Pada Kamis–Jumat, 10–11 September 2026, Program Studi Magister Linguistik dan Departemen Bahasa dan Sastra, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (FIB UGM), menyelenggarakan Konferensi Internasional Kajian Linguistik. Kegiatan yang mengangkat tema “Bentuk, Makna, dan Fungsi Bahasa di Era Transformasi Digital” tersebut berlangsung di Gedung Poerbatjaraka, FIB UGM.
Salah satu peserta dalam kegiatan tersebut adalah Haryo Untoro, alumni Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa (BSB Jawa) FIB UGM sekaligus mahasiswa fast track pada Program Studi Magister Linguistik FIB UGM. Dalam konferensi tersebut, Haryo berkesempatan menjadi presenter atau pemakalah dengan mempresentasikan penelitiannya yang berjudul “Negosiasi Identitas Budaya dalam Penerjemahan Puisi Berbahasa Indonesia ke Bahasa Jawa Kuna pada Antologi Puisi Jenggala: Kumpulan Puisi Dwibahasa”.
Penelitian tersebut mengkaji proses pembentukan dan negosiasi identitas budaya dalam penerjemahan puisi berbahasa Indonesia ke bahasa Jawa Kuna. Antologi Jenggala: Kumpulan Puisi Dwibahasa menjadi objek kajian dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa sumber dan bahasa Jawa Kuna sebagai bahasa sasaran. Bahasa Jawa Kuna memiliki posisi yang berbeda dari bahasa Indonesia karena tidak lagi digunakan sebagai bahasa komunikasi sehari-hari dan tidak memiliki penutur asli. Kondisi tersebut menjadi salah satu persoalan yang dikaji dalam penelitian, khususnya terkait dengan bagaimana identitas budaya dinegosiasikan melalui pilihan-pilihan penerjemahan ke dalam bahasa Jawa Kuna.
Pada Kamis, 10 September 2026, Haryo mempresentasikan penelitian tersebut dalam konferensi internasional. Bagi Haryo, konferensi tersebut menjadi pengalaman pertamanya mengikuti konferensi internasional sekaligus mempresentasikan hasil penelitian dalam forum ilmiah. Dalam wawancara pada 18 September 2026, ia mengaku sempat merasa gugup, tetapi tetap berusaha mempersiapkan dan menyampaikan materi dengan sebaik-baiknya.
Keikutsertaan dalam konferensi internasional menjadi salah satu pengalaman akademik yang dapat mendorong mahasiswa untuk terus mengembangkan kemampuan penelitian dan keberanian menyampaikan gagasan dalam forum ilmiah. Di sisi lain, kegiatan akademik tersebut juga menunjukkan bahwa kajian bahasa dan budaya daerah dapat terus dikembangkan melalui penelitian dengan perspektif yang relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan.
Melalui pengalaman tersebut, mahasiswa diharapkan tidak hanya terus mengembangkan kapasitas akademiknya, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap pelestarian dan pengembangan budaya daerah. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan akademik maupun penelitian sebagai bagian dari nguri-uri ‘melestarikan’ dan ngurip-urip ‘menyemarakkan’ budaya agar tetap berkembang dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Penulis : Nurul Fajri Rahmani
Editor : Nurul Fajri Rahmani

