat imajinasi dan khayalan-khayalan, seperti pada lirik “Kae bulane ndadari kaya ndhas buta nggilani” memberikan imajinasi bahwa bulannya besar seperti buta atau raksasa.

  • Fungsi Informatif

Lagu dolanan banyak menggunakan bahasa yang mengandung informasi, memberikan pernyataan atau menjelaskan sesuatu. Contoh pada lagu Lela Ledhung terdapat pada lirik jika menjadi orang utama maka dapat menaikkan derajat dan nama orang tua.

  • Fungsi Puitik

Sebuah lagu diciptakan pasti mengandung unsur keindahan didalamnya, seperti penggunaan rima dan gaya bahasa atau diksi tertentu, contohnya “Tak emban slendhang bathik kawung” dilanjutkan dengan “Yen nangis mundhak gawe bingung” memiliki rima yang sama yakni “ung”

Fungsi-fungsi yang ada di lagu Lela Ledhung ini juga berlaku untuk tembang dolanan yang lainnya. Walaupun bahasa yang digunakan sederhana tetapi lagu dolanan memiliki banyak fungsi dan nilai-nilai yang ada didalamnya, yang dapat memberikan pengajaran dan pelajaran hidup bermasyarakat. Dengan semangat pelestarian budaya, tembang dolanan Jawa bukan hanya menjadi hiburan, tetapi juga media yang efektif untuk menyampaikan ajaran-ajaran luhur yang masih relevan bagi kehidupan modern saat ini.

DAFTAR PUSTAKA

Winarti, D. (2010). Lirik Lagu Dolanan Sebagai Salah Satu Bentuk Komunikasi Berbahasa Jawa: Analisis Fungsi. Widyaparwa, 38(1), 1-12.

Mewakili Provinsi Yogyakarta, Kintan Dewinta Menjadi Runner Up 1 Duta Budaya Indonesia 2024

BeritaKegiatan MahasiswaSDGS Jumat, 1 November 2024

Setelah berhasil menjadi Putri Duta Budaya Yogyakarta 2024, Kintan Dewinta Putri mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa angkatan 2022 kembali melanjutkan perjuangannya dengan mewakili Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dalam ajang Duta Budaya Indonesia 2024. Ajang pencarian Duta Budaya Indonesia 2024 ini dilaksanakan pada 19-21 September 2024 berlokasi di Kota Surabaya, Jawa Timur.

Selama empat hari rangkaian acara, Kintan mendapatnya banyak pelatihan dan workshop seperti, cara membangun personal branding dan materi tentang kesehatan kulit. Banyak kegiatan yang dilakukan Kintan bersama Duta Budaya lain dari berbagai daerah, mulai dari photoshoot hingga city tour. Dalam ajang Duta Budaya Indonesia 2024 ini, Kintan berhasil menempati posisi Runner Up 1. “Sempat merasa down dan overthinking tidak bisa membawa gelar juara, tapi Alhamdulillah masih diberikan kepercayaan sebagai Runner Up 1 Duta Budaya Indonesia 2024,” ungkap Kintan terkait dengan kesan yang dirasakan.

Kintan Dewinta Putri memakai busana Besiyaran khas Yogyakarta

Pengalaman dan prestasi Kintan diharapkan dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, serta mampu bermanfaat bagi orang-orang sekitar baik untuk saat ini dan di masa depan. Kintan menyampaikan pesan bahwasannya bagi seluruh generasi muda jangan malu untuk memulai suatu hal karena kesuksesan juga harus diawali dengan usaha. Kintan menambahkan harapan semoga keluarga besar Duta Budaya Indonesia semakin erat, terjaga solidaritas dan persatuan diantara keberagaman budaya Indonesia.

Langkah kintan sebagai Duta Budaya Yogyakarta 2024 dan Runner Up 1 Duta Budaya Indonesia 2024 patut menjadi contoh untuk mahasiswa dan masyarakat umum terkait peran pelestarian kebudayaan lokal. Tidak hanya Duta Budaya yang memiliki tugas untuk nguri-uri budaya, tetapi sudah menjadi kewajiban bagi seluruh lapisan masyarakat. Meningkatkan toleransi dan mempererat persatuan dapat dimulai sebagai langkah awal yang baik.

Kamastawa Mengajar dan Berbagi Hadir Kembali: Berbagi Tawa, Ilmu, dan Rezeki di Panti Asuhan PYI

BeritaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Senin, 23 September 2024

Sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat, Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Keluarga Mahasiswa Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa (Kamastawa) kembali menggelar acara “Kamastawa Mengajar dan Berbagi” pada Minggu, 22 Oktober 2024. Acara ini merupakan hasil kolaborasi antara divisi sosial dan masyarakat (sosmas) serta divisi keilmuan, dengan tujuan memberikan dampak positif kepada masyarakat, khususnya bagi anak-anak di Panti Asuhan PYI Yatim dan Zakat cabang Wirobrajan, Yogyakarta.

Terdapat 16 anak-anak dari jenjang kelas 1 SD hingga 1 SMP yang terlibat dalam acara tersebut. Acara dibuka pada pukul 09.00 WIB dengan sesi pembukaan dan perkenalan. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa dan anak-anak berkesempatan untuk bermain bersama, menciptakan suasana ceria dengan canda dan tawa. Kebersamaan ini menjadi fondasi penting dalam merajut keakraban antara mahasiswa dan peserta.

Sesi pembukaan dan perkenalan

Setelah sesi perkenalan dan permainan, acara berlanjut dengan kegiatan belajar-mengajar. Peserta dibagi menjadi tiga kelompok sesuai jenjang pendidikan: kelompok 1 untuk kelas 1-2 SD, kelompok 2 untuk kelas 3-4 SD, dan kelompok 3 untuk kelas 5 SD hingga 1 SMP. Setiap kelompok mendapatkan materi yang disesuaikan dengan usia dan tingkat pemahaman mereka, mulai dari percakapan bahasa Jawa sehari-hari, menulis aksara Jawa, konsultasi tugas mata pelajaran Bahasa Jawa, dan lain sebagainya. Beragam metode pengajaran digunakan oleh mahasiswa agar pembelajaran dapat berlangsung dengan menyenangkan dan mudah dipahami oleh anak-anak.

Sesi belajar-mengajar

Setelah sesi belajar selesai, tibalah saatnya ice breaking, di mana para peserta diajak bernyanyi bersama lagu aja ndomblong aja dan mengikuti tebak-tebakan berhadiah. Sesi ini berhasil memantik anak-anak itu aktif dengan cara yang mengasyikkan.

Pemberian hadiah kepada peserta pemenang tebak-tebakan

Antusiasme anak-anak dapat dirasakan dari awal hingga akhir kegiatan, terutama ketika pembagian bingkisan kecil sebagai apresiasi atas keaktifan para peserta. Selain itu, Kamastawa juga memberikan buku Pepak Basa Jawa dan buku bacaan sebagai bentuk dukungan terhadap perkembangan pendidikan peserta kedepannya. Diharapkan, para peserta dapat dengan mudah mengakses pengetahuan da memperkaya wawasannya, tidak terkecuali yang berkaitan dengan pengetahuan dan pelestarian budaya Jawa.

Penyerahan buku-buku bacaan kepada pihak panti asuhan

Hadiah yang diberikan mungkin dinilai sederhana. Akan tetapi, doa, harapan, dan niat yang tulus untuk berbagi akan terus hidup dan menjadi landasan dalam pelaksanaan program ‘Kamastawa mengajar dan berbagi’ kini dan nanti.

Seputar Jawa: Rekaman Wabah Penyakit dan Metode Penyembuhannya dalam Kesusastraan Tulis Jawa

BeritaLain-lainSDGS Rabu, 18 September 2024

Dikutip utuh dari: cebu.fkkmk.ugm.ac.id

Baru-baru ini, World Health Organization (WHO) menetapkan cacar monyet (Monkeypox) sebagai darurat kesehatan global. Penyakit yang pertama kali menular pada manusia pada tahun 1970 di Republik Kongo ini telah terdeteksi di Indonesia, dan hingga 17 Agustus 2024, tercatat 88 kasus terkonfirmasi (Rokom, 2024).  Kejadian ini mengingatkan kita pada pandemi COVID-19 yang melanda dunia pada tahun 2020.

Sejarah wabah penyakit sebenarnya bukan hal baru. Flu Asia (1957-1958), Flu Spanyol (1918-1920), dan The Black Death (1346-1353) (Kautsar, 2024), hanyalah sebagian contoh dari wabah besar yang pernah melanda dunia. Selain wabah besar, berbagai endemi kecil juga kerap terjadi di beberapa wilayah tertentu.

Ragam wabah pernyakit telah tercatat dalam naskah dan catatan tertulis. Taruna Dharma Jati, Muhammad Ibu Prarista, Zalsabila Purnama, & Zakariya Pamuji Aminullah (2022) dalam artikel ilmiah berjudul Lawe Wĕnang Singid: Benang Merah Kontinuitas Penanganan Pagĕblug dalam Perspektif Kesusastraan Jawa menerangkan bahwa kesusastraan tulis Jawa telah memuat informasi berupa jejak dan penanganan wabah secara fisik dan kosmologis dalam kesusastraan lisan dan tulis Jawa.

Beberapa naskah yang memuat informasi mengenai penanganan wabah penyakit secara fisik di antaranya adalah Naskah Ngelmu Kawarasan oleh Sardjita (1920), Naskah Lĕlĕmbut Kolerah oleh Samsimihardja (1914), dan Naskah Lĕlara Gudhig oleh Sardjita (1921). Naskah-naskah ini memberikan panduan tentang pencegahan dan pengobatan berbagai penyakit yang pernah melanda masyarakat pada zamannya.


  • Naskah Ngelmu Kawarasan

Naskah Ngelmu Kawarasan memuat pengetahuan tentang penyakit seperti malaria, cacar, pes, dan tuberkulosis. Salah satu bagian dari naskah ini menjelaskan cara penanggulangan wabah pes:

[...] Rekadaya kangge nanggulangi pes, botĕn wontĕn malih kajawi tikus-tikus punika kĕdah dipuntumpĕs. Griya-griya ingkang kĕrĕp dipunrĕsiki. Sarta sampun nyimpĕni sisa tedha

"Upaya penanggulangan pes, tiada lagi selain menumpas tikus-tikus, rumah-rumah sering dibersihkan, serta jangan menyimpan sisa makanan."

Panduan ini menunjukkan pentingnya kebersihan lingkungan sebagai langkah pencegahan terhadap penyakit menular seperti pes, yang ditularkan oleh tikus.


  • Naskah Lĕlĕmbut Kolerah

Naskah Lĕlĕmbut Kolerah berfokus pada cara-cara menghindari penyakit kolera. Berikut adalah salah satu isi naskah tersebut:

[...] Prentah nagara dikon ngombe banyu bening wedang ora kĕna mamangan kang ora matĕng, ora kalawan diratĕngi adus ing bangawan.

"Perintah negara menyuruh minum air putih yang telah dimasak, tidak boleh makan makanan yang mentah, dan seringlah mandi di sungai."

Di sini, terlihat penekanan pada konsumsi air matang dan kebersihan diri sebagai langkah pencegahan.


  • Naskah Lĕlara Gudhig

Naskah Lĕlara Gudhig Naskah ini menjelaskan mengenai cara pencegahan dan penyembuhan penyakit gudik (gudhig), yaitu penyakit kulit menular. Salah satu kutipan dari naskah ini menyebutkan:

[...] Supaya wong sing wis waras iku ora kumat maneh. Yen panyegahe lalara gudhig iku arĕp ditindakake supaya wong-wong bumi liya-liyane padha bisa milu. Dheweke kudu dipĕrdi rĕsikan, yaiku: ngrĕksa rĕsiking kulite ing panggonan-panggonan sing pĕrlu. Sedhiyan banyu adus kudu dibecikake. Sarta kudu ambudidaya supaya rĕgane sabun dimurah bangĕt, nganti wong miskin padha kelar sabunan. Wong-wong mau ditĕrangake sing tĕmĕnan, yen ora mung awake bae sing mesthi rĕsikan nanging sandhangan lan paturone uga mangkonoa. [...]

"Agar orang yang sudah sehat dari penyakit gudik tidak kambuh lagi, pencegahan penyakit gudik baiknya dilakukan supaya orang-orang daerah lain bisa saling mengikuti. Mereka harus dibiasakan hidup bersih, menjaga kebersihan kulit dan tempat-tempat yang dirasa perlu. Menyediakan air yang baik untuk mandi, serta harus mengusahakan agar harga sabun dimurahkan hingga orang miskin dapat memakai sabun. Orang-orang tersebut dijelaskan dengan sungguh-sungguh, bahwasannya tidak hanya diri yang harusbersih tetapi juga pakaian dan tempat tidur juga demikian. [...]"

Pesan ini menyoroti pentingnya kebersihan pribadi dengan akses terhadap alat kebersihan, seperti sabun, serta memastikan pakaian dan tempat tidurnya bersih, untuk mencegah penyakit kulit.

 

Penjelasan di atas hanyalah sedikit dari beragam penjelasan mengenai pencegahan wabah dalam kesusastraan Jawa. Meskipun dapat dikatakan sebagai barang yang lawas, namun prinsip-prinsip yang termuat masih relevan hingga kini, terutama dalam konteks pencegahan wabah penyakit yang menular melalui lingkungan tidak bersih.

Penggalian lebih lanjut terhadap naskah-naskah Jawa kuno adalah langkah penting untuk memperluas wawasan kita tentang sejarah kesehatan dan pengobatan di Indonesia. Kolaborasi antara akademisi, ahli filologi, dan praktisi kesehatan dapat membantu mengembangkan pengetahuan yang tercatat dalam naskah-naskah tersebut, sehingga dapat bermanfaat bagi masyarakat luas.

 

DAFTAR PUSTAKA

Bestari, N.P. (2022, 24 Juli). Sejarah Perjalanan Cacar Monyet dari Afrika sampai Mendunia. Cnbcindonesia.com. Diakses dari https://www.cnbcindonesia.com/news/20220724153248-4-358100/sejarah-perjalanan-cacar-monyet-dari-afrika-sampai-mendunia.

 

Jati, T.D., Prarista, M.I., Purnama, Z. & Aminullah, Z.P. (2022). Lawe Wĕnang Singid: Benang Merah Kontinuitas Penanganan Pagĕblug dalam Perspektif Kesusastraan Jawa. Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara, 13(01), 95-112, dari https://doi.org/10.37014/jumantara.v13i1.2847. 

 

Rokom. (2024, 18 Agustus). 88 Kasus Konfirmasi Mpox di Indonesia, Seksual Sesama Jenis jadi Salah Satu Penyebab. Sehatnegeriku.kemkes.go.id., Diakses dari https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20240818/1546252/88-kasus-konfirmasi-mpox-di-indonesia-seksual-sesama-jenis-jadi-salah-satu-penyebab/. 

 

DAFTAR GAMBAR

Cebu.fkkmk.ugm.ac.id. (2020, 19 Agustus). CE&BU Bersama PKMK dan Cochrane Indonesia Menyelenggarakan Webinar Mengenai Bukti Ilmiah tentang Penanganan Wabah Pandemik COVID-19. Dikutip pada https://cebu.fkkmk.ugm.ac.id/2020/08/19/cebu-bersama-pkmk-dan-cochrane-indonesia-menyelenggarakan-webinar-mengenai-bukti-ilmiah-tentang-penanganan-wabah-pandemik-covid-19/.

Mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa Mendalangi Pergelaran Wayang Kulit Lakon Gajah Mada Suci

BeritaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Senin, 9 September 2024

Pada Senin malam (19/08/2024), Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan pertunjukkan wayang kulit dalam rangka Dies Natalis Fakultas Filsafat. Pertunjukan tersebut menampilkan lakon yang spesial, Gajah Mada Suci, yang dibawakan secara kolaboratif oleh mahasiswa UGM yang tergabung dalam Unit Kesenian Jawa Gaya Surakarta (UKJGS) UGM. Salah satu peran penting dalam pementasan ini diemban oleh M. Rafi Nur Fauzy, mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa angkatan 2023, dipilih untuk membawakan lakon yang digarap secara kolaboratif oleh civitas acaedmica Universitas Gadjah Mada.

Naskah untuk pemetasan lakon Gajah Mada Suci ini dikarang oleh Dr. Rudy Wiratama S.I.P., M.A., dosen Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa. Gajah Mada Suci mengisahkan tentang pengkambinghitaman Gadah Mada dengan dalih kegagalan ekspansi Kerajaan Majapahit. Ekspansi tersebut juga bersamaan dengan kemelut internal politik kerajaan. Lebih buruk lagi, Gajah Mada dituduh oleh para elit yang berusaha menyingkirkannya dari kerajaan. Akibatnya, Gajah Mada merasa putus asa dan setelah itu dirinya bertandang ke kediaman sahabatnya, Mpu Tantular. Setelah berdialog panjang, Gajah Mada akhirnya tercerahkan, bahwa usaha yang telah dirinya lakukan selama ini tidak sia-sia. Semangat Amukti Palapa untuk mempersatukan Nusantara akan berlanjut pada zaman berikutnya.

Penyerahan wayang Gajah Mada dari Dekan Fakultas Filsafat, Dr. Rr. Siti Murtiningsih, S.S., M.Hum, kepada M. Rafi Nur Fauzy. (Dikutip utuh dari Kanal Youtube Fakultas Filsafat (01:22:51): https://www.youtube.com/watch?v=03x2lmMinTY).

“Pementasan lakon Gajah Mada Suci adalah sebuah bentuk penggambaran dari Bangsa Indonesia yang telah mengalami krisis identitas dengan pemenangan atas sebuah kepentingan dan kekuasaan melalui cara apapun. Gajah Mada yang merupakan seorang ksatria akhirnya moksa akibat perilaku elit Majapahit yang menyimpang. Setelahnya, Kerajaan Majapahit menjadi hilang kewibawaannya lalu surut hingga mencapai keruntuhannnya” terang Rafi dalam sebuah wawancara (05/09/2024).

Sebagai sebuah lakon yang spesial, Rafi dan teman-teman mahasiswa UKJGS berlatih dengan keras demi persembahan pergelaran yang maksimal. “Pergelaran lakon Gajah Mada Suci memiliki tantangan tersendiri bagi kami. Kami berlatih mempersiapkan pentas hanya dalam waktu setengah bulan. Ditambah lagi, ini adalah kali pertama saya untuk memainkan wayang Gajah Mada, sehingga harus dipersiapkan secara matang”

“Dengan tantangan tersebut, Alhamdulillah pertunjukkan dapat berjalan dengan lancar. Benar-benar pengalaman yang luar biasa bagi saya” lanjutnya.  Rafi berharap bahwa pertunjukkan wayang Gajah Mada diselenggarakan secara kontinu sebab merupakan hasil karya dan identitas dari UGM sekaligus memuat nilai-nilai yang perlu dimasyarakatkan.

Keberadaan wayang Gajah Mada adalah upaya nyata dalam mengangkat kesejarahan dan kebudayaan Nusantara dengan tetap menerapkan aspek relevansinya terhadap perkembangan zaman. Melalui kebudayaan, kita tidak hanya sedang ‘menampilkan’ estetika belaka, tetapi juga mengokohkan kembali jati diri bangsa melalui nilai-nilai luhur demi menuju ke arah Indonesia yang lebih baik.

Penulis          : Haryo Untoro

 

Sumber Gambar

Fakultas Filsafat. (2024, 19 Agustus). Pagelaran Wayang Kulit Dies Natalis ke-57 Fakultas Filsafat UGM. Youtube. [01:22:51]. Diakses dari https://www.youtube.com/watch?v=03x2lmMinTY.

Ratnaraya Persembahkan Tari Geol Denok pada Mangayubagya Wisuda Sarjana FIB Periode IV Tahun Ajaran 2023/2024

BeritaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Senin, 9 September 2024

Kamis, 29 Agustus 2024, menjadi momen istimewa bagi Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada dengan digelarnya Mangayubagya Wisuda Sarjana periode IV tahun ajaran 2023/2024. Sebanyak 244 wisudawan dan wisudawati merayakan kelulusan mereka, menyandang gelar sarjana setelah menyelesaikan studi di FIB. Acara wisuda yang khidmat ini semakin meriah dengan persembahan tari dari Ratnaraya, unit tari mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa.

Empat mahasiswi, yaitu Audrey Gisela, Ganes Larasati, Novalia Hidayatus S., dan Wening Hidayati, mempersembahkan Tari Geol Denok sebagai bagian dari rangkaian acara wisuda. Tari Geol Denok merupakan tarian khas Semarang yang menggambarkan keceriaan gadis-gadis Semarang yang menari dengan gerakan rancak, energik, dan diiringi musik yang dinamis. Secara etimologis, kata "geol" merujuk pada gerakan tari bagian lutut dan pinggul, sementara "denok" adalah sebutan untuk gadis di Semarang.

Dalam wawancara dengan Wening Hidayati, salah satu penampil, ia menyampaikan bahwa Tari Geol Denok merupakan tarian baru bagi anggota Ratnaraya. “Kami berusaha memberikan yang terbaik dalam penampilan kali ini, dan sangat senang bisa menyambut para wisudawan dan wisudawati FIB UGM dengan Tari Geol Denok,” ujar Wening (05/09/2024).

Penampilan Ratnaraya tidak hanya sebagai hiburan semata, tetapi juga mencerminkan komitmen FIB UGM dalam melestarikan kebudayaan Nusantara, khususnya budaya Jawa. Pelestarian kebudayaan ini memerlukan dukungan dan kolaborasi dari berbagai pihak, dan FIB UGM berperan aktif dengan memberikan ruang seluas-luasnya bagi eksplorasi seni dan budaya, agar jati diri bangsa tersebut tetap relevan dan memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat.

12345

Recent Post

  • Sosialisasi Fon Aksara Jawa Dorong Pemanfaatan Aksara Jawa Digital
    April 22, 2026
  • Seputar Jawa: Sistem Papan Tombol Aksara Jawa Digital
    April 13, 2026
  • First Gathering Kabinet Sahacitta HMJ Kamastawa: Ajang Perkenalan dan Penguatan Kebersamaan
    April 6, 2026
  • Ghibran Arsha Daffa’ Musaffa’ Dinobatkan sebagai Insan Berprestasi Kalangan Mahasiswa Tahun 2026
    Maret 12, 2026
  • Seputar Jawa: Bahasa Jawa Dialek Banten, Dialek Bahasa yang Eksis di Ujung Barat Pulau Jawa
    Maret 10, 2026

Kalender

Mei 2026
S S R K J S M
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
« Apr    
  • Fakultas Ilmu Budaya
  • Ujian Masuk UGM
  • PPSMB
  • Alumni
  • Jurnal Humaniora
Mei 2026
S S R K J S M
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
« Apr    

Rilis Berita

  • Sosialisasi Fon Aksara Jawa Dorong Pemanfaatan Aksara Jawa Digital
    April 22, 2026
  • Seputar Jawa: Sistem Papan Tombol Aksara Jawa Digital
    April 13, 2026
  • First Gathering Kabinet Sahacitta HMJ Kamastawa: Ajang Perkenalan dan Penguatan Kebersamaan
    April 6, 2026
Universitas Gadjah Mada

Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
Departemen Bahasa dan Sastra
Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada

 

Jl. Sosiohumaniora, Bulaksumur, Yogyakarta
Telp : 0274-901134 Ext. 110, Fax : 0274-550451, WhatsApp : 081211911281
Email : nusantara@ugm.ac.id

© 2025 Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa FIB UGM

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY