Muhamad Rafi Nur Fauzy dan Meifira Arini Pitaloka, Dua Mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa Terpilih sebagai Penerima Program Fast Track FIB UGM

Dua mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Gadjah Mada (UGM), Muhamad Rafi Nur Fauzy dan Meifira Arini Pitaloka, berhasil terpilih sebagai penerima Program Fast Track sarjana–magister (S1–S2) di FIB UGM. Pengumuman tersebut disampaikan pada Jumat (17/7/2026) di media sosial milik Fakultas Ilmu Budaya UGM. Melalui program ini, mahasiswa berkesempatan menempuh pendidikan sarjana (S1) dan magister (S2) secara beririsan sehingga masa studi dapat diselesaikan dengan lebih singkat. Keduanya memilih melanjutkan studi ke Program Magister Sastra FIB UGM.

Dalam wawancara yang dilakukan secara daring pada Senin (20/7/2026), keduanya mengungkapkan rasa syukur dan antusiasme atas kesempatan menjadi penerima Program Fast Track FIB UGM. Bagi Muhamad Rafi Nur Fauzy, program ini menjadi langkah untuk memperdalam keilmuan yang telah dipelajari selama menempuh pendidikan sarjana. "Saya berkeinginan untuk memahami dunia Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa secara lebih mendalam agar nantinya dapat bermanfaat bagi masyarakat," jelasnya. Senada dengan itu, Meifira Arini Pitaloka menilai bahwa kesempatan melanjutkan studi melalui Program Fast Track menjadi ruang untuk terus mengembangkan minat akademik sekaligus memperluas wawasan. "Saya ingin terus mendalami hal yang saya minati dengan memanfaatkan segala kesempatan dan kemauan yang ada," terangnya.

Mengenai rencana kajian pada jenjang magister, keduanya memiliki ketertarikan yang berbeda. Rafi mengaku ingin mendalami bidang kesusastraan dan kebudayaan Jawa, khususnya mengenai eksistensi cerita Panji di Jawa Tengah. "Saya tertarik untuk mendalami lagi mengenai kesusastraan dan kebudayaan Jawa. Misalnya tentang eksistensi cerita Panji di Jawa Tengah, sementara dunia Panji sendiri lebih populer di Malang," jelasnya. Sementara itu, Meifira berencana mengeksplorasi bidang sastra yang lebih luas. "Saya ingin mencoba untuk tidak membatasi diri hanya pada sastra Jawa. Rencananya, kajian saya masih akan berkaitan dengan gambar, mungkin seperti sastra komik atau sastra anak," ungkapnya.

Keduanya juga telah mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan selama menjalani Program Fast Track. Menurut Rafi, tantangan terbesar terletak pada kemampuan mengatur waktu agar dapat menyeimbangkan studi sarjana dan magister. "Saya ingin lebih tertib, lebih mampu memanfaatkan waktu untuk studi, serta menyediakan waktu untuk penelitian lapangan," katanya. Di sisi lain, Meifira menilai bahwa kesiapan mental menjadi aspek yang tidak kalah penting. Selain berusaha memberikan yang terbaik, ia juga menekankan pentingnya doa dan kesadaran diri dalam menjalani proses studi. "Saya mencoba berusaha sebaik mungkin, tidak lupa berdoa, serta membangun kesadaran diri dalam menghadapi tantangan ke depan," terangnya.

Menutup wawancara, keduanya membagikan pesan kepada mahasiswa lain agar tetap bersemangat dan konsisten dalam menjalani perkuliahan. Rafi mengajak mahasiswa untuk mengembangkan hal-hal yang benar-benar diminati sehingga proses belajar dapat dijalani dengan lebih menyenangkan. "Jalani secara konsisten hal yang benar-benar disukai. Dengan begitu, proses belajar pun akan terasa lebih menyenangkan. Tetap semangat, jalani dengan santai. Melu ilining banyu ning ora nganti keli (ikut arus air, tetapi tidak sampai terbawa arus)," pesannya.  Meifira pun menyampaikan pesan serupa. Menurutnya, setiap pilihan yang telah diambil perlu dijalani dengan sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab. "Do what you love and love what you do, lakukan apa yang kamu cintai dan cintai apa pun yang kamu lakukan," katanya.

Keberhasilan Muhamad Rafi Nur Fauzy dan Meifira Arini Pitaloka menjadi penerima Program Fast Track FIB UGM diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa untuk terus mengembangkan potensi akademik serta memanfaatkan berbagai peluang yang tersedia. Semoga langkah keduanya dalam menempuh pendidikan magister dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang bahasa, sastra, dan budaya Jawa.

Penulis: Haryo Untoro
Editor : Haryo Untoro