• Universitas
  • Portal Akademik
  • Perpustakaan Universitas
  • Webmail
  • Arnawa
  • UM UGM
  • Bahasa Indonesia
    • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
Departemen Bahasa dan Sastra
Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
  • Halaman Muka
  • Profil
    • Visi & Misi
    • Tujuan
    • Keunggulan
    • Prospek Karier
    • Staf Pengajar
  • Akademik
    • Alur Kurikulum
    • Sebaran Mata Kuliah
    • Capaian Pembelajaran
    • Informasi Perkuliahan dan Administrasi
    • KONFERENSI DAN KEGIATAN INTERNASIONAL
    • Kalender Akademik
  • KPPB
    • Kerjasama
    • Pengabdian
      • Pengabdian Masyarakat
      • Siniar (Anarka Lālitya)
    • Penelitian
      • Penelitian Staf Pengajar
      • Arsip Kajian Jawa – Arnawa
    • Beasiswa
  • Kemahasiswaan
    • Hasil Survey Mahasiswa
    • HMJ Kamastawa
    • Kegiatan Mahasiswa
    • Karya Mahasiswa
    • Kanal Youtube
    • Kanal Instagram
  • Alumni
    • Profil Alumni
  • Kontak
  • Beranda
  • Pos oleh
  • hal. 2
Pos oleh :

haryountoro

Kiprah Mahasiswa dan Alumni Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa dalam Pionir Kampung Budaya 2026

AlumniBeritaKarya MahasiswaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Senin, 10 Agustus 2026

Pertanyaan seperti “Nek kuliah neng Sastra Jawa ’ki arep dadi dukun ’pa?” (Kalau kuliah di Sastra Jawa, mau jadi dukun?) barangkali masih dijumpai sebagai bentuk anggapan masyarakat terhadap bidang kajian bahasa, sastra, dan budaya Jawa. Padahal, ruang pengembangan diri bagi mahasiswa di bidang tersebut dapat hadir dalam beragam bentuk, termasuk seni pertunjukan, kepemanduan acara, hingga kegiatan kebudayaan.

Hal tersebut salah satunya terlihat dalam pelaksanaan Pionir Kampung Budaya 2026. Sejumlah mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa terlibat dalam rangkaian kegiatan tersebut melalui berbagai peran. Keterlibatan mahasiswa tidak hanya berasal dari kegiatan akademik, tetapi juga melalui unit kegiatan mahasiswa dan pengalaman di bidang seni serta kepemanduan acara.

Salah satu yang terlibat dalam kegiatan tersebut adalah Gamelan Sastra Nusantara (Gamasutra), unit kegiatan mahasiswa di bawah Himpunan Mahasiswa Jurusan Keluarga Mahasiswa Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa (HMJ Kamastawa). Gamasutra tampil mengiringi kegiatan pada pagi hari sekaligus menyambut kedatangan mahasiswa baru atau Mahadaya angkatan 2026. Kelompok tersebut juga turut mengiringi rangkaian pembukaan hingga peresmian Pionir Kampung Budaya 2026.

Selain Gamasutra, Ratnaraya, unit kegiatan mahasiswa yang bergerak di bidang seni tari, turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Mahasiswa yang tergabung dalam Ratnaraya menampilkan Tari Golek Ayun-Ayun Jugag, salah satu tari khas Yogyakarta yang menggambarkan sosok remaja perempuan yang beranjak dewasa dan tengah mencari jati diri. Keterlibatan kedua unit kegiatan mahasiswa tersebut menunjukkan aktivitas mahasiswa Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa dalam bidang seni dan kebudayaan.

Keterlibatan mahasiswa juga tampak dalam bidang kepemanduan acara. Dua mahasiswa Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, yaitu Ghibran Arsha Daffa’ Musaffa’ dan Ananda Choirul Nur Alalia, dipercaya menjadi master of ceremony (MC) dalam Pionir Kampung Budaya 2026. Ghibran merupakan mahasiswa angkatan 2024, sedangkan Ananda merupakan mahasiswa angkatan 2025. Keduanya telah memiliki pengalaman dalam kegiatan pewaraan di berbagai kesempatan.

Tidak hanya mahasiswa aktif, alumni Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa juga turut hadir dalam kegiatan tersebut. Nurma Aisyah, S.S., yang merupakan alumni program studi dan saat ini berkiprah sebagai pewara serta jurnalis di Tribunnews, hadir sebagai salah satu pembicara. Kehadiran alumni tersebut menjadi bagian lain dari keterlibatan lulusan Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa dalam bidang profesional yang berkaitan dengan komunikasi dan media.

Berbagai peran tersebut menunjukkan bahwa keterlibatan mahasiswa Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa dalam kegiatan kampus dapat berlangsung melalui bidang yang beragam. Pengetahuan mengenai bahasa, sastra, dan budaya dapat berjalan berdampingan dengan pengembangan keterampilan lain, seperti seni pertunjukan, komunikasi publik, kepemimpinan, dan kepemanduan acara.

Keterlibatan dalam kegiatan seperti Pionir Kampung Budaya 2026 juga dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman di luar perkuliahan. Pengalaman tersebut dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran sekaligus pengembangan keterampilan yang dibutuhkan dalam kehidupan akademik maupun dunia profesional.

Berdasarkan hal tersebut, diharapkan mahadaya dapat terus belajar dan mengembangkan diri, baik melalui perkuliahan maupun berbagai kegiatan di dalam dan di luar kampus. Berbagai pengalaman tersebut dapat menjadi bekal untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan mahasiswa sesuai dengan bidang yang diminati.

 

Penulis             : Haryo Untoro
Editor                : Haryo Untoro

Gamasutra Meriahkan Pionir Kampung Budaya 2026

BeritaKarya MahasiswaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Kamis, 6 Agustus 2026

Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan Pionir Kampung Budaya pada Rabu–Kamis, 5–6 Agustus 2026, sebagai bagian dari rangkaian Pionir Gadjah Mada. Kegiatan ini menjadi salah satu rangkaian pengenalan lingkungan fakultas bagi Mahadaya 2026 sekaligus memperkenalkan berbagai aktivitas akademik dan kemahasiswaan yang dapat diikuti selama menempuh pendidikan di FIB UGM.

Salah satu kegiatan yang turut mewarnai pembukaan Pionir Kampung Budaya 2026 adalah penampilan Gamelan Sastra Nusantara (Gamasutra). Sejumlah mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa yang tergabung dalam Gamasutra berpartisipasi dalam kegiatan tersebut melalui penampilan karawitan. Gamasutra merupakan wadah bagi mahasiswa yang memiliki ketertarikan terhadap seni karawitan serta ingin mempelajari dan mengembangkan kemampuan dalam memainkan gamelan.

Alunan gamelan Gamasutra mengiringi pembukaan Pionir Kampung Budaya 2026 dan menyambut kedatangan para Mahadaya. Penampilan tersebut juga mengiringi kehadiran Ketua Pionir Kampung Budaya 2026, Presiden Lembaga Eksekutif Mahasiswa (LEM) 2026, Dekan FIB UGM beserta jajaran, serta para ketua program studi di lingkungan FIB UGM. Kehadiran Gamasutra menjadi bagian dari rangkaian acara yang memperkenalkan kehidupan fakultas kepada mahasiswa baru melalui pengalaman seni dan budaya.

Penampilan Gamasutra berlanjut pada prosesi peresmian Pionir Kampung Budaya 2026. Keterlibatan mahasiswa dalam prosesi tersebut menunjukkan bahwa kegiatan penyambutan mahasiswa baru tidak hanya berlangsung melalui pengenalan lingkungan akademik, tetapi juga memberikan ruang bagi mahasiswa untuk terlibat secara langsung dalam aktivitas seni dan budaya di lingkungan fakultas.

Bagi Gamasutra, keterlibatan dalam Pionir Kampung Budaya menjadi salah satu ruang untuk mempraktikkan kemampuan karawitan sekaligus memperkenalkan seni gamelan kepada mahasiswa baru. Sementara bagi Mahadaya 2026, penampilan tersebut menjadi bagian dari pengalaman awal dalam mengenal kehidupan kemahasiswaan di FIB UGM, termasuk berbagai wadah pengembangan minat dan kegiatan seni yang dapat diikuti selama masa studi.

Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya FIB UGM dalam menyediakan ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan minat, keterampilan, dan pengalaman berkesenian. Sebagai lingkungan akademik yang mempelajari bahasa, sastra, dan budaya, FIB UGM memandang kegiatan seni dan budaya sebagai bagian yang dapat melengkapi pengalaman pendidikan mahasiswa di luar pembelajaran di ruang kelas. Upaya tersebut sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Bermutu) melalui pengembangan pengalaman dan potensi mahasiswa serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi dalam pelaksanaan kegiatan di lingkungan fakultas.

Melalui Pionir Kampung Budaya 2026, keterlibatan Gamasutra mempertemukan proses pengenalan mahasiswa baru dengan praktik seni yang dijalankan oleh mahasiswa FIB UGM. Bagi Mahadaya 2026, pengalaman tersebut menjadi bagian dari awal perjalanan mereka dalam mengenal lingkungan fakultas, termasuk ruang-ruang yang memungkinkan mereka untuk belajar, berkarya, dan terlibat dalam kehidupan kemahasiswaan di FIB UGM.

 

Penulis           : Haryo Untoro
Editor             : Haryo Untoro

Menjaga Tradisi Batik Yogyakarta melalui Karya Aji Setyowijaya, Alumni Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa

BeritaSDGS Jumat, 31 Juli 2026

Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, telah melahirkan banyak alumni yang berkiprah dalam pelestarian dan pengembangan bahasa, sastra, maupun budaya Jawa. Salah satunya ialah Aji Setyowijaya, alumni angkatan 2008 yang kini menekuni dunia batik sebagai pengrajin batik khas Yogyakarta.

 

Tim Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa berkesempatan mengunjungi sekaligus mewawancarai Aji Setyowijaya, selanjutnya ditulis sebagai Mas Aji, secara langsung pada Selasa, 21 Juli 2026. Alumni angkatan 2008 yang juga merupakan penerima beasiswa Yayasan Arsari Djojohadikusumo (YAD) atau Yayasan Keluarga Hasyim Djojohadikusumo (YKHD) tersebut menceritakan bahwa ketertarikannya terhadap batik bermula dari kekagumannya pada kain-kain batik peninggalan. Ia mengaku sering menjumpai kain batik lama yang memiliki kualitas dan keindahan tinggi, tetapi kondisinya sudah rapuh sehingga tidak lagi layak digunakan. "Saya dulu senang ketika melihat kain batik peninggalan. Kainnya bagus dan ingin dipakai, tetapi sudah rawan. Akhirnya, saya termotivasi untuk mencoba mereproduksi kain batik yang sudah tua. Hal itu ditambah dengan waktu berkuliah saya sedang senang menggunakan rasukan atau pakaian Jawa," ungkapnya.

 

Ketertarikan tersebut mendorongnya mulai belajar membatik pada 2009. Dirinya mempelajari berbagai teknik membatik dengan mengamati dan belajar secara langsung di sejumlah sentra batik di Yogyakarta. Pada masa awal tersebut, Mas Aji memfokuskan diri untuk memahami pakem dan teknik batik tradisi Yogyakarta sebagai fondasi utama sebelum mengembangkan karyanya sendiri.

 

Berbekal pemahaman tersebut, pada sekitar 2013 hingga 2015, Mas Aji mulai memproduksi batik antik, yang juga dikenal sebagai batik kama atau batik lawasan. Menurutnya, pada masa itu masyarakat maupun kolektor memberikan apresiasi yang tinggi terhadap batik lawasan karena dianggap berasal dari puluhan tahun silam. "Pada tahun tersebut, dalam perdagangan, orang lebih mengapresiasi batik antik atau kama atau lawasan dengan asumsi batik itu dari 50–70 tahun yang lalu," jelasnya.

 

Namun, pengalaman tersebut justru memunculkan kegelisahan dalam dirinya. Menurut Mas Aji, batik tidak semestinya hanya dipandang sebagai karya klasik yang berhenti pada proses reproduksi masa lalu. Batik juga perlu terus berkembang tanpa meninggalkan akar tradisinya. Berangkat dari pemikiran tersebut, ia mulai menghadirkan identitas pribadinya dalam setiap karya yang dibuat serta memperluas eksplorasi di luar gaya batik khas Yogyakarta.

 

Sejalan dengan semangat tersebut, sejak 2018 Mas Aji mulai mendalami teknik pewarna alami (natural dye) untuk batik pakem tradisi Yogyakarta. Baginya, mempelajari pewarna alami bukan sekadar menghasilkan ragam warna yang berbeda, melainkan juga menjadi bagian dari upaya memahami kembali pengetahuan teknis yang telah diwariskan oleh para pembatik terdahulu.

 

Dalam proses berkarya, Mas Aji tidak bekerja seorang diri. Ia berkolaborasi dengan rekannya, Yahya Adi Sutikno, yang berfokus pada proses perancangan desain, sementara Mas Aji lebih banyak menangani proses produksi. Kolaborasi tersebut memungkinkan keduanya menghasilkan berbagai karya batik dengan pendekatan yang saling melengkapi.

 

Berbagai karya batik telah dihasilkan, mulai dari sample pieces ragam motif batik dalam satu kain yang terdiri atas 27, 260, hingga 480 contoh motif, karya-karya batik replikasi, batik lawasan, hingga batik hasil transformasi, alih media, dan berbagai bentuk batik kreasi. Tidak hanya pada kain batik, eksplorasi tersebut juga diterapkan pada berbagai media tekstil lain, seperti sarung dan media kain lainnya.

Batik berisi 480 sample pieces motif Yogyakarta

Batik Yogyakarta motif Gurda

Batik yang memuat lakon carangan “Bima Tani”

Selain berkecimpung dalam pembuatan kain batik, Mas Aji juga aktif dalam Perkumpulan Wastra Indonesia, sebuah komunitas yang menghimpun para pegiat dan pencinta wastra Nusantara. Dedikasinya terhadap batik juga diwujudkan melalui kontribusinya dalam buku Pesona Padu Padan Wastra Indonesia sebagai kontributor busana yang menampilkan penggunaan batik tradisi Yogyakarta.

 

Di balik seluruh proses kreatif tersebut, Mas Aji menilai bahwa salah satu aspek yang perlu terus dijaga dalam dunia batik adalah pengetahuan teknis. Menurutnya, pembahasan mengenai batik selama ini lebih banyak berfokus pada makna filosofis, simbol, dan nilai budaya, sementara pengetahuan mengenai teknik membatik justru berpotensi hilang apabila tidak didokumentasikan dan diwariskan. "Menurut saya, ranah tersebut (filosofi) tidak mudah hilang karena literaturnya sudah banyak. Tetapi, kalau soal teknis, itu bisa hilang. Misalnya, motif parang itu mau dibuat dari mana, arahnya dari mana. Ada cara dan metodenya.” Bagi Mas Aji, menjaga pengetahuan teknis sama pentingnya dengan menjaga nilai filosofis batik karena keduanya merupakan satu kesatuan yang membentuk tradisi membatik.

 

Menjelang akhir wawancara, Mas Aji juga menyampaikan pesan kepada mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa agar tidak takut mencoba berbagai peluang di luar ruang kelas. "Masalah besar dikecilkan, dan masalah kecil diabaikan. Jangan ragu atau takut untuk mencoba dan bereksplorasi. Jangan juga menutup wawasan hanya pada perkuliahan saja."

 

Perjalanan Mas Aji Setyowijaya menunjukkan bahwa pembelajaran mengenai bahasa, sastra, dan budaya Jawa tidak hanya berhenti pada ranah akademik, tetapi juga dapat diwujudkan melalui praktik pelestarian budaya yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Melalui dedikasinya dalam mempelajari teknik membatik, mereproduksi batik tradisi, mengembangkan inovasi berbasis pakem, serta terus mengeksplorasi berbagai kemungkinan baru dalam dunia wastra, Mas Aji membuktikan bahwa warisan budaya dapat terus hidup dan berkembang mengikuti zaman tanpa kehilangan jati dirinya.

