• Universitas
  • Portal Akademik
  • Perpustakaan Universitas
  • Webmail
  • Arnawa
  • UM UGM
  • Bahasa Indonesia
    • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
Departemen Bahasa dan Sastra
Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
  • Halaman Muka
  • Profil
    • Visi & Misi
    • Tujuan
    • Keunggulan
    • Prospek Karier
    • Staf Pengajar
  • Akademik
    • Alur Kurikulum
    • Sebaran Mata Kuliah
    • Capaian Pembelajaran
    • Informasi Perkuliahan dan Administrasi
    • KONFERENSI DAN KEGIATAN INTERNASIONAL
    • Kalender Akademik
  • KPPB
    • Kerjasama
    • Pengabdian
      • Pengabdian Masyarakat
      • Siniar (Anarka Lālitya)
    • Penelitian
      • Penelitian Staf Pengajar
      • Arsip Kajian Jawa – Arnawa
    • Beasiswa
  • Kemahasiswaan
    • Hasil Survei Mahasiswa
    • HMJ Kamastawa
    • Kegiatan Mahasiswa
    • Karya Mahasiswa
    • Kanal Youtube
    • Kanal Instagram
  • Alumni
    • Profil Alumni
  • Kontak
  • Beranda
  • Mahasiswa
  • Karya Mahasiswa
Arsip:

Karya Mahasiswa

Mahasiswi Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa UGM Dokumentasikan Bahasa Temanggung dan Aksara Jawa melalui KKN-PPM di Desa Bansari

BeritaKarya MahasiswaMahasiswaSDGS Rabu, 19 Agustus 2026

Mahasiswi Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa (BSBJ), Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Gadjah Mada (UGM), Eka Nur Cahyani, melaksanakan program pelestarian bahasa dan aksara daerah dalam kegiatan Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) UGM Periode 2 Tahun 2026. Eka yang merupakan mahasiswa angkatan 2023 tergabung dalam unit KKN Waksudha Bansari 2026 dengan kode JT123 yang melaksanakan pengabdian di Desa Bansari, Kabupaten Temanggung, pada tanggal 20 Juni hingga 8 Agustus 2026.

Selama berada di Desa Bansari, Eka menjalankan dua program yang berkaitan dengan bidang keilmuannya, yaitu Nyinau Basa Temanggungan dan Ayo Sinau Aksara Jawa. Program pertama berfokus pada pendokumentasian Bahasa Temanggung dialek Bansari, sedangkan program kedua ditujukan untuk mengenalkan Aksara Jawa kepada siswa SDN Bansari, tepatnya di dusun Pringapus, desa Bansari.

Melalui program Nyinau Basa Temanggungan, Eka menyusun buku saku Kamus Bahasa Temanggung dialek Bansari. Data kosakata dikumpulkan melalui wawancara dengan perangkat desa dan masyarakat yang merupakan penutur asli menggunakan daftar 200 kata Swadesh. Daftar 200 Kata Swadesh (Swadesh 200-word list) merupakan daftar kosakata dasar yang disusun oleh ahli linguistik Morris Swadesh pada tahun 1952. Daftar ini berisi sekitar 200 konsep universal yang diperkirakan dimiliki oleh hampir semua bahasa serta relatif stabil keberadaannya, jarang dipinjam, serta cenderung bertahan dalamwaktu yang lama (Swadesh, 1952).  Data tersebut kemudian dianalisis dan disusun menjadi lema dalam buku saku yang dilengkapi dengan kategori kata serta padanan bahasa Indonesia. Uniknya, penyusunan kamus tersebut juga menjadi penerapan pengetahuan yang diperoleh dari mata kuliah Leksikografi dan Linguistik Interdisipliner. Buku saku tersebut diharapkan dapat mendokumentasikan kosakata Bahasa Temanggung dialek Bansari yang masih digunakan masyarakat sekaligus menjadi media untuk mengenalkan bahasa dan budaya lokal dalam mendukung pengembangan Desa Bansari sebagai desa wisata.

Selanjutnya, program kedua yaitu Ayo Sinau Aksara Jawa dilaksanakan bersama siswa SD Negeri Bansari. Kegiatan dimulai dengan koordinasi bersama guru untuk mengetahui kondisi pembelajaran Aksara Jawa di sekolah. Selanjutnya, materi diberikan melalui flashcard, permainan edukatif, praktik membaca dan menulis, serta pengenalan kaidah penulisan Aksara Jawa.

Antusiasme Para Siswa SDN Bansari dalam Mengikuti Program
Ayo Nyinau Aksara Jawa

Selain membaca dan menulis, Eka juga mengenalkan iluminasi rerenggan pada naskah Jawa kepada para siswa. Iluminasi merupakan pencerahan atau pemertinggi kesan atas halaman naskah melalui teknik penulisan, pola pewarnaan, hiasan dekoratif dan pembingkai teks, rubrikasi, kaligrafi (Behrend, 1996), termasuk pula wedana, rerenggan dan gambar penanda bait (Saktimulya, 2015). Setelah mendapatkan pengenalan mengenai rerenggan sebagai hiasan pada naskah, siswa diajak menghias nama mereka yang telah ditulis menggunakan Aksara Jawa. Dengan kegiatan tersebut, siswa tidak hanya berlatih menulis aksara, tetapi juga mengenal unsur seni dan estetika dalam tradisi naskah Jawa.

Dalam pelaksanaannya, kedua program tersebut tentu juga menghadapi sejumlah tantangan. Pada program Nyinau Basa Temanggungan, misalnya, ditemukan perbedaan penyebutan beberapa kosakata antargenerasi. Kondisi tersebut membuat Eka perlu melakukan verifikasi kepada beberapa narasumber untuk memastikan ketepatan data yang diperoleh. Sementara itu, pada program Ayo Sinau Aksara Jawa, tantangan muncul dari kemampuan siswa yang beragam serta anggapan bahwa Aksara Jawa merupakan materi yang sulit dipelajari.

Meski demikian, kedua program tersebut mendapat sambutan positif dari masyarakat dan pihak sekolah. Dalam penyusunan kamus, masyarakat dan perangkat desa turut memberikan informasi mengenai kosakata yang masih digunakan dalam percakapan sehari-hari. Di sekolah, siswa mengikuti kegiatan Ayo Sinau Aksara Jawa dengan antusias, baik melalui permainan maupun praktik menulis aksara. Menurut Eka, penggunaan media pembelajaran yang interaktif menjadi salah satu cara untuk meningkatkan minat dan kemampuan siswa dalam membaca dan menulis Aksara Jawa.

Pelaksanaan KKN-PPM tersebut menghasilkan dua luaran utama. Program Nyinau Basa Temanggungan menghasilkan buku saku Kamus Bahasa Temanggung dialek Bansari dalam bentuk cetak dan digital yang dapat diakses melalui tautan berikut: https://drive.google.com/file/d/1z5jleLMjLUoRQkwSGrtL1JaqMt6VZSOK/view

Sementara itu, program Ayo Sinau Aksara Jawa menghasilkan sejumlah karya siswa berupa iluminasi rerenggan pada tulisan Aksara Jawa. Kedua luaran tersebut menjadi bagian dari upaya mendokumentasikan bahasa lokal sekaligus mengenalkan aksara dan seni tradisi Jawa kepada generasi muda.

Beberapa contoh karya siswa SDN Bansari

Program KKN-PPM seperti yang dilakukan Eka menjadi salah satu bentuk nyata pengenalan, pelestarian, dan pembumian kekayaan budaya daerah, khususnya bahasa dan budaya Jawa, melalui keterlibatan langsung di tengah masyarakat. Melalui penyusunan buku saku Kamus Bahasa Temanggung dialek Bansari dan pembelajaran Aksara Jawa bagi siswa sekolah dasar, pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan dapat diterapkan sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat. Kegiatan tersebut juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDG’s) poin 4 tentang pendidikan bermutu dan poin 17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan melalui kolaborasi antara mahasiswa, masyarakat, pemerintah desa, dan sekolah.

Penulis           : Eka Nur Cahyani & Haryo Untoro
Editor             : Haryo Untoro

Daftar Pustaka

Behrend, T. E. (1996). Textual Gateways: The Javanese Manuscript Tradition. Dalam A. Kumar & J. H. McGlynn (Ed.), Illuminations: The Writing Traditions of Indonesia: Featuring Manuscripts from the National Library of Indonesia (hlm. 161–200). The Lontar Foundation; New York & Tokyo: Weatherhill, Inc. https://books.google.com/books?id=-n5iAAAAMAAJ 

Swadesh, M. (1952). Lexico-statistic dating of prehistoric ethnic contacts. Proceedings of the American Philosophical Society, 96(4), 452–463.

Saktimulya, S. R. (2015). Naskah-Naskah Skriptorium Pakualaman Periode Paku Alam II (1830–1858): Kajian Kodikologi, Filologi, dan Hermeneutika. École française d'Extrême-Orient.

 

Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa Raih Gelar Doktor melalui Kajian Naskah Jawa Pertengahan Uttarakāṇḍa

BeritaKarya MahasiswaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Rabu, 8 Juli 2026

Selasa (7/7/2026) menjadi hari yang membahagiakan bagi Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Gadjah Mada (UGM). Dosen bidang filologi Jawa Kuna dan Jawa Pertengahan, Yosephin Apriastuti Rahayu, S.S., M.Hum., berhasil meraih gelar doktor setelah menjalani sidang promosi terbuka di Universiteit Leiden.

Dalam disertasinya yang berjudul Learning from the Scribes: A Study of the Old Javanese Uttarakāṇḍa from the Merapi-Merbabu Tradition, Yosephin mengkaji Uttarakāṇḍa, karya sastra Jawa Kuna berbentuk prosa yang merupakan kitab ketujuh dari kisah Rāmāyaṇa. Penelitian tersebut berfokus pada empat manuskrip Uttarakāṇḍa dari koleksi tradisi Merapi-Merbabu dan Bali untuk memahami bagaimana para juru tulis menyalin, melestarikan, dan mewariskan naskah tersebut.

Melalui penelitian ini, Ibu Apriastuti menemukan bahwa proses penyalinan naskah tidak sekadar menyalin teks, tetapi melibatkan serangkaian aktivitas, seperti membaca, mengingat, merefleksikan, mendikte, dan menuliskan kembali isi naskah. Penelitian ini juga menunjukkan adanya perbedaan sistem ejaan serta variasi penulisan yang dipengaruhi oleh tradisi dan budaya masing-masing. Temuan tersebut membantu mengidentifikasi kesalahan penyalinan sekaligus mendukung upaya merekonstruksi bentuk teks yang lebih mendekati naskah aslinya. Selain itu, penelitian ini memperlihatkan adanya perbedaan karakteristik antara tradisi penulisan Merapi-Merbabu dan tradisi Bali.

Usai memaparkan hasil penelitiannya, Ibu Apriastuti menjawab berbagai pertanyaan dari para penguji. Diskusi tersebut membahas sejumlah topik, di antaranya peran tradisi naskah Merapi-Merbabu sebagai penghubung budaya Jawa Klasik dengan tradisi Jawa dan Bali, perkembangan sistem aksara dari masa Jawa Kuna hingga aksara Jawa modern, serta hubungan budaya dan sastra antara tradisi Sanskerta, Jawa Kuna, dan Bali.

Keberhasilan Yosephin meraih gelar doktor sekaligus menjadi kontribusi penting bagi pengembangan kajian filologi Jawa Kuna. Penelitian tersebut tidak hanya memperkaya pemahaman mengenai tradisi pernaskahan di Nusantara, tetapi juga mendukung upaya pelestarian warisan budaya tulis, khususnya naskah-naskah Jawa Kuna yang menjadi sumber penting dalam memahami sejarah, sastra, dan kebudayaan Indonesia.

Prof. Dr. Hendrokumoro, M.Hum.: Tetap Berekspresi, Tetap Njawani

BeritaKarya MahasiswaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Jumat, 22 Mei 2026

Prof. Dr. Hendrokumoro, M.Hum., dalam Siaran Kawruh Pro 4 Radio Republik Indonesia Yogyakarta. Dari Gen Z Berekspresi Modern namun Tetap Membumi dan Njawani [Foto], oleh Titik Renggani, 2026, rri.co.id. Dikutip utuh dari: https://rri.co.id/yogyakarta/budaya/2433916/gen-z-berekspresi-modern-namun-tetap-membumi-dan-njawani.

Derasnya arus budaya global membuat generasi muda masa kini rentan terombang-ambing dan berpotensi kehilangan jati diri. Untuk menjawab tantangan tersebut, pendidikan karakter berbasis lokal dinilai menjadi fondasi penting dalam menjaga identitas sekaligus membentuk kepribadian yang kuat. Hal tersebut didiskusikan oleh Prof. Dr. Hendrokumoro, M.Hum., dosen Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, dalam Siaran Kawruh Pro 4 Radio Republik Indonesia Yogyakarta pada Jumat, 22 Mei 2026, pukul 09.00–10.00 WIB. Siaran tersebut mengangkat tema “Slay tapi Njawani: Manifesto Pendidikan Karakter Berbasis Lokal di Hari Kebangkitan Nasional” dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Renggani, 2026).

Dalam paparannya, Prof. Dr. Hendrokumoro, M.Hum., menjelaskan modernitas bukanlah sesuatu yang harus ditolak. Generasi muda dipersilakan untuk berekspresi, namun tetap berpegang pada nilai-nilai budaya Jawa atau njawani. Nilai tersebut diwujudkan melalui sikap andhap asor (rendah hati), tidak sombong, serta menjunjung tinggi etika dalam berperilaku.

Ia juga menekankan bahwa melestarikan budaya tidak berarti meninggalkan perkembangan zaman. Sebaliknya, kearifan lokal justru dapat berjalan selaras dengan modernitas. Dalam konteks bahasa, misalnya, meskipun bahasa terus berkembang secara dinamis, generasi muda tetap perlu memahami konsep empan papan, yakni menggunakan bahasa secara tepat sesuai situasi dan kondisi.

Lebih lanjut, ia menyoroti bahwa penanaman nilai etika dan moral tidak dapat dilakukan melalui pendekatan yang menyalahkan semata. Proses tersebut harus dilakukan dengan cara mendengarkan, mengarahkan, dan menempatkan secara proporsional. Dalam hal ini, peran orang tua menjadi penting sebagai teladan, sebagaimana ungkapan ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani ‘yang di depan menjadi teladan, yang di tengah membangun kemauan, yang di belakang memberikan dorongan’.

Kehadiran diskusi ini diharapkan mampu membuka wawasan masyarakat tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara budaya dan kemajuan zaman. Budaya tidak harus ditinggalkan demi modernitas, melainkan perlu diselaraskan agar tetap relevan dalam kehidupan masa kini.

Selain itu, kegiatan ini juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 tentang pendidikan berkualitas melalui penyebaran pengetahuan kepada masyarakat. Selain itu, diskusi ini turut mendukung SDG 17 terkait kemitraan, dengan menekankan pentingnya kolaborasi antara lembaga pendidikan, institusi kebudayaan, dan masyarakat dalam melestarikan budaya Nusantara, khususnya budaya Jawa.

 

 

Daftar Pustaka

Renggani, T. (2026, 23 Mei). Gen Z Berekspresi Modern namun Tetap Membumi dan Njawani [Foto]. rri.co.id. Diakses pada 24 Mei 2026, dari https://rri.co.id/yogyakarta/budaya/2433916/gen-z-berekspresi-modern-namun-tetap-membumi-dan-njawani.

 

 

Daftar Gambar

Renggani, T. (2026, 23 Mei), Gen Z Berekspresi Modern namun Tetap Membumi dan Njawani [Foto]. rri.co.id. Dikutip utuh dari https://rri.co.id/yogyakarta/budaya/2433916/gen-z-berekspresi-modern-namun-tetap-membumi-dan-njawani.

 

Penulis            : Haryo Untoro
Editor             : Haryo Untoro

Cipta Karya Sastra Jawa: Wadah Kreatif Mahasiswa dalam Belajar Mengembangkan Karya Sastra

BeritaKarya MahasiswaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Kamis, 21 Mei 2026

Dalam rangka meningkatkan kemampuan menulis mahasiswa, khususnya dalam bidang karya sastra Jawa, Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan kegiatan praktisi mengajar bertema Cipta Karya Sastra Jawa. Kegiatan ini dilaksanakan di Ruang Margono 404, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada dalam mata kuliah Bahasa Jawa Tulis Produktif pada tanggal 14 dan 21 April 2026.

Kegiatan tersebut menghadirkan Sri Suryani, S.S., M.A., sebagai dosen praktisi yang membimbing mahasiswa untuk lebih mengenal dunia kepenulisan sastra Jawa. Perkuliahan ini merupakan bagian dari mata kuliah Bahasa Jawa Tulis Produktif tahun akademik 2026 yang diampu oleh Dr. Sulistyowati, M.Hum.

Pada pertemuan pertama, 14 April 2026, mahasiswa memperoleh materi mengenai karya sastra Jawa modern serta teknik penulisan kreatif, khususnya prosa berjenis cerkak. Selain pemaparan materi, mahasiswa bersama dosen praktisi juga mendiskusikan rencana luaran kegiatan berupa antologi cerkak dan geguritan. Dalam pertemuan tersebut, mahasiswa diberi kesempatan untuk mengumpulkan karya tulis mereka yang selanjutnya akan dibahas pada pertemuan berikutnya.

Sementara itu, pada pertemuan kedua, 21 April 2026, mahasiswa memperoleh materi mengenai geguritan dengan fokus pada unsur stilistika. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pembahasan karya yang telah dikumpulkan sebelumnya. Mahasiswa mempresentasikan draf tulisan mereka dan mendiskusikannya bersama dosen praktisi serta peserta lainnya. Suasana diskusi berlangsung aktif karena mahasiswa tidak hanya belajar menulis, tetapi juga memahami proses pengembangan, penyuntingan, hingga persiapan karya untuk diterbitkan.

Kegiatan praktisi mengajar ini berlangsung dengan baik dan lancar, didukung oleh antusiasme mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa dalam mempelajari dunia kepenulisan sastra Jawa. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh pemahaman mengenai proses kreatif penulisan sastra, tetapi juga mendapatkan pengalaman untuk mengembangkan karya mereka secara lebih matang. Luaran kegiatan berupa karya sastra Jawa, baik cerkak maupun geguritan, diharapkan dapat menjadi media pembelajaran sekaligus sarana bagi generasi muda untuk menumbuhkan rasa cinta dan kebanggaan terhadap budaya Indonesia, khususnya budaya Jawa. Selain itu, kegiatan ini juga sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 4 tentang pendidikan berkualitas melalui penguatan kompetensi literasi dan kreativitas mahasiswa, serta SDG 17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan melalui kolaborasi antara akademisi dan praktisi dalam pengembangan pembelajaran berbasis pengalaman.

 

Penulis            : Haryo Untoro
Editor             : Haryo Untoro

Setu Sinau: Menghidupkan Kembali Aksara Jawa di Tengah Masyarakat

BeritaKarya MahasiswaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Senin, 18 Mei 2026

Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (FIB UGM) bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta menyelenggarakan kegiatan berjudul Setu Sinau pada Sabtu (16/05/2026). Kegiatan tersebut berlangsung di selasar Malioboro pukul 07.00–09.00 WIB sebagai upaya mengenalkan kembali aksara Jawa kepada masyarakat luas, khususnya generasi muda.

Pemilihan kawasan Malioboro sebagai lokasi kegiatan bukan tanpa alasan. Sebagai salah satu ruang publik paling ikonik di Yogyakarta, Malioboro menjadi tempat yang strategis untuk menghadirkan pembelajaran budaya secara langsung di tengah masyarakat. Suasana yang terbuka dan ramai membuat kegiatan ini mampu menjangkau peserta dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.

Pelaksanaan Setu Sinau dilatarbelakangi oleh jauhnya generasi muda dari aksara Jawa akibat arus globalisasi dan modernisasi. Melalui kegiatan ini, aksara Jawa tidak hanya diperkenalkan sebagai warisan budaya, tetapi juga bagian dari identitas yang perlu dijaga dan diwariskan. Kolaborasi dengan Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta menjadi bentuk nyata sinergi antara institusi pendidikan dan pemerintah dalam mendukung implementasi Peraturan Daerah DIY terkait preservasi bahasa, sastra, dan aksara Jawa.

Kegiatan ini menghadirkan dua dosen Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa sebagai instruktur, yakni Dr. Arsanti Wulandari, M.Hum. dan Zakariya Pamuji Aminullah, S.S., M.A., yang memiliki spesialisasi di bidang filologi. Selain itu, mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa turut berperan sebagai fasilitator, yaitu Ghibran Arsha Daff’a Musaffa’, Bayu Seta Ardiansyah, Dian Patmisari, dan Maysa Putri Fatihah.

Proses pembelajaran dikemas dengan cara yang menyenangkan dan interaktif. Peserta diajak mengenal aksara Jawa melalui media seperti flashcard, poster edukasi, serta praktik langsung menulis dan melafalkan aksara Jawa. Pendekatan tersebut membuat peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga mengalami proses belajar secara nyata melalui praktik sederhana.

Metode pembelajaran yang diterapkan selaras dengan nilai dalam pupuh Pocung bait ke-33 karya KGPAA Sri Mangkunegara IV, yaitu ngelmu iku kalakone kanthi laku, yang berarti “ilmu itu diwujudkan melalui tindakan.” Melalui praktik langsung, peserta diajak memahami bahwa belajar budaya tidak cukup hanya dengan mengetahui, tetapi juga perlu dilakukan dan dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Pelaksanaan Setu Sinau juga sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin 4 tentang pendidikan berkualitas, poin 11 tentang kota dan komunitas berkelanjutan, serta poin 17 mengenai kemitraan untuk mencapai tujuan. Dengan menghadirkan pembelajaran budaya di ruang publik, kegiatan ini menjadi langkah kecil namun bermakna dalam menjaga keberlangsungan aksara Jawa di tengah perkembangan zaman.

 

Penulis            : Haryo Untoro
Editor             : Haryo Untoro

Sosialisasi Fon Aksara Jawa Dorong Pemanfaatan Aksara Jawa Digital

BeritaKarya MahasiswaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Rabu, 22 April 2026

Yogyakarta, Selasa, 22 April 2026 — Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, menyelenggarakan kegiatan sosialisasi fon aksara Jawa di ruang Margono 402. Kegiatan ini ditujukan bagi perwakilan dosen dan mahasiswa sebagai upaya meningkatkan pemahaman penggunaan aksara Jawa dalam ranah digital.

Sosialisasi ini dilatarbelakangi oleh berbagai kendala yang selama ini dihadapi civitas academica dalam penggunaan fon aksara Jawa. Sejumlah permasalahan yang kerap muncul antara lain perbedaan tata letak papan tombol dengan sistem huruf Latin, ketidakterbacaan fon pada perangkat tertentu yang ditandai dengan kemunculan simbol tofu atau kotak (tanda tidak terbaca), hingga perbedaan kompatibilitas antara sistem papan tombol atau keyboard layout seperti Windows dan Macintosh. Kondisi tersebut dinilai menghambat penggunaan aksara Jawa, padahal aksara ini menjadi bagian penting dalam kajian serta preservasi budaya di lingkungan program studi.

Untuk menjawab persoalan tersebut, kegiatan ini menghadirkan Setya Amrih Prasaja, S.S., M.Pd., alumni Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, yang dikenal sebagai pengembang fon aksara Jawa digital. Selain itu, kegiatan ini juga dihadiri oleh perwakilan Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai bentuk dukungan terhadap upaya pelestarian budaya melalui teknologi.

Dalam pemaparannya, narasumber menjelaskan proses pengembangan fon dan keyboard layout aksara Jawa, termasuk tantangan teknis yang dihadapi dalam penerapannya di berbagai platform. Ia juga menguraikan langkah-langkah pengenalan aksara Jawa digital di tingkat nasional maupun internasional, serta pengembangan sistem yang dapat dioperasikan pada berbagai perangkat. Tidak hanya itu, peserta juga diperkenalkan pada sejumlah fon aksara Jawa yang dapat diakses secara bebas tanpa kendala lisensi.

Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai penggunaan papan tombol dan fon aksara Jawa dalam konteks digital. Lebih lanjut, sosialisasi ini diharapkan dapat mendorong penyebarluasan pengetahuan kepada civitas academica dan khalayak yang lebih luas, sebagai bagian dari upaya pelestarian sekaligus penguatan eksistensi aksara Jawa di era digital.

Penulis           : Haryo Untoro
Editor             : Haryo Untoro

Mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa Mengikuti Pengembangan dan Pemanfaatan Korpus Bahasa Jawa

BeritaKarya MahasiswaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Rabu, 22 April 2026

Pada Selasa (21/04/2026), 10 mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, mengikuti kegiatan bertajuk “Korpus Kebahasaan yang Dikembangkan” yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan ini berlangsung pukul 08.00–16.00 WIB di Ruang Pandawa 2, Swiss-Belboutique Yogyakarta. 10 mahasiswa tersebut adalah Andini Nuraini, Arfia Kholifatul Ummamah, Bernadetta Rahayunin Tyas, David Sofyan Wilaynto, Diyah Pitaloka, Inoora Putri Haliza, Marseli Dwitanti, Maysa Putri Fatihah, Pingky Putri Khairani, dan Wreksi Awinanggya Pinandhita.

Dalam kegiatan tersebut, para peserta memperoleh pengetahuan mengenai pengembangan dan pemanfaatan korpus, pelestarian bahasa Jawa berbasis korpus, serta teknik pengumpulan dan pengolahan data korpus. Berdasarkan wawancara daring dengan Maysa Putri Fatihah, salah satu peserta, pada 27 April 2026, pertemuan awal difokuskan pada penjelasan teknis serta pembagian tugas. Tahap selanjutnya adalah pengumpulan data awal korpus bahasa Jawa selama 20 hari, dilanjutkan dengan proses pengolahan data seperti pembersihan dan penyuntingan yang berlangsung sekitar satu bulan. Seluruh tahapan awal ini dilakukan oleh peserta yang dalam program tersebut disebut sebagai asisten lapangan. Adapun tahap lanjutan, seperti pengodean, penginputan metadata, hingga finalisasi data, dikelola oleh pihak Balai Bahasa Yogyakarta.

Dalam proses pengembangannya, perangkat korpus yang digunakan adalah AntConc. Data bahasa Jawa dikumpulkan dari berbagai sumber teks tertulis, seperti naskah lama, buku, bab buku, artikel, karya ilmiah, media massa, berita surat kabar, media sosial, blog, karya sastra, cerita rakyat, surat, hingga pidato. Seluruh teks tersebut kemudian melalui proses penyuntingan sebelum diinput ke dalam sistem sebagai bahan korpus.

Berdasarkan penuturan Maysa, dirinya merasa senang dapat menjadi bagian dari program ini. “Saya sangat bersyukur bisa belajar hal baru, apalagi dalam hal teknis pengolahan data korpus yang dipraktikkan secara langsung. Sebelumnya saya sendiri sudah pernah ikut kuliah umum tentang korpus naskah Jawa, tetapi hanya sebatas teoretis saja,” ujarnya.

Pengembangan korpus bahasa Jawa menjadi langkah strategis dalam upaya mereservasi sekaligus mempreservasi bahasa Jawa sebagai bagian dari kekayaan bahasa daerah Nusantara. Lebih dari sekadar pelestarian, korpus ini juga membuka peluang pemanfaatan dalam ranah digital humanities, seperti penelitian linguistik, pengembangan bahan ajar, hingga penyusunan kurikulum berbasis data kebahasaan. Program ini sekaligus mencerminkan kolaborasi antara lembaga pemerintah dan institusi pendidikan dalam menghadirkan inovasi kebahasaan yang relevan dengan perkembangan zaman.

 

Penulis            : Haryo Untoro
Author            : Haryo Untoro

Seputar Jawa: Sistem Papan Tombol Aksara Jawa Digital

BeritaKarya MahasiswaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Senin, 13 April 2026

Mengetik aksara Jawa di perangkat digital sering kali tidak semudah yang dibayangkan. Alih-alih menampilkan huruf yang diharapkan, layar justru kerap memperlihatkan deretan kotak kosong atau tofu, tanda bahwa fon tidak terbaca dengan baik. Masalah tersebut tidak berdiri sendiri. Selain keterbatasan fon, perbedaan sistem pengetikan antara huruf Latin dan aksara Jawa juga menyulitkan pengguna dalam beradaptasi. Belum lagi, tata letak papan tombol yang berbeda-beda di setiap sistem operasi, mulai dari Windows, Macintosh, hingga Android. Hal tersebut secara langsung makin menambah sulit upaya penggunaan dan preservasi aksara Jawa, khususnya dalam ranah digital.

Sejumlah fon aksara Jawa sebenarnya telah tersedia dan dapat digunakan secara bebas, seperti NyK Ngayogyan dan NyK Ngayogyan Jejeg yang dikembangkan oleh Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Namun, persoalan tidak berhenti pada tampilan visual. Tanpa sistem papan tombol yang seragam, pengguna tetap menghadapi hambatan dalam praktik pengetikan sehari-hari.

Kondisi ini mendorong pengembangan sistem papan tombol aksara Jawa berbasis keyboard aksara nusantara SNI 9048. Sistem ini disusun dengan merujuk pada naskah Serat Wulangreh sebagai pijakan kultural, sekaligus disesuaikan dengan kebutuhan penggunaan pada berbagai perangkat digital. Melalui standarisasi ini, diharapkan tercipta keseragaman dalam pengetikan aksara Jawa, sehingga pengguna tidak lagi harus beradaptasi dengan sistem yang berbeda-beda.

Sistem papan tombol tersebut kini telah tersedia untuk berbagai perangkat dan dapat diakses secara bebas oleh masyarakat. Pengguna dapat mengunduh dan memasangnya sesuai dengan sistem operasi yang digunakan, baik Windows, Machintoh, maupun Android. Pengunduhan sistem papan tombol aksara Jawa dapat dilakukan melalui  https://wongsayuk.webnode.page/my-work/ atau https://wongsaayuk.webnode.page dengan memilih menu lèsèhan. Pada laman tersebut, tersedia bagian “Kejboard Aksara Djawa”, lalu pilih sistem SNI Nataksara dalam berbagai format sesuai perangkat, yaitu file.exe untuk Windows, file.dmg untuk Macintosh, dan file.apk untuk Android.

Setelah proses pengunduhan dan instalasi, pengguna disarankan untuk melakukan restart perangkat apabila sistem belum dapat langsung digunakan. Selain itu, panduan pemasangan (pitoedoeh) juga disediakan untuk memudahkan proses instalasi, sehingga sistem dapat digunakan secara optimal.

Setelah sistem terpasang, pemahaman terhadap tata letak papan tombol menjadi langkah penting berikutnya. Pengguna perlu mengetahui perbedaan antara sistem berbasis SNI 9048 dengan sistem bawaan perangkat, khususnya pada perangkat Windows. Perbedaan tersebut dapat diamati melalui gambar di bawah ini.

Papan tombol aksara Jawa versi SNI 9048
Diunduh dari Papan tombol aksara Djawa versi SNI 9048, oleh S.A. Prasaja, t.t. wongsayuk (https://wongsayuk.webnode.page/my-work/).

Papan tombol aksara Jawa versi Windows
Diunduh dari Papan tombol aksara Djawa versi Windows, oleh S.A. Prasaja, t.t. wongsayuk (https://wongsayuk.webnode.page/my-work/).

Penerapan sistem papan tombol yang terstandarisasi ini menjadi langkah penting dalam menjawab berbagai kendala teknis yang selama ini dihadapi pengguna. Lebih dari itu, kehadiran aksara Jawa di ruang digital tidak sekadar berfungsi sebagai elemen visual, melainkan juga sebagai bagian dari upaya menjaga keberlangsungan budaya di tengah perkembangan teknologi.

Pada akhirnya, pelestarian aksara Jawa tidak cukup berhenti pada upaya mempertahankan, tetapi juga menuntut keberanian untuk mengembangkan dan menyesuaikannya dengan zaman. Dukungan berkelanjutan dari berbagai pihak menjadi kunci, agar aksara Jawa tidak hanya tetap hidup, tetapi juga hadir dan berdaya di tengah ekosistem digital yang terus bergerak.

 

Penulis           : Haryo Untoro
Editor             : Haryo Untoro

 

Daftar Gambar

Prasaja, S.A. (t.t.) Papan Tombol Aksara Djawa Versi SNI 9048. Wongsayuk. https://wongsayuk.webnode.page/my-work/

Prasaja, S.A. (t.t.) Papan Tombol Aksara Djawa Versi Windows. Wongsayuk. https://wongsayuk.webnode.page/my-work/

Ghibran Arsha Daffa’ Musaffa’ Dinobatkan sebagai Insan Berprestasi Kalangan Mahasiswa Tahun 2026

BeritaKarya MahasiswaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Kamis, 12 Maret 2026

Pada hari Selasa (3/3/2026), Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar Rapat Senat Terbuka dalam rangka Dies Natalis ke-80. Di tengah khidmatnya perayaan tersebut, penghargaan "Insan Berprestasi Unsur Mahasiswa" diberikan kepada individu-individu terpilih, salah satunya adalah Ghibran Arsha Daffa’ Musaffa’ dari Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa.

Terpilihnya Ghibran sebagai Mahasiswa Berprestasi bukan tanpa alasan. Ghibran dikenal sebagai mahasiswa yang akif berkiprah di lini kebudayaan Jawa. Beberapa capaian yang pernah ia dapatkan di antaranya Juara 3 Lomba Dongeng Temu Budaya Nusantara, Juara Harapan 2 Lomba Pranatacara Remaja Kompetisi Bahasa dan Sastra Kabupaten Bantul 2025, dan terpilih sebagai finalis Dimas Diajeng Kota Jogja 2025.

Selain perlombaan, Ghibran juga aktif di berbagai kegiatan lainnya. Ia pernah terlibat sebagai pemeran dalam lakon Adisari Cahaya Kasih di Balik Penaklukan, bertindak sebagai Master of Ceremony (MC) pada Closing Ceremony Wonderful Indonesia Wellness, hingga menjadi pendongeng dalam Field Program Dimas Diajeng Jogja di Desa Wisata Sleman.

Namun, di balik keberhasilan tersebut, Ghibran mengungkapkan bahwa perjalanannya merupakan proses yang panjang. Dalam wawancara daring pada Jumat (24/4/2026), ia menceritakan bahwa dorongan untuk berprestasi sudah tumbuh sejak bangku sekolah dasar.

“Motivasi saya dimulai dari hal sederhana dan mungkin terdengar lucu. Sedari SD, saya ingin mendapatkan uang saku tambahan karena ekonomi keluarga kami saat itu kurang mampu,” ungkap Ghibran. Ia mengenang masa ketika uang jajannya hanya sejumlah Rp2.000 saat kelas 4 SD. Ketika itu, sang Ibu memberi tantangan kepadanya agar uang saku itu tidak habis. Dari sana, ia justru membuatnya melirik lomba-lomba berhadiah.

Kemenangan pertamanya dalam lomba Ngudar Kawruh Tembang se-Kabupaten Bantul menjadi titik balik. Sejak saat itu, Ghibran menyadari bahwa prestasi bukan sekadar uang tetapi sebagai jalan pembuka. Dengan prestasi yang ia toreh, ia dapat masuk SMP melalui jalur prestasj hingga kesempatan tampil di media nasional seperti TVRI.

Memasuki jenjang perkuliahan di UGM, Ghibran berprinsip untuk memberikan kontribusi nyata bagi almamater. “Saya mungkin bukan mahasiswa yang paling mencolok di akademik murni, tapi saya selalu berusaha memberi 'kenang-kenangan' berupa trofi bagi universitas,” tuturnya. Puncaknya, ia berkesempatan membacakan puisi di hadapan Menteri Pendidikan RI pada tahun 2024.

Baginya, gelar Mahasiswa Berprestasi bukan sekadar penghargaan. Ada rasa syukur, tapi juga beban tanggung jawab yang ia rasakan. Hal itu malah jadi penyemangat untuk terus berkarya. “Rencana saya ke depan, saya ingin lulus tepat waktu, tapi tetap aktif ikut lomba. Saya ingin terus jadi pribadi yang bermanfaat” terangnya.

Ia juga membagikan resep konsistensinya. Sejak dulu, ia terbiasa menuliskan target-targetnya di selembar kertas dan menempelnya di dinding kamar. “Jangan pernah malu untuk bermimpi besar. Bagi saya, bermimpi adalah langkah awal dari sebuah pencapaian. Melalui kerja keras dan doa, satu per satu impian tersebut menjadi kenyataan,” pungkasnya. Ia juga menekankan pentingnya rasa syukur dalam setiap proses, baik saat meraih kemenangan maupun menghadapi kegagalan.

 

Penulis            : Haryo Untoro
Editor             : Haryo Untoro

Mengenalkan Rumpun Sastra Budaya Universitas Gadjah Mada dalam Kegiatan Saba Tilik 6.0 X Saba Education Fair

BeritaKarya MahasiswaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Jumat, 23 Januari 2026

SMAN 1 Bantul menyelenggarakan kegiatan Saba Tilik 6.0 X Saba Education Fair pada Kamis (22/01/2026). Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan motivasi serta informasi lanjutan pendidikan kepada para siswa, khususnya peserta didik tingkat akhir, agar memiliki gambaran yang lebih luas mengenai dunia perguruan tinggi dan pilihan program studi.

Dalam kegiatan tersebut, dua mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa angkatan 2025, Universitas Gadjah Mada (UGM), yang juga merupakan alumni SMAN 1 Bantul, yakni Nurul Fajri Rahmani dan Tri Wulandari, turut berpartisipasi sebagai pemateri. Kehadiran mereka dimanfaatkan untuk berbagi pengalaman akademik sekaligus mengenalkan berbagai program studi yang ada di Universitas Gadjah Mada kepada para siswa.

Berdasarkan wawancara daring dengan Nurul Fajri Rahmani pada Jumat (23/01/2026), disampaikan bahwa materi yang diberikan berfokus pada pengenalan rumpun sastra dan budaya, khususnya Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa. Selain itu, Fajri juga membagikan pengalamannya dalam menempuh perjalanan menuju perguruan tinggi melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) dan Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT).

Fajri mengungkapkan bahwa tantangan utama dalam kegiatan tersebut adalah masih rendahnya minat siswa terhadap rumpun Sastra dan Budaya. “Karenanya, kami berusaha menjelaskan sebaik baik mungkin tentang prospek kerja, potensi keilmuan, serta berbagai keuntungan dan pengalaman menarik yang dapat diperoleh selama menempuh pendidikan di rumpun sastra budaya” terangnya. Penjelasan tersebut diharapkan mampu membuka wawasan dan mengubah pandangan siswa terhadap studi sastra dan budaya.

Bagi Fajri, keikutsertaannya dalam Saba Tilik 6.0 X Saba Education Fair menjadi pengalaman yang sangat berkesan. Selain dapat kembali ke almamater dan bertemu dengan teman-teman seangkatan, dirinya juga berkesempatan untuk berbagi cerita dan informasi mengenai dunia perkuliahan. Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan guna membangkitkan minat dan semangat siswa-siswi dalam melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Kegiatan Saba Tilik 6.0 X Saba Education Fair sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDGs 4 tentang pendidikan berkualitas melalui pemberian akses informasi pendidikan tinggi yang inklusif dan merata. Pemberian informasi ini membantu siswa dalam mengambil keputusan pendidikan secara lebih sadar dan terarah. Dalam cakupan yang lebih luas, kegiatan ini juga bersinggungan dengan SDGs 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan), yakni melalui peningkatan literasi dan wawasan komunitas pendidikan yang menjadi fondasi terbentuknya masyarakat yang berpengetahuan dan berkelanjutan. Kolaborasi antara sekolah menengah dan perguruan tinggi dalam kegiatan ini juga mencerminkan implementasi SDGs 17, yakni kemitraan untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan melalui sinergi antarlembaga pendidikan

Penulis : Haryo Untoro
Editor  : Haryo Untoro

123…8

Recent Post

  • Mahasiswi Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa UGM Dokumentasikan Bahasa Temanggung dan Aksara Jawa melalui KKN-PPM di Desa Bansari
    Agustus 19, 2026
  • Menjaga Tradisi Batik Yogyakarta melalui Karya Aji Setyowijaya, Alumni Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
    Juli 31, 2026
  • Muhamad Rafi Nur Fauzy dan Meifira Arini Pitaloka, Dua Mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa Terpilih sebagai Penerima Program Fast Track FIB UGM
    Juli 22, 2026
  • Merawat Seni Menjaga Harmoni, Gamasutra Tampil di Festival Karawitan Filsafat UGM 2026
    Juli 20, 2026
  • Workshop Internasional Membaca Ulang Wayang: Mengenang yang Silam, Menjelang yang Datang
    Juli 10, 2026

Kalender

September 2026
S S R K J S M
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  
« Agu    
  • Fakultas Ilmu Budaya
  • Ujian Masuk UGM
  • PPSMB
  • Alumni
  • Jurnal Humaniora
September 2026
S S R K J S M
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  
« Agu    

Rilis Berita

  • Mahasiswi Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa UGM Dokumentasikan Bahasa Temanggung dan Aksara Jawa melalui KKN-PPM di Desa Bansari
    Agustus 19, 2026
  • Menjaga Tradisi Batik Yogyakarta melalui Karya Aji Setyowijaya, Alumni Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
    Juli 31, 2026
  • Muhamad Rafi Nur Fauzy dan Meifira Arini Pitaloka, Dua Mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa Terpilih sebagai Penerima Program Fast Track FIB UGM
    Juli 22, 2026
Universitas Gadjah Mada

Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
Departemen Bahasa dan Sastra
Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada

 

Jl. Sosiohumaniora, Bulaksumur, Yogyakarta
Telp : 0274-901134 Ext. 110, Fax : 0274-550451, WhatsApp : 08135932426
Email : nusantara@ugm.ac.id

© 2025 Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa FIB UGM

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY