• Universitas
  • Portal Akademik
  • Perpustakaan Universitas
  • Webmail
  • Arnawa
  • UM UGM
  • Bahasa Indonesia
    • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
Departemen Bahasa dan Sastra
Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
  • Halaman Muka
  • Profil
    • Visi & Misi
    • Tujuan
    • Keunggulan
    • Prospek Karier
    • Staf Pengajar
  • Akademik
    • Alur Kurikulum
    • Sebaran Mata Kuliah
    • Capaian Pembelajaran
    • Informasi Perkuliahan dan Administrasi
    • KONFERENSI DAN KEGIATAN INTERNASIONAL
    • Kalender Akademik
  • KPPB
    • Kerjasama
    • Pengabdian
      • Pengabdian Masyarakat
      • Siniar (Anarka Lālitya)
    • Penelitian
      • Penelitian Staf Pengajar
      • Arsip Kajian Jawa – Arnawa
    • Beasiswa
  • Kemahasiswaan
    • Hasil Survey Mahasiswa
    • HMJ Kamastawa
    • Kegiatan Mahasiswa
    • Karya Mahasiswa
    • Kanal Youtube
    • Kanal Instagram
  • Alumni
    • Profil Alumni
  • Kontak
  • Beranda
  • 2026
  • September
Arsip 2026:

September

Berawal dari Mata Kuliah Tradisi Lisan, Ghibran Arsha Daffa’ Musaffa’ Menghidupkan Kembali Tradisi Gejog Lesung

BeritaKarya MahasiswaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Rabu, 30 September 2026

Pelestarian budaya tidak hanya dilakukan dengan menjaga keberlangsungan tradisi yang masih hidup, tetapi juga dengan menghidupkan kembali kesenian yang mulai ditinggalkan. Upaya tersebut dilakukan oleh Ghibran Arsha Daffa’ Musaffa’, mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (FIB UGM) angkatan 2024. Berawal dari ketertarikannya terhadap tradisi lisan melalui perkuliahan, Ghibran berinisiatif menghidupkan kembali kesenian Gejog Lesung di Dusun Karang Tengah, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Gejog lesung merupakan kesenian tradisional yang memanfaatkan bunyi ketukan lesung sebagai iringan musik. Lesung adalah alat berupa wadah kayu yang digunakan untuk menumbuk gabah menjadi beras. Dalam perkembangannya, aktivitas menumbuk tersebut menghasilkan bunyi berirama yang kemudian dimanfaatkan sebagai bagian dari pertunjukan kesenian. Dalam wawancara yang dilaksanakan secara daring pada 22 September 2026, Ghibran menjelaskan bahwa pertunjukan Gejog Lesung biasanya memadukan ketukan lesung dengan nyanyian lagu-lagu tradisional, seperti Gugur Gunung dan Prau Layar. Di Dusun Karang Tengah, kesenian ini dikenal melalui kelompok Gejog Lesung Ngudi Lestari.

Menurut penuturan Ghibran, keberadaan lesung memiliki keterkaitan erat dengan sejarah Dusun Karang Tengah. Pada wilayah tersebut, ditemukan alat penumbuk berbahan batu, dinamakan watu lumpang yang diperkirakan telah ada sejak sekitar 1632 Masehi. Tradisi menumbuk juga telah berlangsung sejak lama, salah satunya berkaitan dengan peran masyarakat Karang Tengah dalam menyediakan bahan konsumsi bagi para abdi dalem yang membangun kompleks makam raja-raja Mataram di Imogiri. Pada masa itu, kegiatan menumbuk dilakukan untuk mengolah gabah menjadi beras. Seiring perkembangannya, alat penumbuk berbahan batu kemudian digantikan dengan lesung kayu yang dinilai lebih fleksibel untuk digunakan. Aktivitas menumbuk dengan lesung tersebut menghasilkan bunyi yang menarik dan berirama. Bunyi itu tidak hanya mengiringi pekerjaan, tetapi juga dapat meningkatkan semangat saat bekerja serta menjadi tontonan yang menghibur. Dari kebiasaan tersebut, kesenian Gejog Lesung kemudian berkembang sebagai bentuk ekspresi budaya masyarakat setempat.