 

Bagi para mahadaya yang ingin mengenal lebih dekat karya maupun aktivitas Mas Aji, dapat mengunjungi akun Instagram @setyowijaya dan Facebook Batik Setyowijaya. Melalui kedua media sosial tersebut, Mas Aji membagikan berbagai proses kreatif, hasil karya, serta aktivitasnya dalam melestarikan dan mengembangkan seni batik.

 

Penulis            : Haryo Untoro
Editor              : Haryo Untoro

Muhamad Rafi Nur Fauzy dan Meifira Arini Pitaloka, Dua Mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa Terpilih sebagai Penerima Program Fast Track FIB UGM

BeritaMahasiswa Rabu, 22 Juli 2026

Dua mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Gadjah Mada (UGM), Muhamad Rafi Nur Fauzy dan Meifira Arini Pitaloka, berhasil terpilih sebagai penerima Program Fast Track sarjana–magister (S1–S2) di FIB UGM. Pengumuman tersebut disampaikan pada Jumat (17/7/2026) di media sosial milik Fakultas Ilmu Budaya UGM. Melalui program ini, mahasiswa berkesempatan menempuh pendidikan sarjana (S1) dan magister (S2) secara beririsan sehingga masa studi dapat diselesaikan dengan lebih singkat. Keduanya memilih melanjutkan studi ke Program Magister Sastra FIB UGM.

Dalam wawancara yang dilakukan secara daring pada Senin (20/7/2026), keduanya mengungkapkan rasa syukur dan antusiasme atas kesempatan menjadi penerima Program Fast Track FIB UGM. Bagi Muhamad Rafi Nur Fauzy, program ini menjadi langkah untuk memperdalam keilmuan yang telah dipelajari selama menempuh pendidikan sarjana. "Saya berkeinginan untuk memahami dunia Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa secara lebih mendalam agar nantinya dapat bermanfaat bagi masyarakat," jelasnya. Senada dengan itu, Meifira Arini Pitaloka menilai bahwa kesempatan melanjutkan studi melalui Program Fast Track menjadi ruang untuk terus mengembangkan minat akademik sekaligus memperluas wawasan. "Saya ingin terus mendalami hal yang saya minati dengan memanfaatkan segala kesempatan dan kemauan yang ada," terangnya.

Mengenai rencana kajian pada jenjang magister, keduanya memiliki ketertarikan yang berbeda. Rafi mengaku ingin mendalami bidang kesusastraan dan kebudayaan Jawa, khususnya mengenai eksistensi cerita Panji di Jawa Tengah. "Saya tertarik untuk mendalami lagi mengenai kesusastraan dan kebudayaan Jawa. Misalnya tentang eksistensi cerita Panji di Jawa Tengah, sementara dunia Panji sendiri lebih populer di Malang," jelasnya. Sementara itu, Meifira berencana mengeksplorasi bidang sastra yang lebih luas. "Saya ingin mencoba untuk tidak membatasi diri hanya pada sastra Jawa. Rencananya, kajian saya masih akan berkaitan dengan gambar, mungkin seperti sastra komik atau sastra anak," ungkapnya.

Keduanya juga telah mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan selama menjalani Program Fast Track. Menurut Rafi, tantangan terbesar terletak pada kemampuan mengatur waktu agar dapat menyeimbangkan studi sarjana dan magister. "Saya ingin lebih tertib, lebih mampu memanfaatkan waktu untuk studi, serta menyediakan waktu untuk penelitian lapangan," katanya. Di sisi lain, Meifira menilai bahwa kesiapan mental menjadi aspek yang tidak kalah penting. Selain berusaha memberikan yang terbaik, ia juga menekankan pentingnya doa dan kesadaran diri dalam menjalani proses studi. "Saya mencoba berusaha sebaik mungkin, tidak lupa berdoa, serta membangun kesadaran diri dalam menghadapi tantangan ke depan," terangnya.

Menutup wawancara, keduanya membagikan pesan kepada mahasiswa lain agar tetap bersemangat dan konsisten dalam menjalani perkuliahan. Rafi mengajak mahasiswa untuk mengembangkan hal-hal yang benar-benar diminati sehingga proses belajar dapat dijalani dengan lebih menyenangkan. "Jalani secara konsisten hal yang benar-benar disukai. Dengan begitu, proses belajar pun akan terasa lebih menyenangkan. Tetap semangat, jalani dengan santai. Melu ilining banyu ning ora nganti keli (ikut arus air, tetapi tidak sampai terbawa arus)," pesannya.  Meifira pun menyampaikan pesan serupa. Menurutnya, setiap pilihan yang telah diambil perlu dijalani dengan sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab. "Do what you love and love what you do, lakukan apa yang kamu cintai dan cintai apa pun yang kamu lakukan," katanya.

Keberhasilan Muhamad Rafi Nur Fauzy dan Meifira Arini Pitaloka menjadi penerima Program Fast Track FIB UGM diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa untuk terus mengembangkan potensi akademik serta memanfaatkan berbagai peluang yang tersedia. Semoga langkah keduanya dalam menempuh pendidikan magister dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang bahasa, sastra, dan budaya Jawa.

Penulis: Haryo Untoro
Editor : Haryo Untoro

Merawat Seni Menjaga Harmoni, Gamasutra Tampil di Festival Karawitan Filsafat UGM 2026

BeritaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Senin, 20 Juli 2026

Gamasutra, Gamelan Mahasiswa Sastra Nusantara, ikut memeriahkan Festival Karawitan dan Bazar Nusantara yang diselenggarakan oleh Fakultas Filsafat UGM pada Sabtu, 18 Juli 2026. Festival Karawitan merupakan rangkaian acara dalam menyongsong Dies Natalis ke-59 Fakultas Filsafat UGM. Kegiatan tersebut diselenggarakan di Lapangan Fakultas Filsafat UGM dan pada tahun ini memasuki penyelenggaraan yang kedelapan.

 

Pada tahun ini, Festival Karawitan diikuti oleh 52 kelompok karawitan yang berasal dari lingkungan UGM maupun komunitas seni dari berbagai daerah. Seluruh penampilan dibagi dalam dua hari, yakni Sabtu dan Minggu, dengan jadwal pertunjukan pada pukul 07.00–22.00 WIB. Acara ini juga disiarkan secara daring melalui live streaming di saluran YouTube Fakultas Filsafat. Sebagai salah satu kelompok yang turut berpartisipasi dalam festival tersebut, Gamasutra tidak hanya hadir sebagai penampil, tetapi juga ikut meramaikan Bazar Nusantara.

Gamasutra tampil pada hari pertama, pukul 21.00 WIB. Lagu yang disajikan terdiri atas ladrang Sumyar, kemudian dilanjutkan dengan gendhing-gendhing dolanan, seperti Emplek-emplek Ketepu, Kembang Jagung, Aku Duwe Pitik, dan Manggung Sore, yang kemudian ditutup dengan Ayak-ayak Pamungkas RRI jugag. mMenjelang pementasan, anggota Gamasutra menjalani latihan agar penampilan dapat berlangsung dengan lancar dan maksimal. Latihan tersebut dilaksanakan selama kurang lebih dua minggu dengan enam kali pertemuan. Seluruh anggota Gamasutra menunjukkan antusiasme yang tinggi selama proses latihan hingga akhirnya tampil dalam festival tersebut.

 

Festival Karawitan tahun 2026 menjadi salah satu kegiatan Gamasutra dalam melestarikan seni budaya Nusantara. Kegiatan tersebut selaras dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-4, yaitu pendidikan berkualitas. Gamasutra menjadi sarana belajar bersama, khususnya dalam mendalami seni karawitan. Selain itu, keterlibatan Gamasutra dalam Festival Karawitan yang diselenggarakan oleh Fakultas Filsafat UGM juga merupakan implementasi SDGs poin ke-17, yaitu kemitraan untuk mencapai tujuan. Dalam konteks ini, tujuan yang ingin dicapai ialah pelestarian seni budaya Nusantara.

 

Penulis            : Carlos Jose Prabakusuma
Editor              : Carlos Jose Prabakusuma & Haryo Untoro

Workshop Internasional Membaca Ulang Wayang: Mengenang yang Silam, Menjelang yang Datang

BeritaSDGS Jumat, 10 Juli 2026

Dalam rangka Dies Natalis ke-80 Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada (UGM), Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa FIB UGM menyelenggarakan Workshop Internasional bertajuk Membaca Ulang Wayang: Mengenang yang Silam, Menjelang yang Datang pada Kamis (9/7/2026). Kegiatan ini mengajak akademisi, mahasiswa, dan masyarakat umum untuk meninjau kembali seni pewayangan, tidak hanya sebagai warisan budaya masa lalu, tetapi juga sebagai tradisi yang terus berkembang dan tetap relevan dalam menjawab tantangan masa kini maupun masa depan.

Untuk mengulas tema tersebut secara komprehensif, workshop menghadirkan tiga narasumber yang memiliki kepakaran di bidangnya, yaitu Prof. Matthew Isaac Cohen, Ph.D., Alan H. Feinstein, Ph.D., dan Dr. G.R. Lono Lastoro Simatupang, M.A. Jalannya diskusi dipandu oleh Zakariya Pamuji Aminullah, S.S., M.A. sebagai moderator.

Sambutan dari Dr. Rudy Wiratama, S.I.P.., M.A., ketua koordinator kegiatan

Sambutan dari Dr. Mimi Savitri, M.A., Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, Kerja Sama, dan Alumni FIB UGM

Acara dimulai pada pukul 09.00 WIB dengan sambutan dari Dr. Rudy Wiratama, S.I.P., M.A. selaku ketua koordinator kegiatan, yang kemudian dilanjutkan oleh Dr. Mimi Savitri, M.A. selaku Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, Kerja Sama, dan Alumni FIB UGM. Setelah sesi pembukaan, workshop internasional resmi dimulai.

Sebagai pembicara pertama, Prof. Matthew Isaac Cohen, Ph.D., membahas kehidupan seni wayang di ruang virtual, khususnya perkembangan yang semakin terlihat pada masa pandemi. Menurutnya, keberadaan seni wayang di dunia digital sebenarnya telah dimulai jauh sebelum pandemi melalui siaran langsung pertunjukan wayang kulit. "Hidupnya seni wayang dalam dunia virtual ternyata sudah dimulai sebelum era pandemi, dengan hadirnya siaran langsung wayang kulit yang telah dilakukan," jelasnya. Ia juga memaparkan bahwa eksistensi wayang di ruang virtual terus mengalami transformasi melalui berbagai bentuk inovasi, mulai dari hadirnya komunitas seperti Posko Dalang Nusantara, publikasi buku #Dalang Goes to Twitter, kemunculan Wayang Jemblung pada masa pandemi, hingga pengembangan wayang dalam bentuk animasi berbasis kecerdasan artifisial (AI).

Pembicara kedua, Alan H. Feinstein, Ph.D., mengangkat tema historiografi dan dokumentasi lakon wayang Jawa. Ia menjelaskan bahwa upaya pendokumentasian lakon wayang telah dilakukan sejak masa kolonial, baik melalui proyek dokumentasi lakon carangan maupun penghimpunan berbagai sumber naskah kuno. Menurutnya, wayang dapat dikaji dari beragam perspektif keilmuan sehingga dokumentasi terhadap fakta, data, dokumen, maupun berbagai bentuk bukti lainnya menjadi sangat penting. Hal tersebut diperlukan karena pertunjukan wayang bersifat fana dan tidak meninggalkan jejak setelah dalang mengakhiri pementasannya.

Pada sesi terakhir, Dr. G.R. Lono Lastoro Simatupang, M.A., membahas eksistensi perempuan dalam seni pertunjukan wayang, baik dari perspektif dalang, tokoh wayang, representasi perempuan, maupun lakon yang dipentaskan. Ia menjelaskan bahwa keterlibatan perempuan dalam dunia pewayangan telah menunjukkan perkembangan yang positif, meskipun masih memerlukan berbagai upaya penguatan. "Saya menyarankan penambahan dalang perempuan, peningkatan keterampilan perempuan dalam seni pertunjukan wayang, hingga penciptaan lakon-lakon carangan yang sesuai dengan perkembangan zaman," ungkapnya.

Melalui workshop ini, wayang Jawa dipahami tidak hanya sebagai seni pertunjukan, tetapi juga sebagai cermin dinamika sosial dan kebudayaan yang terus berkembang. Berbagai paparan yang disampaikan menunjukkan bahwa eksistensi wayang senantiasa berkelindan dengan konteks zamannya serta terus mengalami transformasi tanpa kehilangan nilai-nilai budaya yang menjadi pondasinya. Sejalan dengan tema Membaca Ulang Wayang: Mengenang yang Silam, Menjelang yang Datang, workshop ini memperlihatkan bahwa pelestarian wayang tidak hanya dilakukan melalui pewarisan tradisi, tetapi juga melalui dokumentasi, pembacaan kritis, serta berbagai inovasi yang menjaga relevansinya di tengah perkembangan zaman.

Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa Raih Gelar Doktor melalui Kajian Naskah Jawa Pertengahan Uttarakāṇḍa

BeritaKarya MahasiswaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Rabu, 8 Juli 2026

Selasa (7/7/2026) menjadi hari yang membahagiakan bagi Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Gadjah Mada (UGM). Dosen bidang filologi Jawa Kuna dan Jawa Pertengahan, Yosephin Apriastuti Rahayu, S.S., M.Hum., berhasil meraih gelar doktor setelah menjalani sidang promosi terbuka di Universiteit Leiden.

Dalam disertasinya yang berjudul Learning from the Scribes: A Study of the Old Javanese Uttarakāṇḍa from the Merapi-Merbabu Tradition, Yosephin mengkaji Uttarakāṇḍa, karya sastra Jawa Kuna berbentuk prosa yang merupakan kitab ketujuh dari kisah Rāmāyaṇa. Penelitian tersebut berfokus pada empat manuskrip Uttarakāṇḍa dari koleksi tradisi Merapi-Merbabu dan Bali untuk memahami bagaimana para juru tulis menyalin, melestarikan, dan mewariskan naskah tersebut.

Melalui penelitian ini, Ibu Apriastuti menemukan bahwa proses penyalinan naskah tidak sekadar menyalin teks, tetapi melibatkan serangkaian aktivitas, seperti membaca, mengingat, merefleksikan, mendikte, dan menuliskan kembali isi naskah. Penelitian ini juga menunjukkan adanya perbedaan sistem ejaan serta variasi penulisan yang dipengaruhi oleh tradisi dan budaya masing-masing. Temuan tersebut membantu mengidentifikasi kesalahan penyalinan sekaligus mendukung upaya merekonstruksi bentuk teks yang lebih mendekati naskah aslinya. Selain itu, penelitian ini memperlihatkan adanya perbedaan karakteristik antara tradisi penulisan Merapi-Merbabu dan tradisi Bali.

Usai memaparkan hasil penelitiannya, Ibu Apriastuti menjawab berbagai pertanyaan dari para penguji. Diskusi tersebut membahas sejumlah topik, di antaranya peran tradisi naskah Merapi-Merbabu sebagai penghubung budaya Jawa Klasik dengan tradisi Jawa dan Bali, perkembangan sistem aksara dari masa Jawa Kuna hingga aksara Jawa modern, serta hubungan budaya dan sastra antara tradisi Sanskerta, Jawa Kuna, dan Bali.

Keberhasilan Yosephin meraih gelar doktor sekaligus menjadi kontribusi penting bagi pengembangan kajian filologi Jawa Kuna. Penelitian tersebut tidak hanya memperkaya pemahaman mengenai tradisi pernaskahan di Nusantara, tetapi juga mendukung upaya pelestarian warisan budaya tulis, khususnya naskah-naskah Jawa Kuna yang menjadi sumber penting dalam memahami sejarah, sastra, dan kebudayaan Indonesia.

Mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa menjadi Pengiring dalam Kirab Pusaka Dalem Mangkunegaran 1 Sura Be 1960

BeritaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Rabu, 17 Juni 2026

Kiri: Potret Nindy Rosalina Ekaputri. Kanan: Suasana Prosesi Kirab Pusaka Mangkunegaran (Dok. Vinta, 2025 via Diskominfo SP Surakarta.)

Mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa sekaligus penerima beasiswa Yayasan Arsari Djojohadikusumo (YAD), Nindy Rosalina Ekaputri, berkesempatan mengikuti Kirab Pusaka Dalem Mangkunegaran dalam rangka peringatan Tahun Baru Jawa 1 Sura Be 1960 yang mengusung tema SuraMulihPulih. Keikutsertaan tersebut menjadi pengalaman berharga bagi Nindy untuk memahami secara langsung praktik budaya Jawa yang selama ini dipelajari melalui perkuliahan dan kajian akademik.

Sebelum pelaksanaan kirab, peserta mengikuti gladi bersih yang diselenggarakan sehari sebelumnya. Dalam kegiatan tersebut, peserta memperoleh pengarahan mengenai tata tertib pelaksanaan kirab, posisi dalam barisan, serta rute yang akan dilalui. Seluruh formasi peserta ditentukan oleh pihak Mangkunegaran guna menjaga ketertiban dan keselarasan prosesi.

Pada hari pelaksanaan, rangkaian kegiatan diawali dengan dhahar bersama, nyuwun palilah dalem, dan doa bersama. Selanjutnya, pusaka-pusaka dalem miyos dari Dalem Ageng dan diserahkan kepada G.P.H. Paundrakarna Jiwo Suryonegoro selaku Cucuk Lampah Kirab, pemimpin proses yang memandu jalannya kirab sekaligus memastikan rangkaian acara berlangsung sesuai tradisi yang berlaku. Prosesi kemudian diberangkatkan secara resmi oleh K.G.P.A.A. Mangkoenagoro X pada pukul 20.30 WIB.

Dalam prosesi tersebut, enam pusaka dalem dikirab mengelilingi kawasan pusat Kota Surakarta. Selama kirab berlangsung, seluruh peserta menjalankan tapa bisu dan berjalan tanpa alas kaki. Bagi Nindy, keheningan tersebut tidak sekadar menjadi aturan yang harus dipatuhi, melainkan ruang dialog batin yang paling jujur. Proses ini mengajak peserta kirab untuk memaknai secara mendalam konsep atita (melepas masa lalu), atiki (hadir sepenuhnya saat ini), dan anagata (menyongsong masa depan) yang menjadi inti filosofis dari peringatan 1 Sura di Mangkunegaran. Suasana hening yang menyelimuti perjalanan kirab ini sungguh selaras dengan tema SuraMulihPulih, yakni ajakan untuk menata diri dan mempersiapkan langkah menuju kehidupan yang lebih baik.

Antusiasme masyarakat terlihat sangat tinggi sepanjang jalur kirab. Ribuan warga memadati berbagai titik untuk menyaksikan prosesi yang berlangsung dengan tertib dan khidmat. Selain menyaksikan kirab, masyarakat juga sangat antusias menanti air bekas jamasan pusaka. Dalam tradisi Jawa, air ini sering dianggap sebagai simbol pembawa berkah dan harapan baik bagi mereka yang mendapatkannya.

Setelah kirab selesai, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan pembagian udik-udik kepada masyarakat oleh K.G.P.A.A. Mangkoenagoro X, G.P.H. Paundrakarna Jiwo Suryonegoro, dan G.R.Aj. Ancillasura Marina Sudjiwo. Peserta kirab juga memperoleh sajian ketan hitam dan ketan putih yang melambangkan keseimbangan serta keharmonisan dalam kehidupan.

Bagi Nindy, keterlibatan sebagai pengiring pusaka menjadi pengalaman yang memperkaya pemahaman mengenai budaya Jawa. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak hanya dilakukan melalui pembelajaran di ruang kelas, tetapi juga melalui keterlibatan langsung dalam tradisi yang masih hidup di tengah masyarakat. Melalui partisipasi generasi muda, warisan budaya seperti Kirab Pusaka Dalem Mangkunegaran diharapkan dapat terus terjaga, dan diwariskan kepada generasi mendatang.

 

Penulis            : Nindy Rosalina Ekaputri
Editor             : Nindy Rosalina Ekaputri & Haryo Untoro

 

Daftar Gambar

Vita. (2024, Juli 8). Ribuan warga saksikan Kirab Pusaka Malam Satu Suro di Surakarta. Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik dan Persandian Kota Surakarta. https://diskominfosp.surakarta.go.id/detail-berita/ribuan-warga-saksikan-kirab-pusaka-malam-satu-suro-di-surakarta-7537

Ruang Berbagi dan Refleksi dalam Pertemuan Mahasiswa Penerima Beasiswa YAD Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026

BeritaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Senin, 1 Juni 2026

Pada Sabtu (29/10/2026), Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, menyelenggarakan pertemuan dengan mahasiswa penerima beasiswa Yayasan Arsari Djojohadikusumo (YAD). Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui Google Meet tersebut dihadiri oleh Ketua Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Dr. Sulistyowati, M.Hum.

Pertemuan ini berlangsung dalam suasana hangat, menjadi ruang berbagi sekaligus refleksi bagi para mahasiswa. Dr. Sulistyowati, M.Hum., menyampaikan apresiasi kepada para mahasiswa penerima beasiswa YAD yang mampu menjaga capaian akademik dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) sementara di atas 3,5. Apresiasi juga diberikan atas keterlibatan aktif mahasiswa dalam berbagai kegiatan nonakademik, khususnya yang berkaitan dengan pelestarian dan pengembangan budaya Jawa.

Selain itu, beliau turut menyampaikan ucapan selamat kepada dua mahasiswa penerima beasiswa YAD yang telah menyelesaikan studi dan mengikuti wisuda Program Sarjana dan Sarjana Terapan periode III Tahun Akademik 2025/2026 pada 21 Mei 2026, yaitu Endar Sasmito Aji dan Haryo Untoro. Pencapaian tersebut diharapkan dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus menyelesaikan studi dengan baik.

Dalam arahannya, Dr. Sulistyowati, M.Hum., menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan kontribusi mahasiswa, terutama yang berkaitan dengan kebudayaan Jawa. Ia mengingatkan agar capaian yang diraih tidak berhenti pada prestasi pribadi, tetapi juga memberi manfaat di tengah masyarakat. Selain itu, beliau juga menyoroti pentingnya mendokumentasikan setiap kegiatan yang dilakukan, tidak hanya sebagai bentuk pertanggungjawaban, tetapi juga sebagai bagian dari portofolio yang dapat dimanfaatkan di kemudian hari..

Pertemuan ini turut menjadi ruang yang menguatkan langkah mahasiswa penerima beasiswa YAD dalam menjalani proses akademik dan kegiatan di luar perkuliahan. Selain sebagai bentuk apresiasi dan penyemangat, pertemuan ini juga membuka ruang bagi mahasiswa untuk terus mengembangkan peran mereka di tengah masyarakat, khususnya berkaitan pelestarian budaya Jawa.

 

Penulis            : Haryo Untoro
Editor             : Haryo Untoro

Pameran “Pusaka Kata” Angkat Khazanah Manuskrip Nusantara di FIB UGM

BeritaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Rabu, 27 Mei 2026

Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa beserta Program Master Sastra, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, akan menyelenggarakan pameran bertajuk “Pusaka Kata” pada Selasa, 9 Juni 2026. Kegiatan ini akan berlangsung di lantai 1 Gedung Soegondo, FIB UGM, mulai pukul 08.00 hingga 15.00 WIB.

Pameran “Pusaka Kata” merupakan bentuk kolaborasi akademik yang menghadirkan berbagai naskah dan manuskrip Nusantara sebagai objek utama. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan sekaligus mengapresiasi kekayaan tradisi tulis Nusantara kepada kalangan akademisi maupun masyarakat umum.

Melalui pameran ini, pengunjung dapat melihat secara langsung ragam manuskrip Nusantara yang memiliki nilai historis, filologis, dan kultural. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan dapat menjadi sarana edukasi mengenai pentingnya pelestarian naskah kuno sebagai bagian dari warisan budaya.

Panitia penyelenggara mengundang mahasiswa, dosen, serta masyarakat luas untuk menghadiri pameran ini. Dengan terselenggaranya “Pusaka Kata”, diharapkan kesadaran akan pentingnya manuskrip Jawa sebagai sumber pengetahuan dan identitas budaya semakin meningkat.

1234…18

Recent Post

  • Mahasiswa Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa FIB UGM Raih Penghargaan dalam Temu Budaya Nusantara XXXII di UNS
    Oktober 19, 2026
  • Menggali, Mengenali, serta Memahami Kembali Batik Nusantara Melalui Seminar Nasional Hari Batik 2026
    Oktober 6, 2026
  • Berawal dari Mata Kuliah Tradisi Lisan, Ghibran Arsha Daffa’ Musaffa’ Menghidupkan Kembali Tradisi Gejog Lesung
    September 30, 2026
  • Bersama Titik Renggani, Mahasiswa Diajak Memahami Geliat Sastra Jawa dalam Siaran Radio
    September 28, 2026
  • Abhiseka Kramasisya 2026: Menyambut Mahasiswa Baru melalui Pengenalan dan Ekspresi Seni
    September 20, 2026

Kalender

Oktober 2026
S S R K J S M
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
« Sep    
  • Fakultas Ilmu Budaya
  • Ujian Masuk UGM
  • PPSMB
  • Alumni
  • Jurnal Humaniora
Oktober 2026
S S R K J S M
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
« Sep    

Rilis Berita

  • Mahasiswa Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa FIB UGM Raih Penghargaan dalam Temu Budaya Nusantara XXXII di UNS
    Oktober 19, 2026
  • Menggali, Mengenali, serta Memahami Kembali Batik Nusantara Melalui Seminar Nasional Hari Batik 2026
    Oktober 6, 2026
  • Berawal dari Mata Kuliah Tradisi Lisan, Ghibran Arsha Daffa’ Musaffa’ Menghidupkan Kembali Tradisi Gejog Lesung
    September 30, 2026
Universitas Gadjah Mada

Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
Departemen Bahasa dan Sastra
Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada

 

Jl. Sosiohumaniora, Bulaksumur, Yogyakarta
Telp : 0274-901134 Ext. 110, Fax : 0274-550451, WhatsApp : 08135932426
Email : nusantara@ugm.ac.id

© 2025 Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa FIB UGM

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY