Arsip:
BeritaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Senin, 9 September 2024
Kamis, 29 Agustus 2024, menjadi momen istimewa bagi Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada dengan digelarnya Mangayubagya Wisuda Sarjana periode IV tahun ajaran 2023/2024. Sebanyak 244 wisudawan dan wisudawati merayakan kelulusan mereka, menyandang gelar sarjana setelah menyelesaikan studi di FIB. Acara wisuda yang khidmat ini semakin meriah dengan persembahan tari dari Ratnaraya, unit tari mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa.
Empat mahasiswi, yaitu Audrey Gisela, Ganes Larasati, Novalia Hidayatus S., dan Wening Hidayati, mempersembahkan Tari Geol Denok sebagai bagian dari rangkaian acara wisuda. Tari Geol Denok merupakan tarian khas Semarang yang menggambarkan keceriaan gadis-gadis Semarang yang menari dengan gerakan rancak, energik, dan diiringi musik yang dinamis. Secara etimologis, kata "geol" merujuk pada gerakan tari bagian lutut dan pinggul, sementara "denok" adalah sebutan untuk gadis di Semarang.
Dalam wawancara dengan Wening Hidayati, salah satu penampil, ia menyampaikan bahwa Tari Geol Denok merupakan tarian baru bagi anggota Ratnaraya. “Kami berusaha memberikan yang terbaik dalam penampilan kali ini, dan sangat senang bisa menyambut para wisudawan dan wisudawati FIB UGM dengan Tari Geol Denok,” ujar Wening (05/09/2024).
Penampilan Ratnaraya tidak hanya sebagai hiburan semata, tetapi juga mencerminkan komitmen FIB UGM dalam melestarikan kebudayaan Nusantara, khususnya budaya Jawa. Pelestarian kebudayaan ini memerlukan dukungan dan kolaborasi dari berbagai pihak, dan FIB UGM berperan aktif dengan memberikan ruang seluas-luasnya bagi eksplorasi seni dan budaya, agar jati diri bangsa tersebut tetap relevan dan memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat.
BeritaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Senin, 9 September 2024
Sebuah kabar gembira datang dari Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (FIB UGM). Kintan Dewinta Putri, mahasiswi prodi tersebut terpilih menjadi Putri Duta Budaya Yogyakarta 2024. Dirinya terpilih bersama Duta Andhika, Putra Duta Budaya Yogyakarta 2024, pada 4 Mei 2024, di Sleman City Hall, Yogyakarta.
Berdasarkan wawancara dengan Kintan (06/09/2024), menjadi Duta Budaya Yogyakarta tidak hanya sekedar kompetisi belaka, namun juga harus memahami dan berperan serta pada pelestarian kebudayaan Jawa, khususnya identitas budaya Yogyakarta. “Sebagai Duta Budaya D.I. Yogyakarta, sudah menjadi tugas kita untuk berkontribusi dalam misi pengenalan dan pelestariaan kesenian dan kebudayaan di Yogyakarta. Contoh bentuk kegiatannya adalah menjadi juri kenaikan kelas sanggar tari Krincing Manis dan mengikuti upacara Jamasan Pusaka 1 Suro di puncak Suroloyo, Kulonprogo. Rencana ke depan, akan diadakan pengabdian di Gunung Kidul dan beberapa tempat lain berupa pengajaran ringan tentang kebudayaan dan kesenian di Yogyakarta” terangnya.
Kintan bersyukur dapat meraih gelar Duta Budaya Yogyakarta 2024 dan bangga menjadi bagian dalam agent of change dalam upaya pelestarian kebudayaan Yogyakarta. Dirinya menjelaskan bahwa pada saat ini sedang bersiap-siap mengikuti ajang Duta Budaya Indonesia. “Saat ini, saya sedang menyiapkan diri untuk ajang Duta Budaya Indonesia akan diselenggarakan pada tanggal 19-21 September 2024 di Surabaya. Mohon doa dan dukungannya, ya!”
Kebudayaan merupakan hasil cipta, rasa, dan karsa serta merupakan identitas bagi masyarakatnya. Keberadaan beragam identitas tersebut adalah sebuah jati diri Bangsa Indonesia yang beraneka ragam dan hidup beriringan dengan harmoni. Prestasi yang diraih Kintan menjadi inspirasi bagi para mahadaya untuk terus mengeksplorasi, melestarikan, dan menggali potensi dari kebudayaan Indonesia, serta memberikan kebermanfaatan bagi masyarakat.
BeritaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Selasa, 6 Agustus 2024
Senin (05/08/2024), Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Keluarga Mahasiswa Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa (Kamastawa) sukses menggelar sosialisasi Kartu Rencana Studi (KRS) bagi mahasiswa baru angkatan 2024. Kegiatan yang berlangsung di ruang Margono 303 ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada mahasiswa baru mengenai prosedur pengisian KRS serta panduan perkuliahan yang akan dijalani ke depannya.
Acara yang dimulai pukul 08.30 WIB ini dibuka oleh Ketua Divisi Keilmuan HMJ Kamastawa, Fauzan Adi Fadlurrahman, yang memaparkan secara rinci proses pengisian KRS, termasuk penggunaan aplikasi Simaster, platform utama dalam pengelolaan akademik Universitas Gadjah Mada. Selain itu, Fauzan juga memberikan penjelasan mengenai kurikulum yang berlaku serta berbagai mata kuliah yang akan ditempuh mahasiswa selama masa studi. Tidak lupa, etika perkuliahan yang penting untuk diterapkan juga menjadi bagian dari pemaparan tersebut.
Pemaparan etika perkuliahan kepada mahasiswa angkatan 2024
Selanjutnya, Haryo Untoro, anggota Divisi Keilmuan HMJ Kamastawa, memberikan tips dan trik untuk menjalani perkuliahan. Dalam sesi ini, mahasiswa baru diperkenalkan dengan fasilitas perpustakaan prodi, Digital Library milik Fakultas Ilmu Budaya (FIB), serta sumber digital lainnya seperti kamus daring Bahasa Jawa dan kamus Bahasa Jawa Kuna.
Sosialisasi ini berjalan dengan suasana serius namun tetap santai, memungkinkan mahasiswa baru untuk aktif bertanya dan berinteraksi. Beberapa pertanyaan diajukan oleh peserta, menunjukkan antusiasme dan rasa ingin tahu terhadap sistem KRS dan aspek-aspek perkuliahan yang akan mereka hadapi.
Dengan sosialisasi ini, diharapkan mahasiswa baru angkatan 2024 dapat memahami dengan jelas proses pengisian KRS yang akan dilaksanakan pada Sabtu (10/08/2024) hingga Minggu (11/08/2024), serta wawasan perkuliahan yang akan digunakan untuk berdinamika ke depannya.
BeritaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Jumat, 2 Agustus 2024
Rabu pagi, 31 Juli 2024, menjadi momen bersejarah bagi para mahadaya angkatan 2024 Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada. Sebagai bagian dari proses pengenalan kampus, teman-teman mahadaya disambut dalam acara Pionir Kampung Budaya 2024, yang digelar selama dua hari mulai tanggal 31 Juli hingga 1 Agustus 2024. Acara ini dirancang untuk memperkenalkan para mahasiswa baru pada kehidupan akademis di FIB UGM, tempat berkuliah mahadaya selama empat tahun ke depan.
Pembukaan Pionir Kampung Budaya 2024 dimeriahkan oleh alunan gamelan yang dibawakan oleh Gamasutra (Gamelan Sastra Nusantara), sebuah unit kesenian yang menjadi wadah bagi mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa. Gamasutra memainkan peran penting dalam penyambutan para mahadaya, menghadirkan suasana khidmat dan keadiluhungan budaya Indonesia.
Penampilan Gamasutra pada Pionir Kampung Budaya 2024
Selain menyambut para mahadaya, Gamasutra juga mengiringi kehadiran Ketua Pionir Kampung Budaya 2024, Presiden Lembaga Eksekutif Mahasiswa (LEM) 2024, Dekan FIB UGM beserta staf serta Ketua Program Studi dari berbagai jurusan. Momen puncak dari penampilan Gamasutra adalah ketika memeriahkan prosesi pencabutan gunungan, menandai secara resmi dibukanya Pionir Kampung Budaya 2024. Beberapa gending yang dibawakan oleh Gamasutra dalam acara tersebut antara lain Gending Gati Padhasih, Gangsaran, dan Ayak Vertikal karya Ki Dr. Drs. Sukisno, M.Sn.
Fakultas Ilmu Budaya UGM, sebagai garda terdepan dalam studi kebudayaan, menunjukkan komitmennya dalam melestarikan warisan budaya Indonesia dengan memberikan ruang yang luas bagi pengembangan minat seni dan budaya di kalangan mahasiswa. Upaya ini sejalan dengan pelaksanaan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya pada butir ke-4 tentang peningkatan kualitas pendidikan dan butir ke-17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan.
Penampilan Gamasutra dalam Pionir Kampung Budaya 2024 tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga sarana pengenalan dan pelestarian budaya yang sangat penting. Mahadaya angkatan 2024 pun mendapatkan kesan pertama yang mendalam tentang kehidupan kampus yang kaya akan nilai-nilai budaya dan tradisi, yang akan terus mahadaya temui dan kembangkan selama berdinamika di Fakultas Ilmu Budaya UGM.
BeritaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Kamis, 25 Juli 2024
Tangkapan layar utuh dari Universitas Gadjah Mada. (2024, 24 Jul). Wisuda Program Pascasarjana Periode IV Tahun Akademik 2023/2024 – Juli 2024. Youtube. [4:58] Diakses dari https://www.youtube.com/live/nweng5dXFHw?si=5tdXNqMIomqbgBBQ
Pada Rabu (24/07/2024), Universitas Gadjah Mada (UGM) melaksanakan wisuda program pascasarjana periode III tahun akademik 2023/2024 dengan nuansa yang berbeda. Acara yang berlangsung di Grha Sabha Pramana tersebut dibuka dengan prosesi cucuk lampah oleh mahasiswi-mahasiswi Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa yang tergabung dalam Ratnaraya, unit Tari Mahasiswa Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa.
Para mahasiswi yang tampil dalam prosesi cucuk lampah antara lain Dhiny, Nanda, Audrey, dan Ganes. Prosesi ini diikuti oleh rektor Universitas Gadjah Mada, Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K)., Ph.D., ketua Kagama Pusat, Ganjar Pranowo, dan para dekan dari program magister Universitas Gadjah Mada. Mereka diiringi oleh gending Sesanti Gadjah Mada, sebuah komposisi gending yang diciptakan Djoko Walujo.
Tangkapan layar utuh dari Universitas Gadjah Mada. (2024, 24 Jul). Wisuda Program Pascasarjana Periode IV Tahun Akademik 2023/2024 – Juli 2024. Youtube. [5:39] Diakses dari https://www.youtube.com/live/nweng5dXFHw?si=5tdXNqMIomqbgBBQ
Dalam wawancara yang dilakukan pada 26 Juli 2024, Audrey, salah satu mahasiswi yang berpartisipasi dalam prosesi tersebut, mengungkapkan pengalamannya. "Biasanya kami menampilkan tari tradisional dalam sebuah acara, tetapi kali ini kami melakukan tradisi cucuk lampah, mengiringi Ibu Rektor, Bapak Ganjar, dan bapak ibu dekan pascasarjana. Ini menjadi pengalaman baru yang amat berkesan bagi kami," terangnya.
Dilansir dalam desatepus.gunungkidulkab.go.id (2023, 07 September), tradisi cucuk lampah, merupakan seni tradisi pernikahan adat Jawa dengan berbentuk iring-iringan, mengiringi pengantin menuju pelaminan. Posisi para penari cucuk lampah berada di depan, diikuti oleh pager ayu dan pager bagus, pengantin, serta keluarga pengantin. Tujuan dari cucuk lampah bagi masyarakat Jawa adalah sebagai penolak bala yang dapat mengganggu pernikahan. Namun, dalam acara wisuda pascasarjana ini, tradisi tersebut disesuaikan sehingga relevan dengan suasana dan tujuan acara.
Pelestarian tradisi dan kebudayaan Indonesia memiliki nilai estetika, pengajaran, dan filosofi yang mendalam. Kegiatan seperti ini menunjukkan upaya yang efektif dalam melestarikan dan mewariskan jati diri bangsa dengan penyesuaian terhadap relevansi zaman. Kerja sama dari berbagai pihak sangat diperlukan untuk mendorong pelestarian dan pewarisan budaya. Dengan menghadirkan cucuk lampah dalam acara wisuda, Dengan demikian, penghadiran cucuk lampah dalam acara wisuda program pascasarjana sesuai dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG’s) butir ke-4, yaitu peningkatan kualitas pendidikan, dan butir ke-17, yaitu kemitraan untuk mencapai tujuan.
DAFTAR PUSTAKA
Desatepus.gunungkidulkab.go.id (2023, 07 September), Cucuk Lampah dalam Pernikahan Jawa: Simbolisme dan Tradisi yang Mengesankan. Diakses pada 29 Juli 2024, dari https://desatepus.gunungkidulkab.go.id/first/artikel/2708-Cucuk-Lampah-dalam-Pernikahan-Jawa--Simbolisme-dan-Tradisi-yang-Mengesankan#:~:text=Cucuk%20Lampah%20adalah%20salah%20satu,keindahan%20dan%20makna%20dalam%20pernikahan.
BeritaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Senin, 22 Juli 2024
Dalam rangka semarak Dies Natalis ke-57, Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada (UGM), mengadakan festival karawitan yang berlangsung selama dua hari, yaitu pada 20-21 Juli 2024. Festival ini diikuti oleh 47 kelompok karawitan, baik dari internal maupun eksternal Universitas Gadjah Mada. Salah satu grup yang tampil dalam kegiatan tersebut adalah Gamelan Sastra Nusantara (Gamasutra).
Gamelan Sastra Nusantara (Gamasutra) merupakan sebuah unit yang terdiri atas mahasiswa dan mahasiswi Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Fakultas Ilmu Budaya, UGM. Grup ini berfokus untuk mempelajari, memperdalam, dan menyajikan seni karawitan. Gamasutra mendapat giliran untuk tampil pada hari Minggu, 21 Juli 2024, tepatnya pada sesi kedua yang diselenggarakan pada pukul 13.00 WIB. Para penampil, yang terdiri atas beragam angkatan, menyajikan Gending Ladrang Bogasampir, Ketawang Kasatriyan, dan Lancaran Sebet dengan laras slendro pathet sanga.
Dikutip utuh dari Filsafat UGM (2024, 21 Juli). Festival Karawitan Dies Natalis ke 57 Fakultas Filsafat UGM Hari ke-2 Sesi 2. Youtube. [32:36], https://www.youtube.com/watch?v=oQYastAouYg
Dilansir dari gloriabarus pada laman filsafat.ugm.ac.id (2024, 20 Juli), Dr. Rr. Siti Murtiningsih, S.S., M.Hum., dekan Fakultas Filsafat, dalam sambutannya menerangkan bahwa keberadaan festival karawitan menjadi wadah untuk menikmati, melestarikan, dan meresapi nilai-nilai filosofis dari seni musik tradisional Jawa ini. Dalam hal ini, Gamasutra sebagai perpanjangan dari Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, ikut serta dalam kolaborasi ini dengan tujuan melestarikan sekaligus menghidupkan kesenian adiluhung tersebut Melalui festival karawitan, diharapkan seni karawitan dapat terus dihargai dan dikembangkan, tidak hanya tetap indah dan lestari, namun juga relevan, hidup, serta bermanfaat dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Gloriabarus. (2024, 20 Juli). Fakultas Filsafat Gelar Festival Karawitan Selama Dua Hari, Menampilkan 47 Kelompok Karawitan Se-DIY. Filsafat.ugm.ac.id. https://filsafat.ugm.ac.id/2024/07/20/fakultas-filsafat-gelar-festival-karawitan-selama-dua-hari-menampilkan-47-kelompok-karawitan-se-diy/
SUMBER GAMBAR
Filsafat UGM (2024, 21 Juli). Festival Karawitan Dies Natalis ke 57 Fakultas Filsafat UGM Hari ke-2 Sesi 2. Youtube. [32:36], dari https://www.youtube.com/watch?v=oQYastAouYg
BeritaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Kamis, 18 Juli 2024
Rabu (17/07/2024), Pura Pakualaman melaksanakan upacara adat Labuhan yang bertempat di Pantai Glagah, Kalurahan Glagah, Kapanewon Temon, Kabupaten Kulon Progo, D.I. Yogyakarta. Upacara Labuhan ini dilakukan setiap 10 Muharram atau 10 Sura. Bersama dengan dosen sekaligus abdi dalem Pura Pakualaman, Dr. Ratna Saktimulya, M.Hum., sebanyak 20 mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (FIB UGM) berkesempatan mengikuti prosesi adat Labuhan tersebut.
Dalam pelaksanaannya, terdapat ketentuan khusus berupa busana yang harus dikenakan oleh para mahasiswa. Busana mahasiswa adalah baju adat pranakan dan jarit, sedangkan busana mahasiswi adalah kebaya beserta jarit. Para peserta berkumpul pada pukul 06.00 WIB di Pura Pakualaman sebelum melanjutkan perjalanan menuju Pesanggrahan Glagah menggunakan bus. Sesampainya di sana, mahasiswa mengikuti rangkaian upacara dan pemberkatan. Ubarampe yang telah didoakan kemudian diarak dan para partisipan mengikutinya menuju Joglo Labuhan. Beberapa gunungan kemudian dilarung ke laut.
Pengadaan tradisi Labuhan ini adalah sebagai bentuk syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, mendoakan para leluhur, serta mengharapkan keselamatan, kesehatan, dan kesejahteraan bagi masyarakat. Bagi para mahasiswa, tradisi Labuhan di Pantai Glagah merupakan kesempatan emas untuk terjun langsung dan memahami bentuk kebudayaan Jawa yang adiluhung ini. Pengalaman dan interaksi kultural secara langsung ini diharapkan dapat menjadi sarana dalam mengembangkan kompetensi keilmuan mereka.
Dengan demikian, kesempatan yang diberikan Pura Pakualaman kepada mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa adalah upaya nyata dalam membangun pemahaman sekaligus langkah pelestarian kebudayaan Jawa.
BeritaKarya MahasiswaKegiatan MahasiswaLain-lainMahasiswaSDGS Rabu, 3 Juli 2024
Sebagai bentuk pembelajaran sekaligus pengabdian kepada masyarakat, mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Pada Selasa, 28 Juni 2024, UGM mengadakan Upacara Pengarahan dan Penerjunan KKN-PPM UGM Periode 2 Tahun 2024. Acara tersebut berlangsung di halaman Gedung Balairung pada siang hari dengan berbagai penampilan menarik, salah satunya adalah Tari Angguk
Tari Angguk adalah tarian tradisional khas Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Penampilan ini dibawakan oleh mahasiswi Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa. Para penari, yaitu Arin, Dhiny, Galuh, Kintan, Nanda, Novalia, Wening, Audrey Gizella, Eka, dan Pinky, berhasil memukau penonton. Nanda, salah seorang penari, mengungkapkan bahwa Tari Angguk yang mereka bawakan mendapat sambutan meriah dan gemuruh tepuk tangan dari penonton. "Aku dan teman-teman berusaha untuk mempersembahkan penampilan yang memuaskan. Ketika ditampilkan, para audiens memberikan tanggapan yang sangat meriah dan tepuk tangan yang bergemuruh," ujarnya dalam wawancara (01/07/2024).
Tari Angguk menjadi elemen penting yang menghiasi Upacara Pengarahan dan Penerjunan KKN-PPM UGM Periode 2 Tahun 2024. Lebih dalam lagi, kehadiran Tari Angguk mencerminkan keragaman budaya masyarakat Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa program KKN-PPM UGM berkontribusi kepada masyarakat yang beraneka ragam, wujudnya berupa penerjunan mahasiswa ke 35 provinsi di Indonesia.
Penampilan Tari Angguk juga merupakan upaya konkret dalam nguri-uri (melestarikan) dan ngurip-urip (menyemarakkan) kebudayaan daerah. Usaha pelestarian dan penghidupan kebudayaan daerah merupakan bentuk pemertahanan dan pelekatan identitas bangsa. Dengan mempelajari, memahami, melestarikan, dan mengembangkan pengetahuan dan kearifan lokal, maka turut berperan dalam pengembangan pendidikan dan memberikan manfaat kepada masyarakat. Untuk merealisasikannya, dibutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak guna memaksimalkan dan menjaga keberlangsungan program tersebut. Oleh karena itu, penampilan Tari Angguk dalam Upacara Pengarahan dan Penerjunan KKN-PPM UGM Periode 2 Tahun 2024 berhubungan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) poin 4 dan 17.
BeritaKarya MahasiswaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Rabu, 3 Juli 2024
Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (FIB UGM), kembali mengadakan kegiatan Macapatan Jumat Legen pada Hari Kamis, 27 Juni 2024. Acara tersebut bertempat di Pusat Kajian Jawa (Pusaka Jawa) dan mengangkat sebuah karya sastra Jawa yang populer, yaitu Serat Wedhatama.
Serat Wedhatama, sebuah karya sastra yang ditulis oleh Kanjeng Gusti Pangeran Arya Adipati (KGPAA) Mangkunagara IV, merupakan karya yang sarat dengan piwulang tentang konsep ketuhanan serta ajaran moral dalam berkehidupan dan bermasyarakat. Naskah Serat Wedhatama yang tersimpan di Perpustakaan Istana Mangkunegaran Surakarta terdiri dari 100 pada (bait) dan dibagi ke dalam beberapa pupuh, yaitu:
Acara menghadirkan Prof. Dr. Hendrokumoro, M.Hum., sebagai pemateri, dan dihadiri oleh peserta dari berbagai kalangan. Selain itu, Dr. Rudy Wiratama, S.I.P., M.A., turut dalam menembangkan Serat Wedhatama di acara pembuka dan beberapa mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa turut serta menabuh gamelan, menambah khidmat suasana acara. Keaktifan peserta dalam membaca dan menembangkan Serat Wedhatama menciptakan suasana yang penuh dengan keindahan.
Dr. Rudy Wiratama, S.I.P., M.A., dan mahasiswa menampilkan Serat Wedhatama
Prof. Dr. Hendrokumoro, M.Hum., dalam kesempatan tersebut, menekankan bahwa Serat Wedhatama, dengan nilai-nilai filosofis dan pesan moralnya, dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, pengaktualisasian tersebut perlu diperhatikan agar dapat relevan dengan kondisi pada saat ini.
Prof. Dr. Hendrokumoro, M.Hum. sedang memaparkan Serat Wedhatama
Macapatan Jumat Legen bertujuan untuk untuk menghidupkan tradisi Macapatan dan melestarikan tradisi ini kepada generasi muda. Pelestarian tradisi ini dan penggalian informasi dari karya-karya sastra seperti Serat Wedhatama adalah langkah penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan masyarakat. Kolaborasi berbagai pihak, seperti antara Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa dengan Pusaka Jawa UGM, adalah sebuah upaya untuk memaksimalkan usaha pelestarian tersebut. Dengan demikian, penyelenggaraan Macapatan Jumat Legen ini sejalan dengan butir ke-4 dan butir ke-17 dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG’s).
BeritaKegiatan MahasiswaLain-lainMahasiswaSDGS Rabu, 29 Mei 2024
Pada hari Senin, 27 Mei 2024, Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa mengadakan kuliah lapangan dalam rangka mata kuliah Kodikologi. Kegiatan ini diselenggarakan di Perpustakaan Widyabudaya Keraton Ngayogyakarta dan Perpustakaan Widyapustaka Pura Pakualaman. Para peserta kegiatan ini adalah mahasiswa peserta mata kuliah Kodikologi 2024, dipandu oleh Dr. Sri Ratna Saktimulya, M.Hum., sebagai dosen pengampu mata kuliah tersebut.
Dalam kuliah lapangan ini, mahasiswa mendapat kesempatan untuk melihat dan mempelajari secara langsung manuskrip, arsip, dan upaya preservasi naskah-naskah tersebut. Lokasi pertama yang dikunjungi adalah Widyabudaya Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Di sini, mahasiswa dijamu terlebih dahulu dengan minuman teh hangat khas Keraton Yogyakarta. Setelah itu, mereka dibagi menjadi empat kelompok dan dipandu oleh abdi dalem untuk mengamati secara mendalam koleksi manuskrip, arsip, dan proses restorasinya.
Mahasiswa mengamati penjelasan dan menikmati jamuan yang disediakan oleh Keraton Yogyakarta.
Lokasi kedua yang dikunjugi adalah Perpustakaan Widyapustaka Pura Pakualaman. Pada tempat tersebut, para peserta disuguhi jamu beras kencur dan beberapa hidangan tradisional. Setelah menikmati hidangan, para peserta diberi kesempatan untuk melihat langsung koleksi manuskrip dan arsip. Mereka juga mendengarkan penjelasan dari pustakawan mengenai kondisi, aspek, dan pelestarian naskah-naskah tersebut.
Mahasiswa mendengarkan penjelasan dari dosen pembimbing Mata Kuliah
Pelaksanaan kuliah lapangan ini berjalan dengan baik dan lancar. Para mahasiswa sangat antusias, terlihat dari tingginya rasa ingin tahu mereka terhadap berbagai koleksi naskah dan arsip, serta tahap-tahap revitalisasinya. Tujuan dari kegiatan ini adalah sebagai ajang pelestarian dalam bentuk pengenalan budaya Indonesia, khususnya budaya Jawa, kepada generasi muda. Dengan demikian, diharapkan rasa cinta terhadap budaya bangsa pada generasi muda terus tumbuh dan dapat diwujudkan dalam upaya-upaya nyata untuk tetap nguri-uri (melestarikan) dan ngurip-urip (menghidupkan) jati diri bangsa tersebut.
Keberadaan berbagai manuskrip dan arsip merupakan sumber jejak sejarah sekaligus cermin dari kehidupan budaya pada masanya. Oleh karena itu, pelestarian bukti-bukti sejarah dan penggalian informasi di dalamnya perlu dilakukan sebagai langkah untuk memahami bentuk kebudayaan, pengetahuan, sejarah, dan kejayaan Nusantara. Selain itu, sinergi dari berbagai pihak diperlukan demi mewujudkan hal tersebut. Hal ini sejalan dengan poin keempat dan poin ketujuh belas pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, yaitu menghadirkan dan meningkatkan kualitas pendidikan serta kerjasama antarkemitraan untuk mencapai tujuan.
Penulis : Nanda Nursa Alya & Haryo Untoro
Editor : Haryo Untoro
| S | S | R | K | J | S | M |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 |
| 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 |
| 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 |
| 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 |
| 29 | 30 | |||||
| S | S | R | K | J | S | M |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 |
| 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 |
| 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 |
| 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 |
| 29 | 30 | |||||