Dokumentasi Watu Lumpang

Kelompok Gejog Lesung Ngudi Lestari terbentuk pada tahun 1965 dengan pertunjukan yang melibatkan para penumbuk lesung dan penyanyi lagu tradisional. Selanjutnya, di tahun 2000, kelompok ini mulai menghadirkan penari untuk memvisualisasikan isi lagu yang dibawakan. Sebagai contoh, ketika membawakan lagu Gugur Gunung, para penari bergerak dengan menggambarkan kegiatan gotong royong. Perpaduan bunyi lesung, nyanyian, dan tarian tersebut menjadikan pertunjukan lebih beragam.

Dalam perjalanannya, Gejog Lesung Ngudi Lestari kerap tampil dalam berbagai kegiatan masyarakat, mulai dari peringatan hari ulang tahun desa, acara masyarakat, hingga acara kebudayaan. Kelompok ini juga pernah diundang tampil di Kanjengan, Imogiri, dalam rangka tradisi Kirab Siwur, yaitu prosesi mengarak siwur sebagai bagian dari rangkaian ritual nguras enceh. Ritual tersebut dilaksanakan dengan membersihkan dan mengisi air pada wadah di kompleks makam raja-raja Mataram Islam di Imogiri.

Hanya saja, seiring berjalannya waktu, kegiatan kesenian ini mengalami “mati suri” karena tidak adanya regenerasi. Kondisi tersebut mendorong Ghibran untuk mengambil bagian dalam upaya pelestarian kesenian di daerahnya. Ketertarikannya semakin berkembang ketika ia mengikuti mata kuliah Tradisi Lisan di Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa FIB UGM. Perkuliahan tersebut menjadi salah satu titik awal bagi Ghibran untuk mengenal tradisi gejog lesung lebih mendalam sekaligus mendorongnya untuk melakukan upaya pelestarian secara langsung. “Berkat adanya mata kuliah Tradisi Lisan, saya jadi terdorong untuk mengetahui lebih dalam tradisi ini serta menambah semangat saya untuk mengadakannya kembali,” terang Ghibran.

Selain berstatus sebagai mahasiswa, Ghibran aktif dalam organisasi kepemudaan Angkatan Muda-Mudi Islam (AMMI) Karang Tengah, khususnya pada divisi literasi dan edukasi. Melalui keterlibatannya dalam organisasi tersebut, ia menginisiasi pembentukan Gejog Lesung Ngudi Lestari New Generation sebagai upaya meneruskan keberlangsungan kesenian yang sempat terhenti. Inisiatif ini dilakukan dengan melibatkan generasi muda setempat sekaligus mengajak para sesepuh untuk berbagi pengetahuan dan keterampilan mengenai kesenian gejog lesung. “Kami memulainya dari nol dan juga mengajak para sesepuh untuk mau mengajari. Mereka senang karena kesenian ini ada penerusnya,” tambahnya.

Penampilan Gejog Lesung Ngudi Lestari New Generation

Upaya membangun kembali kelompok kesenian tersebut bukan tanpa tantangan. Pada tahap awal, Ghibran menghadapi kesulitan dalam mengajak generasi muda untuk terlibat. Meski demikian, pendekatan yang dilakukan secara bertahap mulai menumbuhkan antusiasme di antara para anggota. “Awalnya memang agak susah-susah gampang. Ada perasaan rendah diri, ada juga yang malu untuk melestarikan ini. Namun, Alhamdulillah, dengan upaya yang kuat, teman-teman jadi semangat dan bahkan ingin ada rencana latihan rutin tiap minggu,” jelas Ghibran.

Perlahan, upaya tersebut mulai membuahkan hasil. Gejog Lesung Ngudi Lestari New Generation kembali tampil dengan memadukan ketukan lesung, nyanyian, tarian, dan kesenian ketoprak dalam kegiatan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus. Penampilan tersebut menjadi langkah untuk memperkenalkan kembali gejog lesung kepada masyarakat sekaligus menumbuhkan ketertarikan generasi muda terhadap kesenian lokal. Upaya ini turut mendapat perhatian dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul dan Wakil Bupati Bantul. Ke depannya, kesenian tersebut direncanakan untuk ditampilkan dalam berbagai program atau kegiatan kebudayaan.

Inisiatif Ghibran menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat berawal dari lingkungan terdekat dan dikembangkan melalui keterlibatan aktif generasi muda. Melalui pengetahuan yang diperoleh di bangku perkuliahan, dukungan organisasi kepemudaan, serta serta keterlibatan para sesepuh dalam pewarisan pengetahuan tradisi, tradisi yang sempat terhenti dapat kembali memperoleh ruang untuk berkembang. Upaya untuk nguri-uri ‘melestarikan’ dan ngurip-urip ‘menghidupkan’ budaya tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak hanya sekadar menjaga identitas semata, tetapi juga membuka ruang bagi budaya untuk memberikan manfaat bagi masyarakat itu sendiri.

 

Penulis           : Haryo Untoro
Editor             : Haryo Untoro

Bersama Titik Renggani, Mahasiswa Diajak Memahami Geliat Sastra Jawa dalam Siaran Radio

BeritaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Senin, 28 September 2026

Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa menyelenggarakan diskusi rutin bertajuk “Geliat Sastra Jawa dalam Media: Cipta, Karya, dan Perubahannya” pada Jumat, 25 September 2026. Pada edisi September ini, diskusi mengangkat tema “Sastra Jawa dalam Siaran Radio” dan dilaksanakan di Ruang 709 FIB UGM pada pukul 13.00–15.00 WIB.

Dalam kegiatan tersebut, Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa menghadirkan Titik Renggani, penyiar senior RRI, pegiat teater, serta pelestari budaya Jawa asal Yogyakarta. Kegiatan dihadiri oleh mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa dari berbagai angkatan serta mahasiswa exchange.

Dalam pemaparannya, Titik Renggani berbagi pengalaman mengenai keberadaan sastra dalam siaran radio, khususnya di RRI. Ia menjelaskan berbagai aspek yang berkaitan dengan proses penciptaan karya sastra, seperti radio, geguritan, majalah udara, feautere, dsb., pembacaan atau penyampaian karya sastra melalui siaran, hingga peran voice actor dalam dunia penyiaran. Selain itu, ia juga memaparkan berbagai peluang yang dapat dikembangkan bagi mereka yang memiliki ketertarikan terhadap dunia radio dan industri kreatif.

Salah satu hal yang menarik perhatian peserta adalah informasi mengenai jumlah audiens RRI Yogyakarta. Pada kesempatan tersebut, Titik Renggani menunjukkan data melalui aplikasi RRI Digital dan menyampaikan bahwa pada hari pelaksanaan kegiatan, Jumat, 25 September 2026, RRI Yogyakarta tercatat didengarkan oleh sekitar 208 ribu audiens. Menurut data yang ditunjukkannya, jumlah tersebut berada di atas jumlah audiens RRI Jakarta dan RRI Surabaya pada saat itu.

Titik Renggani juga memberikan motivasi kepada mahasiswa untuk terus mengembangkan kemampuan dan berkarya melalui bidang yang mereka tekuni. “Bila saya saja yang merupakan lulusan ekonomi mampu untuk terus berkarya dalam siaran, termasuk terkait dengan bahasa dan sastra Jawa, teman-teman juga harus mampu karena mendalami ilmu tersebut,” tuturnya.

 

Setelah sesi pemaparan, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi. Suasana diskusi berlangsung serius, tetapi tetap santai sehingga mendorong peserta untuk aktif menyampaikan pertanyaan. Pertanyaan yang muncul pun beragam, mulai dari proses penciptaan karya sastra Jawa, dunia penyiaran dan RRI, hingga kiat-kiat menghasilkan karya yang menarik dan berkualitas.

 

Diskusi tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk melihat sastra Jawa tidak hanya sebagai objek kajian akademik, tetapi juga sebagai bagian dari praktik kreatif yang dapat hadir dalam berbagai media. Pengalaman yang dibagikan Titik Renggani menunjukkan bahwa radio dapat menjadi salah satu ruang bagi sastra Jawa untuk terus digunakan, dikembangkan, dan diperkenalkan kepada masyarakat.

 

Melalui diskusi ini, peserta memperoleh gambaran mengenai keberadaan dan perkembangan sastra Jawa dalam dunia radio dan penyiaran. Bagi mahasiswa, pengalaman yang dibagikan Titik Renggani juga menjadi wawasan mengenai peluang pengembangan bahasa dan sastra Jawa melalui media kreatif. Diskusi ini sekaligus menunjukkan bahwa upaya nguri-uri ‘melestarikan’ dan ngurip-urip ‘menyemarakkan’ bahasa dan sastra Jawa dapat dilakukan melalui berbagai medium agar tetap hadir dan relevan di tengah perkembangan zaman.

 

Penulis           : Haryo Untoro
Editor             : Haryo Untoro

Abhiseka Kramasisya 2026: Menyambut Mahasiswa Baru melalui Pengenalan dan Ekspresi Seni

BeritaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Minggu, 20 September 2026

Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (FIB UGM), menyelenggarakan Abhiseka Kramasisya 2026 pada Sabtu, 12 September 2026. Kegiatan ini merupakan acara penyambutan dan prosesi pengukuhan mahasiswa baru Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa. Sebagai bagian dari rangkaian awal kehidupan perkuliahan, mahasiswa baru angkatan 2026 mengikuti kegiatan tersebut untuk mengenal lingkungan akademik sekaligus membangun kebersamaan dengan sivitas akademika program studi.

Rangkaian Abhiseka Kramasisya 2026 diisi dengan berbagai kegiatan yang memperkenalkan mahasiswa baru pada kehidupan perkuliahan. Kegiatan diawali dengan penampilan tari pembuka, kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari pembawa acara dan panitia. Mahasiswa baru juga mendapat kesempatan untuk mengenal pengalaman kehidupan kampus melalui talkshow bersama alumni dan sesi tanya jawab dengan dosen. Permainan interaktif turut mencairkan suasana sebelum rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan prosesi siraman sebagai salah satu bagian dari penyambutan mahasiswa baru.

Setelah rangkaian penyambutan tersebut, kegiatan berlanjut ke pentas seni yang memberikan ruang bagi mahasiswa baru untuk mengekspresikan diri melalui berbagai bentuk pertunjukan. Panggung tersebut menjadi kesempatan bagi mereka untuk menampilkan minat dan bakat sekaligus berinteraksi dengan mahasiswa lain, panitia, dosen, dan alumni dalam suasana yang lebih santai. Kreativitas mahasiswa baru terlihat dalam berbagai penampilan yang disajikan, salah satunya melalui teater singkat yang memadukan pesan moral, humor mengenai kehidupan kampus, dan kritik sosial. Para mahasiswa tidak hanya tampil sebagai pemeran, tetapi juga terlibat dalam menghidupkan cerita melalui pengembangan karakter dan penyajian pertunjukan. Penampilan tersebut mendapat respons positif dari penonton melalui gelak tawa dan apresiasi yang diberikan sepanjang pementasan. Lebih dari sekadar hiburan, pentas seni juga menjadi kesempatan bagi mahasiswa baru untuk berani tampil, berkreasi bersama, dan mengenal satu sama lain melalui proses berkarya. Interaksi yang terbangun selama pementasan turut memperkuat suasana kebersamaan di antara mahasiswa baru.

Dokumentasi pentas seni mahasiswa

Melalui rangkaian tersebut, Abhiseka Kramasisya 2026 tidak hanya menjadi kegiatan penyambutan dan pengukuhan mahasiswa baru, tetapi juga menjadi bagian dari pengenalan awal terhadap kehidupan mahasiswa di lingkungan Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa. Pengenalan tersebut tidak berhenti pada kehidupan akademik, tetapi juga menunjukkan bahwa menjadi mahasiswa Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa berarti memiliki ruang untuk mengembangkan kreativitas dan berbagai potensi yang dimiliki. Pentas seni menjadi salah satu ruang untuk mengenalkan hal tersebut kepada mahasiswa baru, bahwa bahasa, sastra, dan budaya Jawa tidak hanya dipelajari melalui kegiatan akademik, tetapi juga dapat dihidupkan melalui kreativitas dan karya. Dengan demikian, kreativitas mahasiswa dapat menjadi bagian dari upaya memelihara, melestarikan, dan mengembangkan budaya Jawa agar tetap hidup dan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.

 

Penulis            : Nurul Fajri Rahmani
Editor             : Haryo Untoro

Mahasiswa Fast Track Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa Ikuti Konferensi Internasional Kajian Linguistik

AlumniBeritaKarya MahasiswaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Senin, 14 September 2026

Pada Kamis–Jumat, 10–11 September 2026, Program Studi Magister Linguistik dan Departemen Bahasa dan Sastra, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (FIB UGM), menyelenggarakan Konferensi Internasional Kajian Linguistik. Kegiatan yang mengangkat tema “Bentuk, Makna, dan Fungsi Bahasa di Era Transformasi Digital” tersebut berlangsung di Gedung Poerbatjaraka, FIB UGM.

Salah satu peserta dalam kegiatan tersebut adalah Haryo Untoro, alumni Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa (BSB Jawa) FIB UGM sekaligus mahasiswa fast track pada Program Studi Magister Linguistik FIB UGM. Dalam konferensi tersebut, Haryo berkesempatan menjadi presenter atau pemakalah dengan mempresentasikan penelitiannya yang berjudul “Negosiasi Identitas Budaya dalam Penerjemahan Puisi Berbahasa Indonesia ke Bahasa Jawa Kuna pada Antologi Puisi Jenggala: Kumpulan Puisi Dwibahasa”.

Penelitian tersebut mengkaji proses pembentukan dan negosiasi identitas budaya dalam penerjemahan puisi berbahasa Indonesia ke bahasa Jawa Kuna. Antologi Jenggala: Kumpulan Puisi Dwibahasa menjadi objek kajian dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa sumber dan bahasa Jawa Kuna sebagai bahasa sasaran. Bahasa Jawa Kuna memiliki posisi yang berbeda dari bahasa Indonesia karena tidak lagi digunakan sebagai bahasa komunikasi sehari-hari dan tidak memiliki penutur asli. Kondisi tersebut menjadi salah satu persoalan yang dikaji dalam penelitian, khususnya terkait dengan bagaimana identitas budaya dinegosiasikan melalui pilihan-pilihan penerjemahan ke dalam bahasa Jawa Kuna.

Pada Kamis, 10 September 2026, Haryo mempresentasikan penelitian tersebut dalam konferensi internasional. Bagi Haryo, konferensi tersebut menjadi pengalaman pertamanya mengikuti konferensi internasional sekaligus mempresentasikan hasil penelitian dalam forum ilmiah. Dalam wawancara pada 18 September 2026, ia mengaku sempat merasa gugup, tetapi tetap berusaha mempersiapkan dan menyampaikan materi dengan sebaik-baiknya.

Keikutsertaan dalam konferensi internasional menjadi salah satu pengalaman akademik yang dapat mendorong mahasiswa untuk terus mengembangkan kemampuan penelitian dan keberanian menyampaikan gagasan dalam forum ilmiah. Di sisi lain, kegiatan akademik tersebut juga menunjukkan bahwa kajian bahasa dan budaya daerah dapat terus dikembangkan melalui penelitian dengan perspektif yang relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan.

Melalui pengalaman tersebut, mahasiswa diharapkan tidak hanya terus mengembangkan kapasitas akademiknya, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap pelestarian dan pengembangan budaya daerah. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan akademik maupun penelitian sebagai bagian dari nguri-uri ‘melestarikan’ dan ngurip-urip ‘menyemarakkan’ budaya agar tetap berkembang dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

 

Penulis           : Nurul Fajri Rahmani
Editor             : Nurul Fajri Rahmani

Divisi Keilmuan HMJ Kamastawa Gelar Sosialisasi KRS dan Perkuliahan bagi Mahadaya 2026

BeritaKarya MahasiswaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Jumat, 11 September 2026

Himpunan Mahasiswa Jurusan Keluarga Mahasiswa Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa (HMJ Kamastawa) melalui Divisi Keilmuan melaksanakan kegiatan Sosialisasi Kartu Rencana Studi (KRS) dan Perkuliahan bagi mahasiswa baru atau Mahadaya angkatan 2026 pada Senin, 11 Agustus 2026. Kegiatan ini diselenggarakan sebagai bentuk pembekalan bagi mahasiswa baru yang mulai memasuki masa pengisian KRS pada 11–14 Agustus 2026.

Dalam kegiatan tersebut, Divisi Keilmuan HMJ Kamastawa memberikan pemaparan mengenai sejumlah hal yang berkaitan dengan persiapan mahasiswa dalam menjalani perkuliahan. Materi yang disampaikan meliputi pengenalan dan pengoperasian Simaster, pengenalan mata kuliah, serta penjelasan mengenai kurikulum 2026. Selain aspek akademik, peserta juga memperoleh informasi mengenai Abhiseka Kramasisya 2026 serta gambaran singkat mengenai Temu Budaya Nusantara (TBN) XXXII, yang merupakan kegiatan tahunan Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Daerah Se-Indonesia (Imbasadi).

Pemaparan mengenai kurikulum 2026 turut menghadirkan Ketua Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Dr. Sulistyowati, S.S., M.Hum. Kehadiran Ketua Program Studi dalam kegiatan tersebut memberikan kesempatan kepada mahasiswa baru untuk memperoleh penjelasan secara lebih mendalam mengenai struktur dan ketentuan kurikulum yang akan mereka jalani. Penjelasan tersebut menjadi penting mengingat terdapat sejumlah perbedaan antara kurikulum 2026 dengan kurikulum yang berlaku bagi mahasiswa angkatan sebelumnya.

Kegiatan sosialisasi berlangsung dalam suasana serius dan interaktif. Mahasiswa baru tidak hanya menyimak materi yang disampaikan, tetapi juga aktif mengajukan berbagai pertanyaan terkait pengisian KRS, mata kuliah, kurikulum, serta kehidupan akademik selama menempuh pendidikan di Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa. Interaksi tersebut menunjukkan antusiasme mahasiswa baru dalam memahami berbagai hal yang akan menjadi bagian dari perjalanan akademik mereka.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa baru angkatan 2026 diharapkan memiliki pemahaman yang lebih jelas mengenai tata cara pengisian KRS, struktur perkuliahan, serta kurikulum yang akan dijalani. Selain memberikan pembekalan akademik, kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk pendampingan HMJ Kamastawa dalam membantu mahasiswa baru beradaptasi dengan lingkungan dan dinamika kehidupan perguruan tinggi.

HMJ Kamastawa melalui Divisi Keilmuan berkomitmen untuk terus mendukung mahasiswa dalam menjalani proses akademik dan kehidupan kemahasiswaan. Pendampingan tersebut diharapkan dapat membantu mahasiswa baru membangun kesiapan, baik dalam aspek akademik maupun dalam keterlibatan mereka di lingkungan Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa.

 

Penulis            : Haryo Untoro
Editor             : Haryo Untoro

Mengenal Lebih Dekat Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa melalui Sesi Keprodian pada Pionir Kampung Budaya 2026

BeritaKarya MahasiswaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Senin, 7 September 2026

Memasuki hari kedua Pionir Kampung Budaya 2026, mahasiswa baru atau Mahadaya mendapatkan kesempatan untuk mengenal lebih dekat program studi yang akan menjadi lingkungan akademik mereka melalui sesi keprodian. Kegiatan tersebut ini dilaksanakan pada Kamis, 6 Agustus 2026, pukul 10.00–11.30 WIB, bekerja sama dengan Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (FIB UGM), dan Himpunan Mahasiswa Jurusan Keluarga Mahasiswa Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa (HMJ Kamastawa).

Sesi keprodian dipandu langsung oleh Ketua Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Dr. Sulistyowati, S.S., M.Hum. Dalam kegiatan ini, Mahadaya diperkenalkan pada berbagai aspek kehidupan akademik di program studi, mulai dari profil program studi dan dosen, peminatan kajian, hingga fasilitas dan layanan akademik. Tiga bidang peminatan yang diperkenalkan meliputi linguistik, filologi, dan sastra. Selain itu, mahasiswa juga memperoleh informasi mengenai pelayanan akademik, termasuk administrasi program studi dan media sosial Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa.

Pengenalan juga mencakup sejumlah informasi mengenai mahasiswa dan perjalanan akademik di Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa. Mahadaya diperkenalkan dengan beberapa mahasiswa berprestasi, mahasiswa yang mengikuti program fast track, serta alumni yang memiliki kiprah di berbagai bidang. Sekilas tentang kurikulum 2026 sebagai kurikulum baru turut disampaikan untuk memberikan gambaran mengenai proses pembelajaran yang akan dijalani mahasiswa selama menempuh pendidikan di program studi.

Sesi keprodian berlangsung dalam suasana serius tetapi santai dan dikemas secara interaktif melalui dialog antara dosen dan mahasiswa. Interaksi juga berlangsung melalui kuis bagi Mahadaya yang berkaitan dengan materi yang telah disampaikan sebelumnya. Mahadaya yang berhasil menjawab pertanyaan dengan tepat mendapatkan hadiah sebagai kenang-kenangan.

Pemutaran video perkenalan Nurmalia Habibah, S.S., M.A., salah satu dosen yang sedang menempuh studi di luar negeri.

Penyerahan hadiah kepada Mahadaya yang berhasil menjawab kuis.

Salah satu momen yang menarik perhatian adalah pemutaran video perkenalan beberapa dosen Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa yang sedang menempuh pendidikan di luar negeri, serta video dari mahasiswa dan alumni. Pemutaran video tersebut memberikan gambaran mengenai pengalaman akademik, kehidupan mahasiswa, dan kiprah alumni yang menjadi bagian dari lingkungan Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa.

Kegiatan ditutup dengan sesi dokumentasi bersama sebagai penanda pertemuan awal antara Mahadaya 2026 dan lingkungan akademik Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa. Melalui kegiatan ini, mahasiswa baru tidak hanya memperoleh informasi mengenai program studi, tetapi juga mendapatkan gambaran awal mengenai lingkungan belajar, bidang kajian, serta berbagai peluang pengembangan diri yang tersedia selama menjalani perkuliahan.

Pelaksanaan sesi keprodian ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) atau tujuan pembangunan berkelanjutan, khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Bermutu melalui pengenalan lingkungan dan proses pembelajaran akademik kepada mahasiswa baru, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi antara program studi dan organisasi mahasiswa.

Selamat datang kepada Mahadaya baru angkatan 2026 di Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa. Mari bersama-sama mempelajari, melestarikan, dan mengembangkan kebudayaan Jawa sebagai bagian dari kekayaan jati diri bangsa serta menghadirkan kebermanfaatan bagi masyarakat.

 

Penulis           : Haryo Untoro
Editor             : Haryo Untoro

Awali Program Pengabdian Masyarakat, Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa UGM Gelar Pertemuan Perdana di SMA Negeri 1 Depok

AlumniBeritaKarya MahasiswaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Jumat, 4 September 2026

Pada Kamis, 3 September 2026, Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (FIB UGM), melaksanakan kunjungan sekaligus pertemuan perdana dalam rangka program pengabdian kepada masyarakat di SMA Negeri 1 Depok, Sleman. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari kerja sama antara Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa FIB UGM dan SMA Negeri 1 Depok melalui program Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ).

Program PKJ dirancang untuk memperkenalkan berbagai aspek bahasa dan budaya Jawa kepada siswa, khususnya aksara Jawa, unggah-ungguh dan budi pekerti Jawa, serta pengetahuan budaya Jawa yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi ruang pembelajaran yang mempertemukan pengetahuan akademik dengan pengalaman kebudayaan secara langsung.

Pertemuan perdana tersebut diawali dengan pembukaan oleh Ketua Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Dr. Sulistyowati, S.S., M.Hum. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan perkenalan tim yang akan terlibat sebagai fasilitator selama pelaksanaan program. Tim fasilitator terdiri atas alumni dan mahasiswa Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, yaitu:

  1. Faradilla Putri Margaretha
  2. Endar Sasmito Aji
  3. Fauzan Adi Fadlurahman
  4. Anggit Galuh Ajar Amanah
  5. Wening Hidayati
  6. Pesdhi Sekar Hayumay
  7. Maysa Putri Fatihah
  8. Muhamad Rafi Nur Fauzy
  9. Pingky Putri Khairani
  10. Meifira Arini Pitaloka
  11. Lakshita Pradnya Dayinta
  12. Dian Patmisari.

Perkenalan teman-teman Fasilitator

Selain memperkenalkan tim fasilitator, pertemuan pertama juga diisi dengan materi dari dua dosen Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa. Dr. Yosephin Apriastuti Rahayu, S.S., M.Hum., menyampaikan materi mengenai aksara Nusantara, termasuk aksara Jawa. Sementara itu, Dr. Bima Slamet Raharja, S.S., M.A., memberikan pemaparan mengenai penggunaan bahasa dan budaya Jawa dalam kehidupan sehari-hari. Penyampaian materi dikemas secara interaktif sehingga siswa dapat mengenal materi kebudayaan Jawa melalui pembelajaran yang lebih dekat dengan pengalaman mereka.

Pemaparan materi oleh Dr. Yosephin Apriastuti Rahayu, S.S., M.Hum., dan Dr. R. Bima Slamet Raharja, S.S., M.A.

Pertemuan pertama ini merupakan awal dari rangkaian tujuh pertemuan yang telah dijadwalkan. Setelah pertemuan perdana, kegiatan pada pertemuan kedua hingga ketujuh akan dilanjutkan oleh para fasilitator melalui pembelajaran dan kegiatan praktik bersama siswa kelas X SMA Negeri 1 Depok.

Pelaksanaan program ini menjadi bagian dari kontribusi Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa FIB UGM dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada poin 4 (Pendidikan Bermutu) melalui pembelajaran bahasa dan budaya Jawa di lingkungan sekolah, poin 10 (Berkurangnya Kesenjangan) melalui perluasan akses terhadap pengetahuan dan pembelajaran kebudayaan, serta poin 11 (Kota dan Komunitas yang Berkelanjutan) melalui upaya pelestarian dan pewarisan budaya Jawa kepada generasi muda. Selain itu, kolaborasi antara Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa FIB UGM dan SMA Negeri 1 Depok juga mendukung poin 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui penguatan kerja sama antara perguruan tinggi dan satuan pendidikan.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, program pengabdian masyarakat ini tidak hanya menjadi bentuk penerapan pengetahuan akademik, tetapi juga menjadi ruang kolaborasi untuk memperkenalkan dan memperkuat pemahaman generasi muda terhadap bahasa dan budaya Jawa.

 

Penulis            : Haryo Untoro
Editor             : Haryo Untoro

Recent Post

  • Mahasiswa Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa FIB UGM Raih Penghargaan dalam Temu Budaya Nusantara XXXII di UNS
    Oktober 19, 2026
  • Menggali, Mengenali, serta Memahami Kembali Batik Nusantara Melalui Seminar Nasional Hari Batik 2026
    Oktober 6, 2026
  • Berawal dari Mata Kuliah Tradisi Lisan, Ghibran Arsha Daffa’ Musaffa’ Menghidupkan Kembali Tradisi Gejog Lesung
    September 30, 2026
  • Bersama Titik Renggani, Mahasiswa Diajak Memahami Geliat Sastra Jawa dalam Siaran Radio
    September 28, 2026
  • Abhiseka Kramasisya 2026: Menyambut Mahasiswa Baru melalui Pengenalan dan Ekspresi Seni
    September 20, 2026

Kalender

September 2026
S S R K J S M
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  
« Agu   Okt »
  • Fakultas Ilmu Budaya
  • Ujian Masuk UGM
  • PPSMB
  • Alumni
  • Jurnal Humaniora
September 2026
S S R K J S M
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  
« Agu   Okt »

Rilis Berita

  • Mahasiswa Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa FIB UGM Raih Penghargaan dalam Temu Budaya Nusantara XXXII di UNS
    Oktober 19, 2026
  • Menggali, Mengenali, serta Memahami Kembali Batik Nusantara Melalui Seminar Nasional Hari Batik 2026
    Oktober 6, 2026
  • Berawal dari Mata Kuliah Tradisi Lisan, Ghibran Arsha Daffa’ Musaffa’ Menghidupkan Kembali Tradisi Gejog Lesung
    September 30, 2026
Universitas Gadjah Mada

Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
Departemen Bahasa dan Sastra
Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada

 

Jl. Sosiohumaniora, Bulaksumur, Yogyakarta
Telp : 0274-901134 Ext. 110, Fax : 0274-550451, WhatsApp : 08135932426
Email : nusantara@ugm.ac.id

© 2025 Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa FIB UGM

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY