Pelestarian budaya tidak hanya dilakukan dengan menjaga keberlangsungan tradisi yang masih hidup, tetapi juga dengan menghidupkan kembali kesenian yang mulai ditinggalkan. Upaya tersebut dilakukan oleh Ghibran Arsha Daffa’ Musaffa’, mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (FIB UGM) angkatan 2024. Berawal dari ketertarikannya terhadap tradisi lisan melalui perkuliahan, Ghibran berinisiatif menghidupkan kembali kesenian Gejog Lesung di Dusun Karang Tengah, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Gejog lesung merupakan kesenian tradisional yang memanfaatkan bunyi ketukan lesung sebagai iringan musik. Lesung adalah alat berupa wadah kayu yang digunakan untuk menumbuk gabah menjadi beras. Dalam perkembangannya, aktivitas menumbuk tersebut menghasilkan bunyi berirama yang kemudian dimanfaatkan sebagai bagian dari pertunjukan kesenian. Dalam wawancara yang dilaksanakan secara daring pada 22 September 2026, Ghibran menjelaskan bahwa pertunjukan Gejog Lesung biasanya memadukan ketukan lesung dengan nyanyian lagu-lagu tradisional, seperti Gugur Gunung dan Prau Layar. Di Dusun Karang Tengah, kesenian ini dikenal melalui kelompok Gejog Lesung Ngudi Lestari.
Menurut penuturan Ghibran, keberadaan lesung memiliki keterkaitan erat dengan sejarah Dusun Karang Tengah. Pada wilayah tersebut, ditemukan alat penumbuk berbahan batu, dinamakan watu lumpang yang diperkirakan telah ada sejak sekitar 1632 Masehi. Tradisi menumbuk juga telah berlangsung sejak lama, salah satunya berkaitan dengan peran masyarakat Karang Tengah dalam menyediakan bahan konsumsi bagi para abdi dalem yang membangun kompleks makam raja-raja Mataram di Imogiri. Pada masa itu, kegiatan menumbuk dilakukan untuk mengolah gabah menjadi beras. Seiring perkembangannya, alat penumbuk berbahan batu kemudian digantikan dengan lesung kayu yang dinilai lebih fleksibel untuk digunakan. Aktivitas menumbuk dengan lesung tersebut menghasilkan bunyi yang menarik dan berirama. Bunyi itu tidak hanya mengiringi pekerjaan, tetapi juga dapat meningkatkan semangat saat bekerja serta menjadi tontonan yang menghibur. Dari kebiasaan tersebut, kesenian Gejog Lesung kemudian berkembang sebagai bentuk ekspresi budaya masyarakat setempat.
Dokumentasi Watu Lumpang
Kelompok Gejog Lesung Ngudi Lestari terbentuk pada tahun 1965 dengan pertunjukan yang melibatkan para penumbuk lesung dan penyanyi lagu tradisional. Selanjutnya, di tahun 2000, kelompok ini mulai menghadirkan penari untuk memvisualisasikan isi lagu yang dibawakan. Sebagai contoh, ketika membawakan lagu Gugur Gunung, para penari bergerak dengan menggambarkan kegiatan gotong royong. Perpaduan bunyi lesung, nyanyian, dan tarian tersebut menjadikan pertunjukan lebih beragam.
Dalam perjalanannya, Gejog Lesung Ngudi Lestari kerap tampil dalam berbagai kegiatan masyarakat, mulai dari peringatan hari ulang tahun desa, acara masyarakat, hingga acara kebudayaan. Kelompok ini juga pernah diundang tampil di Kanjengan, Imogiri, dalam rangka tradisi Kirab Siwur, yaitu prosesi mengarak siwur sebagai bagian dari rangkaian ritual nguras enceh. Ritual tersebut dilaksanakan dengan membersihkan dan mengisi air pada wadah di kompleks makam raja-raja Mataram Islam di Imogiri.
Hanya saja, seiring berjalannya waktu, kegiatan kesenian ini mengalami “mati suri” karena tidak adanya regenerasi. Kondisi tersebut mendorong Ghibran untuk mengambil bagian dalam upaya pelestarian kesenian di daerahnya. Ketertarikannya semakin berkembang ketika ia mengikuti mata kuliah Tradisi Lisan di Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa FIB UGM. Perkuliahan tersebut menjadi salah satu titik awal bagi Ghibran untuk mengenal tradisi gejog lesung lebih mendalam sekaligus mendorongnya untuk melakukan upaya pelestarian secara langsung. “Berkat adanya mata kuliah Tradisi Lisan, saya jadi terdorong untuk mengetahui lebih dalam tradisi ini serta menambah semangat saya untuk mengadakannya kembali,” terang Ghibran.
Selain berstatus sebagai mahasiswa, Ghibran aktif dalam organisasi kepemudaan Angkatan Muda-Mudi Islam (AMMI) Karang Tengah, khususnya pada divisi literasi dan edukasi. Melalui keterlibatannya dalam organisasi tersebut, ia menginisiasi pembentukan Gejog Lesung Ngudi Lestari New Generation sebagai upaya meneruskan keberlangsungan kesenian yang sempat terhenti. Inisiatif ini dilakukan dengan melibatkan generasi muda setempat sekaligus mengajak para sesepuh untuk berbagi pengetahuan dan keterampilan mengenai kesenian gejog lesung. “Kami memulainya dari nol dan juga mengajak para sesepuh untuk mau mengajari. Mereka senang karena kesenian ini ada penerusnya,” tambahnya.
Penampilan Gejog Lesung Ngudi Lestari New Generation
Upaya membangun kembali kelompok kesenian tersebut bukan tanpa tantangan. Pada tahap awal, Ghibran menghadapi kesulitan dalam mengajak generasi muda untuk terlibat. Meski demikian, pendekatan yang dilakukan secara bertahap mulai menumbuhkan antusiasme di antara para anggota. “Awalnya memang agak susah-susah gampang. Ada perasaan rendah diri, ada juga yang malu untuk melestarikan ini. Namun, Alhamdulillah, dengan upaya yang kuat, teman-teman jadi semangat dan bahkan ingin ada rencana latihan rutin tiap minggu,” jelas Ghibran.
Perlahan, upaya tersebut mulai membuahkan hasil. Gejog Lesung Ngudi Lestari New Generation kembali tampil dengan memadukan ketukan lesung, nyanyian, tarian, dan kesenian ketoprak dalam kegiatan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus. Penampilan tersebut menjadi langkah untuk memperkenalkan kembali gejog lesung kepada masyarakat sekaligus menumbuhkan ketertarikan generasi muda terhadap kesenian lokal. Upaya ini turut mendapat perhatian dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul dan Wakil Bupati Bantul. Ke depannya, kesenian tersebut direncanakan untuk ditampilkan dalam berbagai program atau kegiatan kebudayaan.
Inisiatif Ghibran menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat berawal dari lingkungan terdekat dan dikembangkan melalui keterlibatan aktif generasi muda. Melalui pengetahuan yang diperoleh di bangku perkuliahan, dukungan organisasi kepemudaan, serta serta keterlibatan para sesepuh dalam pewarisan pengetahuan tradisi, tradisi yang sempat terhenti dapat kembali memperoleh ruang untuk berkembang. Upaya untuk nguri-uri ‘melestarikan’ dan ngurip-urip ‘menghidupkan’ budaya tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak hanya sekadar menjaga identitas semata, tetapi juga membuka ruang bagi budaya untuk memberikan manfaat bagi masyarakat itu sendiri.
Penulis : Haryo Untoro
Editor : Haryo Untoro

