Arsip:
Ambal WarsaBeritaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Senin, 14 Oktober 2024
69 tahun eksis menjadi bagian dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa menggelar syukuran hari ulang tahun pada Sabtu, 12 Oktober 2024. Acara syukuran ini mengundang seluruh dosen dan mahasiswa Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa. Tidak terlupa acara ini juga mengundang beberapa dosen purna, seperti Drs. Soeharto Mangkusudarmo, M.Hum. dan Drs. Anung Tedjowirawan, M.A.
Bak reuni keluarga yang sudah lama tidak berjumpa, seluruh tamu undangan terlihat menikmati acara Ambal Warsa. Kedatangan dosen purna juga menjadi ajang pelepas rindu bagi para dosen yang sudah lama tidak berjumpa. Dr. Daru Winarti, M.Hum sebagai kaprodi mengungkapkan rasa bangganya terhadap Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa yang telah berdiri hingga 69 tahun dan telah mencapai titik ini dengan menciptakan banyak sarjana yang sangat berbakat dan berprestasi.
Sambutan dari Ketua Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
Drs. Soeharto Mangkusudarmo, M.Hum dan Drs. Anung Tedjowirawan, M.A. sebagai dosen purna memberi banyak motivasi, pengalaman, dan pelajaran. Beliau menyampaikan hal-hal yang berhubungan dengan peminatan penjurusan Linguistik, Sastra, dan Filologi. Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa telah menciptakan banyak sarjana dan Sumber Daya Manusia yang unggul dan mampu menata masa depan dengan baik, tutur salah satu dosen purna tersebut.
Sharing bersama Kaprodi dan dosen purna
Sebuah acara peringatan hari ulang tahun tak lengkap rasanya jika tidak dilengkapi dengan potong tumpeng. Dalam budaya Jawa potong tumpeng lebih dikenal dengan istilah kedhuk tumpeng. Alasan dipilihnya kedhuk tumpeng alih-alih potong tumpeng terletak pada maknanya, makna potong tumpeng diibaratkan memotong hubungan manusia dengan Tuhannya.
Kedhuk tumpeng oleh Kaprodi dan dosen purna
Acara Ambal Warsa ini juga dihibur oleh penampilan spesial dari mahasiswa Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa dari angkatan 2022 hingga 2024. Abimanyu Mahendra, salah satu mahasiswa penampil mengatakan bahwa sangat senang bisa menghibur para tamu undangan. Seperti nostalgia rasanya membawakan lagu-lagu lawas yang pernah hits pada masanya. Dr. Sulistyowati, M.Hum. salah satu dosen dari Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa turut memeriahkan hiburan yang ada dengan menyumbang satu buah lagu berjudul Sewu Kutha ciptaan Alm. Didi Kempot.
Penampilan hiburan oleh mahasiswa
Ambal Warsa ini ditutup dengan pembacaan puisi oleh Dr. Arsanti Wulandari, M.Hum. Puisi tersebut diambil dari antologi puisi ciptaan para dosen selagi mereka menjadi mahasiswa. Banyak doa-doa yang terpanjat untuk Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa kedepannya, “Semoga Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa sukses selalu, semakin maju, dan menciptakan sarjana yang hebat-hebat, aamiin,” ungkap Maylafaizza mahasiswa angkatan 2023.
Kegiatan foto bersama
Selama 69 tahun, Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa telah berkontribusi dalam penggalian, pengembangan, pelestarian, dan pemanfaatan atas sebuah jati diri bangsa berupa kebudayaan Nusantara, khususnya kebudayaan Jawa. Kontribusi terhadap pengetahuan dan kebermanfaatan yang telah dijalankan oleh Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa. Selain itu, kolaborasi dari berbagai kegiatan turut serta dalam pengembangan dan penyebaran pengetahuan tersebut. Kegiatan Ambal Warsa ini tidak sekedar acara peringatan semata, akan tetapi juga sebagai refleksi diri dan pemantik semangat untuk terus memberikan yang terbaik bagi Universitas Gadjah Mada dan bangsa Indonesia.
BeritaKarya MahasiswaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Selasa, 1 Oktober 2024
Dikutip langsung dari tby.jogjaprov.go.id
Rafael Raga Budi Panuntun, mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa angkatan 2021 sukses menjadi penulis naskah dan sutradara teater bertajuk “Ngathabagama” dengan tema Panji yang membawa Kabupaten Sleman memenangkan juara umum dan penyaji terbaik dalam Festival Teater Provinsi DIY 2024. Teater Ngathabagama berhasil mendapatkan nominasi penyaji terbaik, sutradara terbaik, penata musik terbaik, penata artistik terbaik, ansemble terbaik, dan membawa pulang piala bergilir Festival Teater DIY.
Rafael Raga dikutip dari akun instagram @rafaelragabp
Keberhasilan Raga patut menjadi inspirasi, ditengah kesibukan akademiknya, Raga tetap dapat berkarya dan menciptakan sebuah teater yang indah dan menjadi penyaji terbaik. Proses yang dijalani oleh Raga cukup panjang, mulai dari penggagasan ide, penulisan naskah, dan lain sebagainya. Teater Ngathabagama adalah teater yang terbentuk secara tidak sengaja, berawal dari festival teater tingkat Kabupaten Sleman. Kapanewon Minggir telah menjadi juara di Kabupaten Sleman selama 2 tahun berturut-turut. Pada tahun 2023, Kapanewon Minggir membawakan teater bertajuk “Hagbala” dengan tema Yogyakarta, Sejarah dan, Romantisme yang juga ditulis dan disutradarai oleh Rafael Raga Budi Panuntun, bahkan 50% dari teater ini Raga garap sendiri, mulai dari produksi, musik, artistik, busana, dan lainnya. Hagbala berhasil menyabet juara 1 tingkat Kabupaten Sleman dan juara 3 dalam tingkat Provinsi DIY.
Setelah berhasil menjadi juara dengan Hagbala pada tahun 2023. Di tahun 2024 ini, Rafael Raga beserta Kapanewon Minggir maju untuk mengikuti festival teater kembali di Kabupaten Sleman. Mengangkat Ngathabagama sebagai judul teater yang disajikan, kembali berhasil menjadi juara. Raga mengungkapkan bahwa ia menulis naskah dan gagasannya pada saat kegiatan KKN (Kuliah Kerja Nyata). Hal ini menunjukkan bahwa dengan segala kesibukannya, Raga mampu menciptakan sebuah karya luar biasa yang tak disangka dapat membawanya menjadi penyaji terbaik dalam Festival Teater DIY 2024.
Tema Festival Teater DIY 2024 ini mengacu pada petunjuk teknis dari Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY adalah Panji. Romansa dan cinta Panji dengan Sekartaji diangkat kedalam sebuah teater. Namun, Raga mengungkapkan bahwa ia ingin Ngathabagama diambil dari sudut pandang yang lain, yaitu bahwa kisah Panji dan Sekartaji yang selalu mendapatkan wiradat dari sebuah kodrat atau dapat disebut dengan takdir Tuhan yang mutlak. Raga melakukan riset dan menemukan bahwa Panji dan Sekartaji selalu mendapatkan takdir yang memisahkan mereka, baik dipisahkan oleh waktu, seseorang, ataupun keadaan.
Naskah yang Raga tulis tidak luput dari konsultasi Raga dengan dosen Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa yakni Dr. Rudy Wiratama, S.I.P., M.A., seorang akademisi dan praktisi Wayang Gedhog yang menggunakan dasar tema Panji dan Sekartaji dalam setiap penyajiannya. Dengan perbincangan yang Raga lakukan bersama Dr. Rudy Wiratama, S.IP., M.A., akan memperkuat cerita dan dapat dipertanggungjawabkan validasinya.
Setelah melakukan banyak riset dan perbincangan, Raga menemukan bahwa Panji dan Sekartaji selalu terpisah oleh takdir, salah satunya dipisahkan oleh dewa Bathara Kala yang direpresentasikan sebagai Kala adalah waktu. Raga mendapatkan sebuah ide yang tidak biasa, yakni menggarap teater Panji kali ini dengan menampilkan Bathari Durga atau ibu dari Bathara Kala yang memberi wiradat kepada Panji dan Sekartaji dan memisahkan mereka berdua untuk mendapatkan esensi yang lebih kuat.
Raga menyilangkan antara Wayang Gedhog dan Wayang Purwa untuk mengetahui kelemahan dari Bathari Durga. Kelemahan dari Bathari Durga adalah Semar atau Sang Hyang Ismaya, Semar dapat mengalahkan Bathari Durha dengan merapalkan caraka walik, untuk mencegah keburukan lebih lanjut. Caraka walik adalah Aksara Jawa (Hanacaraka) yang dibaca secara terbalik, dipercaya dapat menangkal keburukan, Raga mengambil judul teater kali ini dari caraka walik baris pertama, Ngathabagama.
Banyak babad Jawa baik fiksi maupun nonfiksi yang menempatkan kisah sentral Panji dan Sekartaji. Pengetahuan Raga tentang berbagai macam karya sastra Jawa yang ada membuatnya yakin untuk menulis naskah ini. Cerita Panji dan Sekartaji sudah bukan hanya menjadi kekayaan Nusantara tapi untuk seluruh Asia Tenggara. Banyak juga esensi-esensi dari Wayang Purwa yang diangkat untuk teater Ngathabagama, seperti Semar, Bathari Durga, peran para dewa, penggarisan kodrat wiradat, kisah romansa yang memiliki banyak hubungan dengan karya sastra, dan kearifan lokal setempat seperti penggunaan caraka walik yang banyak dikenal untuk mengusir atau mengembalikan keadaan buruk.
Tidak hanya sajian teater Ngathabagama, Raga juga menciptakan original soundtrack untuk Ngathabagama dengan judul “Kalasmara” yang mendukung dialog antara Panji dan Sekartaji. Kalasmara ini diciptakan oleh Raga untuk mengarsipkan sajian teater yang telah dilaksanakan agar tetap mempunyai esensi yang berbeda. Raga menambahkan bahwa ia tidak ingin sebuah pentas hanya berakhir pada 30 menit sampai 1 jam diatas panggung, tetapi memiliki karya berbentuk lain yang selamanya dapat menjadi memori dan arsip kedepannya.
Kisah Raga dalam penciptaan karya seni pertunjukan yang didasari oleh karya sastra Jawa diharapkan mampu menginspirasi mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa untuk dapat berkarya dan memanfaatkan ilmu yang telah didapatkan. Banyak karya seni yang dapat diciptakan berbekal dengan pengetahuan dari Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa.
Karya MahasiswaMacapatMahasiswa Rabu, 18 September 2024
Dening: M. Rafi Nur Fauzy
akeh wong kang padha têka
nggawa darma amêjang mring sireki
nyata goro kumatungkul
kagunggung sukeng tyasnya
datan dunung ing sarak sanyatanipun
mula sire den prayitna
nulya amundura kaki
Karya MahasiswaMacapatMahasiswa Rabu, 18 September 2024
Dening: Fauzan Adi Fadurrahman
Sinasmita sêrat iki
minangka criyos sih smra
pêpengêt kang wus kadados
wit ing wyata gajah mada
nagri Ngayogyakarta
kang candrasêngkalanipun
wrêkseng tlaga bêdhah tunggal
nendra raka laksanani
den wêwayang suryanira
kalaning rêm netra katon
manising esêm gupita
syara mrêdu bêbungah
pijana datan ngrêridhu
yahagen kang raka rasa
BeritaKarya MahasiswaKegiatan MahasiswaLain-lainMahasiswaSDGS Rabu, 3 Juli 2024
Sebagai bentuk pembelajaran sekaligus pengabdian kepada masyarakat, mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Pada Selasa, 28 Juni 2024, UGM mengadakan Upacara Pengarahan dan Penerjunan KKN-PPM UGM Periode 2 Tahun 2024. Acara tersebut berlangsung di halaman Gedung Balairung pada siang hari dengan berbagai penampilan menarik, salah satunya adalah Tari Angguk
Tari Angguk adalah tarian tradisional khas Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Penampilan ini dibawakan oleh mahasiswi Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa. Para penari, yaitu Arin, Dhiny, Galuh, Kintan, Nanda, Novalia, Wening, Audrey Gizella, Eka, dan Pinky, berhasil memukau penonton. Nanda, salah seorang penari, mengungkapkan bahwa Tari Angguk yang mereka bawakan mendapat sambutan meriah dan gemuruh tepuk tangan dari penonton. "Aku dan teman-teman berusaha untuk mempersembahkan penampilan yang memuaskan. Ketika ditampilkan, para audiens memberikan tanggapan yang sangat meriah dan tepuk tangan yang bergemuruh," ujarnya dalam wawancara (01/07/2024).
Tari Angguk menjadi elemen penting yang menghiasi Upacara Pengarahan dan Penerjunan KKN-PPM UGM Periode 2 Tahun 2024. Lebih dalam lagi, kehadiran Tari Angguk mencerminkan keragaman budaya masyarakat Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa program KKN-PPM UGM berkontribusi kepada masyarakat yang beraneka ragam, wujudnya berupa penerjunan mahasiswa ke 35 provinsi di Indonesia.
Penampilan Tari Angguk juga merupakan upaya konkret dalam nguri-uri (melestarikan) dan ngurip-urip (menyemarakkan) kebudayaan daerah. Usaha pelestarian dan penghidupan kebudayaan daerah merupakan bentuk pemertahanan dan pelekatan identitas bangsa. Dengan mempelajari, memahami, melestarikan, dan mengembangkan pengetahuan dan kearifan lokal, maka turut berperan dalam pengembangan pendidikan dan memberikan manfaat kepada masyarakat. Untuk merealisasikannya, dibutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak guna memaksimalkan dan menjaga keberlangsungan program tersebut. Oleh karena itu, penampilan Tari Angguk dalam Upacara Pengarahan dan Penerjunan KKN-PPM UGM Periode 2 Tahun 2024 berhubungan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) poin 4 dan 17.
BeritaKarya MahasiswaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Rabu, 3 Juli 2024
Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (FIB UGM), kembali mengadakan kegiatan Macapatan Jumat Legen pada Hari Kamis, 27 Juni 2024. Acara tersebut bertempat di Pusat Kajian Jawa (Pusaka Jawa) dan mengangkat sebuah karya sastra Jawa yang populer, yaitu Serat Wedhatama.
Serat Wedhatama, sebuah karya sastra yang ditulis oleh Kanjeng Gusti Pangeran Arya Adipati (KGPAA) Mangkunagara IV, merupakan karya yang sarat dengan piwulang tentang konsep ketuhanan serta ajaran moral dalam berkehidupan dan bermasyarakat. Naskah Serat Wedhatama yang tersimpan di Perpustakaan Istana Mangkunegaran Surakarta terdiri dari 100 pada (bait) dan dibagi ke dalam beberapa pupuh, yaitu:
Acara menghadirkan Prof. Dr. Hendrokumoro, M.Hum., sebagai pemateri, dan dihadiri oleh peserta dari berbagai kalangan. Selain itu, Dr. Rudy Wiratama, S.I.P., M.A., turut dalam menembangkan Serat Wedhatama di acara pembuka dan beberapa mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa turut serta menabuh gamelan, menambah khidmat suasana acara. Keaktifan peserta dalam membaca dan menembangkan Serat Wedhatama menciptakan suasana yang penuh dengan keindahan.
Dr. Rudy Wiratama, S.I.P., M.A., dan mahasiswa menampilkan Serat Wedhatama
Prof. Dr. Hendrokumoro, M.Hum., dalam kesempatan tersebut, menekankan bahwa Serat Wedhatama, dengan nilai-nilai filosofis dan pesan moralnya, dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, pengaktualisasian tersebut perlu diperhatikan agar dapat relevan dengan kondisi pada saat ini.
Prof. Dr. Hendrokumoro, M.Hum. sedang memaparkan Serat Wedhatama
Macapatan Jumat Legen bertujuan untuk untuk menghidupkan tradisi Macapatan dan melestarikan tradisi ini kepada generasi muda. Pelestarian tradisi ini dan penggalian informasi dari karya-karya sastra seperti Serat Wedhatama adalah langkah penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan masyarakat. Kolaborasi berbagai pihak, seperti antara Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa dengan Pusaka Jawa UGM, adalah sebuah upaya untuk memaksimalkan usaha pelestarian tersebut. Dengan demikian, penyelenggaraan Macapatan Jumat Legen ini sejalan dengan butir ke-4 dan butir ke-17 dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG’s).
BeritaKarya MahasiswaKegiatan MahasiswaMahasiswaSDGS Kamis, 16 Mei 2024
Yogyakarta (16/05/2024) – Gugur Gunung 13 hari kedua, tepatnya pada Selasa, 14 Mei 2024, menjadi saat yang tidak akan terlupakan bagi seluruh warga Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (FIB UGM). Bukan tanpa alasan, sebab mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa berkolaborasi dalam sebuah tim bernama ‘Turangga Sastra Nuswantara’ untuk menampilkan Drama Tari Jathilan dalam hari puncak Gugur Gunung ke-13.
Pertunjukan Drama Tari Jathilan dilaksanakan pada pukul 16.00-17.30 WIB di panggung yang bertempat di Greenland. Masing-masing sisi panggung tersebut dipadati oleh civitas academica yang tertarik dengan pementasan Drama Tari Jathilan. Pementasan seni kerakyatan bertambah meriah dengan kehadiran Lala Atila sebagai sinden dari Drama Tari Jathilan.
Drama Tari Jathilan adalah pergelaran seni tari Jathilan, kesenian yang erat dengan penggunaan jaran kepang atau kuda lumping, yang memuat drama tentang mitologi Jawa. Mitologi Jawa yang diangkat adalah legenda Ajisaka dan pertarungannya dengan Dewata Cengkar, raja raksasa di kerajaan Medang Kamulan. Produksi dari Drama Tari Jathilan dipimpin oleh R. Raga Budi Panuntun, mahasiswa Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa Angkatan tahun 2021, yang disutradarai oleh Yulian Kethus dari Sanggar Seni Kidung Cakrawala.
Antusiasme dari Para Mahadaya
Sebelum pementasan dimulai, pada pukul 15.00 WIB, para penampil beserta para staf mengadakan pemandian jaran dan doa bersama di Wisdom Park. Setelahnya, kirab budaya dilakukan dengan rute Wisdom Park menuju FIB melalui pintu utara.
Kirab Budaya menuju Fakultas Ilmu Budaya
Acara pentas kesenian rakyat dibuka oleh R. Sukoco, alumni mahasiswa Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, sebagai pewara. Terdapat berbagai sambutan yang disampaikan oleh Idharul Huda, selaku ketua Gugur Gunung 13, Dr. Daru Winarti, Ketua Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, dan Prof. Dr. Setiadi, S.Sos., M.Si, dekan Fakultas Ilmu Budaya. Acara dilanjutkan dengan upacara adat kupat luwar atau luwaran kupat sebagai wujud melepaskan segala hal yang kurang baik sehingga acara dapat berjalan dengan lancar.
Prosesi Kupat Luwar atau Luwaran Kupat
Acara berikutnya adalah penyajian Drama Tari Jathilan yang berhasil memukau seluruh penonton. Para penonton terlihat sangat menikmati, bahkan ikut berinteraksi dengan berjoget dalam alunan musik tari Jathilan tersebut. Puncak dari sajian ini adalah adegan terjadinya pertarungan antara Aji Saka dengan Dewata Cengkar. Pertarungan yang mendebarkan serta kemenangan Aji Saka yang menakjubkan mengundang riuh tepuk tangan yang meriah dari segala penjuru.
Berakhirnya pementasan Drama Tari Jathilan juga menandakan berakhirnya Gugur Gunung ke-13. Berbagai momen indah dan menyenangkan telah terjadi selama Gugur Gunung 13 berlangsung. Kami mengucapkan terima kasih atas antusiasme dan dukungan dari Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, sponsor, para mahadaya, serta selurub civitas academica Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada. Semoga kebudayaan nusantara tetap lestari dan terus hidup dari masa ke masa. Sampai jumpa di acara Gugur Gunung 14.
GeguritanKarya MahasiswaMahasiswa Senin, 22 Januari 2024
Cahya nyorot têrang
Hamadhangi pagêlaran
Gangsa, blencong twin wayang
Tansah tinata kanthi rerenggan
Ana wayang bundêr sêr
Raga jiwa katon sêgêr
Netra gêdhe kadya tempeh
Lumrahing ambêg sareh
Bagong ngarannya
Uga sinêbut Mangundiwangsa
Punakawan Jawa Wetan
Tansah guyu lan bêgejekan
Karya MahasiswaMacapatMahasiswa Jumat, 19 Januari 2024
Saambrah netra kang wungu
Amung netramu sawiji
Kaya hayuning akasa
Tamba susahing pênggalih
Imbuh wuwuh rasa trêsna
Abadya langgêng ing ati
GeguritanKarya MahasiswaMahasiswa Jumat, 19 Januari 2024
Dening R. Raga Budi Panuntun
Iki gêgambaran awur-awuran
Kang ora adoh saka kasunyatan
Sing cilik, pacêklik
Sing gêdhe, nglimpe
Kahanan sangsaya katon kaya paprangan
Pêranging kanêpson mungsuh kawêlasan
Kang padha kuwasa birahi ambungahi
Tumindak cidra tanpa rasa ngrumangsani
Padha rumangsa idune kuwi idu gêni
Tanpa krasa mênawa sih trêsnane wis mati
Padha rumangsa uripe wis kêbak kabungahan
Tanpa krasa rakyate padha kacingkrangan
Kaya ngene iki lêlakoning nêgaraku
Apa kowe tau krungu?
Kudune tau krungu
Amarga nêgaraku, ya nêgaramu