Menggali, Mengenali, serta Memahami Kembali Batik Nusantara Melalui Seminar Nasional Hari Batik 2026
BeritaKarya MahasiswaSDGS Selasa, 6 Oktober 2026
KAGAMA UGM bekerja sama dengan KAGAMA Batik dan Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Gadjah Mada (UGM), menyelenggarakan Seminar Nasional Hari Batik 2026 pada Sabtu, 3 Oktober 2026. Bertempat di Auditorium Soegondo, FIB UGM, seminar ini mengusung tema “Merawat Warisan, Menumbuhkan Masa Depan: Batik sebagai Identitas Budaya dan Ruang Inovasi”. Kegiatan tersebut diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional yang jatuh pada 2 Oktober 2026.
Acara diawali dengan pertunjukan Tari Golek Ayun-Ayun sebagai bentuk penyambutan kepada para tamu yang hadir. Kegiatan tersebut semakin semarak melalui peragaan beragam jenis batik dari berbagai daerah, mulai dari batik Jakarta hingga Madura. Rangkaian kegiatan ini menjadi pengantar untuk mengenali kekayaan motif, keragaman tradisi, serta nilai budaya yang terkandung dalam batik Indonesia.
Seminar ini menghadirkan Dr. Eng. Ir. Laretna Trisnantari Adishakti, M.Arch., dosen purnatugas UGM sekaligus Chair UNESCO Chair in Heritage Cities Conservation and Management, sebagai pembicara kunci (keynote speaker). Dalam paparannya, ia mengulas berbagai aspek batik, mulai dari sejarah, kearifan lokal, hingga peran batik dalam pergerakan sosial-budaya dan diplomasi hubungan internasional.
Dr. Eng. Ir. Laretna Trisnantari Adishakti, M.Arch., juga menyoroti tantangan dalam menjaga eksistensi batik di tengah perubahan zaman serta pentingnya merumuskan strategi pelestarian yang berkelanjutan. Salah satu poin utama yang disampaikan adalah peran batik sebagai sarana diplomasi, baik di Nusantara, Asia Tenggara, maupun dalam lingkup global. Selain sebagai identitas budaya, batik juga memiliki potensi untuk mendukung ekonomi regeneratif, yaitu sistem ekonomi yang tidak hanya menciptakan nilai ekonomi, tetapi juga memulihkan lingkungan, memperkuat kehidupan sosial dan budaya, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Setelah sesi pembicara kunci, kegiatan dilanjutkan dengan seminar yang dimoderatori oleh Dr. Sulistyowati, S.S., M.Hum., Ketua Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, FIB UGM. Seminar menghadirkan dua narasumber dengan latar belakang dan pengalaman berbeda, yaitu dr. CHR Sulistyono, M.Sc., FISQua, pemilik Batik Nyah Kiok yang memproduksi batik Lasem, Rembang, serta Aji Setyowijaya, S.S., perajin batik khas Yogyakarta yang juga menggeluti batik tiga negeri.
Dalam pemaparannya, dr. CHR Sulistyono, M.Sc., FISQua menjelaskan sejarah Batik Nyah Kiok dan perkembangan batik Lasem, termasuk tantangan yang dihadapi dalam mempertahankan keberlangsungannya. Ia mengungkapkan bahwa keberadaan batik Lasem tidak terlepas dari kebiasaan dan praktik budaya masyarakat yang menggunakannya. Meski memiliki nilai sejarah dan budaya yang kuat, keberadaan batik saat ini menghadapi sejumlah tantangan. Berkurangnya jumlah perajin dan terbatasnya regenerasi menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian. Kondisi tersebut berpotensi menghambat keberlanjutan pengetahuan, keterampilan, dan tradisi membatik yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Sementara itu, Aji Setyowijaya, S.S., membagikan pengalamannya menekuni dunia batik secara mandiri. Ia menyoroti pentingnya perhatian terhadap teknik dan prosedur pembuatan batik yang dinilai belum memperoleh perhatian memadai. Menurutnya, upaya pelestarian batik perlu juga mencakup keseluruhan proses produksi, termasuk pengetahuan akan bahan dan alat yang digunakan oleh para perajin. Pengetahuan mengenai proses pembuatan, ketersediaan bahan, penggunaan peralatan, serta keterampilan teknis juga perlu dijaga agar tradisi membatik dapat terus lestari dan berlangsung. Perhatian terhadap aspek produksi menjadi semakin penting untuk mendukung keberlanjutan profesi perajin sekaligus membuka ruang bagi inovasi tanpa mengabaikan nilai tradisional.
Antusiasme peserta terlihat dari beragam pertanyaan dan tanggapan yang disampaikan selama seminar. Diskusi yang berkembang menunjukkan bahwa batik tidak hanya menarik untuk dibicarakan dari sisi estetika, tetapi juga membuka ruang pembahasan mengenai sejarah, identitas budaya, praktik sosial, keberlanjutan ekonomi, dan tantangan produksi.
Seminar Nasional Hari Batik 2026 memperluas pemahaman masyarakat mengenai peran batik dalam kehidupan Indonesia, tidak hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai sarana diplomasi, sumber pengetahuan sejarah, peluang ekonomi, dan ruang inovasi. Pengembangannya perlu diiringi dengan pemberdayaan masyarakat, termasuk perempuan, serta kepedulian terhadap lingkungan dengan melibatkan perajin dan komunitas sebagai bagian penting dalam ekosistem batik. Melalui seminar ini, penyelenggara mengajak masyarakat untuk mengenali dan melestarikan batik secara menyeluruh, mencakup motif, nilai filosofis, pengetahuan, dan keterampilan yang diwariskan antargenerasi. Dengan demikian, batik tidak hanya terjaga sebagai identitas budaya Indonesia, tetapi juga mampu mendukung kesejahteraan masyarakat dan berkembang secara berkelanjutan sebagai sumber inspirasi bagi generasi mendatang.
Penulis : Haryo Untoro
Editor : Haryo Untoro

